My Lady Is The Mafia 1&2

My Lady Is The Mafia 1&2
61


__ADS_3

"Terima kasih sudah membuat Lily tenang Rin," ucap Dokter Park.


"Sama-sama Tuan Park," ucap Irin.


Irin adalah anak tunggal Sekertaris Jang. Dari kecil Irin sudah di biasakan ayahnya menjadi penjaga Yuki, mereka berdua sangat dekat sampai orang mengira Irin adalah pasangan Lily.


"Kapan kau kembali? Mengapa tidak memberitahukanku? Kau sangat jahat." Yuki mencibirkan bibirnya.


"Sikap apaan barusan itu?" Irin tersenyum. "Aku baru saja datang dan langsung menemuimu, aku tak sempet memberitahukan dirimu karena kedatanganku pun secara tiba-tiba," sambung Irin.


Sepanjang jalan mereka berdua tidak berbicara, suasana menjadi sunyi dan sepi. Kemudian Yuki memecahkan kesunyian tersebut.


"Irin!!" panggil Yuki.


"Iya ada apa?"


"Jika aku meminta sesuatu kepadamu. Apa kau akan memberikannya?"


"Tentu saja asalkan bukan jantung dan perjakaanku."


"Irin!!.."


"Hehe.. Baiklah. Apa yang kau mau dariku?"


"Ajarkan aku menggunakan pistol dan bergulat."


"Mengapa sangat tiba-tiba? Mengapa kau menginginkan hal yang sangat kau benci?"


"Tidak. Aku hanya ingin seperti mama dan selain diriku, siapa yang akan meneruskan perkejaan ini selan diriku?"


"Baiklah jika kau menginginkannya."


_________________


"Yuki!! Apa kau tidak apa-apa Sayang. Mama di telepon papamu dan menceritakan semuanya." Linetta bertanya kepada Yuki yang baru saja sampai di rumah.


"Jika mama sudah mengetahuinya. Harusnya mama akan menjelaskan, apa yang sebenarnya terjadi?"


"Mama.. Mam.."


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Aku sangat lelah. Aku akan pergi ke kamar."


"Yuki!!"


"Saya akan berbicara kepadanya Ketua," ucap Irin.


"Baiklah. Hanya kau yang kuharapkan Irin."


Irin mengikuti Yuki ke kamarnya.


"Tutup pintunya," pinta Yuki.


"Apa kau tidak lelah? Istirahatlah atau kau mau istirahat di kamarku?" Yuki berbicara sembari melepaskan bajunya. Irin langsung memutarkan badannya dan meneguk salivanya.


"Yuki!! Kita sudah dewasa, sebaiknya kau jangan seperti itu lagi di depanku." Wajah Irin memerah.


"Mengapa? Apa kau malu? Hah? Hah?"


Yuki menggoda Irin dengan menyentuh-nyentuh badan Irin.


"Yuki!! pakailah bajumu!!"

__ADS_1


"Aku sudah mengenakannya sedari tadi."


Yuki merengkuh Irin ke kasur lalu merebahkan kepalanya di atas dada Irin. Irin mendekap tubuh Yuki yang mungil itu baginya.


"Pelukanmu selalu membuatku terasa nyaman," ucap Lily tiba-tiba.


Deg... Jantung Irin berdebar.


"Haha.. Ada apa denganmu? Apa salah sampai membuat jantungmu berdetak dengan kencang."


"Diamlah!!" ucap Irin yang malu.


Tok.. Tok.. Tok..


"Bangunlah aku akan membukakan pintu," ucap Irin.


"Tak perlu. Diamlah!! Aku ingin istirahat sebentar."


"Masuk saja, tidak di kunci," sambung Yuki.


"Yuki. Nenek memanggilmu.." ucap Arka bernada rendah di akhir.


"Baiklah. Aku akan segera turun."


"Dasar gadis tak cukup satu pria!!" ucap ketus Anna.


Mendengar hal tersebut emosi Irin meningkat pesat.


"Tenanglah. Biar aku yang urus," ucap Yuki menahan kemarahan Irin.


"Jika mulut tidak bisa diam, akanku panggilkan tukang jahit untuk menjahit mulutmu!! Ohh.. Iya. Sebelum membicarakan berkacalah terlebih dahulu gadis ******!!" ucap Yuki membuat Irin dan Arka tercengang melihat Yuki sangat bar-bar.


"Hah!!" Anna tak habis pikir Yuki mengatakan hal-hal tersebut.


Sedangkan Arka dan Irin tersenyum melihat perilaku baru Yuki dan mengikuti langkah Yuki turun ke bawah menghampiri neneknya.


"Ada apa Nek? Kata Arka nenek memanggilku," tanya Yuki.


"Tidak ada. Duduklah sini, nenek hanya ingin memberitahukanmu sesuatu."


"Kau ini sama sekali tidak membuang mamamu. Mengapa nenek mengatakan seperti itu? Karena kalian berdua sama-sma keras kepala dan tidak mendengarkan perkataan orang lain terlebih dahulu."


"Nenek tidak mau kau seceroboh mamamu dan mengulang masa lalu yamg suram tersebut."


"Nenek Yuki hanya.."


"Yuki!! Nenek masih berbicara dan belum mengijinkanmu memotong omongan nenek," tegur Mami.


"Baiklah Nek." Yuki menundukkan kepalanya.


"Dengarkan nenek baik-baik. Mamamu sangat keras kepala dan akhirnya seperti ini, nenek tidak mau kau seperti dirinya. Apa Yuki mengerti?"


"Iya Nek."


"Baiklah. Lalu masalah Reno. Saat itu Reno tak bisa di selamatkan dengan jantungnya sendiri, kemudian beberapa saat Reno kecelakaan ada 2 orang yang mengalami kecelakaan juga. Pria yang memiliki jantung Reno mengalami gagal jantung saat itu, untung saja jantung Reno masih berdetak dan langsung melakukan transplantasi jantung. Begitu pula pemilik jantung yang berada di tubuh Reno walaupun dia hidup tetapi semua organnya sudah mati, jadi keluarganya menyumbangkan jantungnya untuk Reno.


"Hanya saja jantung yang berada di tubuh Reno lebih lemah di bandingkan jantung miliknya, maka dari itu pria yang memiliki jantung reno lebih duluan sadar di timbang Reno."


Jelas mami membuat Yuki sangat mengerti dan juga merasa bersalah karena marah terhadap orang tuanya.


"Mengapa mama papamu tidak memberitahukanmu? Karena mereka tak ingin melihat Yuki bersedih, mereka yakin Reno akan sadar dan kembali kepada Yuki. Apa Yuki mengerti yang nene katakan?"

__ADS_1


"Nenek maafkan Yuki.. Hiks.." Yuki memeluk mami.


"Anak pintar. Sekarang kau sudah dewasa dan mengerti penjelasan nenek. Temuilah mamamu, dia sangat mengkhawatirkan Yuki."


Yuki menganggukkan kepalanya, lalu berlari menuju kamar Linetta. Linetta duduk di ujung kasur dan menatap ke arah luar sembari melamun.


"Mama.." panggil Yuki.


Linetta menolehkan kepalanya ke arah suara yang tidak asing baginya memanggilkan namanya dengan suara lemah lembut.


"Yuki..," sahut Linetta dengan senyuman manis di bibirnya. "Kemarilah Sayang."


Yuki menangis dan memeluk Linetta. "Mah.. Maafkan Linetta sudah menyakiti hati mama."


"Tidak Sayang. Yuki tidak pernah menyakiti mama, tapi mama selalu menyakiti Yuki dengan selalu berbohong kepada Yuki." Linetta membelai rambut Yuki dan menciumi kening Yuki beberapa kali.


"Tidak mah. Yuki yang salah, seharusnya Yuki harus lebih mengerti mama dan papa. Di balik berbohongnya mama dan papa pasti ada sesuatu untuk kebaikan Yuki. Maafin Yuki ya mah.."


"Hhmm.. Putri mama sudah dewasa. Cup.." Linetta menciumi kening dan pipi Yuki. Yuki memberikan senyuman lebar kepada Linetta.


"Ohh.. Iya.. Mama memanggil Irin ke sini untuk menjagamu dan yang lainnya Sayang."


"Mengapa kami harus di jaga?"


"Tidak apa-apa. Mama hanya tak ingin kalian terluka."


"Yuki juga tak ingin melihat mama terluka. Jika mama terluka akan Yuki habisi orang tersebut."


"Ho'oh.. Putri mama sangat ganas sekarang ya.."


"Hehe.. Siapa dulu mamanya," ucap Yuki dengan senyum yang sangat lepas di bibirnya membuat Linetta sangat bahagia.


__________________


"Ishh.. Akkh.." rintihan Mark.


"Kau sudah bangun Honey?" ucap Dara.


"Sini aku bantu bangun," sambung Dara. Membantu Mark bangun lalu menegakkan ranjang untuk Mark bersender.


"Aku tidak apa-apa!!"


"Kau bilang tidak apa-apa? Hmm iya, tidak apa-apa, tetapi sampai pingsan. Ke mana kau akan pergi dengan memakai jas yang sangat rapi?"


"Ee.. Aku.. Ee.. Tadi aku mau ke kamar mandi. Iya ke kamar mandi," sahut Mark sangat gugup dan tak berani menatap Dara.


"Ohh.. Ke kamar mandi. Gunanya kamar mandi di kamarmu apa? Lalu hendak ke kamar mandi kok sampai ke lantai satu? Kau mau ke kamar mandi atau ke kantor!!" Geram Dara.


Mark mengambil tangan Dara lalu menggenggam dan menepuk-menepuk secara perlahan. "Hehe.. Maafkan aku yaa.. Sayang hehe.."


Dara tak kuasa melihat wajah Mark saat manja tersebut, hati Dara seketika meleleh mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Mark dengan suara serak-serak manja.


*


*


Jangan lupa tinggalkan jejaknya kak😊🙏


*


*

__ADS_1


__ADS_2