
"Mama..," ucap Yuki memanggil Linetta. Linetta sedikit terkejut karena mendengar suara Yuki seperti ada dua. Linetta lebih terkejut saat melihat Yuki melihat membawa bayi.
"Mama.. Mama.." Alex menepuk-nepuk pipi Yuki.
"Sayang!! Anak siapa yang kau bawa?" tanya Linetta.
"Mengapa dia memanggil Yuki dengan sebutan 'MAMA' ?" sambung Linetta.
"Anak Yuki, Mah.. Hehe.." Yuki membawa Alex duduk di samping linetta.
"Apa dia imut Mah? Ututu.. Alex imut banget. Muah.. Muah.." Yuki terus saja menciumi dan memeluk Alex dengan erat.
"Jika Yuki terus seperti itu, mama merasa sudah memiliki cucu." Linetta tersenyum. Tidak lama Linetta meneteskan air matanya.
"Mama!! Mengapa menangis?"
"Mama sangat rindu melihat tawamu seperti itu, Sayang. Hampir 2 tahun kau selalu menyembunyikan senyummu itu, mama sangat senang."
"Mama!! Yuki baik-baik saja. Mama jangan menangis lagi."
Alex mendekati Linetta lalu menghapus air mata Linetta.
"Uhh.. Anak pintar.. Sini biar mama gendong." Linetta mengambil Alex. "Ututu.. Imutnya jadi ingat Yuki waktu kecil, pipinya sebesar bakpao. Pengen mama makan rasanya."
Tidak terasa siang pun terlewati dengan sangat cepat. Yuki dan Alex tertidur di kamar sehabis main seharian. Linetta tersenyum melihat senyuman selama setahun lebih itu hilang, sekarang telah kembali lagi walau hanya sekejap.
"Apa yang kau lihat?" tanya Dokter Park melihat Linetta berdiri di depan pintu kamar Yuki.
Dokter Park membulatkan matanya karena terkejut melihat Yuki sedang berbaring dengan bayi.
"Anak siapa itu? Dari mana Yuki mendapatkannya? Apa yang sedang terjadi?" Dokter Park tak henti bertanya.
"Aku tidak tau. Biarkan saja, setidaknya dia tidak mencuri anak orang dan itu juga membuatnya bahagia," sahut Linetta tak henti menatap putri semata wayangnya tersebut.
"Permisi, Ketua ada yang mencari anda," ucap pengawal.
"Siapa yang mencariku? Sepertinya hari ini tidak ada janji bertemu dengan seseorang," ucap bingung Linetta.
"Lama tidak berjumpa, Ketua Linetta," ucap Mark dari kejauhan.
Linetta menatap dengan kebingungan. "Wajahnya tidak asing, sepertinya aku mengenalinya tapi.."
"Apa Ketua Linetta sudah melupakan saya? Saya Mark, Ketua."
"Mark? Mark? Ahh.. Mark dari perusahaan MK. Maafkan aku tidak mengenalimu, aku sudah berumur dan lama tidak tinggal di sini."
"Tidak apa-apa, Ketua."
"Mari kita duduk dan membicarakan hal apa yang sampai membawamu kesini?"
__ADS_1
"Haha.. Saya hanya ingin menjemput putra saya, Ketua."
"Putra? Kau memiliki putra?" Linetta melirik arah kamar Yuki. "Apakah Alex putramu?"
"Iya Ketua. Alex putra terakhir saya. Saya memiliki tiga putra, Ketua," jawab Mark sembari tersenyum.
"Wah.. Kau sudah memiliki tiga putra sekarang. Di mana istirimu? Mengapa kau tidak mengundangku saat pernikahanmu?" Linetta meraju.
"Hahaha.. Saya belum menikah, Ketua."
"Lalu bagaimana kau memiliki anak, jika belum menikah?" tanya Dokter Park.
"Saya hanya mengikuti jejak Ketua Linetta. Dulu saat saya kesusahan Ketua selalu berkata 'Jika kau kesulitan datanglah kepadaku, kau sudah aku anggap seperti keluargaku, walaupun tidak tau asal usulmu' " ucap Mark.
"Jadi, saat melihat ketiga putra saya waktu itu di pinggir jalan, saya seperti melihat diri saya sendiri, maka dari itu mereka saya jadikan anakku," sambung Mark.
"Tidak sia-sia aku menolongmu. Perusahaan yang aku tolong karena kebangkrutan besar, sekarang menjadi perusahaan yang sama rata dengan perusahaan keluarga Cosa," ucap Linetta sembari tersenyum.
"Perusahaan Cosa selalu nomor satu, tanpa keluarga Cosa hidup saya tidak akan seperti ini."
"Jangan katakan hal seperti itu, semua yang telah kau dapat adalah anugrah tuhan."
"Oouahh.. Mama.. Alex pipis di kasur ku," ucap Yuki sembari mengucak-ngucak matanya yang baru saja bangun.
"Yuki!! Kami pulang!!" panggil si kembar bersamaan.
"Hmm.. Mengapa kau bau pipis? Apa kau pipis di celana?" tanya Vano.
"Kapan kau melahirkan Yuki?" tanya Vano.
"Apa!! Yuki melahirkan?" sahut Arka dari kejauhan.
"Iya. Lihat dia memiliki anak di kamarnya," jawab Vian.
"Anak-anak kalian terlalu ribut nanti anaknya Yuki terbangun," ucap Linetta sembari tersenyum.
"Mama!!" Yuki merengek.
"Kau ini senang sekali melihat Yuki seperti itu," tegur Dokter Park.
"Baiklah baiklah. Kalian ganti baju dulu, sebentar lagi nenek kalian akan datang dan kita akan makan malam bersama," ucap Linetta.
"Lalu Alex bagaimana?" tanya Yuki.
"Kami akan pulang sekarang," sahut Mark.
"Hei!! Kau sudah di sini. Mari makanan malam bersama, soal Alex tadi mama sudah menyuruh pelayan membelikannya beberapa baju ganti."
"Baiklah kalau seperti itu. Yuki akan mandi terlebih dahulu."
__ADS_1
"Kami juga," ucap si kembar.
Makan malam pun tiba, semua berkumpul di meja makan dan menunggu pelayan mengantarkan semua makanan yang telah di masak.
"Di mana Irin dan Arka? tanya Yuki karena tidak melihat mereka berdua di meja makan.
"Apa kau selalu menempel seperti benalu? Mereka juga butuh privasi," ucap ketus Anna.
"Anna!!" tegur Mami.
"Aku sudah selesai makan, kalian bisa melanjutkannya tanpaku. Aku akan tinggal di rumah sakit lagi malam ini," sahut Yuki, meletakan sendoknya di piring makannya yang belum dia sentuh sama sekali.
"Yuki.." panggil Linetta.
"Untuk makan dengan tenang saja sangat susah di rumah ini," ucap Mami lalu meninggalkan meja makan.
"Aku peringatkan kepada kalian berdua, jika tidak bisa mendidik anak kalian dengan benar. Aku bisa mendidiknya dengan caraku, agar bisa menghargai orang lain," ucap Linetta tertuju kepada Miko dan Laura.
Sedangkan Anna hanya asik makan tanpa hambatan. Linetta meninggalkan meja makan.
"Maaf atas kejadian malam ini, Mark," ucap Dokter Park.
"Tidak apa-apa. Kalian bisa menganggap saya tidak ada. Kalau begitu saya akan pulang saja," sahut Mark.
"Sekali lagi kami minta maaf."
"Iya tidak apa-apa kok, Dokter Park. Kalau begitu saya pulang dahulu."
Mark meninggalkan meja makan lalu mengambil Alex dari pelayang yang menjaganya. Begitu pula dengan yang lainnya hanya tersisa Miko, Laura dan Anna.
"Anna!! Jika sikapmu seperti ini terus, Papa akan menghukummu lebih berat dari pada dulu. Dan kau Laura, jika tidak bisa mengurus anak, seharusnya kau tidak memiliki anak," ucap dingin Miko, lalu meninggalkan meja makan.
Laura menghela napas. "Jika kau seperti ini terus, kita akan di usir dari rumah ini dan menjadi gelandangan. Apa kau mengerti maksud mama?"
Anna menganggukkan kepalanya, Laura pun segera meninggalkan meja makan dan mengikuti langkah kaki Miko. Hanya Anna yang berada di meja makan saat ini, air matanya mulai menetes sendok yang dia genggam sampai membengkok karena menahan tangisannya tersebut.
Anna mengelap air matanya. "Hahaha.. Ini semua gara-gara kau Yuki. Jika saja kau tidak datang di kehidupanku dan Reno, semuanya tidak akan seperti ini."
"Tunggu saja, aku akan membuatmu lebih menderita lebih dari pada ini, sampai kau melepaskan Reno aku tidak akan berhenti mengganggumu!!"
Anna berbicara sendiri dengan menggenggam erat sendok dan garpu yang ada di kedua tangannya, amarahnya sangat terlihat jelas dari tatapan yang tajam penuh dendam tersebut.
*
*
Jangan lupa tinggalkan jejaknya kak😊🙏
*
__ADS_1
*