
Mobil Dokter Park baru saja tiba di depan rumah sakit tetapi, Yuki sudah berlari dengan tergesa-gesa menuju ruangan Reno.
Saat di depan pintu ruangan Reno, Yuki terhenti sebentar mengatur napasnya yang tidak stabil serta merapikan baju dan rambutnya.
Kreek ... Yuki membuka pintu dengan perlahan dengan wajah tersenyum lebar.
"Ren ...," panggil Yuki terhenti karena, melihat Reno sedang berpelukan dengan Anna.
"Yuki," panggil Reno dengan tersenyum lesu.
Yuki berjalan dengan perlahan mendekati Reno. Sembari bertanya, "Apa yang kalian lakukan?"
"Anna, membantuku ke kamar mandi tadi. Berikan pelukan padaku, aku sangat merindukannya." Reno merentangkan kedua tangannya.
Yuki tersenyum dengan mata berair menahan tangisannya lalu berlari kecil menghampiri Reno.
"Hmm ... Kau jahat sekali padaku." Yuki memukul pelan di dada Reno.
"Aakhh ...." rintihan Reno.
Yuki terkejut mendengar rintihan Reno. "Apa tidak apa-apa?"
"Hehe ... Aku tidak apa-apa." Reno tersenyum lalu memeluk erat Yuki.
Dokter Park tersenyum lebar melihat situasi sekarang ini dan berjalan perlahan menghampiri Reno dan Yuki.
"Yuki, turunlah dahulu. Papa akan memeriksa Reno dulu," pinta Dokter Park.
"Papa, biarkan Yuki seperti ini dulu yaa ...," sahut Yuki.
"Turunlah dahulu. Kau bisa memelukku lagi hingga besok, tetapi aku harus diperiksa dulu agar tau bisa memelukmu lagi atau tidak." goda Reno.
Yuki menatap tajam Reno dengan memanyunkan bibirnya lalu turun dari badan Reno dengan perlahan. Kemudian Dokter Park mulai memeriksa keadaan Reno.
"Keadaanmu semakin membaik jika, seperti ini terus kemungkinan minggu depan kau sudah bisa pulang," ucap Dokter Park itu membuat semua yang ada di ruangan tersenyum bahagia.
Di sisi lain Mark turun dari mobilnya dengan stelan jas hitam sembari menggendong Alex. Mark menuju apartemennya tidak hanya dengan tangan kosong. Mark membawa beberapa makanan dan juga beberapa baju Alex.
"Tunggu papa di sini yaa, Alex." Mark menaruh Alex di atas sofa dan memberikan ponsel agar Alex tidak ke mana-mana.
Setelah mendiamkan Alex. Mark mencari Dara di seluruh ruangan, ternyata Dara masih di dalam kamar dengan badan yang masih diselimuti. Mark duduk perlahan dan mengelus rambut Dara.
"Sayang, bangunlah, ini sudah siang. Aku mau berangkat kerja." ucap Mark dengan lemah lembut.
"Hmm ... Kapan kau balik?" tanya Dara dengan mata yang masih tertutup.
"Bangunlah ...." Mark mengecup kening Dara.
Bruuk ... "Papa ..." panggil Alex dengan rintihan.
Mark dengan sergap segera keluar begitu juga dengan Dara seketika mata dan tubuhnya terbangun.
"Alex!! Astaga anak ini, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Mark sembari mengangkat Alex yang terjatuh di depan kamar.
"Papa ... Hehe ...."
"Kau membawa anakmu ke sini?" tanya Dara dengan mengerutkan alisnya.
"Ohh iya, Aku titip Alex untuk hari ini karena, tidak ada siapa-siapa di rumah. Bisakah?"
"Ee ... Ee ... Baiklah," ucap Dara dengan wajah terpaksa.
"Terima kasih. Cup ...." Miko mengecup kening Dara. "Ohh iya, aku membawakan makanan untukmu dan Alex dan jiga beberapa pakaian Alex."
__ADS_1
"Hmm ...."
"Kalau begitu aku berangkat kerja dulu."
Mark memberikan Alex kepada Dara lalu mengecup keduanya sebelum pergi.
"Dada ... Papa ...." Lambai Alex dengan tersenyum lebar.
Setelah Mark pergi wajah Alex berubah menjadi cemberut dan sangat rewel. Alex terus saja menangis dan menghambur barang-barang Dara. Sesekali Dara marah Alex tidak berhenti menangis, waktu sudah siang hari tapi Dari belum mandi maupun makan.
"Aku tidak tahan lagi ...," keluh Dara.
"Ponsel, mana ponselku? Ahh ini dia."
π : "Hallo!! Aku butuh pengasuh anak sekarang juga."
π : [Seperti apa yang Anda inginkan?]
π : "Terserah. Aku akan mengirimkan alamatnya."
Tut ... Tut ... Tut .... Dara melemparkan ponselnya ke sofa lalu perlahan duduk sembari memegang kepalanya dengan kedua tangannya dan menghela napasnya beberapa kali.
Tok ... Tok ... Tok .... Suara ketukan pintu. Dara bergegas membuka pintu.
"Selamat siang, Nona. Saya pengasuh yang Anda panggil," ucap pengasuh dengan senyum ramah.
"Cepat sekali datangnya dan kau ...." Dara melihat penampilan wanita itu dari bawah sampai atas. "Sangat muda. Ahh ... Lupakan. Masuklah."
"Alex ... Di mana kau!!" panggil Dara. Kepala Alex muncul dari belakang sofa.
"Nah itu dia. Kau jaga dia sampe jam 6 sore. Aku mau makan lalu mandi dan tidur sebentar. Apa kau mengerti?" tanya Dara.
"Ohh iya, makanan dan pakaiannya ada di tas itu." Menunjuk ke atas meja dekat sofa.
"Tidak, semuanya sangat jelas," ucap pengasuh tersebut.
"Baiklah, aku tinggalkan kau dengannya." Dara menepuk pundak pengasuh itu lalu pergi ke kamarnya.
"Alex ... Sini sama kakak, ayo kita main sembunyi."
"Tata ...." Alex menghampiri pengasuh tersebut dengan perlahan ke pelukannya.
"Anak pintar." Senyuman tipis dan tatapan tajam pada pengasuh tersebut.
_______________
Linetta menghampiri Yuki dengan membawa beberapa potong buah dan jus.
"Apa Yuki tidak cape dari tadi tersenyum terus mama lihat?" goda Linetta.
"Mama!! Yuki tidak tersenyum, kok," sahut Yuki langsung menggigit kedua bibirnya.
"Hehehe ... Ini mama bawakan Yuki beberapa buah, pasti Yuki cape dari tadi membersihkan kamar Reno."
"Terima kasih, Mah.Tetapi, Yuki tidak cape kok,"
"Baiklah, mama tidak mengganggu Yuki lagi. Buahnya mama taruh di atas meja jangan lupa di makan." Linetta bergegas pergi agar anaknya menyelesaikan perkerjaan yang menyenangkan tersebut.
Drrt ... Drrt .... Ponsel Yuki bergetar.
"Siapa yang meneleponku?" Yuki melihat ponselnya. "Nomor tidak dikenal." Yuki tidak mengangkat telepon tersebut.
Ponsel berbunyi lagi tetapi, bukan telepon melainkan pesan 'Jika kau tidak mengangkat teleponku maka kau tidak bisa bertemu Alex lagi.' Seketika Yuki terhenti dan segera menelpon orang itu kembali.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan pada Alex? Jika terjadi sesuatu kepada Alex seluruh keluargamu tidak akan selamat!!" ancam Yuki.
"Ho'ohh ... Tidak perlu terburu-buru. Cukup bawakan uang 500 juta saja dan akan kukirimkan alamatnya. Aku tunggu sampe tengah malam," perintah orang tersebut.
"Sialan kau!!"
"Ohh iyaa, kau harus datang sendiri jika ada orang lain kau taukan apa yang akan terjadi. Haha ...."
Tut ... Tut ... Tut ....
"Bos, apa dia memiliki uang sebanyak itu?"
"Pastinya, aku melihat anak ini beberapa kali naik mobil mewah dan ayahnya seorang pembisnis besar."
"Lalu bagaimana dengan wanita tadi bos?" Menanyakan Dara. "Mengapa Bos menelpon gadis ini, bukannya dia ibunya?"
"Dia bukan ibunya, mungkin saja dia hanya pengasuh saja tetapi berlaga seperti pemilik rumah."
"Apa Bos yakin?"
"Isshh ... Kau ini." Mengepalkan tangan hendak meninju. "Aku tidak pernah melihat anak ini dengan ayahnya bersama dengan wanita itu dan wanita itu juga tidak pernah datang ke rumah anak ini."
Ucap penculik tersebut dengan beberapa anak buahnya di sebuah gudang yang terbengkalai di tengah hutan.
"Kali ini mangsa kita sangat kaya raya sebentar lagi kita akan menjadi kaya haha ...." Penculik tersebut tertawa dengan wajah yang licik.
Suara mobil Yuki sudah terdengar mendekati gudang tersebut. Para penculik segera menutupi wajah mereka dengan topeng sembari memegang pistol dan beberapa ada benda tajam tajam di pinggang mereka.
Yuki memasuki gedung tersebut dengan berjalan cukup cepat, tatapan tajam dan tangan kanan membawa koper. Yuki melempar koper tersebut ke arah para penculik tersebut.
"Berikan anak itu padaku!!" hardik Yuki.
"Periksa uangnya dan bawa anak itu," perintah si penculik.
"Mama ... Mama ...," panggil Alex.
"Bos ... Bos ...," panggil anak buah penculik dengan nada gembira melihat setumpuk uang.
Yuki melihat para penculik sedang lengah karena, kesenangan melihat setumpuk uang dan di situlah Yuki perlahan mengambil Alex.
"Tamatlah kalian," ucap Yuki yang sudah mendapatkan Alex.
"Jatuhkan senjata kalian," ucap Irin dengan membawa cukup banyak anak buah.
"Oii ... Apa kalian mau menakuti kami dengan senjata kalian itu. Haha ...." Penculik tersebut tertawa melihat anak buah Yuki menodongkan pistol ke arah mereka karena, pistol yang penculik punya hanyalah bohongan.
"Kau bawa Alex ke mobil sekarang," perintah Yuki.
"Berikan aku peredam dan pistolmu," sambung Yuki.
Irin segera memberikan apa yang di ucapkan Yuki, sembari memasang peredam dan mengisi berapa peluru Yuki sedikit mendekati para penculik tersebut.
Dor ... Dor ... Dor ...
*
*
Jangan lupa tinggalkan jejaknya kakππ
*
*
__ADS_1