My Lady Is The Mafia 1&2

My Lady Is The Mafia 1&2
65


__ADS_3

Dara terkejut tamparan yang di layangkannya itu terkena wajah Mark.


"Sayang!!"


"Apa kau sudah gila!! Anakku ada padanya, jika terjadi sesuatu dengan anakku, kau tidak akan ku maafkan. KELUAR!!" bentak Mark.


"Sayang, aku tidak bermaksud melukai anakmu,"


"Aku bilang keluar!! Kita akan membahas ini nanti, sekarang kau tinggalkan rumahku."


"Tapi Mark.."


"Papa bilang keluar.. Ya keluar!!" usir Hendry.


"Kau tidak akan diterima di rumah ini lagi dan aku tidak mau melihat kau berada di dekat papa lagi," sambung Henry.


"Nona sebaiknya, Nona kembali dahulu. Saya akan mengantarkan Nona ke depan," ucap Bibi sembari memegang Dara.


"Lepaskan aku!! Aku bisa jalan sendiri," ucap ketus Dara lalu pergi.


"Leon bawa Alex ke atas. Kalian bawa mobil sendiri saja berangkat ke sekolah, papa akan mengantar Yuki kembali," ucap Mark.


"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri," sahut dingin Yuki.


"Jika kau ingin kerja pergilah, aku akan tinggal.sebentar di sini," sambung Yuki.


"Ohh.. Nama kamu Alex yaa.. Nama kakak Yuki," ucap.Yuki sembari menaiki tangga.


"Sepertinya kau tidak ada harga diri di matanya," ucap Henry.


"Yakk!! Berangkatlah sekolah!!" sahut Mark.


"Hmm.. Alex akan mendapatkan mama seumuran denganku.. Bye.. Bye..,".ucap Henry sembari menuju keluar.


"Dasar anak durhaka!!"


"Tapi mereka bukan anak kandungmu, Tuan," sahut Bibi.


"Tetap saja durhaka, Bi."


"Terserah, Tuan saja. Saya akan menemui Nona dan Alex." Bibi menuju ke atas.


"Sebenarnya ini rumah milik siapa? Mengapa diriku tidak ada harga dirinya?" gumam Mark.


Tok.. Tok.. Tok..


"Boleh saya masuk Nona?" tanya Bibi.


"Tentu saja," sahut Lily tersenyum.


Bibi duduk di samping Yuki dan memperhatikan Yuki bermain dengan Alex. Terlihat jelas kebahagian Yuki dari wajahnya yang terus menerus tersenyum lebar.


"Apa Nona tidak memiliki adik?"


"Iya. Saya anak tunggal."


"Nona sangat menyukai Alex ya?"


"Sangat suka. Apakah Alex boleh saya bawa pulang?"

__ADS_1


Bibi tersenyum. "Jika ingin membawa pulang, tanyakan dengan Tuan Mark, saya tidak memiliki hak untuk itu Nona."


Tiba-tiba Mark datang dan berdiri di depan pintu, lalu berkata, "Apa kau ingin menculik anakku? Bibi tolong ambilkan baju dan popok Alex, dia belum mandikan?"


"Ohh iya Tuan. Saya akan mempersiapkannya dahulu," ucap Bibi lalu menuju ke luar.


"Kau sangat mudah jika di culik," ucap Mark.


"Tidak ada yang berani menculikku, jika mereka memiliki seribu nyawa mungkin saja bisa menculikku. Seperti dirimu!!" ucap ketus Yuki.


"Nyawaku hanya ada dua dan sekarang tinggal satu."


"Jika hanya tinggal satu, mengapa tidak kau jaga dengan baik. Jika bukan mati di tangan keluargaku, kau akan mati di tangan pacarmu itu."


"Mengapa aku harus mati di tangannya?"


"Pikirlah sendiri!!"


Tok.. Tok.. Tok..


"Permisi. Saya akan membawa Tuan Muda Alex untuk mandi dahulu," ucap Bibi. Bibi mengambil Alex dari pelukan Yuki.


"Di mana ibu mereka?" tanya Yuki tiba-tiba.


"Mereka tidak memiliki ibu."


"Apa mereka keluar dari rahimmu?"


"Aku tidak memiliki rahim!! Mereka aku ambil dari jalanan dan mereka tidak tau tentang orang tuanya. Bagaimana otakmu berkerja bisa-bisanya kau mengatakan mereka keluar dari rahimku?" ucap Mark sedikit ketus karena tidak mengerti dengan perkataan Yuki.


"Kau bilang tidak memiliki ibu, mungkin saja dia keluar dari rahimmu."


"Apa yang kau lakukan?" tanya Mark.


"Aku ingin mandi. Apa aku harus bayar dahulu untuk mandi di sini?"


"Lalu mengapa kau membuka lemari pakaianku?"


"Mencari anak!! Yaa.. Mencari baju. Bagaiman otakmu berkerja bisa-bisanya menanyakan hal seperti itu?" Yuki membalikkan perkataan Mark.


"Ke sabaranku sudah habis. Aku tidak tahan lagi denganmu," ucap Mark sembari mendekati Yuki dengan menggulungkan lengan bajunya serta membuka satu kancing bajunya.


Bruk!!.. Yuki mundur hingga menabrakkan dirinya di lemari. Mark sangat dekat dengan Yuki mungkin jarak mereka hanya sejengkal saja.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Yuki mendongakkan kepalanya.


"Apa sikapmu selalu seperti ini terhadap orang lain?"


"Apa yang kau maksud?"


"Kau tau apa yang ku maksud. Apa sikapmu hanya denganku seperti ini? Mengapa kau tidak bisa menerimanya?"


"Apa yang kau maksud? Dan menjauhlah dariku!!" Yuki mendorong Mark, tetapi Mark cukup kuat. Mark mencengkram tangan Yuki lalu menahan tangannya rapat ke lemari.


"Akhh!! Lepaskan aku Mark!!" Lily kesakitan.


"Apa kau akan terus seperti ini denganku?" Mark mendekati wajahnya ke wajah Yuki.


Yuki membulatkan matanya dan meneguk beberapa kali salivanya, wajah Yuki mulai memerah. Saat ini Yuki sangat kebingungan dia merasa sedang bersama Reno, tetapi di hadapannya sekarang bukanlah Reno.

__ADS_1


Mark terus melihat bibir Yuki yang mungil dan sedikit terbuka tersebut. Mark mendekati bibir Yuki dengan perlahan-lahan hingga sedikit tersentuh, Yuki mulai menutup matanya.


Tok.. Tok.. Tok.. Suara ketukan pintu membuat Yuki terkejut dan spontan mendorong Mark, lalu dengan sergap membuka lemari baju memilih-milih baju secara acak.


"Akh!!" Mark memegang dadanya.


"Tuan!! Apa Tuan baik-baik saja?"


"Iyaa saya baik-baik saja kok," sahut Mark masih memegangi dadanya.


"Baiklah jika tidak apa-apa Tuan Muda Alex sudah selesai mandi, dan ini celana anak saya sepertinya muat dengan Nona, tetapi hanya celana saja yang tersisa." ucap Bibi sembari menaruh Alex di kasur serta celana.


"Ohh.. Iya terima kasih Bibi. Kalau begitu saya akan mandi dahulu," ucap Yuki mengambil baju Mark secara acak dan celana yang di berikan Bibi, lalu bergegas menuju kamar mandi.


"Nona.. jangan mandi di.."


Ucap Bibi terhenti karena Yuki sudah memasuki kamar mandi Mark.


"Tidak apa-apa. Biarkan saja dia mandi di situ," sahut Mark.


Bibi tersenyum. "Anak Tuan saja tidak berani mandi di kamar, Anda. Tetapi Nona itu sepertinya tidak pengecualian."


"Bibi!!"


"Hehe.. Baiklah. Kalau begitu saya tinggal dahulu Tuan."


______________


Anna datang ke rumah sakit untuk menjenguk Reno, dia tau kalau saat ini Yuki tidak mengunjungi Reno. Sesampainya di ruangan Reno, Anna membuka gorden dan membersih-bersihkan ruangan Reno.


Anna menghela napas. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk melukaimu, aku tidak tau akan menjadi seperti ini," ucap Anna sembari menggenggam kedua tangan Reno.


"Apa kalian sudah membersihkan kamar Reno?" tanya Dokter Park kepada perawat baru.


"Tadi ada Nona muda datang dan dia mengatakan kalau dia akan memberikannya, Dok," jawab perawat tersebut.


"Ohh baiklah. Terima kasih." Dokter Park segera menuju ruangan Reno, dia pikir itu Yuki.


"Yuki!!" panggil Dokter Park. Anna menoleh ke arah panggilan tersebut.


"Anna!! Maafkan paman, paman kira tadi kau Yuki."


"Tidak apa-apa. Paman."


Dokter Park mendekati Anna. "Dia akan segera bangun."


"Aku harap begitu, Paman hiks.." Anna mulai menangis.


"Semuanya akan baik-baik saja." Dokter Park menepuk-nepuk pundak Anna yang menangis sembari menggenggam erat tangan Reno.


*


*


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kak😊🙏


*


*

__ADS_1


__ADS_2