
Tak jauh berbeda dengan keadaan Jingga. Shaka pun tengah berbaring diatas kursi santai dibalkon kamarnya. Hanya saja posisinya yang berbeda, namun tatapannya tetap sama pada satu tujuan. Langit hitam berjuta bintang. Shaka memejamkan mata, ketika memori otaknya berputar pada kejadian dimana mereka masih berbalutkan putih abu.
Flash back on~
"Apa kamu suka?" tanya Shaka menolehkan wajah menatap sang kekasih.
Diatas hamparan hijau, kedua anak manusia yang masih mengenakan seragam itu tengah terbaring memandangi langit dengan gemerlap jutaan bintang. Shaka membiarkan satu lengan menjadi bantal untuk sang kekasih dengan satu lengannya lagi ia lipat, menjadi bantal untuknya.
Jingga ikut menoleh mentap sang kekasih seraya menganggukan kepala. Disertai senyuman manis, menandakan jika gadis itu tengah bahagia.
Shaka melepaskan tangan yang menjadi bantal dikepalanya. Lalu membiarkan tangan itu terulur merapikan anak rambut yang menjuntai diantara wajah cantik sang kekasih. Ia memiringkan sedikit tubuhnya untuk berhadapan dengan sang pujaan.
"Meskipun mereka begitu bersinar. Buatku hanya kamu yang selalu menyinari hidupku," ucap Shaka menatap dalam Jingga.
"Cih! Gembel," ledek Jingga.
"Ck! Aku serius," balas Shaka tak terima.
"Iya kah?" tanya Jingga mendekatkan wajahnya hingga menyisakan beberapa senti saja dengan lelaki tampan itu.
Lama keduanya saling menatap, hingga Jingga memutuskan tatapan dan kembali keposisinya. Sungguh terlalu dekat, membuat jantungnya tak bisa diajak damai. Begitupun yang dirasa Shaka. Ia hampir kehilangan oksigen, kala wajah cantik itu begitu dekat. Tanpa sadar Shaka justru menahan napas, mengalihkan sesuatu yang memberontak dalam dirinya.
"Ehemm!! Kamu tuh jangan suka ngomong manis," celetuk Jingga.
"Kenapa? Bukannya gadis suka yang kek gitu?" tanya Shaka heran.
"Itu gak kek kamu. Kamu kan biasanya pedas," balas Jingga apa adanya.
"Ck! Masa iya ngomong sama pacar, harus sama kek ngomong sama musuh," protes Shaka menggerutu.
Tentu saja hal itu membuat Jingga terkekeh. "Tapi, aku suka kamu yang kek gitu," jelasnya seraya menarik hidung mancung Shaka.
"Aww! Aww! Sakit," ringis Shaka menyelamatkan hidung kebanggaannya yang mungkin saja bisa terlepas. Gak masuk akal emang, tapi itulah Shaka.
__ADS_1
Jingga tertawa meledek melihat Shaka yang menggosok-gosok hidungnya. "Dasar, lebay!" ledeknya.
"Ishh kamu tuh ini beneran sakit. Cewek ya, tapi tenaga cowok," kesal Shaka disertai gerutuan yang samar-samar terdengar.
"Biarin, dari pada kelakuan aummmhh," Jingga memperagakan harimau mencakar. "Di cubit hidung dikit aja, jadi meooww," ledeknya lagi yang kemudian tergelak.
Tentu saja hal itu sengaja dilakukan Jingga, mancing orang pemarah bagai kesenangan tersendiri untuk gadis cantik itu. Dan benar saja, Shaka langsung bangkit dan mengukung Jingga dibawah tubuhnya, lalu siap menyerang perut sang gadis. Menggelitiki perut adalah jurus ampuh untuk membukam mulut sang kekasih yang terlampau julid padanya itu.
"Ampun gak?" tawar Shaka.
Bukan menjawab, Jingga semakin tergelak, kala tangan Shaka sudah meresahkan area perutnya. Bahkan gadis itu semakin menantang lelaki yang kini berada diatas tubuhnya, seraya mencegah tangan nakal tersebut untuk berhenti.
"Aku gak takut!" tantang Jingga disela tawanya.
"Ohh gak takut ya?" Shaka semakin berontak memberikan serangan diperut dan pinggang sang gadis.
Ditengah pemberontakannya, Jingga tak sengaja menarik kemeja Shaka. Hingga lelaki itu terjerambab dan mempertemukan bibir mereka.
Deg!
Namun tanpa lelaki itu duga, Jingga justru kembali menarik kemeja itu lagi. Hingga benda kenyal itu bertemu kembali. Menyesapnya terlebih dahulu, sebelum Shaka melakukannya.
Mendapat sinyal seperti itu tentu tak disia-siakan Shaka. Ia membalasnya tak kalah dalam, hingga decapan terdengar merdu dimalam yang begitu sunyi itu.
Mengikuti naluri, satu tangan Shaka bergerak menyelusup kebalik kemeja sang gadis, membelai kulit selembut kapas itu. Jingga memejamkan mata, menikmati sentuhan baru yang diberikan Shaka. Jika sebelumnya, hanya ciuman semata. Kali ini tangan Shaka benar-benar sudah tak dapat dikontrol. Hingga membuat sesuatu dibawah sana berdenyut dari keduanya.
Tangan Shaka sudah berjalan hendak meraup kedua buah yang seperti menantang itu, namun tiba-tiba saja suara seseorang menghentikan aktifitas mereka.
"Hei siapa disana?" tanyanya.
Segera Shaka bangkit dari posisinya dengan perasaan terlonjak. Begitu pun yang dirasa Jingga, hingga ia ikut bangkit dari posisi. Mereka celingukan mencari suara yang tak terlihat siapa pemiliknya.
Namun sorot lampu yang sekilas menerapa mereka, membuat kedua insan mengerti jika pasti itu seseorang yang berjaga disekitar sana.
__ADS_1
"Security!"
Segera Shaka bangun dan mengulurkan tangan pada Jingga untuk berlari meninggalkan tempat tersebut. Sejoli itu tertawa meninggalkan taman sekolah menuju parkiran. Acara kelulusan Shaka yang digelar disekolah, membuat acara itu berjalan sampai sore hari. Hingga beberapa siswa memilih menghabiskan waktu terlebih dahulu dilingkungan sekolah, seperti yang dilakukan dua insan itu.
Hah~ hah~
Keduanya terengah-engah kala sampai diparkiran, seraya menundukan tubuh dengan tangan yang bertumpu pada lutut. Takut akan kena cyduk mereka memilih untuk berlari.
"Cape?" tanya Shaka dan hanya diangguki Jingga. Namun kemudian mereka tergelak bersama seraya berpelukan. Merasa lucu akan tingkah mereka sendiri.
Jika saja tak ada security apa mungkin mereka akan melakukan hal itu? Padahal mereka memiliki kebebasan untuk keluar masuk kamar mereka masing-masing. Namun mereka tak berani untuk melakukan lebih dari sekedar ciuman. Mereka akan senantiasa saling menjaga dan memperingatkan satu sama lain untuk tak melakukan lebih sebelum waktunya tiba.
Flash back off~
**
"Mmmhhhh"
Tiba-tiba saja Shaka mendengar sebuah lengu han. Hingga membuyarkan lamunnanya. Seketika ia membuka mata dan bangkit. Ia terdiam sejenak untuk memastikan suara tersebut.
"Apa gue salah denger?" tanyanya bermonolog sendiri.
Hingga suara itu kembali terdengar semakin nyaring. Shaka bnagkit dari duduknya untuk mencari sumber suara tersebut. Ia harus celingukan ke lantai bawah untuk memastikan. Namun suara itu hilang begitu saja.
"Ck! Memikirkannya aja udah buat gue menghalu. Masa iya, gue sampe bayangin suara lengu han Jinjin," gerutunya. "Dan ini?" tanyaya menatap gundukan dari balik celana, yang tiba-tiba saja membengkak.
"Astaga! Lu emang gak waras Sha," umpatnya pada diri sendiri. "Sebaiknya gue masuk. Angin malam bahaya, bisa lancarin halu gue."
Shaka memutuskan untuk memasuki kamar, hingga ketika ia hendak membuka pintu penghubung dengan balkon tersebut. Tiba-tiba saja suara itu kembali terdengar. Dan kali ini justru saling bersahutan dengan suara yang kian keras.
"Anak set*n!" umpatnya, kala menyadari jika kamar sebelah lah penghasil suara-suara meresahkan tersebut.
"Anjir gue lupa, tetangga gue lagi belah duren, gobl*k!!!!"
__ADS_1
******
Asyem dah manten baru bikin tetangga sebelah repot🙈 Jangan lupa jejaknyaa yaa giasss😘