
Tap! Tap! Tap!
Suara langakah kaki terdengar menggema disebuah lorong. Sepasang sumi istri yang dipandu seorang pria, yang diketahui seorang aparat kepolisian tengah berjalan menuju sebuah ruangan.
Ceklek!
Pintu sebuah ruangan terbuka. Nampak seorang pria tengah duduk diatas kursi. Diruangan luas tersebut. Sepasang suami istri itu dipersilahkan memasuki ruangan itu. Kemudian keduanya duduk dikursi yang berhadapan dengan pria tersebut yang hanya tersekat sebuah meja.
Pria itu menatap nanar sepasang manusia tetsebut. Penampilannya sangat lusuh dengan tubuhnya yang kurus. Wajah yang biasa bersih dan terurus kini begitu terlihat berantaakn dengan bulu yang menumbuhi beberapa bagian wajahnya.
"Makasih kalian mau kesini," ucapnya.
Shaka memalingkan wajahnya, terlihat enggan menatap pria itu. Sungguh ia belum bisa memaafkan manusia yang sudah membuat dirinya hampir kehilangan kehidupannya.
Jingga yang mengerti, menggenggam tangan suaminya itu untuk mencoba menenangkannya. Lalu beralih menatap pria dihadapannya.
"Untuk apa kamu meminta kami kesini?" tanya Jingga.
"Gue ... Gue mau meminta maaf sama kalian," ucapnya menunduk.
"Cih! Gue rasa itu gak penting. Dan gue gak butuh permohonan maaf dari lu!" sinis Shaka.
"Gue tau, Sha! Ini percuma gue lakuin," balas Radit, pria dengan baju tahanan yang ia kenakan.
"Gue udah mendapat balasan atas apa yang udah gue lakuin. Gue udah mengakui, kalo gue salah. Dan gue sungguh-sungguh tulus minta maaf sama lu," lanjutnya memelas.
"Gue dibutakan amarah dan benci. Hingga membuat gue hilang akal dan merencanakan semua itu,"
"Perbuatan gue memang udah keterlaluan. Gue emang gak layak buat dimaafin. Tapi, gue akan tetap lakuin itu. Setidaknya gue bisa hidup tenang, dan bisa memperbaiki diri gue lebih baik lagi," lanjutnya lagi.
Tak ada tanggapan dari sepasang suami istri itu. Entah mereka bisa mempercayai ucapan pria itu atau tidak. Mereka masih butuh waktu untuk memaafkan lelaki tersebut.
"Cuma itu yang ingin gue sampaikan. Sekali lagi, maafin gue! Dan makasih untuk waktu kalian," final Radit.
Seorang aparat kembali membawa lelaki dengan tangan diborgol itu untuk kembali ke tempatnya. Baru saja langkahnya sampai didepan pintu, suara Shaka menghentikannya.
"Gue, maaafin!" ucapnya singkat. Sontak saja Jingga menoleh dengan tatapan tak percaya.
Radit tersenyum tanpa menoleh, "Makasih, Sha! Makasih," ucapnya.
"Perbaiki diri lu sebelum terlambat! Dan jangan pernah muncul lagi dihadapan gue dan Jinjin," titah Shaka dan diangguki Radit dengan segala penyesalannya.
"Akan gue ingat itu," balasnya. Lalu berlenggang pergi, setelah petugas memberitahu waktunya sudah selesai.
Jingga masih menatap tak percaya suaminya itu. Selapang itukah hatinya? Pikirnya. Ia menggenggam erat tangan yang yang lebih besar darinya itu menuju mobil yang terparkir didepan kantor polisi.
"Kenapa? Tampaknya kamu bahagia banget?" ledek Shaka ketika mereka sampai didepan pintu mobil.
Jingga tersenyum dan mengalungkan tangan dileher sang suami. "Suamiku keren," pujinya.
__ADS_1
"Ck" Shaka berdecak merasa diledeki istrinya itu.
"Serius," ucap Jingga meyakinkan, namun masih tak ditanggapi suaminya itu.
Jingga menangkup wajah suaminya itu. "Kamu benar-benar maafin dia?" tanyanya.
Shaka mengedikan bahunya. "Entahlah! Aku hanya berpikir, mungkin aku harus maafin dia," balas Shaka.
"Kenapa?" tanya Jingga.
"Aku bukan Tuhan yang harus menghakimi dia. Jika Tuhan saja maha memaafkan, kenapa aku nggak? Lagi pula jika aku bersikukuh gak mau maafin, bukankah aku sama aja kek dia?" balas Shaka hingga membuat senyum Jingga kian mengembang.
Perempuan itu menarik kedua pipi Shaka, hingga pria itu meringis kesakitan. "Uhh bijak banget sih! Suami siapa ini?" gereget Jingga.
"Aisshh, sakit!" Shaka ikut menarik pipi Jingga, hingga keduanya saling tarik menarik pipi dan berakhir dengan pelukan yang diiringi gelak tawa.
"Kamu tau gak?" tanya Shaka.
"Hem. Apa?" tanya Jingga balik seraya mendongak dan melepas pelukannya.
"Yang tadi aku ucapin itu teori dari si papa," celetuk Shaka, hingga membuat Jingga terdiam sebentar.
"Jadi kata bijak itu?" tanya Jingga memastikan.
"Malas banget aku maafin si Radit. Itu tuh hanya ilmu dari si papa agar lawan takluk dan enggan mendekat lagi," lanjut Shaka.
Sontak saja hal itu membuat Jingga menjatuhkan dagunya dengan mata menatap tak percaya. Memang salah, jika beranggapan Shaka begitu berlapang dada. Dan benar saja, semua itu seolah hanya perintah sang papa.
**
"Ciee ... Manten baru, udah kuat berapa ronde nih?" ledek Sena.
Kini keempat pasangan itu tengah berada dikafe Abi. Menikmati weekend mereka ditempat menyejukan tersebut.
"Ck! Banyak lah, emang cuma lu doang," balas Rizky tak mau kalah.
"Ngomong-ngomong soal cari pahala, kalian udah siap buat dapat momongan?" tanya Deril.
"Kalo kita gimana dikasihnya aja sih, tapi kita usahain untuk menunda sampai beres kuliah," balas Sena.
"Pake kontrasepsi kak?" tanya Chika shok.
"Nggak! Kita pake metode perhitungan kalender," balas Sena.
"Gimana caranya?" Kini Renata yang bertanya.
"Aku sama Jinjin, selalu membuat perhitungan. Kami puasa ditanggal subur dan sampai sekarang aman," jelas Sena.
"Hem, jika tiba-tiba jadi. Itu sebuah keberuntungan," tambah Jingga.
__ADS_1
"Wah keren!" puji Chika.
"Kalian sendiri?" tanya Sena pada dua wanita itu.
"Kita gimana dikasihnya aja sih," balas Chika.
"Kita juga gitu," tambah Renata.
"Oh iya, gimana kabar Aska? Udah lama gak dapat kabar dia?" tanya Deril.
"Aka lagi sibuk sama kuliahnya," balas Sena yang langsung dapat tatapan tajam Dari Abi.
"Je elah, kondisiin tuh mata," ledek Rizky dan dibalas kekehan mereka.
Sena yang mengerti langsung memeluk tubuh tegap disampingnya itu. "Ya ampun, suamiku masih aja cemburu. Dia kan kakak sepupu kita," ucap Sena yang hanya dibalas guliran mata malas suaminya itu.
"Emangnya siapa Aska?" tanya Chika. "Kek familier ya?" lanjutnya.
"Kamu pasti lupa. Aska sahabat aku juga, sepupu mereka," jelas Deril menunjuk Sena dan Abi dengan dagunya.
Chika nampak berpikir sejenak, "Oh iya, aku ingat. Dia yang suka bareng kak Sena itu, ya?" tanyanya memastikan.
"Iya. Dia bodyguard Sensen," kekeh Deril dan dibalas cebikan bibir oleh Sena dan disambut tawa mereka.
"Oh iya, katanya kalian mau ngadain resepsi bareng, ya?" tanya Rizky.
"Entahlah, si mama ngeyel banget pengen bikin resepsi," balas Shaka.
"Ya bagus dong, kita yang pengen malah entahlah," balas Renata sendu.
"Kenapa? Onty Feby sama onty Jesi masih belum akur juga?" tanya Jingga dan dibalas gedikan bahu oleh Renata.
Semua orang memghembuskan napas panjang, tentu tak mudah untuk menyatukan dua orang bermusuhan itu. Hingga Sena tersenyum kala tiba-tiba ide diotaknya muncul.
"Hem, aku tau caranya biar mereka cepat akur," balas Sena.
"Apa?" tanya Renata.
"Kalian usaha lebih giat lagi," balas Sena.
"Usaha? Usaha apa?" Bukan Renata, tapi Rizky yang bertanya.
"Usaha buat bikin baby," balas Sena.
"Terus jangan lupa bikin baby kembar," tambah Jingga.
"Kenapa?"
"Kalo baby nya cuma satu. Sampe lebaran gajah mereka gak bakal akur. Rebutan terus."
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejakny ayaa gaisss😘😘