My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Hangeout dua sahabat


__ADS_3

Sesuai rencana, sore ini selepas pulang ngampus Sena menagih janji pada Jingga untuk pergi hangeout. Untuk pertama kalinya setelah menikah, Sena bisa jalan bareng lagi bersama sahabat yang sekarang jadi kakak iparnya itu.


Biasanya mereka akan pergi menumpangi kuda besi merah kesayangan Jingga, namun karena nona Jingga masih tersisa rasa sakit, mereka pun memutuskan untuk naik taxi online. Mang Asep yang biasa mengantar gadis itu belum pulang mengantar sang mama yang entah nyangkut dimana.


Abi sempat menawarkan diri untuk mengantar mereka, namun Sena menolak keras. Alasannya, ia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Jinjin. Jika ada sang suami yang mengawasi, tentu ia tak bisa bebas memilih barang yang ia mau.


"Awas ya, jangan malam-malam! Jangan macem-macem!" pesan Shaka saat mengantar kedua sahabat itu memasuki taxi.


"Aisshh posesif amat!" ledek Sena seraya membuka pintu mobil tersebut dan hanya dibalas cebilan bibir oleh Shaka.


"Bye!" pamit Jingga tersenyum menurunkan kaca mobil, lalu melambaikan tangan.


Shaka tersenyum seraya melakukan hal yang sama. Sejujurnya tentu saja ia kesal melihat sang istri pergi tanpanya. Namun ia harus mengalah, setelah Jingga menjanjikan malam spesial padanya.


"Aka!!!" pekik Sena menyembul dari jendela mobil, melihat kebelakang.


"Aku mau bawa Jinjin sampai pagi, wlek!" teriak Sena diiringi juluran lidah, sesaat setelah mobil itu melesat.


"Kurang asem, dasar adek lucknut!" teriak Shaka geram, ia hendak mengambil sendal untuk dilempar.


Namun mengingat itu sendal rumah kesayangannya, ia pun mengurungkan niatnya. Lelaki itu hanya herdecak kesal seraya bertolak pinggang.


"Astaga, ada apa sih pak boss. Sore-sore misuh-misuh?" ledek Jaki menghampiri.


"Au ah kesel gue," kesal Shaka.


Jaki hanya geleng-geleng kepala. Tentu tak asing baginya melihat tingkah adek kakak yang asyik-asyik ribut dan saling adu argumen itu.


"Ya udahlah, ngalah napa?" ucap Jaki menepuk pundak temannya itu. Shaka hanya berdecak kesal menanggapi.


"Oh iya, gue kesini mau kasih tau lu. Si black udah mulus kembali, mau lu cek?" jelas Jaki.


Shaka terdiam tidak segera menanggapi. Tentu ada sedikit ragu untuk melihat benda kesayangannya. Bayangan akan hari itu, menyisakan sedikit rasa takut dihatinya.


"Kalo lu belum siap, gak apa-apa! Gue pasti jagain si black buat lu. Ntar kalo lu udah yakin, lu tinggal jemput aja," lanjut Jaki menepuk bahu Shaka. Tentu ia tau akan ada sedikitnya trauma dihati temannya itu.


Shaka hanya mengangguk menanggapi. Setelah mengatakan itu, Jaki berpamitan kembali. Karena banyaknya cutsomer, membuat pria yang seumuran dengan Shaka itu teramat sibuk.


"Maafin gue, black!"


**

__ADS_1


Sementara itu didalam taxi Sena tergelak setelah berhasil membuat sang kakak meraung. Jingga hanya terkekeh menggelengkan kepala. Entahlah ia bingung dengan kelakuan adek kakak itu, tak ada satupun dari mereka yang menuruni papa Ar yang kalem. Keduanya teramat barbar sama halnya seperti mama Ay.


"Eh Jin," suara Sena mengalihkan atensinya. Sena berbisik agar suara mereka tak terdengar pak supir.


"Gimana rasanya malam pertama?" tanya Sena cekikikan.


"Emm, entah!" balas Jingga sekenanaya.


"Lha kok gitu?" tanya Sena sedikit keras, lalu kemudian kembali mengecilkan suranya. "Bukannya tadi pagi aku denger kalian lagi, ehem-ehem?" tanya Sena heran.


Jingga terkekeh mendengar pertanyaan Sena. "Aku gak tau rasanya malam pertama. Yang aku tau pagi pertama," bisik Jingga.


"Hissshh!! Sama aja," teriak Sena yang sukses membuat pak supir terlonjak kaget.


"Kenapa mbak?" tanya pria paruh baya itu.


"Ah, itu ... Nggak pak, maaf," balas Sena kikuk. Jingga cekikikan melihat wajah kesal adik iparnya.


Tak berselang lama kedua gadis yang sudah tak gadis lagi itu sudah sampai disalah satu pusat perbelanjaan. Tujuan utama mereka tentu saja sebuah toko perlengkapan wanita.


"Apa yang ingin kamu beli?" tanya Jingga ketika mereka memilih kain-kain dideretan stand disana.


"Emm.. Aku mau beli sesuatu," ucap Sena yang sepertinya baru mengingat sesuatu.


Tanpa menjawab, Sena menarik tangan Jingga menuju deretan stand lain. Hingga sampailah mereka disalah satu stand yang membuat Jingga tercengang.


"Ini?" tanya Jingga tak percaya.


Sena tersenyum menampilkan deretan giginya. "Mulai sekarang, kita harus belajar untuk menyenangkan suami. Salah satunya ya ini, biar suami kita makin klepek-klepek dan gak kegoda sama valakor yang mengintai," jelas Sena.


Jingga terkekeh seraya menggelengkan kepala melihat Sena yang bersemangat memillih kain itu. Ia pun mencoba mengangkat salah satu gaun tipis berwarna hitam dari sana.


"Apa bisa pake ginian?" tanya Jingga menimang-nimang.


Sena mengalihkan tatapannya pada kain itu dan Jingga bergantian. "Bisa dan itu pas. Cocok buatmu yang tangguh dan euurrggh!!" timpal Sena seraya menampilkan cakaran macan.


Jingga berpikir sejenak, hingga kemudian seringai nampak dari bibirnya. "Oke, aku pilih ini," balasnya.


Sena tersenyum senang, kakak ipanya menyetujui rencananya. "Jangan satu pilih lagi!" titahnya.


"Harus?" tanya Jingga heran.

__ADS_1


"Harus dong. Itu cuma buat malam ini. Buat malam berikutnya, harus pilih lagi," balas Sena dengan enteng. "Nah yang ini juga cocok!" lanjutnya memperlihatkan gaun berwarna merah, lalu memberikannya.


Jingga hanya pasrah menerima semua pemberian Sena. Hingga beberapa gaun didapatnya. Begitupun Sena sendiri, ia sudah memilih gaun dari sana. Bahkan niat hati ingin membeli koleksi baru ia terlupakan, setelah memborong berbagai macam gaun malam.


"Kemana lagi?" tanya Jingga setelah keluar dari toko tersebut.


"Emm ...." Sena tampak berpikir sejenak, kemudian segera ia meraih tangan Jingga dan menyeretnya kesutu tempat.


"Eh, kemana?" tanya Jingga.


"Udah ikut aja!" ajaknya yang kini berjalan cepat. Jingga hanya menghembusakn napas panjang dan pasrah mengikuti langkah cepat perempuan itu.


Hingga mereka sampai disebuah SPA, yang tak jauh dari toko tersebut.


Jingga mengerenyitkan dahi meminta penjelasan. Sena yang mengerti tersenyum manis seraya mendudukan diri diatas kursi didepan meja pendaftaran yang diikuti Jingga pula.


"Selain benda tadi, ini paling penting. Tubuh sehat dan terawat itu menjadi kartu as untuk kita menyenangkan suami. Jadi kita manjakan tubuh kita untuk siap bertempur sampai pagi," jelas Sena dan disambut tawa oleh Jingga. Sungguh terlihat berpengalaman sekali, perempuan manja itu.


Kedua sahabat itu mulai berganti pakaian dengan handuk putih sebatas paha. Jingga kaget bukan main kala melihat tanda karya memenuhi bagian dada Sena.


"Astaga! Mengerikan," kekeh Jingga meraba salah satu tanda tersebut.


"Kenapa? Kamu gak bikin tanda kek gini?" tanya Sena.


"Ada," balas Jingga.


"Dimana?" tanya Sena terlihat kepo.


"Nih!" Jingga memperlihatkan karya itu disalah satu bukit kembarnya.


"Astaga!" pekik Sena tak kalah kaget.


"Kenapa?" goda Jingga.


"Gila, buatan aka keren banget," pekik Sena tak percaya.


"Gak perlu banyak 'kan? Cukup satu tapi berkesan," kekeh Jingga dengan nada ledekan, hingga Sena berdecak kesal.


"Udah, nanti suruh Abi bikin kek gini. Kalo gak bisa, suruh si aka ajarin!"


Jingga pun menggiring tubuh Sena menuju brankar untuk memulai ritual pemijitan. Sena hanya pasrah dan mengikuti instruksi Jingga

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknyaa gaisss😘😘


__ADS_2