My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Kesialan


__ADS_3

Hari kian senja, Shaka masih duduk dibalik kemudi kijang besinya. Setelah kejadian malam itu, mama Ay bena-benar menyita kunci si black. Hingga mengaharuskan ia mengendarai kijang besi yang hanya dianggurkan begitu saja digarasi.


Lelaki tampan itu berulang kali membunyikan klakson, berharap mobil didepan segera berjalan. Namun nyatanya nihil, keadaan sore semakin membuat jalanan padat merayap. Banyak pekerja kantoran yang juga baru pulang. Hingga kemacetan menghiasi jalan ibu kota itu.


Shaka yang biasa salip sana salip sini, melesat bagaikan angin, tidak bisa melakukan hal itu dengan kendaraan roda empat yang kini dikendarainya. Hingga ia harus bersabar menunggu kendaraan didepan bergerak.


"Ck! Kek gini nih, yang bikin gue males bawa mobil. Menghambat waktu. Apa gak bisa tuh orang-orang pake kendaraan umum? Ngalangin jalan gue aja," gerutu Shaka. Ia mengoceh sendiri didalam kijang besi tersebut.


Jika dipikir, dia sendiri kenapa harus bawa mobil? Kenapa tidak menaiki kendaraan umum saja? Emang dah, kelakuan anak bang Ar. Bikin mak othor tepuk jidat.


"Pokoknya gue harus cari cara, gimana agar si black balik lagi? Gue harus bujuk mama. Gak mungkin juga gue selamanya bawa ini. Bisa mati karatan gue, kek gini terus," ocehnya.


Hingga lambat laun kendaraan didepan mulai terlihat bergerak. Lelaki itu pun akhirnya bisa bernapas lega dan kembali melajukan kijang besinya. Baru saja beberapa meter ia berjalan, kesialan kembali menghampiri lelaki tersebut.


Kijang besinya tiba-tiba berhenti dan tak dapat bergerak lagi. "Sial! Apes banget sih gue," umpat Shaka memukul stir kemudinya.


Kemudian ia pun keluar, untuk mencoba mengecek kendala pada mobil yang sepertinya merajuk itu. Meski tak tau perkara mesin mobil, tapi ia mencoba untuk melihatnya.


"Ck! Kenapa lu mesti merajuk sih. Ini perjalanan kita masih jauh," omelnya pada kendaraan roda empat tersebut.


Ia terus menggerutu seraya meraba-raba mesin yang ia tak tau sama sekali. "Sial banget sih gue," ia melihat kanan kiri untuk mencari bengkel yang ternyata tak nampak disekitaran sana.


Shaka memutuskan untuk menghubungi bengkel yang biasa memperbaiki mobil tersebut. Meminta seseorang dari bengkel untuk mengurusnya.


Setelah disepakati oleh montir, Shaka mengambil barang-barangnya untuk menghentikan taxi agar ia cepat pulang. Namun, sudah beberapa menit ia berdiri belum juga nampak satu pun yang terlihat. Lelaki itu sudah mendumel tak jelas hingga tiba-tiba suara klaskson mobil mengalihkan atensinya.


Tin! Tin!


Seserorang dari dalam mobil menurunkan kaca mobilnya. "Lu ngapain disana?" tanya seorang perempuan dari balik kemudi.


"Ngamen!" celetuk Shaka sekenanya dengan wajah ditekuk.


Perempuan itu terkekeh mendengar jawaban nyeleneh dari Shaka. "Mobil lu mogok?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Ck! Lu buta ya? Udah tau itu mobil diem bae. Ya iyalah itu mogok," sungut Shaka yang makin kesal.


"Biasa aja, gue 'kan cuma nanya," protes perempuan itu dan hanya dibalas cebikan bibir oleh Shaka.


"Bareng aja, ayo! Gue antar pulang," ajaknya.


"Gak usah so baik lu," balas Shaka dengan sengit.


"Terserah, sebagai teman gue cuma mau berbuat baik," selak perempuan itu.


"Cih! Sejak kapan lu jadi teman gue?" tanya Shaka.


"Sejak lu berteman dengan Deril, lu juga teman gue," balasnya.


"Dan semenjak lu mengkhianati Deril, lu bukan teman gue," balas Shaka telak. Perempuan itu terdiam sejenak, membenarkan ucapan Shaka yang memang apa adanya.


"Maaf! Gue cuma mau berbuat baik," cicitnya.


"Sudah cukup lu hancurin hidup Deril, Sisil. Jadi gue peringatin sama lu, menjauhlah dari hidup sahabat gue!" peringat Shaka dengan suara pelan, namun penuh penekanan. "Jangan pernah anggap main-main peringatan gue, atau lu gak akan pernah bernapas bebas lagi!" jelasnya hingga sukses membuat perempuan itu menelan salivanya kuat-kuat kala melihat seringai dari bibir lelaki tampan itu.


Shaka menegakkan kembali dirinya, hingga atensinya kembali memindai jalanan yang kian sepi. Tanpa diduga ia melihat kuda besi yang ia kenal, melesat kencang begitu saja melewatinya begitu saja.


'Jingga?' batinnya.


"Gue balik duluan," tak ingin kembali dapat ceramahan dari lelaki itu. Sisil memilih untuk kembali menyalakan mesin mobilnya, lalu melesat meninggalkan posisi.


Shaka begitu kesal dengan perempuan itu. Jika saja dia seorang lelaki, sudah ia hajar habis-habisan dari dulu. Namun pantang baginya berbuat kasar pada seorang perempuan. Cukup mulutnya saja yang kasar, tapi tidak dengan tangannya.


Beberapa menit sebelumnya....


Jingga yang tengah mengendarai kuda besinya, memelankan laju kendaraan tersebut kala melihat Shaka yang berdiri dipinggir jalan. Melihat dari kondisinya, dapat ditebak jika lelaki itu terkena musibah. Ia tersenyum dibalik helm dan hendak mendekat. Namun tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti beberapa meter darinya tepat didepan Shaka.


Ia pun menghentikan laju motornya dari jarak yang tidak terlalu dekat. Tau itu mobil siapa, ia pun penasaran untuk tau apa yang akan dilakukan seseorang dari dalam sana.

__ADS_1


Nampak Shaka yang terlihat mengobrol dengan penghuni kijang besi tersebut. Hingga ketika Shaka menundukan wajah kedalam jendela mobil itu, tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang.


Jarak yang lumayam jauh, membuat Jingga tak bisa melihat jelas apa yang kedua manusia itu lakukan. Ia berdecak kesal kala pikiran negatif bersarang diotaknya. Ia pun kembali menancap gas dan melesat meninggalakan posisi, bahkan tanpa menoleh kearah kedua manusia itu.


'Untuk pertama kalinya, aku melihatmu begitu dekat dengan perempuan lain. Dan rasanya ... Hah~' batinnya yang diiringi helaan napas berat.


**


"Ma, please! Balikin kunci si black, kalo tiap hari harus pake mobil, aka bisa telat terus ke kampus," bujuk Shaka untuk kesekain kalinya.


Lelaki tampan itu sampai harus membuntuti sang mama kesana kemari untuk mendapatkan kembali benda kesayangannya. Namun sang mama, sepertinya masih belum bisa diajak berdamai.


"Kalo gak mau bawa mobil, ya naik angkot," celetuk mama Ay seraya mengupas sayuran. Kini wanita itu tengah bergulat didapur.


"Ck! Masa iya, sultan tampan kek gini harus naik angkot," protes Shaka tak habis pikir.


"Aka mau naik motor?" tanya timom Siska yang tengah ikut bergulat didapur.


"Iya lah, mom. Pake mobil tuh ribet. Tolong dong, timom bujukin mama!" rengeknya pada wanita yang senantiasa memanjakannya itu.


Timom Siska terkekeh dengan tingkah Shaka. "Ya udah biar gak ribet kamu bawa aja tuh si emon, motor Timom. Ikhlas dunia akhirat dah," celetuknya yang diiringi gelak tawa kedua ibu tersebut.


Lagi-lagi Shaka berdecak kesal. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dapat ledekan. Sepertinya percuma membujuk sang mama sekarang. Ia pun memutuskan untuk ke kamar. Mengabaikan teriakan sang mama yang meminta pertolongannya.


"Ngeselin emang, hisshh!!" gerutunya.


Untuk mendinginkan otaknya yang panas, ia memilih untuk ngadem dibalkon. Namun tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan seseorang yang menaiki balkon sebelah, tepatnya balkon kamar sang adik.


"Woy! Maling!"


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknya gaiss๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2