My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Rencana B


__ADS_3

"Eh boss, lu mau kemana?" tanya Jaki keheranan. Namun tak ditanggapi Shaka yang sudah melesat meninggalkan posisi.


"Setdah, tuh anak kesambet apa?" Jaki menggelengkan kepala melihat kelakuan lelaki itu. Hal yang paling membuat ia tak habis pikir, adalah penampilannya. Sendal jepit yang digunakannya, sungguh tak memperlihatkan itu Shaka si sultan komplek.


Sementara itu sang mama diruang tamu misuh-misuh melihat kelakuan sang putra yang tak mendengar panggilannya. "Sebenarnya tuh anak kenapa? Terus mau kemana dengan pakaian kek gitu?" cecar mama Ay pada Deril yang baru saja menginjakkan kaki di lantai bawah.


"Aku juga gak tau, Ma. Aku nanyain soal pernikahan, eh dia malah lari," jelas Deril.


"Ya ampun! Dia 'kan belum tau soal itu," pekik mama Ay menepuk jidatnya.


Sontak saja hal itu membuat Deril semakin bingung. "Maksudnya?"


"Ishh kamu tuh. Jadi, kita sengaja mau prank si aka. Bilang kalo kita gak jadi lamarin Jinjin buat dia," jelas mama Ay. Namun hal itu belum dicerna betul lelaki tampan yang siap melepas masa lajangnya itu.


"Ck! Jadi malam tuh, si aka berulah lagi. Dia minta dilamarin, eh dianya malah ngilang. Kita kesal lah. Ya udah kita sepakat buat prank dia," lanjut mama Ay. "Rencananya, kita mau bikin si aka berjuang buat dapatin restu mama papa nya Jinjin, biar dia bisa mikir dewasa."


Deril ber'oh ria' seraya menganggukan kepala. Akhirnya ia mengerti, kenapa Shaka begitu marah sampai lupa kedaannya sendiri.


"Ya udah, kalo gitu kita bikin rencana B," usul Deril yang mana membuat mama Ay keheranan.


"Rencana B?" tanya mama Ay dan diangguki Deril. Lelaki itu menyeringai menatap sang mama yang menaikan sebelah alisnya.


**


Ckitt....


Kuda besi yang ditumpangi Shaka sampai didepan rumah Jingga. Ia tergesa turun dan menerobos rumah itu, ketika melihat pintu depan terbuka lebar. Tujuannya hanya satu bertemu sang kekasih. Tanpa memberi salam, ia berjalan cepat memaiki anak tangga menuju lantai dua. Hingga ia sampai didepan kamar sang kekasih.


Ceklek!


Shaka membuka pintu berwarna coklat tersebut, hingga menampilkan sang gadis yang hanya mengenakan handuk sebatas dada dan paha dengan handuk kecil melilit diatas kepala gadis itu.


Sejenak Shaka terpaku melihat pemandangan indah hadapannya. Jantungnya berdegup tak beraturan dengan aliran darah yang mengalir lebih cepat. Tentu saja, hal itu dirasa Shaka sebagai lelaki normal. Hingga ia harus menelan salivanya kuat-kuat.


Glek!


"Sha?" Jingga kaget melihat sang kekasih yang tiba-tiba saja berada dikamarnya. Hal yang paling mengejutkan adalah penampilan lelaki itu, kaos ketat yang memperlihatkan bentuk tubuh dengan otot-otot yang menyembul. Belum lagi, boxer ketat yang menampilkan gundukan dibawah sana.


Blush!


Tiba-tiba saja pipinya memerah, dengan cepat ia mengalihkan pandangan dari sang kekasih dengan berdehem keras mencoba menetralkan degup jantung yang tiba-tiba saja sama berdetak tak beraturan.

__ADS_1


"Ehemm, kamu ngapain disini?" tanya Jingga.


Seketika pertanyaam itu membuat Shaka gelagapan. "Ah i-itu, a-aku," otaknya tiba-tiba nge-lag dan bingung akan tujuan utamanya.


Namun didetik berikutnya, ia pun mengingat tujuan awalnya. Ia segera mendekat dan mencekal pergelangan tangan Jingga. "Ayo, ikut aku!" ajaknya.


"Kemana?" tanya Jingga heran.


"Pokoknya kamu ikut aja," ajaknya yang terkesan memaksa.


"Tapi ini aku-"


"Gak ada tapi-tapian. Aku gak ikhlas, gak Ridha, kalo kamu jadi milik orang lain. Detik ini juga, kita ke KUA!" tegas Shaka.


Sontak saja penegasan itu membuat Jingga melongo. Ke KUA? Sekarang? Bukannya ... Pikir Jingga bertanya-tanya. Hingga tangan Shaka kembali menariknya hendak membawa pergi, namun Jingga mencegat itu.


"Bentar dulu, ini aku-"


"Udah, ayo!" selak Shaka dan kembali hendak menyeretnya.


Jingga sekuat mungkin ingin menghentikan Shaka, dengan menraik keras tanganya. Gerakan itu bukan melepas cekalan, namun justru membawa Shaka menabrak dirinya. Hingga mereka jatuh bersamaan ke atas kasur, dengan Shaka menindih tubuh Jingga.


Kedua manusia itu terpaku dengan tatapan saling mengunci. Jantung mereka berdegup berkali-kali lebih cepat dari sebelumnya. Napas keduanya memburu dengan gelenyar aneh yang tiba-tiba membuat sesuatu dibawah sana menegang.


Bahkan aroma vanilla yang menyeruak dari tubuh Jingga, membangkitkan jiwa liar Shaka untuk mengabsen setiap jengkal kulit seputih susu itu. Shaka semakin mengikis jarak wajah mereka, ingin menyecap benda kenyal yang ranum itu. Hingga belum juga kedua benda kenyal itu hertemu. Suara pintu terbuka mengalihkan atensi mereka, hingga mereka menoleh serentak pada seseorang yang kini berdiri menghembuskan napas kasar diambang pintu.


"Astaga! Kalian?!" pekik mama Agel.


Seketika kesadaran Shaka kembali. Dengan cepat lelaki itu bangkit dari tubuh sang gadis. "O-onty?" sapanya ragu.


"Mama tunggu kalian diruang tamu," Setelah menyatakan itu, wanita itu berlenggang pergi.


Jingga bangkit dari posisi. "Sebaiknya kamu keluar lebih dulu! Aku harus ganti pakaian," titahnya.


Shaka pun mengangguk mengerti. Ia segera keluar dengan menetralkan dirinya. Kini ia harus meminta penjelasan pada mama Agel, akan maksud dari pernikahan tersebut.


Ia pun bergegas turun. Ternyata dibawah sudah ada papa Juna dan Deril yang menunggunya. Ia pun menghampiri mereka dengan tatapan serius.


"Apa maksud onty meminta onty Rila menyiapkan pernikahan?" tanya Shaka tanpa basa basi. Bahkan ia melupakan hal tadi, ketika mama Agel mencyduknya.


"Untuk pesta pernikahan Jinjin," balas mama Agel dengan santai.

__ADS_1


"Maksudnya? Kalian mau nikahin Jinjin sama pria lain?" tanyanya dengan nada tak terima. Belum juga ada yang menjawab, Shaka sudah kembali menyelak.


"Nggak onty, om! Aku gak akan biarin siapapun menikahi Jinjin. Hanya aku yang akan menikahinya. Jinjin milikku! Hanya milikku!" tegasnya.


Tak berselang lama, Jingga datang dengan raut wajah bingung. Apalagi tiba-tiba Shaka menggandeng tangannya.


"Suka tak suka, kalian harus merestui kami. Hari ini juga, aku akan memawa Jingga ke penghulu," lanjut Shaka menggebu.


Bahkan ketiga orang disofa tak diberi kesempatan untuk menimpali. Hingga hembusan napas panjang dilayangkan ketiganya. Niat hati ingin beralih pada rencana B, namun semuanya ambyar akan sikap Shaka yang keras itu. Rencana untuk memperkenalkan calon bohongan pada Shaka harus mereka urungkan, kala itu tak akan mempan untuk Shaka.


Lelaki itu hendak berlenggang dengan tangan menggandeng gadis pujaan hatinya itu. Namun suara papa Juna menghentikannya.


"Siapa bilang kamu boleh bawa putri om?" tanyanya. Seketika Shaka pun menghentikan langakahnya.


"Kamu gak bisa seenaknya bawa putri orang sembarangan, om belum memberi restu dan izin untukmu," lanjut papa Juna.


Mendengar itu Shaka memabalikan tubuhnya menghadap mereka. "Baiklah, jika begitu sekarang juga Om restui aku dan Jinjin. Nikahkan kami sekarang juga," tegasnya.


"Sha ...." Jingga mencoba untuk menenangkan.


"Aku gak terima penolakan!" selak Shaka.


"Astaga, lu itu ya," Deril ikut berkomentar melihat kelakuan sahabatnya itu. Tak habis pikir akan tingakhnya.


"Jika Om dan Onty gak bisa terima, maka-"


"Sudahlah, hentikan semua ini," selak mama Agel. "Gak ada nikah-nikahan hari ini. Pernikahan tetap dilakukan bulan depan!"


"Tapi Ty-" protes Shaka yang kembali diselak mama Agel.


"Gak ada tapi-tapian. Tahan dulu sampai bulan depan. Gak sabaran amat sih," gerutu wanita paruh baya itu.


Shaka terdian sejenak mencerna ucapan mama Agel. "Tunggu. Ma-maksudnya?" tanya Shaka shok.


"Hadeuh ...." ketiga orang disofa menepuk jidat mereka serentak. Shaka yang bucin, seketika merubahnya menjadi bodoh.


"Pernikahan kalian dilaksanakan bulan depan, titik!"


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknya gaisss😘

__ADS_1


__ADS_2