
**
"Kenapa?" tanya Deril yang melihat Shaka tak henti memijit pelipisnya. Bahkan mungkin sedari tadi apa yang ia ucapakan tak didengarkan sahabatnya itu.
"Hah~ gue pusing," keluh Shaka dengan suara lemah.
"Lha, pusing kenapa?" tanya Deril heran. Ia mendekatkan diri dengan tangan menumpu pada meja untuk memperhatikan baik-baik wajah pria berwajah lusuh itu.
"Ah gue tau. Gak dapat jatah malam 'kan lu?" tebak Deril dengan nada ledekan.
Seketika mata Shaka memicing dengan bulpoin yang tiba-tiba saja melayang tepat mengenai jidat Deril.
"Astaga, kampr*t lu," kesal Deril mengusap jidatnya yang kemungkinan memerah.
Shaka menarik satu sudut bibirnya. "Lagian lu gak ada akhlak jadi temen. Bukannya cariin solusi," gerutunya.
"Cari solusi pala lu peang. Mana bisa gue cari solusi, kalo gue sendiri gak tau masalahnya apa," sungut Deril semakin kesal.
Shaka berdecak kesal. "Ck! Gue bingung, tiba-tiba aja Jinjin gak mau deket sama gue, katanya gue bau. Gue sampai mandi tujuh kali pagi ini, sampai satu botol sabun gue pakai habis. Tetap aja gue masih dibilang bau. Kesel banget gak tuh," jelasnya.
Seketika tawa Deril pecah. Pantas saja pria itu begitu frustasi, membayangkan Shaka yang memucat dengan sekujur tubuh memutih, bahkan mungkin si jack-nya yang ikutan putih, akibat sabun yang digunakannya tersebut. Sungguh membuat Deril tak bisa berhenti tertawa.
"Ck! Sialan lu," umpat Shaka kesal seraya menoyor kepala sahabatnya itu. Namun, hal itu tak menyurutkan tawa Deril.
"Udah, lu sabar aja. Katanya bumil itu biasa aneh," kekeh Deril disisa tawanya. Shaka hanya mendengus kesal dengan mata bergulir malas.
"Gue pastiin, baby lu gak bakal jauh beda sama lu. Gue denger ya, yang kek gitu tuh mendominan ke bapaknya. Jadi lu harusnya bangga, gen lu masuk semua dianak lu," jelas Deril. Lagi-lagi Shaka hanya berdecak menanggapi.
"Eh anak lu cowok 'kan ya, gimana kalo kita jodohin?" celetuk Deril. Hal itu membuat Shaka menoleh dengan sebelah alis terangkat.
"Kenapa tiba-tiba lu ngomong gitu?" tanya Shaka heran.
"Gue rasa anak kita bakal cocok. Gue bisa prediksi anak lu kek gimana. Begitupun anak gue. Ya gak jauhlah kek kita sekarang," jelas Deril.
"Ck! Aneh-aneh aja lu," kesal Shaka yang merasa tak masuk akal dengan rencana sahabatnya itu. Lalu, berdiri untuk meninggalkan ruangan tersebut.
"Eh gue serius," sela Deril. Ia pun ikut berdiri dan mengikuti langkah Shaka.
__ADS_1
Shaka tak memedulikan ucapan Deril dan memilih berlenggang keluar dari ruangannya sendiri. Berasa percuma curhat dengan sang sahabat yang tak memberikan solusi apapun, hingga ia memilih untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Deril mengekori sahabatnya itu dengan pertanyaan sama, namun Shaka masih enggan menimpali.
**
Sementara itu disebuah kamar, Sena tengah berkutat didepan meja rias. Rencananya ia akan mengajak kakak iparnya jalan-jalan untuk mengembalikan mood booster wanita itu. Tau sepupunya, Kia dan Vani tengah ada dipusat perbelanjaan. Sena berencana untuk menyusul mereka. Abi yang sudah berangkat ke kantor daddy Rendi, membuat ia leluasa meninggalkan rumah.
"Jinjin!" pekik Sena membuka kamar sang kakak tanpa permisi.
Sesuai dugaan Sena, kakak iparnya itu masih saja meringkuk dibalik selimut. Ini adalah kali pertama wanita itu tanpa semangat. Dari awal kehamilan, Jingga tak pernah mengalami morning sickness atau pun ngidam aneh-aneh. Baru dikehamilan besar wanita itu tampak tak bergairah. Mungkinkah ngidam dihamil tua?
"Ayo! Kita pergi," ajak Sena menarik selimut dari tubuh Jingga. Namun si ibu hamil itu justru semakin mengeratkan selimut yang membungkusnya.
"Jin, ayo! Vani sama Kia udah nungguin kita," bujuk Sena. Ia tak menyerah menarik selimut yang menempel ditubuh Jingga.
Jingga membuka selimut itu hingga adik berkakak itu saling tatap. "Aku malas Sen, kamu aja," kesalnya.
"Ayolah, Jin. Kamu gak penasaran apa sama apa yang mereka lakuin. Katanya Kia mau lelang barang," bujuk Sena lagi namun tak ditimpali Jingga yang berwajah malas.
"Eh kamu tau gak? Toko baby wear langganan kita hari ini launching barang terbaru lho," bujuk Sena tak habis-habis. "Yakin gak mau ikut? Diskon gede-gedean," lanjutnya menggoda.
"Oke!" balas Sena dengan senang. Jingga segera bangkit dan berlalu menuju kamar mandi.
Sena terkekeh menggelengkan kepala, semenjak hamil jingga berubah jadi kaum emak-emak ngirit. Mendengar kata gratis atau diskon, membuat matanya berbinar seketika. Entahlah termasuk ngidam apa gimana, yang jelas itulah salah satu kelakuan nyeleneh si ibu-ibu hamil.
Tak membutuhkan waktu lama, kedua ibu hamil itu sampai dipusat perbelanjaan. Bukan hanya kedua sepupunya saja yang ada disana, ternyata Chika sudah stay bersama mereka. Sebelum berangkat Sena memang sengaja menghubungi Chika terlebih dahulu.
"Wah udah kumpul nih?" sapa Sena menghampiri ketiga wanita hamil itu. Sena dan Jingga menyapa mereka, cipika cipiki menanyakan kabar satu sama lain.
"Isshh kak Sensen lama amat sih? Jamuran aku nunggunya," gerutu Kia yang sudah menunggu dua jam lamanya.
Sena cekikikan menanggapi. "Iya, maaf! Kakak kita ini, moodnya lagi gak bagus," jelas Sena merangkul lengan Jingga.
"Hem, maaf ya!" sesal Jingga.
"Udah gak papa kak Jin, yuk kita duduk! Kita makan dulu," ajak Vani merangkul satu tangan kakak sepupunya.
Mereka pun mendudukan diri dikursi masing-masing disalah satu kafe digedung tersebut. Lalu, segera memesan makanan untuk segera makan siang mengisi perut keroncongan.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kita mau kemana nih?" tanya Chika disela mereka menunggu makanan.
"Toko baby wear langganan kita lagi ada promo besar-besaran. Kita serbu lah," jawab Sena menggebu.
"Wah serius kak Sen. Gak boleh dilewatin nih," balas Chika yang ikut semangat. Memang Chika, Sena dan Jingga kerap kali belanja kebutuhan baby bersama. Jadi, mereka memiliki toko langganan tersendiri. Mereka yang memang memiliki usia kandungan sama, tentu sering menghabiskan waktu bersama. Berbeda dengan Vani yang baru memasuki trisemester pertama, tentu baru kali ini bergabung dengan sepupunya. Begitupun Kia yang memang jauh, pertama juga baginya gabung.
"Heleh, istri sultan milihnya diskonan. Cari dong yang termahal, branded terkini," celetuk Kia.
"Seru tau, Ki," balas Jingga ikut bersemangat.
"Isshh kamu tuh gak tau aja. Coba sekali aja kamu ikutan, bakal ketagihan deh!" sambung Sena.
"Iya bener itu Kiy, buktinya tuh kita," sambung Chika.
"Ck! Aku gak minat," sela Kia yang terdengar arogan.
"Aku mau ikutan ah, kek nya seru tuh!" celetuk Vani yang sedari tadi hanya menyimak.
"Isshh kamu kok ikut-ikutan sama mereka sih," kesal Kia pada sang kakak ipar.
"Kedengerannya itu seru Kiy. Lagian udah lama aku gak pernah borong-borong gitu lagi," balas Vani. Kia yang merasa tak ada yang mendukung ucapannya jadi berdecak sendiri.
"Rempong amat sih, kalo kamu gak mau ikut ya udah gak usah. Kita aja, ya gak?" ledek Sena dan hanya ditimpali cebikan bibir oleh Kia.
"Udah Kiy. Ikut lah, sekali ini aja," bujuk Jingga.
"Iya, Kiy. Kalo menurutmu gak seru, lain kali gak apa-apa deh gak ikut juga," sambung Chika ikut membujuk.
Mereka tersenyum dengan tatapan mengarah pada Kia. Meyakinkan Kia, bahwa hal itu begitu menyenangkan.
"Ck! Ya deh, ya deh, aku ikut." final Kia dengan wajah masih saja menekuk.
"Nah gitu dong!" Mereka pun tergelak menyambut bergabungnya si ibu manja yang begitu anti diskonan.
******
Jangan lupa jejaknya yaa gaisss😘😘
__ADS_1