
Di lain tempat...
"Assalamualaikum!"
Suara melengking dari ambang pintu membuat semua penghuni rumah yang hendak bersiap sarapan harus terhenti, mendengar suara emas yang tak asing ditelinga mereka.
Serentak keempat orang dimeja makan tersebut membalasnya. Baru saja, salah satu dari mereka hendak berdiri. Namun, si tamu sudah nyelonong menghampiri mereka.
"Timom!!"
Pekiknya dan langsung berhambur memeluk sang ibu yang ia rindukan. Wanita yang dipanggil timom yang baru saja berdiri itu menyambut pelukan hangat putri tercintanya.
"Aku kangen banget sama timom," rengeknya manja.
"Iya, timom juga!" balas timom Siska terharu, seraya membelai rambut sang putri.
"Kamu sendiri De, Om mana?" tanya Aska menengok tak ada pria yang mengikuti sang adik.
Kia melerai pelukannya dan menatap kesal sang kakak. "Issshh udah dibilangin jangan Om! Panggilan itu tu-"
"Cuma buat kamu," sela Aska disertai kekehan.
"Ck! Udah tau juga, masih aja ngeyel," gerutu Kia dengan wajah menekuk. Keempat orang disana terkekeh melihat wajah imut gadis manja mereka yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
"Terus, mantu papih mana? Kamu titipin dimana, hem?" goda papih Age yang senang sekali meledek putra putrinya.
"Isshh papih! Dikira kucing apa dititipin," protes Kia tak terima. Matanya membola dengan bibir mengerucut. Sontak saja hal itu mengundang gelak tawa mereka.
"Udah jangan pada ketawa mulu. Aka mening bantuin si om, sana! Pasti dia kerepotan," titahnya pada sang kakak.
"Kerepotan? Emang bawa apa?" tanya Aska sedikit heran, setelah menghentikan tawanya.
"Barang-barang kita lah. 'Kan aku mau tinggal disini," celetukan Kia sukses membuat papih Age tersedak. Ia yang baru berhenti tertawa dan menegak airnya terpaksa menyemburkan air itu kembali.
__ADS_1
"Uhuk! Uhuk!!"
"Ya ampun Bang, pelan-pelan napa?" timom Siska menepuk pundak suami disampingnya. Kemudian menuangkan kembali air putih kedalam gelas papih Age.
Bukan tanpa sebab pria paruh baya itu kaget. Sebab, ia pasti akan kekurangan momen berdua dengan sang istri. Sebelum Kia datang, timom Siska begitu memperhatikan Vani, menantunya. Itu saja sudah mengikis waktu bersamanya, dan sekarang ditambah sang putri? Oh sungguh, ia akan kehilangan waktu makan siang spesialnya bersama sang istri.
Sapaan salam kembali mengalihkan atensi mereka. Rei menghampiri mereka dengan senyuman hangatnya. Mereka saling berjabat tangan dan saling menanyakan kabar satu sama lain.
"Jadi bener, kalian akan tinggal disini?" tanya timom Siska setelah putri dan menantunya mendudukkan diri dikursi mereka.
"Iya mom. Gak apa-apa 'kan?" balas Rei terlihat ragu. Apalagi melihat air muka sang papih mertua yang seperti tak bersahabat.
"Tentu saja, gak apa-apa. Ini 'kan rumah kalian juga," pungkas timon dengan semangat. Hal itu membuat papih Age menghembuskan napas pasrah. Tentu pernyataan sang istri adalah sinyal untuk ia mengalah.
"Apa ada masalah disana?" tanya papih Age. Meski terlihat egois, namun tetap saja membuat perasaan seorang ayah itu khawatir. Tentu ia tak ingin hal buruk terjadi pada putra putrinya.
"Nggak kok, Pih! Ini hanya kemauan Kia aja. Rencananya kami akan tinggal sementara disini sampai Kia melahirkan," jelas Rei sesuai permintaan sang istri. Meski sejujurnya terlalu berat untuk ia memenuhi keinginan istri manjanya itu, namun itu harus ia lakukan. Selain pastinya merepotkan kedua mertuanya, kerjaan juga yang harus ia tinggal.
"Aku tuh kesepian di apartemen sendiri. Aku pengen habisin waktu sama timom dan juga kakak iparku," sambung Kia dengan bermanja dilengan sang timom dengan tatapan mengarah pada Vani yang hanya tersenyum menanggapi.
"Uhhh sayang timom!" rengek Kia, hingga mereka tersenyum dibuatnya.
Papih Age menghembuskan napas panjang. Benar juga, berkumpul seperti ini membuat ia tak terus diselimuti khawatir. Meski ia percaya Rei bisa menjaga putri manjanya. Namun, tetap saja terbentang jarak membuat pria paruh baya itu selalu merasa was was. Mungkin siang sang istri dikuasai putri-putrinya, tapi malam? Bukankah ia masih jadi penguasa didalam kamar?
Setelah menyelesaikan sarapan, kini mereka sudah pada aktifitas masing-masing. Aska tengah bersiap untuk pergi ke kantor dibantu sang istri.
"Dari tadi kamu diam terus, Ay. Kenapa?" tanya Aska membelai pipi cantik istrinya.
Vani tersenyum menanggapi. "Kenapa? Aku gak kenapa-napa," balasnya sibuk membenahi dasi dileher suaminya.
Aska menggenggam tangan lembut itu ingin memastikan sekali lagi. "Apa kamu merasa kurang nyaman disini? Apa kita kembali saja ke apartemen?" tanyanya kahwatir.
Vani terkekeh. "Apa sih kak? Ya, nggaklah. Aku justru senang tinggal disini. Apalagi sekarang ada Kia," balasnya menjelaskan.
__ADS_1
Aska hanya menghembuskan napas pelan. Lalu, meraih tubuh yang mulai berisi itu kedalam dekapannya. "Maaf, Aka cuma gak mau kamu merasa tertekan atau terbebani. Aka mengajakmu tinggal disini, biar kamu ada teman sekaligus ada yang memperhatikan saat Aka dikantor," paparnya. "Jika saja Mama dan Papa disini, mungkin kita bisa tinggal bersama mereka," lanjutnya lagi.
Vani tertawa kecil mendengar itu. Memanglah semenjak dinyatakan positif hamil, Aska begitu overprotektif. Ia tidak bisa meninggalkan sang istri barang sedetik pun. Meski Vani tidak mengalami morning sickness seperti ibu hamil pada umumnya, namun tetap saja Aska tidak berani meningglkan Vani sendiri di apartemen. Maka dari itu, ia memutuskan untuk tinggal sementara dirumah orangtuanya. Sementara orang tua Vani, kembali ke kota sebelumnya untuk membantu Daffa diperusahaan mereka. Hamil muda yang dikatakan rentan, membuat Aska begitu khawatir sang istri lepas dari pengawasan.
Vani melepaskan dekapan suaminya. "Isshh Aka apaan sih. Bagiku Timom sama seperti Mama, gak ada bedanya. Bahkan Timom udah memperlakukan aku bak ratu tau gak?" jelas Vani disertai kekehan.
Aska tersenyum seraya mengusek pucuk kepala sang istri. Lalu, mengecupnya yang kemudian berlanjut pada benda ranum favoritnya.
"Syukurlah, kalo begitu," ungkapnya tenang. Lalu, melirik jam dipergelangan tangannya. "Sudah siang, Aka berangkat ya!" pamitnya dan diiyakan Vani dengan senyum semangat untuk mood up suaminya.
"Papi berangkat ya, De. Jangan nakal-nakal!" Aska membungkukkan tubuh, mengelus dan mengajak bicara perut sang istri.
"Iya Papi, gak akan nakal. Papi hati-hati, ya!" balas Vani dengan suara dibuat kecil. Aska tergelak, kemudian mengecup perut yang mulai sedikit menonjol itu.
Setelah mengantarkan sang suami keluar rumah, Vani melihat sang adik ipar yang tengah sibuk menata barangnya. Bagai pindahan seumur hidup, Kia membawa beberapa koper yang isinya entahlah.
"Perlu bantuan?" tanya Vani menghampiri seraya mendudukam diri disamping Kia.
"Ahh, kakak iparku pengertian banget," balas Kia memeluk tubuh Vani. "Tentu, bantuin aku beresin ini semua," lanjutnya melerai pelukan mereka.
"Ini banyak banget?" tanya Vani heran. Meraih barang-barang Kia yang bahkan masih banyak yang disegel.
"Ini mau aku jual," celetuk Kia.
Hah?! Tentu Vani terkejut mendengarnya. "Kenapa?" tanyanya.
"Ini sebagai syarat dari Om, agar bisa pindah kesini," keluh Kia dengan wajah masam.
Vani terkekeh adik iparnya itu memang tak bisa lepas dari barang-barang koleksinya. Dan sekarang? Ia diwajibkan melelang semuanya. Oh sungguh menyedihkan.
"Sabar, nanti koleksi lagi yang baru, hem?" bujuk Vani. Kia hanya mengangguk disertai hembusan napas pasrah.
"Baiklah! Demi bersama kalian aku rela jadi rakyat jelata."
__ADS_1
******
Jangan lupa jejaknya yaa gaiss😘