
"Harusnya, kamu biarin aku bawa motorku," keluh Jingga didepan telinga Shaka.
"Gak apa-apa dia pasti aman kok, sampe rumah," balas Shaka sedikit berteriak.
Kini kedua manusia itu tengah berada diatas kuda besi Shaka. Lelaki itu memaksa sang gadis untuk ikut bersama, setelah kelas mereka selesai. Jingga pun terpaksa meningglkan si merah benda kesayangannya dan ikut bersama Shaka. Meski ia tak tau kemana lelaki itu akan membawanya.
Tak berselang lama si black berhasil membawa mereka ditempat yang tidak Jingga ketahui. Tempat asing yang baru pertama Jingga datangi.
"Ini tempat apa?" tanya Jingga heran.
"Ini markas 'Black wings'," balas Shaka, lalu menggenggam tangan Jingga dan menggandengnya untuk memasuki tempat kumuh tersebut.
Namun bukan berjalan mengikuti, Jingga masih mematung ditempatnya. Shaka yang merasa tak ada pergerakan dari sang gadis, menoleh untuk memastikan. "Kenapa?" tanyanya.
"Apa semua karena aku?" tanya Jingga menatap serius pada Shaka. Ia mencoba mencari tau sejak kapan lelaki itu masuk dunia hitam yang membahayakan diri tersebut. Setelah tau kapan itu terjadi ia meyakini, jika Shaka melakukan itu karena dirinya.
Shaka menarik satu dudut bibirnya melihat wajah khawatir dari gadis itu. "Apanya?" godanya mengusek pucuk kepala sang gadis.
Jingga hanya menghembuskan napas pelan, tentu ia tau Shaka tengah menggodanya. Lelaki tampan itu merangkul pundak Jingga seraya menggiring tubuh ramping itu untuk segera memasuki bangunan tersebut.
"Iya. Awalnya emang karena kamu. Tapi lama kelamaan aku suka,"
"Membuat keributan?" selak Jingga.
Shaka terkekeh mendengrnya. "Iya. Siapa pun yang membuat keributan akan berurusan denganku," balasnya diiringi tawa. Jingga hanya menggelengkan kepala menanggapi.
Mereka memasuki bangunan tua yang seperti sudah ditinggal penghuninya sejak lama. Baru saja kedua manusia itu menginjak lantai dalam, mereka sudah disambut orang-orang yang diketahui anggota gengnya itu.
"Selamat datang pak ketu!" sambut Edo mendekat dan menepuk bahu temannya itu.
"Eh, ada Jinjin. Apa kabar Jin?" sapa Edo lagi pada gadis disamping Shaka. Ia hendak mengulurkan tangan pada gadis itu namun segera ditepis Shaka.
"Gak usah so akrab," sungut Shaka.
"Aww, sakit njirr!" ringis Edo. "Je elah posesif bener. Kita 'kan teman lama yang baru ketemu lagi, iya gak Jin?" protesnya.
"Banyak bac*t lu. Buruan gue punya acara lain!" pungkas Shaka yang gak ingin basa basi lagi.
__ADS_1
"Wihh nyantai dong boss. Acara apa sih? Kencan ya?" goda Edo celikikan dan langsung dapat tampolan dikepala dari Shaka.
Ditengah perbincangan itu, tiba-tiba saja seorang gadis mendekati mereka. Gadis yang terlihat sebaya dengan Jingga itu terlihat tomboi. Dapat ditebak dari penampilannya yang tidak menampilkan kefeminian sama sekali. Bahkan Jingga mengira dia seorang lelaki cantik, namun ketika menyebutkan nama ternyata dia seorang perempuan.
"Alex. Alexa!" ucapnya mengulurkan tangan yang disertai senyum miring.
"Jingga," balas gadis berwajah datar itu, tanpa menerima uluran tangan tersebut.
Alexa menarik tangannya kembali. Tau jika gadis itu terlihat enggan berjabatan tangan atau ia tak ingin melepas genggaman tangan pada lelaki disampingnya. Mata Alexa terlihat memindai penampilan Jingga dari ujung rambut hingga kaki. Lalu, senyum smirk terlihat dari gadis yang terlihat seperti pria itu.
Shaka kembali berjalan dengan tangan tak lepas menggandeng tangan gadis yang beberapa jam lalu sudah kembali menjadi kekasihnya itu. Menuju rombongan orang-orang yang sudah menanti diruangan luas tersebut.
Dua puluh menit berlalu....
Pertemuan anggota 'Black wings'pun berakhir. Sepasang kekasih itu sudah siap untuk kembali pulang. Meski Edo membujuk mereka untuk tetap tinggal sebentar, namun Shaka bersikeras untuk segera pulang. Jangan tanya bagaimana tanggapan Jingga, gadis itu hanya diam sepanjang pertemuan berlangsung.
"Ya deh, lu ketuanya. Terserah lu dah," final Edo setelah mereka berpamitan. Kuda besi itu pun melesat meninggalkan posisi.
"Kenapa lu?" tanya Edo pada Alexa yang tampak menatap lekat motor tersebut.
"Bukankah dia sangat cantik?" tanya Alexa yang sukses membuat Edo melongo.
**
Sementara itu sepasang kekasih tersebut sudah sampai disebuah kafe tempat mereka sering berkencan dulu. Perut yang keroncongan memaksa mereka menyambangi tempat itu, meski hari sudah mulai gelap.
"Apa kamu merindukan tempat ini?" tanya Shaka ketika mereka sudah duduk diatas kursi dengan posisi bersebrangan.
"Nggak," balas Jingga singkat.
"Ck! Jaim dikit lah, iyain kek," protes Shaka.
Jingga tersenyum. "Untuk apa harus bohong. Kalo nggak, ya nggak," balas Jingga hingga terdengar suara hembusan napas pasrah dari lelaki tampan itu.
Gadis itu mencondongkan wajah, dengan punggung tangan menahan dagu. "Aku ... hanya merindukanmu," lanjutnya yang disertai senyuman manis.
"Cih!" Shaka terkekeh menahan perasannya yamg tiba-tiba saja menghangat mendengar kalimat yang terdengar seperti sebuah gombalan itu.
__ADS_1
Kemudian ia mengusek pucuk kepala Jingga yang tak henti menatapnya. Jika saja bukan ditempat umum, ingin sekali Shaka menghujami kecupan diwajah cantik yang nampak menggemaskan itu bertubi-tubi.
Tak berselang lama makanan pun tiba. Mereka mulai mengisi perut yang sedari tadi meronta dan berdemo meminta asupan.
"Apa kamu akan ikut balapan lagi?" tanya Jingga. Mengingat pembahasan mereka dimarkas tadi, tentu ia mengerti jika Shaka akan kembali bertanding diarena balapan.
Shaka mendongak menatap Jingga yang juga tengah menatapnya, bahkan sudah menghentikan sejenak pergerakan tangannya.
"He'em," balas Shaka. "Kenapa?" tanyanya.
"Apa harus?" bukan menjawab Jingga justru kembali bertanya.
"Kamu tau sendiri 'kan alasannya," balas Shaka, namun Jingga tak menjawab. Ia menundukan pandangannya, lalu memakan kembali makanannya.
Jujur hati kecilnya tak mengizinkan Shaka untuk kembali ikut balapan tersebut. Entah kenapa ia begitu takut, saat mendengar hal itu. Meski ini bukan yang pertama untuk Shaka, namun itu pertama untuk Jingga mengetahuinya.
Shaka yang mengerti meraih tangan Jingga, lalu menggenggamnya. Hingfa Jingga mendongak dan menatap Shaka kembali.
"Aku janji, ini yang terakhir," bujuk Shaka meyakinkan dan dibalas anggukan yang disertai hembusan napas berat dari gadis tersebut.
Shaka tersenyum, sungguh ia sangat senang sang kekasih begitu memperhatikannya. Satu tangannya bergerak mengusek pucuk kepala sang gadis dengan gemas.
"Kamu mengkhawatirkanku?" tanyanya.
"Ck!" Jingga hanya berdecak sebagai jawaban, hingga membuat Shaka tertawa seraya menagacak rambut gadis itu.
"Kamu tenang aja, i'm the winner," ucap Shaka dengan percaya diri. "Jalanan adalah sahabatku," lanjutnya.
Jingga hanya kembali menghembuskan napas panjang dan kembali mengangguk mengerti. "Udah gak usah dipikirin! Lanjut makannya. Kita harus segera pulang, hemm," titah Shaka dan diiyakan Jingga.
Mereka pun segera pulang setelah menyelesaikan makan malam itu. Kuda besi yang ditumpangi mereka melesat meninggalkan kafe tersebut.
Jingga memeluk erat tubuh tegap Shaka, menyembunyikan wajah didada bidang favoritnya itu. Sedangkan satu tangan Shaka mengusap punggung tangan sang gadis yang bertengger diperutnya. Senyum pun tak pudar dari balik helm dua manusia yang kembali dimabuk cinta itu.
'Aku berjanji, tidak akan membuat pelukan ini terlepas lagi.'
'Hanya punggung ini, yang selalu membuatku merasa nyaman.'
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejaknya gaiss๐๐