
Dibawah langit hitam nan pekat, riuh suara manusia dengan deruan motor bersahutan. Meramaikan suasana malam yang gelap gulita. Pertandingan balap pun siap digelar. Banyak kandidat yang ikut, untuk memenangkan hadiah yang disponsori para klain mafia. Balapan yang digolongkan resmi dikalangan mereka, digelar meriah. Tentu dengan izin pihak berwajib yang bekerja sama dengan salah satu klain berpengaruh dikota itu.
"Saya yakin, kamu bisa. Kemenangan ini akan sangat menguntungkan untuk Black Wings dan klain Eagle. Kita akan menjadi satu-satunya yang ditakuti dikota ini. Dan hadiahnya sembilan puluh persen milik kalian," ucap Sam ketua mafia sekutu dari Black Wings. Pria yang lebih tua dari Shaka itu menyeringai menepuk pundak si pemeran utama malam ini.
Shaka menoleh dan ikut menyeringai. "Tentu, ini akan sangat mudah," balasnya.
Kedua ketua itu tengah duduk dikursi yang tersedia, dikelilingi anak motor dan anak buah dari klain tersebut. Sam mengangkat minuman digelasnya dan disambut Shaka dengan minuman kaleng seperti biasa ditangannya untuk kerja sama mereka.
"Saya, salut sama kamu Sha! Kamu pantang untuk meminum minuman seperti ini. Kalo boleh tau apa alasanmu?" tanya Sam yang begitu penasaran akan kebiasaan Shaka yang tak mau menyentuh minuman beralkohol.
Bahkan ketika ia menawarkan anggur kualitas tinggi dengan harga termahal sekalipun, Shaka tetap menolaknya. Hal yang tak menunjukan, jika ia adalah seorang ketua dari geng motor yang berpengaruh.
Shaka hanya menarik satu sudut bibirnya, seraya menegak minuman tersebut. "Banyak alasannya," balas Shaka, hingga membuat pria itu menautkan alisnya.
"Seorang pembalap akan kehilangan konsentrasi dengan minuman seperti itu, pertama. Hal lain tentang prinsif hidup," lanjut Shaka.
Sam akhirnya mengangguk mengerti. Tidak sepenuhnya seseorang yang nakal itu memang nakal. Ada kala ia yang dipandang nakal, memiliki batasan tersendiri. Seperti yang dilalukan Shaka sekarang. Prinsif hidup, menjadikannya memiliki batasan tersendiri untuk memilih gaya hidupnya.
"Saya mengerti. Apa pun dan bagaimanapun prinsifmu, jangan pernah merubahnya. Seperti prinsif kita untuk memenangkan pertandingan ini, kita harus menang!" ucap Sam menyemangati dan diangguki Shaka.
"Tenang saja boss, ini bukan pertandingan pertama untuk kita. Shaka beberapa kali memenangkan pertandingan seperti ini," selak Edo.
"Iya, saya percaya itu," balas Sam.
Tring!
Suara pesan masuk terdengar dari ponsel Shaka. Ia meraih benda pipih itu, lalu melihat isi chat didalam sana.
My-Jin
[Aku gak berharap kamu juara. Aku hanya berharap, kamu kembali tanpa cedera!]
Senyum terukir dari lelaki tampan itu. Ia pun segera membalas chat tersebut. Baru saja selesai ia mengirim, salah satu dari anggotanya mengabari untuknya bersiap.
"Go! You can do it!" Sam memberi semangat pada Shaka dengan menepuk pundaknya dan diangguki sang ketua motor itu.
Selain Sam, anggota yang lain pun turut memberi semangat untuk sang ketua. Lelaki tampan itu berlenggang menuju si black yang sudah disiapkan anggotanya.
"Si Alexa mana?" tanya Shaka pada Edo yang kini berjalan beriringan dengannya.
__ADS_1
"Dia gak bisa hadir, ada urusan katanya," balas Edo.
"Dihari penting kek gini?" tanya Shaka menautkan alisnya heran.
"Entahlah, gue juga gak tau jelas. Tapi lu tenang aja. Gue udah hubungi Jaki, buat nyusul kesini," jelas Edo menepuk pundak temannya itu dan diangguki Shaka.
Kini babak pertama Shaka melawan salah satu peserta. Seperti biasa, pemanasan mesin terdengar begitu bergemuruh.
"Gimana, Sha? Oke 'kan?" tanya Edo memastikan mesin tersebut.
"Oke, ini kelihatannya lebih sempurna," balas Shaka.
Setelah mengenakan helm ia bersiap untuk memacukan kendaraannya itu. Jarak yang digunakan tidaklah terlalu jauh, hanya saja terdapat beberapa tantangan ditengah sirkuit yang harus dilalui. Hingga saat kain diterbangkan ke udara, ia pun melesat meninggalkan posisi.
Terlihat Shaka memimpin pertandingan, kecepatannya tak dapat diragukan lagi. Jika saja ia ikut klasemen motoGP, dipastikan ia akan masuk diurutan lima besar. Bahkan tantangan pun tak ada apa-apanya untuk lelaki tampan itu. Dengan mudah ia melewati, namun tiba-tiba rem sedikit kurang berfungsi. Hingga ia hampir saja hilang keseimbangan dan terjatuh. Namun bukan Shaka namanya jika tak bisa mengendalikan itu. Ia kembali melesat dengan kecepatan penuh, hingga sampai digaris finish.
Sorak sorai dan tepuk tangan pun terdengar riuh dari para penonton. Banyak penggemar si ketua black wings yang berjejer memenuhi jalanan tersebut.
"Keren! Lu emang juaranya Sha," puji Edo menepuk pundak temannya itu.
Shaka membuka helmnya dengan sedikit merapihkan rambutnya. "Si Jaki udah datang belum?" tanyanya.
"Keknya ada sedikit masalah dibagian rem. Apa pertandingan selanjutnya masih lama?" tanyanya.
"Selanjutnya sepuluh menit lagi, lawan lu si Radit. Jadi lu harus lebih hati-hati!" peringat Edo.
Shaka mengangguk mengerti. "Oke, gue ngerti. Hubungi Jaki, suruh dia cepat!" titahnya.
"Sipp! Sementara gue suruh anak-anak buat cek. Lu bisa istitahat dulu," jelas Edo dan diangguki Shaka.
Tujuh menit berlalu, namun Jaki belum juga menampakan batang hidungnya. Shaka sudah harus bersiap kembali, namun tiba-tiba salah satu anggota memberi kabar. Jika Jaki dicegat anak-anak Red Evil. Hal itu tentu membuat Shaka dan Edo keheranan.
"Buat apa mereka menahan Jaki?" tanya Edo heran. "Apa mereka tau, kalo ada sedikit masalah direm si black?" lanjutnya bingung.
"Mereka terlalu jeli. Pasti mereka menelisik gerak-gerik gue. Oke, gak apa-apa gue bisa mengatasi ini," jelas Shaka.
"Lu!" tunjuknya dengan dagu pada seseorang yang memberi kabar tersebut.
"Iya, boss!"
__ADS_1
"Kerahkan yang lain. Bawa Jaki kesini," titah Shaka.
"Baik, boss!" balasnya.
"Lu yakin gak apa-apa?" tanya Edo yang terlihat khawatir. Entah kenapa ia merasa ada hal janggal disini.
"Lu percaya 'kan sama gue?" tanya shaka.
"Tapi-" belum sempat Edo menyelesaikan kalimatnya, seseorang sudah memanggil untuk bersiap.
"Yakinlah, gue gak akan apa-apa. Lu harus inget. Gue Shaka, i'm the winner," ucap Shaka mengingatkan.
Edo menghembuskan napas panjang. Mencoba percaya, semua akan baik-baik saja. Ia hanya pasrah mengikuti langkah Shaka untuk kembali kearena balap.
Shaka mulai menaiki kuda besinya. Nampak dari samping ia bersiap, Radit juga sudah menaiki motornya. Lelaki itu tersenyum remeh pada Shaka. Hal yang biasa membuat Shaka tersulut, kini tak nampak wajah marah yang tetlihat dari Shaka. Justru wajah bahagia dan senyum manis yang ditampakan lelaki tampan itu.
"Keknya lu santai banget ya?" tanya Radit yang terdengar sebuah ledekan.
Shaka semakin melebarkan senyumnya. "Tentu, karena lu gak ada apa-apanya buat gue," balasnya.
"Cih!" Radit berdecih kesal. "Kita lihat aja, apa lu masih bisa tersenyum?" tanyanya dengan seringai dan tatapan tajam.
Shaka hanya mengedikan bahu santai seraya mengenakan helmnya. Begitupun Radit yang juga melakukan hal yang sama.
Brumm ... Brumm ...
Keduanya sudah siap, hingga saat kain itu terbang. Kedua kuda besi itu mulai melesat meninggalkan posisi. Kali ini tak ada tantangan, hanya saja mereka harus melakukannya sepuluh kali putaran.
Keduanya saling berdempetan, kecepatan mereka hampir sama. Shaka berusaha untuk memimpin hingga beberapa detik didepan Radit.
'Ada apa ini?' batin Shaka bertanya-tanya kala ia tak dapat menarik remnya.
Dug!
Senggolan Radit ketika menyalip ditikungan, membuat konsentrasi lelaki itu ambayar. Shaka hendak menarik remnya, namun itu tak berfungsi. Hingga motor pun tak dapat dikendalikan dan...
Brakkk!!!
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Ayo gaiss, lebih ramaikan!!!