My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Will you marry me?


__ADS_3

Hari pernikahan Deril dan Chika pun tiba. Setelah terdengar kata 'SAH' dari kedua para saksi, kini acara ritual adat pun dilaksanakan. Pelemparan buket bunga yang biasa dilakukan kedua pengantin untuk para gadis siap dilaksanakan.


Jingga ikut serta bersama deretan para gadis lainnya. Meski ia sempat menolak, namun Sena memaksa ia untuk ikut bergabung disana. Gadis itu menurut dan berakhir diantara rombongan gadis tersebut.


"Satu, dua, tiga ..."


Bunga itu dilempar sepasang pengnatin kebelakang. Hingga menimbulkan keriuhan dari para tamu, tak terkecuali para gadis.


Greeppp!!!


Jingga kaget, tiba-tiba saja bunga itu sampai ditangannya. Jika gadis lain akan berjingkrak kesenangan. Gadis itu justru terlihat biasa saja. Ia hanya mengacungkan seikat bunga tersebut, hingga suara tepuk tangan terdengar menggema diruangan luas itu.


"Wahh keren, Jin! Beneran siap dihalalin si aka dong, ya?" goda Sena mendekati sahabatnya itu.


Jingga terkekeh mendengar itu, tentu ia pernah mendengar mitos itu. Namun bukan Jingga namanya jika percaya tahayul semacam itu. "Cuma buket bunga," balasnya yang terlihat tak tertarik sama sekali. Bahkan ia memberikan benda itu pada Sena.


"Ya ampun, ini tuh jodohmu! Kenapa dikasih ke aku? Aku udah nikah dan gak mau nikah lagi," celetuk Sena seraya mengembalikan buket bunga itu pada Jingga.


"Tapi a-" Belum juga ucapannya selesai, buket bunga itu sudah dirampas seseorang. Hingga gadis itu menjeda ucapannya.


"Kalo gak mau, buat aku aja," ucap Shaka disertai senyuman manisnya, dan disambut senyum pula oleh Jingga.


"Cih! Kardus," ledek Sena.


"Heh, kardus lebih baik dari pada plastik. Setidaknya aka gak mencemari lingkungan dengan suara-suara meresahkan setiap malam," cerocos Shaka dengan mata bergulir malas.


Sena terdian sejenak, mencerna ucapan sang kakak yang terasa menyindir dirinya. Shaka yang mengerti Sena terlihat lemot, segera ia menyambar tangan Jingga untuk membawanya keluar dari keramaian.


"E-eh mau kemana?" teriak Sena, namun tak dihiraukan sejoli itu.


Mereka hanya melangkahkan kaki dengan senyum yang tak luntur dari bibir keduanya. Bahkan mereka tak menghiraukan sang adik yang pasti sudah menggerutu tak jelas ditempatnya. Tujuannya adalah menjauhi keramaian, tepatnya kesebuah tempat yang sudah Shaka siapkan.


"Kita mau kemana?" tanya Jingga ketika mereka menunggu didepan pintu lift.


"Ke atas," balas Shaka yang tak melunturkan senyumnya sama sekali.


Tentu saja jawaban singkat Shaka membuat Jingga nenautkan alisnya heran. Ingin ia hendak kembali bertanya, namun suara lift terbuka mengalihkan atensi mereka.


Tring!


"Ayo!" ajak Shaka menyeret tangan sang gadis untuk mengikutinya.

__ADS_1


"Kita ngapain ke rooftop?" tanya Jingga ketika melihat Shaka menekan nomor lantai teratas gedung tersebut.


"Kepo, ya?" goda Shaka mendekatkan wajahnya, seraya menaik turunkan alisnya.


"Cih!" Jingga hanya berdecih seraya mengusap wajah kekasihnya itu, hingga Shaka pun terkekeh dibuatnya. Lalu kembali menegakkan diri.


"Udah, nanti kamu juga tau," final Shaka yang hanya dibalas hembusan napas pasrah oleh Jingga.


Tring!


Benda persegi itu, akhirnya sampai ditempat tujuan. Shaka tak lepas menggandeng tangan gadis itu, dengan satu tangan tak lepas membawa buket bunga tadi. Ia membuka pintu keluar dan betapa terkejutnya Jingga melihat hal tak terduga digadapannya.


"I-ini?" tanyanya tak percaya.


Hembusan angin kencang dari kibasan benda yang kini berdiri kokoh ditengah halaman luas itu, membuat rambut Jingga terbang tak beraturan. Segera Shaka menarik Jingga untuk mendekati benda itu. Sebuah helikopter yang siap mebawa sejoli itu mengitari indahnya pemandangan kota dimalam hari. Entah dari mana si badboy itu, bisa menyiapakan hal menakjubkan tersebut. Yang jelas hal ini sukses membuat Jingga shok bukan main.


Terdapat beberapa orang yang sudah siap menyambut mereka. Didekat benda berpusing tersebut.


"Silahkan masuk, Tuan, Nona!" ajak salah satu dari mereka dengan sedikit membungkukkan diri. Shaka hanya mengangguk dan memasuki benda itu diiringi Jingga dari belakang.


Setelah mengenakan segala perlengkapan, helikopter itu pun bergerak dari posisi dan terbang meninggalkan tempat tersebut.


Shaka mengusek sayang kepala sang gadis. "Ini adalah janjiku padamu," ucapnya.


"Janji?" tanya Jingga heran. Entah janji mana yang dimaksud Shaka, mungkinkah ia melupakan itu?


"Hem, iya. Janji bocah kecil yang akan membawa terbang seorang gadis. Bukankah aku menepati janji itu?" jelas Shaka.


Jingga tersenyum, setelah sempat berpikir sejenak akhirnya ia mengingat hal itu. Janji mereka sewaktu kecil dulu, dimana ketika itu Jingga menangis karena tidak dapat menaiki helikopter mainan karena harus mengalah pada Sena. Shaka menghibur gadis kecil itu yang menangis dipojok ruangan.


"Janan nanis! Jin tan tuat," ucap Shaka kecil menghapus jejak kebasahan dipipi cantik itu.


"Nanti. Aka ajat Jin tewban. Tita nait tapan kopten ya!" bujuk Shaka kecil, bahkan bocah laki-laki itu mengepakan kedua tangannya untuk meyakinkan. Jingga kecil tersenyum seraya menganggukan kepala.


"Tapina Jin janan nanis agi ote?" pinta Shaka dan diangguki gadis kecil itu.


"Canci?" Shaka mengangkat jari kelingkingnya dan disambut senang gadis kecil itu seraya mengaitkan kelingking miliknya.


"Canci!" balas Jingga kecil dan disambut tawa kedua bocah tersebut.


Greppp!!!

__ADS_1


Jingga memeluk tubuh tegap itu, menyembunyikan air yang tiba-tiba saja keluar dari kedua pelupuk matanya. Entah bagaiamana bisa, Shaka mengingat hal kecil itu? Padah itu hanya janji anak kecil yang bahkan ia baru mengingatnya sekarang.


Tumbuh bersama, memanglah membuat banyak hal yang mereka tau satu sama lain. Kebiasaan dan watak masing-masing tentu mereka sudah saling memahaminya.


"Udah, jangan nangis! Bukannya udah janji gak bakal nangis lagi?" peringat Shaka mengusap sayang kepala sang gadis.


"Maksih," cicit Jingga.


Shaka mengecup pucuk kepala Jingga. "Aku yang harusnya makasih. Kamu sudah bersedia menemani hari-hariku yang banyak kekurangan ini. Selalu sabar menghadapi aku yang egois ini. Makasih atas kasih dan ketulusanmu, mencintaiku, Jin!" ungkapnya.


"Izinkan aku yang tidak sempurna ini untuk belajar menjadi imam yang baik untukmu," lanjutnya.


Jingga mendongak menatap sang kekasih, segera Shaka mengahpus jejak kebasahan dipipi cantik itu. Sama halnya seperti yang ia lakukan belasan tahun silam.


"Aku tau, kamu bukanlah typical gadis yang suka akan hal manis. Tapi aku ingin menunjukan hal yang sama dengan apa yang kurasakan saat ini," ucap Shaka. Kemudian ia melihat kesamping gadis itu.


"Lihatlah!" tutahnya menunjuk kesamping dengan dagunya. Sontak saja Jingga ikut menoleh.


Dilihatnya hamparan luas yang terlihat kerlap kerlip lampu membentuk sebuah ukiran kalimat, "Will you marry me"


Jingga memang tak menyukai hal manis, namun kali ini hatinya bergetar melihat semua itu. Ia menutup mulut merasa tak percaya akan apa yang ia lihat.


"Jingga!" Ucap Shaka, hingga gadis itu berbalik menatap sang kekasih.


Shaka menyodorkan buket bunga yang didapat tadi, "Seperti yang tertulis disana. Bersediakah kau menikah denganku? Menemaniku hingga akhir usia?" tanyanya.


Jingga sungguh terharu, ia tersenyum manis seraya menganggukan kepala. Lalu menerima bunga tersebut. Shaka ikut tersenyum tak kalah lebar, kemudian ia meraih sesuatu dari saku jasnya.


Sebuah kotak kecil berwarna merah disodorkan lelaki itu. Lalu ia membuka benda itu, seraya memperlihatkan isi didalamnya. Namun hal itu tak membuat Jingga kaget atau merasa takjub. Gadis itu terlihat biasa saja. Tentu saja hal itu membuat Shaka heran. Ia pun melihat isi didalam sana dan betapa shok nya dia, kala benda yang tersemat disana sudah hilang.


"Astaga, isinya kemana?" tanya Shaka panik. Lelaki itu meraba-raba saku jasnya, yang kemungkinan terdapat benda itu terjatuh disana.


Jingga terkekeh melihat kepanikan Shaka. Kemudian gadis itu, memperlihatkan jari manisnya kehadapan Jingga. Shaka membolakan mata tak terpercaya. Lalu mendongak menatap sang kekasih.


"Ini?" tanyanya shok.


"Bukannya, kamu sudah melamarku?"


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupakan jejak pokoknya😘😘

__ADS_1


__ADS_2