My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Penyesalan


__ADS_3

"Brengs*k!!!"


Dipenuhi amarah yang membuncak, Shaka melesat meninggalkan parkiran tersebut. Tujuannya hanya satu, yaitu rumah sang kekasih. Kuda besi itu berpacu dengan kecepatan diatas rata-rata, hingga membuat pengendara lain mengumpati dengan sumpah serapah pada lelaki yang seolah kesetanan itu. Bahkan ia menorobos lampu merah begitu saja, tanpa memedulikan peringatan polisi lalu lintas.


Benar saja tak membutuhkan waktu lama, ia sampai didepan halaman rumah Jingga. Ia segera turun dan mengetuk pintu tersebut.


Tok! Tok! Tok!


Pintu diketuknya dengan keras dan tergesa. Ia bahkan melupakan, jika kemungkinan kedua orang tua sang gadis yang akan membukakan pintu. Untung saja hanya Jingga yang berada dirumah tersebut.


Ceklek!


Pintu dibuka gadis itu dengan raut bingung kala melihat wajah sang kekasih yang memerah dengan mata berkabut amarah itu.


"Kamu kenapa?" tanya Jingga heran.


Tanpa diduga Shaka meraih tengkuk gadis itu, lalu meraup bibir manisnya. Bukan sesapan lembut seperti biasa, namun sesapan itu terasa kasar dan menyakiti bibir gadis itu. Shaka menggiring tubuh ramping Jingga, hingga gadis itu terjengkang ke atas sofa. Hal itu tentu saja membuat pagutan mereka terlepas.


Jingga semakin dibuat heran, kala napas memburu terdengar menggebu dari bibir sexy Shaka yang kini mengukungnya. Mata elang itu tak lepas menatap Jingga meski tangannya bergerak memasuki saku celana dan mengambil layar pipih dari dalam saku tersebut. Kemudian ia memperlihatkan apa yang tadi dilihatnya.


"Sekarang katakan, dari mana kamu sebelum aku datang? Apa kamu memasuki tempat ini? Apa kamu bertemu Radit? Apa kamu- hah~" cecar Shaka dengan berbagai pertanyaan dan disertai hembusan napas kasar.


"Darimana kamu mendapatkan itu?" bukan menjawab Jingga justru balik bertanya.


"Jawab aku, Jin!" tegas Shaka dengan meninggikan sedikit nada bicaranya.


Hal itu tentu membuat Jingga menghembuskan napas panjang. Ternyata benar, sang mantan sudah membuat jebakan jitu untuknya. "Iya, aku dari resto itu," balasnya jujur.


Shaka mengepalkan tangan seraya memejamkan mata. Kemudain ia bangkit dari tubuh Jingga, dengan tatapan semakin mencekam. "Dan bertemu dia?" tanyanya datar.


"Iya," balas Jingga yang ikut menatapnya. Hal itu tentu membuat amarah Shaka semakin membuncak.


"Dan melakukan itu?" tanyanya lagi.


Jingga menggelengkan kepala. "Nggak," balasnya.


"Bohong!" selak Shaka.

__ADS_1


"Aku gak bohong. Itu bukan aku," balas Jingga membela diri.


"Oh bukan kamu?" tanya Shaka dengan nada tak percaya. Kemudian ia mencekal pergelangan tangan Jingga.


"Bangun!" titahnya. Jingga menurut dan ikut berdiri seperti yang dilakukan Shaka.


Lalu Shaka berlenggang berjalan menuju tangga dengan tangan menggandeng Jingga yang hanya diam mengikuti langkahnya. Jingga tau ia harus mengalah untuk tak membuat amarah lelaki itu kian meluap-luap.


Hingga kedua manusia itu sampai dikamar Jingga. Mata elang Shaka memindai seluruh sudut ruangan tersebut. Lalu menangkap keranjang pakaian yang tertera dipojok ruangan. Ia bergerak mendekat kearah keranjang itu setelah melepas cekalannya.


"Apa ini?" tanyanya menenteng sehelai kain dari dalam sana. "Kamu mau mengelak?"


"Iya, aku pergi megenak baju itu. Foto itu benar. Tapi video itu tidak benar sama sekali," jelas Jingga.


"Berhentilah membuatku bodoh, Jingga!" tegas Shaka. "Kau bahkan tak meminta izinku untuk bertemu dengan mantanmu yang brengs*k itu," lanjutnya.


"Kamu anggap aku apa, hah?" tanyanya dengan napas memburu.


Segera Jingga mendekat untuk menenangkan sang kekasih yang kemungkinan bisa kalap itu. "Nggak keke gitu, Sha!" sangkalnya seraya meraih telapak tangan Shaka. "Aku-" belum sempat ucapan gadis itu Shaka segera menyelak dengan menepis tangannya.


Brukkk!!!


Flash back off~


"Sstt aww!!" lamunan Shaka terputus kala pelipisnya terasa perih, dengan obat yang kini sedikit ditekan-tekan oleh Jingga.


"Maaf!" sesal Shaka, hingga tangan Jingga terhenti sejenak.


"Buat apa?" tanya Jingga yang kembali ke aktifitasnya. Dengan telaten ia terus membersihkan luka itu.


"Tidak mempercayaimu," balas Shaka.


Jingga menarik satu sudut bibirnya, kemudian menempelkan plester dibagian rerakhir pengobatannya. "Terkadang apa yang kita lihat, itu yang harus dipercaya. Namun apa yang kita lihat, belum tentu apa yang terjadi," jelasnya.


Jingga membereskan isi dari kotak tersebut, lalu menatap pada Shaka yang kini tengah menatapnya sayu. Terlihat jelas mata itu penuh penyesalan.


"Mata saja tidak cukup untuk melihat, butuh hati untuk menyempurnakannya..." lanjutnya.

__ADS_1


Gadis itu bediri dan hendak berlalu pergi. Namun tiba-tiba saja, Shaka memeluk tubuhnya dari belakang. Hingga ia mematung kala mendengar isak lirih dari lelaki itu.


"Maaf! Maaf! Maafin aku Jin!" sesalnya. Kini ia tak bisa lagi memendung rasa bersalahnya.


"Aku salah, aku bodoh! Maafin aku," lanjutnya.


Satu tetes bulir hangat dari ujung mata Jingga mengalir. Bukan hanya satu, air itu berdesakan untuk keluar dari sarangnya kala rindu itu mungkin saja terjawab. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Jingga membiarkan Shaka menyembunyikan air mata di ceruknya.


Tanpa mereka sadari, beberapa anggota sudah membuka sedikit pintu tersebut, hingga akhirnya Jingga tersadar saat mendengar bisik-bisik dari ambang benda tersebut. Segera Jingga melerai pelukan itu, hal yang membuat Shaka sedikit terlonjak, namun ia segera berbalik kikuk seraya mengusap wajahnya. Kala melihat berberapa gadis yang sudah melipat bibir diambang pintu tersebut. .


Gadis-gadis yang diketahui anggota PMR itu, memasuki ruangan tersebut. "Maaf, kami mengganggu kalian," sesal salah satu dari mereka.


"Hem nggak," balas Jingga.


"Kami hanya akan mengambil bebarapa barang, dan akan keluar," jelasnya.


"Tidak perlu, kita yang akan keluar," selak Jingga. Ia segera membuka jas putih yang melekat ditubuhnya itu, lalu segera mengambil tas dari tempatnya juga.


Ia pun belenggang keluar diikuti Shaka dari belakang. Para gadis itu menahan napas kala mendengar suara Jingga yang selalu membuat bulu kuduk mereka berdiri. Hingga hembusan napas lega keluar dari bibir mereka kala kedua manusia itu keluar.


Huhh~


"Aku heran sama kak Shaka? Kenapa dia bisa menyukai Jingga yang seperti itu. Padahal ya, dia tuh tampan, sedangkan Jingga aku rasa B aja. Malah sikapnya itu bikin ngeri," ungkap salah satu dari keempat orang itu.


"Suut!! Ntar kalo kedenger Shaka, bahaya. Kalian bisa nangis tujuh hari tujuh malam dapat ceramahan panjang kali lebar dari dia, yang katanya omongannya itu pedes sepedas kripik paqui," balas salah satu dari mereka bergidik ngeri.


"Ah masa iya? Bukannya dia terlalu cool untuk orang seperti itu?" tanya gadis yang baru beberapa hari bergabung dikampus itu.


"Ck! Kamu gak tau aja karena masih baru. Shaka tuh selain badboy, ketua geng motor, dia juga bermulut pedas. Gak ke cowok, gak ke cewek sama aja buat dia. Siapapun yang berbuat masalah dengan dia, bakal down mental pokoknya," balas salah satu angakatan yang tau semua tentang Shaka dan diangguki mereka.


"Emang dah, serasi sama Jingga yang dingin," celetuk salah satu dari mereka.


"Yang pedas 'kan takluknya sama yang dingin."


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa kakaknya ya gaiss 😘 udah jelas flash backnya Yaa🙈 siap ngebucin kitaa 🤭

__ADS_1


__ADS_2