My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Pagi pertama


__ADS_3

Brukkk!!!


Shaka menjatuhkan diri disamping istrinya itu. Melesakan wajahnya diantara bantal, kemudian memeluk tubuh ramping itu dengan mata terpejam.


"Besok kita lanjutin. Mataku gak kuat ngantuk banget," ucapnya.


Jingga terkekeh dengan aksi suaminya itu. Sudah ia duga, hal itu akan terjadi. Mengingat setelah makan tadi, Shaka meminum obatnya, tentu saja ia akan segera tertidur seperti malam-malam sebelumnya.


"Aisshh, si jack mu emang perkasa. Tapi tubuhmu belum," kekeh Jingga yang merasakan benda keramat itu masih bergerak-gerak dipahanya.


Shaka sudah tidak menyahuti. Entah jiwanya mungkin sudah terbang menuju lautan mimpi. Jingga tak hentinya tersenyum melihat tingkah Shaka yang lucu menurutnya. Ia turun dari ranjang dan mengenakan kembali kain penutup bagian-bagian sensitifnya. Ia memilih untuk mencari kaos Shaka yang mungkin bisa dikenakan.


Ia raih kaos oblong hitam, lalu mengenakannya. Tubuh Shaka yang lebih besar darinya, membuat kaos itu menutupi area pribadinya. "Aku rasa ini lebih baik, dari pada tidur menggunakan jeans," ucapnya.


Lalu ia juga memilih deretan piyama yang ternyata tak nampak disana. "Keknya semua piyama belum dicuci."


Gadis itu kemudian mengambil kaos yang sedikit kecil, yang sepertinya akan ketat jika digunakan Shaka. Namun itu pasti akan terlihat sexy, pikir Jingga. Jadi ia memutuskan untuk memilih kaos hitam itu. Lalu ia juga meraih satu boxer sebagai bawahannya.


Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, ia membuka selimut yang sempat ia tarik untuk menutupi tubuh polos suaminya. Kemudian memasangkan kain yang diambilnya tadi pada tubuh menggiurkan itu.


"Hem, selesai!" meski Jingga menggerakn tubuh tegap itu, tetap saja itu gak berpengruh untuk Shaka. Bahkan kini si jack pun ikut terlelap bersama tuannya.


Cup!


Jingga mengecup kening Shaka dan mengusap sayang kepalanya. "Selamat malam bayi besar. Nice dream," ucapnya.


Shaka hanya bergumam kecil seraya memeluk tubuh Jingga. Menyembunyikan wajahnya didada gadis itu. "Dasar!" kekeh Jingga.


Ia pun menarik selimut mereka sedikit ke atas, lalu mendekap kepala Shaka dan mulai memejamkan mata. Hingga akhirnya mereka terlelap bersama.


**


Hari masih terlalu gelap untuk seorang pengantin bangun dari tidurnya. Tentu saja, jika malam pertama mereka berhasil. Namun bagaimana dengan pengantin yang malam pertamanya gagal? Akankah masih tetap bangun siang?


Jawabannya tentu saja tidak. Semelek apapun, Jingga pasti akan bangun seperti biasa dipagi buta. Kebiasaan yang sudah tertanam sejak dini tak bisa mengubahnya menjadi seorang pemalas.


Ia bangun dan membersihakn diri seperti biasa, terlihat Shaka masih anteng dibalik selimutnya itu. Ia meraih ponsel dari tas kecilnya untuk mengirim pesan pada sang mama agar mengirimnya pakaian untuk berganti. Namun baru saja membuka laman hijau itu. Ternyata sang mama sudah mengirimnya chat.


[Mama sudah bawakan baju ganti untukmu, kopermu mama taroh didepan kamarmu]

__ADS_1


Chat singkat dari sang mama membuat ia tersenyum. Ternyata mamanya lebih mengerti sebelum ia meminta. Ia pun membuka pintu kamar dan benar saja sebuah kotak besar sudah bertengger didepan sana. Segera Jingga menyeret koper tersebut kedalam kamar.


Mengambil salah satu baju tersebut dan segera mengenenakannya. Setelah selesai, ia melaksanaan dua rakaat kewajibannya, sebelum akhirnya turun untuk membantu mama Ay membuat sarapan.


"Pagi, Ma!" sapa Jingga ketika memasuki dapur.


Mama Ay menoleh, melihat siapa yang menyapanya. Ternyata sang mantu kesayangan yang menghampiri.


"Eh Jin, udah bangun?" tanya mama Ay.


Jingga mengangguk dan tersenyum. "Mama buat apa?" tanyanya.


"Ini mau buat bubur buat aka," balas mama Ay.


"Boleh aku bantuin?" tanya Jingga dan diiyakan wanita paruh baya itu.


"Kucek terus ya sampai kentel. Mama mau bikin nasi goreng juga," titah mama Ay dan diiyakan Jingga.


Sesuai perintah, Jingga terus mengaduk bubur dalam panci tersebut sampai kental. Lalu menyiapkannya diatas mangkuk.


"Ma! Boleh ini aku bawa ke kamar?" tanya Jingga.


Tentu saja Jingga senang mendengar itu. Segera ia menyiapkan nampan dan menaruh bubur, segelas jus jambu yang sudah tersedia dari kulkas, segelas air putih dan juga obat.


Lalu bergegas ia membawa nampan menuju kamar mereka. Ia melihat suaminya itu masih memejamkan mata, ia pun tersenyum seraya menyimpan nampan itu diatas nakas.


Jingga mendekat dan mencoba membangunkannya dengan membelai wajah tampan itu. "Belum mau bangun?" tanyanya.


"Hem," hanya gumaman yang keluar dari bibir sexy itu.


Tak henti Jingga mengusik Shaka agar terbangun, namun lelaki itu justru menarik istrinya kedalam dekapan.


"Sha!" pekik Jingga ketika wajahnya harus tenggelam diketiak Shaka.


"Udah diem. Masih ngantuk tidur lagi," celetuk Shaka.


"Ini sudah siang Sha, matahari bentar lagi cerah. Kamu harus minum obat," jelas Jingga.


"Sepuluh menit lagi," gumamnya.

__ADS_1


Jingga akhirnya pasrah dan ikut terlelap dalam dekapan sang suami. Terlalu nyaman dalam dekapan itu, hingga membuat ia terbuai dalam mimpi.


Sepuluh menit berlalu, bahkan satu jam sudah terlewati pasangan itu. Hingga kini Shaka lah yang sudah bangun terlebih dulu. Ia tersenyum kala melihat wajah cantik itu dalam dekapan. Shaka mulai jahil menoel-noel hidung Jingga, hingga gadis itu bergeliyat kecil dan perlahan membuka matanya.


"Pagi suami?" sapa Jingga mendongakan wajah menatap lelaki tampan itu.


"Pagi juga istri!" balas Shaka mengusek pucek kepala gadis itu, lalu mengecupnya. Kemudian kembali memeluk tubuh ramping itu.


"Kek mimpi, ya?" kekeh Shaka.


"Makanya bangun, biar tau kalo ini tuh nyata," balas Jingga.


Shaka melepas dekapannya dan bangkit. Bukan turun dari ranjang, ia justru beralih menaiki tubuh Jingga.


"Ngapain?" goda Jingga.


"Nerusin yang semalam," balas Shaka sekenanya.


Jingga terkekeh menanggapi. "Keknya udah gak berlaku," ledek Jingga.


"Oh ya? Tapi aku mau," ucapnya, yang mana wajahnya sydah tenggelam diarea ceruk gadisnya itu.


"Sha!" peringat Jingga, namun tak dihiraukan lelaki itu.


Ia justru semakin aktif menjelajah semakin bawah. Entah sejak kapan kancing-kancing dressnya sudah terbuka, hingga dua buahnya sudah menyembul keluar dari sana.


"Mmhhh Sha!" suara Jingga bukan menjadi peringatan. Namun justru menjadi sebuah lengu han.


Shaka semakin gencar memberikan serangan didua buah bukit tersebut. Satu tangannya bergerak kebawah, untuk menyapa si nona. Jingga yang hanya mengenakan dress selutut, tentu dengan mudah disikapnya dress tersebut. Tangan Shaka bergerak mengelus paha mulus itu.


Bagai tersengat listrik, tubuh Jingga semakin tak menentu dan menginginkan lebih. Apalagi ketika tangan Shaka mampu menyapa sinona yang mulai membasah. Tak kalah menegang dengan tubuh Jingga, si jack pun ikut menegang. Segera Shaka membuka kain tipis yang menutupi area basah itu dengan dressnya pula. Lalu menarik kaos dan boxer dari tubuhnya. Hingga keduanya kembali te lan jang tanpa sehelai benang pun.


"Sudah siap?" tanya Shaka.


"Buat?" goda Jingga.


"Bikin pagi pertama."


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Besok lanjut ya, mak othor ngantuk euy😪 kagak ada yang ngasih kopi, jadinya mata mau merem🙈 jangan lupa ramaikan yaa😘


__ADS_2