
Berulang kali hembusan napas berat terdengar dari lelaki tampan yang kini berjalan beriringan dikoridor bersama sang kekasih. Jingga terkekeh melihat Shaka yang tampak frustasi. Tau pasti kekasihnya itu, tengah menekan rasa malu akan kelakuannya pagi ini.
Gadis itu menggandeng lengan Shaka, hingga perhatian lelaki itu berpindah dan menoleh kesamping. Tanpa kata Jingga sedikit menyeret lengan Shaka dengan senyum tipis diwajahnya. Pandangan gadis itu lurus kedepan dengan gaya percaya diri, menunjukan pada dunia, jika kini mereka sudah kembali bersama.
Shaka tersenyum melihat kelakuan gadisnya itu. Ia mengusek rambut Jingga dengan gemas, yang kemudian mengecup sekilas pipi sang gadis dan dengan cepat mengarahkan wajah kedepan tanpa dosa. Sontak saja hal itu membuat Jingga menoleh dan berdecih merasa lucu. Kemudian keduanya tersenyum manis seraya berjalan menatap kedepan, tanpa memedulikan bisik-bisik penghuni sepanjang koridor.
"Ya ampun, apa mereka CLBK?" komentar salah satu netizen, ketika mereka sudah berlalu dari hadapan sekelompok orang-orang tersebut.
"Ihh, kok gue ngiri ya?" celetuk salah satu temannya.
"Idih, buat apa ngiri. Shaka biar ganteng, dia tuh badboy. Cowok nakal gak ada dalam kamus calon suami," balas salah satu lagi.
"Isshh, tapi 'kan dia sultan. Denger-denger papanya tuh punya banyak perusahaan. Selain ganteng beliau juga gak kek anaknya. Kalem dan ganteng. Fix, gue mau dah jadi sugar baby nya," celetuk satu temannya lagi.
"Heleh, lu mah emang suaknya om-om banyak duit. Gak ganteng juga yang penting sultan," celetuk si netizen pertama.
"Suutt, kalian gak tau apa. Kalo kedengeran sama mama nya Shaka, kalian akan mati kutu,"
"Jangankan kedenger mamanya. Kedenger anaknya juga kalian pasti mati kutu," celetuk seseorang yang ternyata bukan dari antara empat gadis itu.
Seketika mereka menoleh pada sumber suara. Keempat gadis itu shok bukan main, mendapati siapa gadis berwajah kesal dan tatapan tajam mengarah padanya.
"Se-sena?!" cicit mereka menatap pucat pada perempuan itu. Lebih tepatnya pada lelaki disamping Sena dengan wajah tampan yang nampak datar dan dingin tersebut.
"Apa kalian hidup cuma untuk mengomentari hidup orang lain?" tanya Sena dengan sengit.
"Ma-maaf Sen, kita gak maksud buat-"
"Gue peringatin lu semua. Kalo gue denger ada yang ngomongin orang tua gue lagi, gue laporin kalian atas pencemaran nama baik," peringat Sena dan diangguki cepat oleh mereka yang ngibrit pergi begitu aja.
"Ck! Ngeselin emang," kesal Sena ketika mereka sudah kocar kacir dari posisinya.
"Udah, ayo!" ajak Abi merangkul bahu sang istri, menuju kelas mereka.
__ADS_1
**
Sementara itu, Jingga yang baru saja mendudukan diri dikejutkan akan kehadiran sang sahabat yang tiba-tiba duduk disampingnya.
"Woy!" Rizky menepuk pundak Jingga yang kemudian tergelak. Jingga berdecak akan kelakuan sahabatnya itu.
"Eh katanya pagi ini ada drama dirumah lu? Sayang sekali gue gak nonton," ledek lelaki tengil itu disertai kekehan.
"Cih! Berisik," balas Jingga yang kemudian membuat Rizky tergelak.
"Emang iya, pernikahan kalian bulan depan?" tanya Rizky dan diangguki Jingga. "Duluan Deril dong, ya?" tanyanya lagi dan kembali diangguki Jingga.
"Kapan mau diresmiin?" kini Jingga yang bertanya.
"Resmi, resmi apaan?" sangkal Rizky.
"Cih! Sudahlah berhenti berbohong, bukankah Renata-"
"Nggak! Siapa bilang gue sama Renata punya hubungan. Dia musuh Sensen, musuh kita juga. Mana mungkin gue suka sama dia," sangkal Rizky memotong ucapan Jingga.
"Kalo mau menyangkal tuh, harus belajar yang benar," ledeknya. "Gak pinter bohong, mau coba bohong. Ck, ck, ck!"
"Ck! Au ah, ngeselin lu! Gue balik dulu," kesal Rizky yang kemudian berlalu dari kelas itu.
Jingga hanya menggelengkan kepala melihat lelaki jangkung itu. Ia tentu tau ada perasaan yang tumbuh antara sahabatnya itu dengan gadis centil yang selalu mencari masalah dengan Sena. Mungkin juga Rizky sudah menjadi pengobat patah hati untuk Renata. Namun bagaimanapun itu, suatu saat mereka pasti akan menyadarinya.
**
Malam menjelang. Shaka tengah duduk dibalkon kamarnya. Hari ini sungguh ia harus menanggung malu karena kebodohannya. Ia sungguh malu berhadapan dengan kedua orang tua kekasihnya.
"Sabar ya, tahan dulu si jack-nya. Cuma sebulan kok," kekeh papa Juna seraua melihat kebawah tubuhnya, yang mana si jack ikut terbangun disana. Keadaan boxer yang melekat ketat, tentu membuat benda keramat itu menonjol sempurna. Seketika papa Juna dan Deri tergelka melihat itu. Mama Agel hanya melipat bibir seraya mengalihkan atensinya, begitupun Jingga.
"Ck! Memalukan," untuk kesekian kalinya, Shaka mengacak rambutnya kasar. Sungguh hal itu akan menjadi sejarah memakulan ia seumur hidup.
__ADS_1
Ditengah kegundahan itu, tiba-tiba saja chat WA masuk mengalihkan atensinya. Ia raih benda pipih dari dalam saku celana. Lalu membaca chat tersebut.
[Waktunya berburu!]
Chat dari sang adik menampilkan seringai diwajah tampan itu. "Baiklah. Mungkin ini akan sedikit mengurangi rasa kesal gue," ucapnya.
Ia mencari kontak diponsel tesebut dan menghubungi seseorang. "Kita bergerak sekarang!" titahnya, lalu memutuskan panggilan tersebut.
Ia segera meraih jaket dan kunci motornya. Kemudian turun melewati tangga. Untung saja kedua orang tuanya belum pulang dari rumah timom Siska, jadi ia lebih leluasa keluar masuk rumah, tanpa izin terlebih dahulu.
Kuda besi hitam itupun melesat meninggalkan halaman rumah, membelah jalan raya yang sudah nampak sedikit sepi. Selain untuk menuntaskan kekesalannya, ia juga begitu khawatir pada adik dan adik iparnya. Takut terjadi apa-apa pada mereka ia pun melesat terlebih dahulu ketempat tujuan, setelah men-sharelock posisi target.
Ckittt!!!
Kuda besi itu berhenti tepat bersama anggota geng juga yang sampai disana. Shaka turun dari benda kesayangannya itu, setelah melepas helm terlebih dahulu.
"Sesuai rencana, anggota A ikut gue. Anggota B ikut Edo," titah Shaka.
"Siap boss!!" balas mereka serempak.
Mereka pun mulai bergerak sesuai instruksi dari sang ketua. Edo membawa anggotanya untuk bersiap didepan kafe. Sedangkan Shaka membawa angggotanya menuju belakang kafe, sesuai petunjuk sang adik untuk masuk dari jendela gudang. Ia pun sampai diruangan pengap itu. Ia mengangkat tangan untuk menghentikan langkah anggotanya yang hendak memasuki ruangan, dimana suara gaduh terdengar dari sana.
"Kita tunggu disini. Sepertinya umpan akan mendekat," titah Shaka dan diiyakan mereka.
Shaka dan anggotanya pun memilih untuk menunggu mereka. Dan benar saja, tak membutuhkan waktu lama beberapa orang dari dalam datang. Shaka menyeringai melihat mereka, dengan sekali jentikan jari, anggotanya pun mulai menyerang. Hingga adu tonjok pun tak dapat dihindari. Shaka hanya duduk dengan arogan menonton itu.
Bugh! Bugh! Prak! Prak!
Dirasa cukup, dan lawan pun juga sudah terkapar. Shaka menghentikannya. "Cukup!" titahnya.
"Ringkus mereka dan bawa kedepan. Pergilah, setelah seseorang datang. Mengerti!" titah Shaka.
"Baik boss!!!"
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejaknya gaissπππ