My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Kamar pengantin


__ADS_3

Malam pun tiba. Kini sepasang pengantin baru itu sudah memasuki kamarnya. Tidak seperti pengantin pada umumnya yang berhiaskan bunga dan lilin, kamar pengantin itu nampak seperti kamar biasa. Namun nuansa canggung tetap dirasa sejoli tersebut.


"Emm, gak nyangka ya, kita bisa satu kamar seperti ini," ucap Rizky memecah keheningan.


Kini sepasang pengantin itu tengah berbaring terlentang menatap langit-langit, dengan selimut menutupi sebagian tubuh mereka, hingga sebatas dada.


"Iya, aku juga. Aku gak nyangka mama aku sama mamih kamu akhirnya bisa mengerti," balas Renata.


Rizky tersenyum. "Awalnya aku pikir, ini tidak akan mudah," ucapnya dan menoleh pada gadis disampingnya. "Tapi ...." ia menggenggam sebelah tangan Renata, hingga gadis itu menoleh.


"Tuhan emang menggariskan takdir ini untuk kita," lanjutnya tersenyum dan dibalas senyum oleh gadis itu.


Renata memiringkan tubuhnya mengahadap lelaki yang beberapa jam lalu jadi suaminya. "Kamu bahagia gak?" tanyanya.


Rizky ikut memiringkan tububnya, hingga mereka berhadapan. "Tentu saja. Ini hal yang paling membahagiakan dihidupku. Mencintai dan memilikimu, bagai mustahil bagiku," balasnya dan disambut senyum dengan semburat merah dikedua pipi gadis itu.


Rizky yang melihat rona merah itu, tentu merasa gemas. Tangannya bergerak membelai warna merah dipipi mulus itu. Lalu mendekatkan wajahnya semakin dekat, hingga ia pun menjangkau bibir ranum itu. Ia sedikit bangkit untuk dapat leluasa menyecap rasa manis pada bibir tersebut.


Ciuman yang awalnya lembut kian menuntut, tanpa disadari Rizky sudah bergerak mengukung tubuh mungil sang istri. Perlahan namun pasti tangan lelaki itu membuka satu persatu kancing piyama yang dikenakan Renata. Hingga kain itu terlepas dari tubuh sang gadis bersamaan dengan cangkang yang menutupi dua buah bukit kembarnya.


Rizky melepas pagutan sebentar lalu menarik kaos oblong dari tubuhnya. Hingga tubuh sipek dengan dada bidang perut kotak itu terpampang jelas dimata Renata.


"Boleh kita coba?" tanya Rizky.


Blush!


Merah sudah kedua pipi Renata, ditanya seperti itu, tentu ia bingung harus menjawab apa. Mustahil jika ia harus menolak. Selain ingin tau benda keramat itu dapat tegak atau nggak, ia juga ingin tau bagaimana rasanya.


Rizky yang mengerti hanya tersenyum, ia mulai mengecap kembali bibir itu, seraya tangan memainkan kedua buah yang terlihat bulat, meski dengan keadaan tubuh telentang.


"Mmmhhphh" De sa han tertahan dikeluarkan Renata. Sentuhan tangan Rizky sungguh membuat sang gadis terbang mencapai nirwana.

__ADS_1


Bibir Rizky berjalan melewati ceruk. Mengabsen setiap inci kulit tubuh itu, hingga sampai pada dua buah dan melahap salah satu buah itu. Suara Renata kian mendayu merdu, membangkitkan jiwa liar Rizky yang sempat tertunda.


Perlahan tangannya mulai menarik kain bagian bawah tubuh sang gadis hingga tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun.


"Ki, malu," rengek Renata mencoba menutupi area lembah berbulu itu.


Rizky terkekeh, lalu membuka celana pendek yang dikenakannya. Hingga benda keramat itu menyembul dan sudah berdiri tegak. Gadis itu menelan salivanya kuat-kuat, melihtat bentukan yang sempat ia pegang pagi tadi. Ternyata itu sangat besar dan juga panjang.


"Sekarang kamu percaya 'kan, punyaku bisa berdiri tegak?" goda Rizky.


Renata melengoskan wajahnya kesamping. Tentu ia malu ditanya seperti itu, bahkan ia sempat meragukan kejantanan suaminya itu. Sekarang dengan mata kepalanya sendiri, ia membuktikan jika rumor itu tidaklah benar. Apalagi itu sangat jauh berbeda dari perkiraan, benda itu ternyata lebih besar dari yang ia bayangkan.


"Gak usah malu," Rizky menjauhkan tangan Renata dari bawah sana. "Sekarang kita suami istri, gak ada yang salah jika kita memperlihatkan tubuh kita pada pasangan. Lagi pula, kata pak Ustadz itu sebuah pahala yang wajib kita lakukan," lanjutnya.


"Jangan ada yang ditutup-tutupi dari kita berdua. Saling terbuka dan saling percaya, itu salah satu kunci kebahagiaan!" jelas Rizky dan diangguki mengerti oleh Renata.


"Hem, gimana kalo kita coba sekarang?" tawar Rizky dan hanya dibalas anggukan disertai senyuman gadis itu.


Rizky mulai mencum bu kembali wajah cantik itu, untuk mengalihkan perhatian. Membangkitkan kembali gairah gadis itu. Dan benar saja suara sexy itu kembali terlantun, hingga membuat benda keramat itu semakin tegak dan siap tempur.


"Jangam ditahan! Bukannya ruangan ini kedap suara?" tanyanya. Renata nampak berpikir sejenak dan mengangguk sebaagi jawaban.


"Jadi keluarkan suaramu, tahan sebentar jika emang sakit," titah Rizky dan diangguki pelan oleh Renata.


Rizky kembali mendorong senjata perkasanya itu, lagi-lagi Renata memekik, kala baru kepala senjata saja yang masuk. Namun karena semakin penasaran. Rizky mendorng senjata itu, hingga masuk semakin dalam.


"Ouhhh!!!" desis keduanya serentak.


Senjata itu terasa penuh dibawah sana. Renata merasakan sakit, perih dan rasa lain ketika Rizky menggerakan tubuhnya. Rasa yang sulit ia jabarkan hingga ia mengeluarkam suara sexy nya.


"Ki ... Mmmhhh, i-ini uhh ini ouhhh!!" desah Renata.

__ADS_1


"Ouhh! Ini luar biasa Ren, uhhhh ..."


Rizky kian cepat memacukan tubuhnya. Rasa yang akan meledak pada tububnya membuat ia semakin tak terkendali. Hingga erangan panjang terdengar dari sejoli itu. Rizky melesakan senjatanya dalam. Membiarkan calon penerusnya berenang dan tumbuh dirahim sang istri. Hingga ia ambruk diatas tubuh istrinya itu.


**


Ditemapt lain, tepatnya disebuah kamar. Sepasang pengantin yang masih bisa dikatakan baru tengah menonton layar persegi lebar dihadapannya. Mereka menyenderkan tubuh dikepala ranjang dengan menatap fokus layar tersebut.


"Aku rasa gak ada yang aneh," celetuk Jingga. "Itu terlihat biasa saja," lanjutnya.


"Tunggu dulu, bentar lagi pasti bikin meriang," tahan Shaka.


"Keknya kamu salah pilih film," protes Jingga.


"Nggak! Ini link ynag dikirim Edo kok," balas Shaka.


Ditengah perdebatan itu, tiba-tiba suara aneh dari layar itu mengalihkan perhatian mereka. Suara lengu han membuat sejoli itu menelan salivanya kuat-kuat.


"Tuh 'kan apa aku bilang, kamu gak prercaya," celetuk Shaka. Namun ternyata pandangan Jingga fokus pada layar itu.


"Gimana? Mau praktekin?" goda Shaka berbisik ditelinga Jingga dengan gaya sensual. Shaka memainkan telinga Jingga dengan hidungnya. Hingga perempuan itu mulai hilang kendali.


"Mmmhh!!" desis Jingga ketika tangan Shaka sudah bermain diarea nonanya.


Tak ingin kalah, Jingga juga meraih si jack yang ternyata sudah berdiri tegak. Memainkan manja benda itu hingga Shaka sudah tak dapat menahannya lagi. Ia menarik kain dari tubuh Jingga dan juga kain yang melekat ditubuhnya. Hingga tubuh mereka polos.


Sesuai apa yang kini terputar dilayar itu. Jingga membungkuk untuk mendapatkan sensasi baru. Lalu Shaka mulai memacu dari belakang. Hingga suara mereka menggema mengalahkan suara dari layar berukuran 42 inch itu.


Setelah beberapa menit, akhirnya erangan panjang pun terdengar dari keduanya. Shaka membawa tubuh Jingga untuk berbaring tanpa melepaskan penyatuan mereka, seraya menciumi punggung mulus itu.


"Oke! Break sebentar."

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupakan jejaknyaa gaisss😘😘


__ADS_2