
"Rena!!!"
Pekikan seseorang membuat sejoli itu terlonjak dan melepaskan tautan bibir mereka. Keduanya menoleh serentak dan membulatkan mata kala tau siapa yang kini memanggil mereka.
"Ma-Mama?" sapa Renata tergagap.
Wanita dengan sorot mata tajam itu mendekat, lalu tanpa diduga menjewer telinga Rizky. Hingga lelaki ulitu meringis kesakitan.
"Berani-beraninya, ya kamu cium-cium anak saya!" omelnya.
"A,a,aa ampun onty ampun!" pekik Rizky mencoba menenangkan ibu dari kekasihnya itu.
"Ma, jangan Ma! Lepasin!" bujuk Renata khawatir, namun tak dipedulikan sang mama.
"Atas dasar apa kamu cium-cium anak saya, hah? Rena sudah punya calon suami dan sebentar lagi akan menikah. Kami mau mesumin dia, hah?" omel Jesi, mamanya Renata.
"Ma! Berhenti, Ma!" bujuk Renata lagi.
"Diam! Kamu jangan bela laki-laki mesum ini. Emangnya dia siapa kamu? Berani sekali dia cium kamu. Apa dia-"
"Saya kekasihnya Rena, onty!" selak Rizky.
Seketika tarikan ditelinga Rizky mengendur. Jesi mengalihkan atensinya dari Renata pada Rizky dengan tatapan tak percaya. Tangannya terjatuh dari telinga lelaki itu. "Apa? Kamu?" tanyanya.
"Iya. Saya Rizky kekasih Renata," balas Rizky serius menatap wajah Jesi.
Jesi tersenyum sinis. "Jangan harap! Saya tidak sudi, anak gadis saya pacaran sama kamu. Dan saya lebih tidak sudi harus besanan dengan mama mu itu," tegasnya.
Wanita itu menarik tangan Renata. "Ayo masuk!" ajaknya.
"Tapi, Ma," protes Renata.
"Rena!!!" bentak Jesi seraya menariknya keras.
Renata pun menurut dan memasuki gerbang terlebih dahulu dengan kesal. Jesi menghentikan laju jalannya sebelum memasuki gerbang.
"Jika saja kamu bukan putranya , akan saya pertimbangkan," ucapnya yang kemudian berlalu meninggalkan Rizky yang menatap nanar kekasihnya itu.
Ia masih belum punya keberanian lebih untuk membujuk ibu dari kekasihnya itu. Ia hanya mampu menghembuskan napas panjang seraya mengusap wajahnya kasar. Entah apa yang terjadi diantara wanita itu dan mamihnya. Hal apa yang membuat mereka tak bisa saling memaafkan.
__ADS_1
"Aku harus cari tau, apa yang membuat mereka seperti itu," gumamnya yakin. Ia pun kembali menaiki motornya dan melesat meninggalkan tempat tersebut.
**
"Apa? Kamu mau melamar gadis?" pekik mamih Feby ketika ia tengah berkumpul dengan suami dan putranya diruang keluarga.
"Aisshh, anak mamih udah besar ternyata," ucap mamih Feby merangkul bahu putranya itu. "Nggak terdengar pacaran, tau-tau mau ngelamar," lanjutnya mencubit kedua pipi sang putra.
"Ck! Mamih, sakit!" kesal Rizky melepaskan tangan mamihnya itu.
Mamih Feby tak menyurutkan senyumnya. Tentu ia merasa senang dan bangga terhadap sang putra. Ia yang sempat khawatir sang putra memiliki kelainan, langsung menepis jauh pemikiran itu. Sekarang ia yakin, putranya itu adalah pria tulen yang tentunya menyukai kue apem.
"Ngomong-ngomong siapa gadis itu? Apa dia putri dari CEO-CEO hebat? Atau putri dari pemilik resto kek kita?" tanya mamih Feby dengan semangat.
"Dia cantik gak? Kuliah dimana? Pasti anak rumahan 'kan? Minta ta'arufan 'kan? Apa anak Ustadz?" cerocosnya hingga Rizky memijit kepalanya yang terasa berdenyut.
"Mih!" peringat papih Rio yang baru bersuara. Melihat Rizky yang tampak frustasi, pasti ada sesuatu yang disembunyikan putranya itu.
Seketika mamih Feby terdiam. Namun ia tak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya itu. Ia terus menepuk bangga bahu putranya itu.
Papih Rio menatap Rizky yang tampak menunduk. Ia semakin yakin, putranya itu tengah menyembunyikan masalah.
"Apa kamu menghamilinya?" tanya papih Rio pelan, namun penuh penegasan.
"Whaaatt???" bukan Rizky, tapi mamih Feby yang memekik kaget.
"Kamu menghamili anak gadis, Ki?" pekik mamih Feby dengan bola mata hampir saja keluar.
"Ng-nggak! Mana mungkin aku kek gitu," balas Rizky yang ikut shok. Bisa-bisanya sang papih berpikir seperti itu.
"Terus itu, kata papih?" tanya mamih Feby.
"Papih nanya," balas papih Rio.
"Isshh papih ini bikin darting aja. Masa harus terulang kembali?" cerocos mamih Feby.
Tentu saja Rizky menaikan sebelah alisnya mendengar pernyataan sang mamih. "Terulang? Terulang apanya?" tanyanya heran.
Seketika mamih Feby berdehem merasa sudah keceplosan berbicara. Papih Rio menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya itu yang hampir membuka masalalu mereka.
__ADS_1
"Ehemm, itu emm, nggak!" elak mamih Feby. "Oh iya, kamu belum sebutin, siapa gadis itu?" tanya sang mamih mengalihkan perhatian.
Rizky terdiam sejenak. Masih terasa ragu untuk ia mengakui sang kekasih pada kedua orang tuanya. Namun, jika tak jujur ia juga akan kehilangan kekasihnya itu.
"Dia ... Dia ..."
Mamih Feby menautkan alis menunggu jawaban putranya itu. Papih Rio terus memperhatikan gerak gerik sang putra. Tebakan pertamanya salah, dan kali ini ia harus lebih jeli untuk menebak.
"Apa kamu udah yakin buat lamar dia?" tanya papih Rio. Rizky terdiam kembali seraya menunduk, ia juga masih bingung dengan keputusannya.
"Menurut papih, jika kamu masih belum yakin, sebaiknya kamu pikirkan lagi. Lamaran itu bukan hal main-main, Ki. Melamar seorang gadis berarti kamu udah siap buat nikahin dia," saran papih Rio.
"Papih sama mamih gak keberatan jika kamu cepat menikah. Siapapun yang kamu nikahi, asal dia mencintaimu dan siap hidup bersamamu, kita pasti memberikan restu untuk kalian. Tapi jika kamu mencintainya sepihak lebih baik kamu pikirkan lagi," lanjut papih Rio.
"Jika seandainya, kalian saling mencintai. Tapi dia sudah dipilihkan jodoh oleh kedua orang tuanya. Maka, janganlah kamu berharap!"
Seketika Rizky mendongak dengan tatapan shok. "Kenapa? Kenapa jangan berharap? Apa kita gak bisa mempertahankan cinta kita sendiri? Apa kita gak bisa memperjuangkannya? Apa kita harus menyerah begitu saja?" tanyanya.
Papih Rio menarik satu sudut bibirnya, akhirnya ia tau apa yang menjadi alasan sang putra yang terlihat kusut. Sang kekasih dijodohkan kedua orang tuanya dan ia ingin memperjuangkan cintanya itu.
"Baiklah! Sebelum para saksi mengucap kata sah, masih ada kesempatan untuk memperjuangkan cintamu itu. Jadi bersiaplah untuk menyalip siapa pun jodoh yang sudah disediakan orang tuanya," ucap papih Rio tersenyum.
Rizky menatap tak percaya sang papih bisa mengerti dengan apa kegundahannya sekarang. Padahal ia tak sadar sudah masuk dalam pertanyaan jebakan sang papih. Mamih Feby mengusap pundak putranya itu seolah menenangkan.
"Kasihan, ternyata anak mamih kalah restu," ucapnya sendu. "Kamu tenang aja! Mamih sama papih selalu dukung kamu. Biar pun orang tuanya sudah nyiapin jodoh. Belum tentu mereka berjodoh. Siapa tau dia memang jodohmu?" lanjutnya.
"Jadi, kamu gak perlu khawatir. Masih banyak kesempatan dan mamih yakin kamu pasti bisa dapatin dia. Mamih doain kalian berjodoh! Aminnn!" lanjut sang mamih mengadahkan tangan, mendo'akan sepenuh hati.
Rizky tersenyum bingung melihat tingkah sang mamih. Jika mamihnya tau gadis itu anak dari musuhnya. Gimana reaksinya?
"Oh iya, kamu belum sebutin. Siapa gadis itu?" tanya mamih Feby lagi untuk ketiga kalinya.
"Dia ...."
Mamih Feby menatap semangat untuk mendengar jawaban putranya itu. Hingga jawaban Rizky sukses membuat mamih Feby hampir saja tak sadarkan diri.
"Dia ... Renata!"
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya gaisss😘😘