
Dihalaman depan sepasang pengatin yang masih termasuk baru itu tengah beradu pendapat. Jingga terus menyarankan Shaka untuk mencoba mengendarai si black. Namun Shaka masih kekeh tidak ingin mencobanya.
"Ayolah Sha, kamu pasti bisa!" bujuk Jingga.
"Nunggu mang Asep aja deh," balas Shaka.
Lagi-lagi Jingga menghembuskan napas pelan. "Ayolah! Gak apa-apa, aku ada dibelakang kamu. Lagian kalo kita nunggu mang Asep entah jam berapa," bujuknya lagi.
Jingga melirik sekilas jam dipergelangan tangannya. "Ini udah siang, Sha. Aku bisa telat masuk kelas," lanjutnya. Namun Shaka masih terdiam tak menanggapi.
"Ya udah aku aja yang bawa motor. Kamu aku boncengi kek waktu itu, gimana?" tawar Jingga.
Shaka masih terdiam mencerna tawaran itu. Tentu ia tak mau sampai istrinya itu terlambat. Namun untuk menerima tawaran itu, rasanya mustahil. Ia tak ingin hal memalukan itu kembali terjadi. Menjadi bahan bulyan papa mertuanya, sungguh membuat ia tak bisa melupakan momen tersebut.
"Nggak!" tolak Shaka.
"Kenapa?" goda Jingga.
"Ck! Udahlah, aku yang bawa," finalnya.
"Serius?" goda Jingga.
Digoda seperti itu tentu saja membuat lelaki tampan itu merasa disepelekan. Ia segera meraih helm dan menggunakannya. Lalu beralih memakaikan helm pada sang istri.
"Naik!" ajaknya setelah menaiki kuda besi hitam itu. Jingga tersenyum dan mulai ikut menaiki benda itu dibelakang Shaka.
Nampak tangan Shaka bergetar kala mesin mulai dinyalakan. Berulang kali lelaki tampan itu menarik dan membuang napasnya sebelum melajukan kendaraan itu. Keringat dingin mulai membasahi tangan Shaka. Hingga dengan tekad kuat ia mulai melajukan kendaraan itu.
Tidak seperti Shaka yang dulu yang melesat tanpa rasa takut. Shaka sekarang, lebih pelan dan hati-hati. Namun baru beberapa meter dari rumah, tiba-tiba saja Shaka berhenti. Hal itu tentu membuat Jingga khawatir.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Jingga.
"Aku gak apa-apa," balasnya.
Jingga yang tengah memeluk perutnya beralih pada dada Shaka. Dan benar saja, dada lelaki itu terasa bergemuruh dengan detak jantung yang tak beraturan.
Shaka hendak kembali melajukan kendaraan itu nuamun Jingga segera mencegat dengan menarik lengannya. "Jangan dipaksakan! Sebaiknya kita pulang," ajaknya.
__ADS_1
"Aku gak apa-apa Jin," sangkalnya.
Jingga turun dari motor itu dan mematikan mesin motornya. "Turun!"
"Tapi-"
Jingga menarik lengan Shaka agar turun. Tak ingin membuat sang istri marah, ia pun segera menurut. Jingga menaiki benda itu, setelah Shaka turun. Lalu memarkirkannya kembali.
"Kita harus berangkat, Jin," ucap Shaka.
"Apa itu penting?" tanya Jingga dan hanya dibalas hembusan napas pasrah oleh Shaka.
Akhirnya ia menurut, lalu naik diboncengi oleh sang istri dan kembali melajukan kendaraan itu menuju rumah. Jingga tentu tau apa yang dirasakan Shaka kini. Ia dapat melihat jelas wajah Shaka dengan helm bukan full face tampak memucat. Belum lagi merasakan detak jantungnya yang berantakan, menadakan bahwa ia tak baik-baik saja.
'Maafin aku, Sha! Aku hanya ingin mencoba menghilanglan traumamu itu, namun sepertinya kamu butuh banyak waktu untuk itu,' batinnya.
Karena memang jarak yang masih dekat, motor pun samapi kembali dihalaman. Keduanya turun dan membuka helmnya masing-masing.
"Kamu pasti merasa ilfeel sama aku," lirih Shaka menundukan kepala. Ingin sekali ia memacukan si black benda kesayangannya itu. Namun tiba-tiba bayangan malam itu terlintas kembali, yang membuat ia tiba-tiba menarik rem motor tersebut.
Jingga tersenyum dan menangkup kedua pipi suaminya. "Hei, apa yang kamu pikirkin?" tanyanya yang kemudian mengecup bibir sexy itu.
Shaka memghembuskan napas panjang dengan raut wajah murung. Ini bukan dirinya, namun apa daya ia sungguh tak bisa melakukannya sekarang. Mungkin akibat dari itu menyisakan trauma mendalam dimemori Shaka. Apalagi ia sampai tak sadarkan diri dalam kurun waktu yang cukup lama.
"Udahlah gak usah dipikirin. Sebentar lagi mang Asep juga datang," lanjut Jingga menenangkan.
"Besok mobil kamu beres diservis, kita bisa mengendarai itu, hem?" lanjutnya lagi seraya menarik tangan Shaka untuk kembali memasuki rumah.
Mobil yang selama ini hanya nangkring digarasi, membuat benda itu harus diservis terlebih dahulu untuk digunakan kembali. Setidaknya jika menggunakan mobil, meski Shaka takut bisa Jingga gantikan. Dan itu akan mengurangi sedikit gengsi lelaki itu.
"Kamu buat apa?" tanya Shaka memeluk tubuh Jingga dari belakang.
"Aku lagi bikin teh hangat," balas Jingga mengaduk cangkir ditangannya.
"Apa harus?" tanya Shaka sendu. Tentu ia tau teh apa itu. Teh herbal untuk membuat keadaan diri menjadi lebih tenang.
Jingga tersenyum dan menghadapkan diri pada sang suami, seraya mengalungkan tangan dileher lelaki itu. "Kamu tau? Sebuah pencapaian itu tak akan pernah berhasil tanpa proses," ucap Jingga menjeda ucapannya.
__ADS_1
"Seperti apa yang kini kamu alami. Semua akan membaik setelah kamu berusaha mencoba dan mencoba,"
"Jika percobaan pertama gagal, masih ada percobaan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya,"
"Jadi, jangan menyerah untuk terus mencoba! Aku, akan terus berada di sampingmu, akan terus mendukungmu, dan menggenggam tanganmu. Jangan takut, hem?"
Shaka tersenyum dan mendekap tubuh ramping itu. "Makasih, makasih, selalu ada buatku. Selalu menjaga dan memperhatikanku! Aku akan berusaha lagi, lagi, dan lagi!" ucapnya.
Jingga membalas memeluk tubuh tegap itu erat. "Gak perlu berterima kasih, itu sudah menjadi kewajiban kita untuk itu 'kan?"
Shaka hanya melebarkan senyumnya tanpa menjawab. Sungguh Jingga adalah sosok sempurna yang begitu mengerti akan dirinya. Jingga merai pelukan itu, lalu meraih cangkir yang ia buat tadi. "Boleh dicoba 'kan?" goda Jingga dan disambut tawa oleh Shaka.
Ia pun meraih benda itu dan menyesapnya. Kemudian melayang kecupan dipipi sang istri, "makasih istriku," kekehnya dan dibalas kekehan Jingga pula.
**
"Lu yakin Sha?" tanya Edo memastikan dan diangguki yakin oleh Shaka.
"Jadi, mulai sekarang gue mengundurkan diri dari jabatan ketua, dan ketua black wings yang baru akan gue berikan pada Edo, ucap Shaka tegas dan disambut tepuk tangan semua anggota.
"Gue gak yakin bisa, Sha!" keluh Edo.
"Ayolah, lu bisa!" balas Shaka memberi semangat.
"Tapi, kenapa?" tanya Edo.
Shak menarik satu sudut bibirnya, lalu merangkul bahu sang istri disampingnya. "Sekarang gue punya pawang yang bisa ngendaliin gue. Jadi gue hanya bisa nurut apa kata dia," jelasnya. Jingga tersenyum menanggapi.
"Ck!" Edo berdecak kesal mendapat penjealsan itu, tentu ia belum siap untuk mendapat jabatan itu tanpa pengawasan Shaka langsung.
Shaka yang mengerti menepuk bahu temannya itu. "Bokap gue gak muda lagi, jika bukan gue yang nerusin bisnisnya. Siapa lagi? Lu tau lah, menantunya punya kerajaan bisnis sendiri," jelas Shaka.
"Tapi, kalo ada sesuatu. Gue masih bisa minta bantuan lu 'kan?" tanya Edo dan diangguki Shaka.
"Tentu, karena gue tetap Shaka."
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Jangan lupa jejaknyaa yaa gaisss😘😘