My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Berkunjung pagi


__ADS_3

Mentari pagi ini terlihat begitu cerah. Secerah hati seorang lelaki yang kini turun dari kuda besinya. Waktu masih menunjukan pukul enam, namun Shaka sudah stay didepan rumah sang kekasih. Ia yang menginap dirumah sang nenek, sudah pasti diharuskan bangun tahrim oleh wanita yang ia anggap ibu keduanya itu.


Sang nenek yang selalu mendidik kedisiplinan dari jaman papa Ar muda sampai sekarang dirinya pun, masih menganut didikan itu.


Tok! Tok! Tok!


Ceklek!


Pintu terbuka, hingga menampakan wanita paruh baya dari dalam rumah. Shaka tersenyum hangat pada wanita tersebut.


"Pagi, Onty!" sapanya.


"Pagi ... Shaka?" sapa balik wanita yang diketahui ibu dari sang kekasih, yang tak lain calon mama mertuanya itu.


Mama Agel menaikan sebelah alisnya heran. Tentu saja hal itu membuat ibu satu anak itu bingung, Shaka pagi-pagi kerumah, ngapain? Pikirnya.


Sudah lama lelaki itu tak pernah berkunjung, setelah dikabarkan putus dengan putrinya. Dan sekarang? Tak ada angin tak ada hujan, putra dari sahabatnya itu mendadak datang di pagi-pagi sekali. Mungkinkah disuruh Ay? Berbagai pertanyaan muncul dibenak wanita paruh baya yang begitu mirip dengan putrinya itu.


"Jinjin udah bangun belum, Ty?" Pertanyaan Shaka sontak saja membuat wanita itu sedikit terlonjak.


"Hah, Jingga?" tanyanya bingung.


"Pasti tidur lagi. Boleh aku masuk, Ty?" tanya Shaka lagi dan hanya diangguki mama Agel dengan raut wajah yang masih bingung.


Shaka tersenyum manis seraya berlenggang tanpa beban. Bahkan tanpa malu Shaka berjalan menaiki satu persatu anak tangga untuk sampai dikamar sang kekasih yang berada dilantai dua.


Mama Agel masih menatap punggung Shaka hingga menghilang dilantai dua. Kemudian ia terlonjak kala sebuah tangan menepuk pundaknya. "Astaga!" pekinya kaget, seraya mengusap dada.


"Kamu ih, ngagetin aja," protesnya pada si pelaku yang tak lain suaminya.


Papa Juna terkekeh. "Kenapa sih, serius amat?" tanyanya. Lalu ia mengikuti atensi sang istri yang tertuju ke lantai atas. "Ada apa?"


"Shaka," balas mama Agel.


"Shaka?" tanyanya heran, "kenapa Shaka?"

__ADS_1


"Dia kesini," balasnya lagi dengan tatapan masih sama.


"Disini? Maksudnya? Dia nemuin Jinjin?" tanya papa Juna lagi, menatap tak percaya pada sang istri dan diangguki wanita tercintanya itu.


"Hah? Serius?" tanya papa Juna lagi memastikan, hingga membuat mama Agel berdecak.


"Wah kabar baik ini," celetuk papa Juna. Ia segera meraih layar pipih dari saku celananya, lalu menekan salah satu nomor dari kontak tersebut.


"Hallo, bang!" sapanya pada seseorang disebrang teleponnya.


"Pokoknya proyek ini gak boleh gagal,"


"Ini urgent dan penting banget buat cucu kita nanti."


Mama Agel hanya menghembuskan napas panjang mendengar ocehan sang suami yang dipastikan panggilan itu terhubung dengan sahabtanya. Pria paruh baya itu berjalan meninggalkan posisi dengan tak henti mengobrol dengan lawan bicaranya. Hingga tak berselang lama, giliran benda pipih sang mama yang berdering tau dari siapa ia pun menghembuskan napas panjang kembali.


"Ini pasti bakal meriweuh," kekehnya seraya menerima panggilan tersebut.


"Hallo. Iya, Ay!"


**


Shaka mendekat dan mendudukan diri ditepi ranjang besar itu. Ia mencoba membangunkan Jingga dengan membelai pipi cantik itu pelan. "Emm," hanya gumaman yang terdengar dari bibir tipis itu.


Shaka terkekeh pelan melihat reaksi sang kekasih. Masih penasaran, ia kembali melakukan hal sama. Hingga Jingga kembali bergumam pelan.


"Lima menit, Ma!" gumam gadis yang tertidur apik itu.


Terkadang Shaka bingung kenapa sifat gadis itu jauh berbeda dengan sang adik. Dari cara mereka tidur saja mereka begitu berbeda. Jika sang adik begitu berantakam saat bangun, bahkan posisi pun berubah antara kaki dan kepala yang tertukar. Berbeda dengan sang kekasih yang begitu tampak anggun.


Ia masih tak tega untuk kembali mengusik sang kekasih yang masih terlelap. Ia pun memilih untuk melihat-lihat rak buku yang terpampang didepan tembok. Atensinya tertuju pada sebuah buku bersampul biru. Lalu ia pun mengambilnya. Lelaki itu mulai membuka buku yang ia tau curahan hati si pemilik tersebut.


Banyak tulisan menggambarkan semua tentang dirinya. Hingga curahan Jingga ketika mereka putus. Sungguh kata-kata itu pasti tertuang dari hati Jingga yang terdalam. Sangat menusuk tepat mengenai hatinya.


"Maafin aku Jin," sesalnya menatap wajah sang kekasih yang masih anteng.

__ADS_1


Sungguh ia sangat bersyukur memiliki kekasih seperti Jingga. Gadis yang begitu teguh dengan prinsifnya. Bahkan sampai saat terakhir, Jingga masih ingin memperbaiki semua itu. Meski gadis itu tau ia selalu mengabaikannya, tapi sang gadis selalu sabar menghadapinya.


Ia mendekat kembali dan duduk ditepi ranjang, setelah ia mengembalikan buku tersebut. Lalu ia membelai pipi sang gadis dengan rasa bersalah yang menyeruak dihatinya.


"Aku Arshka berjanji, mulai detik ini hanya akan mencintaimu dan membahagiakanmu, Jingga," ucapnya sungguh-sungguh.


Greppp!!!


Jingga menangkap tangan Shaka yang bertengger dipipinya. Kemudian membuka mata kala suara begitu mengusik tidurnya.


"Gak gitu konsepnya. Kamu harus menyisakan sedikit juga untuk dirimu sendiri," ucap Jingga, hingga senyum Shaka terukir.


"Aku gak perlu menyisakannya," balas Shaka. Kemudian lelaki itu mendekatkan wajahnya. Hingga terkikis dan menyisakan beberapa centi saja dengan sang gadis.


"Bukannya ada kamu yang akan memberikannya untukku?"


Jingga tersenyum menanggapi. Tanpa kata lagi, Shaka segera menyambar bibir manis itu. Menyecap lembut benda kenyal tersebut. Tak sampai disitu lidahnya menerobos mengabsen isi dalam rongga mulut Jingga.


Hingga tiba-tiba saja sebuah deheman, berhasil menghentikan aktifitas mereka. Sontak saja, Shaka segera menjauhkan wajah dari sang gadis.


"Astaga! Kalian ini, nikah woy!" ledek seorang lelaki seraya mendekat kearah dua manusia itu.


Tentu saja hal itu membuat Shaka berdecak kesal. "Lu benar-benar yaa Ki," kesalnya.


"Ganggu orang aja," lanjutnya menoyor lelaki tersebut. Tentu saja perasaannya sudah tak menentu. Ia kira itu salah satu dari kedua orangtua Jingga. Namun ternyata itu hanya si jomblo sahabat Jingga.


Rizky tergelak. Senang sekali melihat Shaka berada dirumah sang sahabat, bahkan didalam kamar gadis itu.


"Jadi gue beneran ketinggalan hot news nih? Kalian beneran CLBK 'kan? Serius 'kan?" cecar Rizky dengan berbagai pertanyaan.


Hingga bantal sapi mendarat sempurna diwajahnya dari gadis yang baru saja bangkit itu. Dan hal itu membuat Shaka tergelak.


"Rasain lu! Makanya jadi cowok tuh, gak usah ngoceh mulu," ledek Shaka. Tak sadar aja, dirinya juga sama dan hanya dibalas cebikan bibir oleh Rizky.


"Besok lu ganti aja pake rok, lebih pantes! Udah ngoceh mulu, terus tuh si jack juga gak yakin gue kalo bisa bangun."

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknya yaa gaisss😘😘


__ADS_2