My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Bukan persinggahan


__ADS_3

Setelah melalui drama panjang kali lebar, kini Sena dan Abi sudah resmi menjadi suami istri. Meski Shaka sering kali ribut dengan sang adik. Namun tak dapat dipungkiri, hatinya ikut bahagia melihat ukiran senyum dari gadis cerewet yang selalu membuat ia kesal, selalu membuat darah tinggi dengan sikapnya itu. Dan mungkin hal itu yang akan ia rindukan, jika mereka berpisah kelak.


Shaka menegak minuman berwarna kuning dari gelas ditangannya. Seseorang menghampiri seraya menepuk pundaknya, hingga ia pun menoleh.


"Kenapa? Kek sedih? Lu merasa kehilangan, Sensen dinikahi orang," ledek Deril yang mendaratkan bokong dikursi disamping Shaka.


"Ck! Enak aja," sangkal Shaka. "Gue justru seneng dia cepet nikah. Itu artinya, dia akan keluar dari rumah. Jadi, gak ada lagi yang bikin reseh," lanjutnya.


"Aissh kejam banget lu jadi abang, dasar," protes Deril seraya menoyor kepala Shaka dan hanya dibalas kekehan lelaki tampan itu.


Tiba-tiba saja atensi Shaka tertuju pada gadis cantik yang mengenakan dress bridesmaid berwarna peach. Rambutnya disanggul dibagian bawah, hingga menampakan kulit putih susu diarea leher jenjangnya. Hanya senyum tipis yang ditunjukan gadis itu pada orang-orang sekitar.


Shaka menghembuskan napas kasar. Ingin sekali hatinya menyapa sang gadis dan memuji kecantikanya. Namun egonya masih saja tak dapat ia kendalikan. Bahkan ledekan Deril tak ia hiraukan. Hingga ketika ia melihat sang gadis bersama seorang pria, baru lah ia mulai bergerak.


"Udah sana samperin, keburu kepepet!" titah Deril.


Sungguh melihat sang gadis tertawa bersama pria lain. Membuat wajah Shaka memerah. Dadanya terasa sesak, hingga ingin sekali ia menghajar pria tersebut. Akhirnya ego itu kalah dengan hati yang memanas. Ia pun berlalu mendekat. Tanpa aba-aba Shaka menarik pergelangan tangan Jingga.


"Ayo Ikut!" ajaknya.


"Apaan sih Sha?" tanya Jingga heran.


Tentu saja hal itu membuat Jingga terlonjak. Ia yang melihat Shaka dipojokan tengah memperhatikannya dengan raut wajah tak bersahabat, mengerti jika lelaki itu tidak suka. Dengan sengaja ia menampilkan tawa depan lelaki yang baru saja dikenalnya. Mengingat dengan mudah Shaka dekat dengan seorang perempuan waktu itu, membuat ia berpikir untuk berusaha mencoba dekat dengan lelaki lain.


Namun tanpa ia duga, Shaka akan menyapa bahkan menyentuhnya. Setelah sekian lama, lelaki itu tak ingin bicara padanya. Tanpa menjawab, ia hanya mengikuti langkah Shaka keluar dari ruangan tersebut.


'Untuk apa dia melakukan semua ini? Kenapa tiba-tiba dia seenaknya padaku? Setelah apa yang aku lakukan tak pernah dia respon sama sekali, dan waktu itu? Dia bahkan dekat dengan Sisil,' batin Jingga bertanya-tanya.


Hingga ketika mereka sampai dihalaman belakang, Jingga pun menghempas tangan lelaki itu dengan kasar. Sontak saja hal itu membuat Shaka menghentikan laju jalannya. Lelaki itu berbalik menatap tajam sang gadis. Hingga mata keduanya dipertemukan dan saling mengunci satu sama lain.


Hening!


Tak ada suara apapun dari kedua manusia itu. Bahkan suara hembusan napas pun nyaris tak terdengar. Dan hal itu membuat suasana disana dingin dan mencekam.

__ADS_1


Jingga memutuskan mata lebih dulu dan hendak berlenggang pergi dari tempat tersebut. Namun tangan Shaka kembali mencekalnya. Hingga memaksa Jingga harus kembali berbalik dan menatapnya.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Jingga datar.


Bukan menjawab, satu tangan Shaka justru menarik tengkuk sang gadis. Menyesap lembut bibir ranum yang begitu ia rindukan. Matanya terpejam, menyalurkan cinta yang tak pernah berubah.


Jingga mematung dan membelakak kaget dengan perlakuan tak terduga Shaka. Hal yang tak pernah ia bayangkan, sang mantan akan berbuat seperti itu. Hingga ia tersadar akan status dan beberapa pertanyaan dalam hatinya tadi. Ia pun mendorong tubuh Shaka, hingga lelaki itu melepaskan tautan bibir mereka dan cekalan ditangan Jingga.


Plaakkk!!


Satu tamparan keras dilayangkan Jingga, hingga Shaka memejamkan mata meraskan kebas dipipi dan juga hatinya.


"Aku bukan persinggahan, yang bisa kamu datangi sesuka hati," ucap Jingga pelan namun penuh penekanan.


Ia berbalik dengan mata berkaca-kaca. Tangan bekas menampar itu ikut kebas dan bergetar. Segera ia tarik tangan kanan itu, lalu membawanya kedepan dada. Sungguh hati kecilnya merutuki apa yang telah ia lakukan. Namun amarah tiba-tiba memimpin kala mengingat apa yang dilakukan Shaka dan Sisil waktu itu, hingga ia tak dapat mengendalikannya.


"Maafin aku Sha!" ungkapnya dalam hati dan berlenggang dari tempat tersebut.


"Apa yang gue lakuin?" tanyanya bermonolog sendiri, seraya mengusap wajahnya kasar.


"Dia pasti marah," keslanya. "B*go lu Sha," umpatnya.


Lelaki itu terus mengumpati diri sendiri seraya tangan mengacak rambutnya frustasi. Ia menarik dasi yang melingkar dileher, hingga kemeja bagian atasnya berantakan. Sungguh hal itu justru membuat Shaka semakin mempesona.


Ia tak henti mondar mandir ditempat yang sama. Bingung akan seperti apa, ia bersikap pada gadis itu. Hingga tiba-tiba suara seseorang menghentikan pergerakannya.


"Makanya jangan main sosor dulu! Halalin dulu dong, baru disosor," celetuk wanita paruh baya yang entah dari mana datangnya.


Shaka menghembuskan napas kasar akan ledekan yang diberikan seseorang yang membuat ia sedikit terlonjak itu. "Ck! Apaan sih timom?" protesnya.


"Heleh, apaaan? Ya, kamu apaan? Main sosor, siang bolong gini. Gak tau tempat lagi, 'kan mata suci timom jadi ternodai," celetuk timom Siska lagi tanpa dosa.


Sontak saja penuturan itu membuat Shaka menjatuhkan dagu, hingga mulutnya terbuka lebar dengan mata mengerjap cepat. Merasa salah mendengar ucapan sang tante yang sudah ia anggap ibu sendiri itu.

__ADS_1


"Gak salah tuh mom. Bukannya mata timom tiapa malam ternodai sama si jack papih yang digadang-gadang terkuat itu," ledek Shaka kesal.


"Ishh, kalo itu gak menodai. Justru membinarkan, dapat pahala pula," celetuknya lagi, disertai senyum yang menampilkan deretan giginya.


Shaka memutar bola mata malas. Timomnya ini memanglah paling gesrek dari antara deretan wanita dikeluarganya yang sama-sama gesrek. Hingga ia tak dapat berkata-kata lagi dan memilih meninggalkan posisinya.


"Eh! Kamu kamu kemana?" tanya timom Siska.


"Mau cari pahala juga kek timom," celetuk Shaka sekenanya hingga berlalu menjauh.


Timom terdiam sejenak, hingga ia tersadar sesuatu. "Eh! Mana boleh pisang lihat pisang? Bukan pahala itu, dosa yang ada," jelasnya.


"Aka!" teriak timom yang tak didengar sama sekali oleh lelaki tampan itu. Hingga wanita itu hanya berdecak kesal dan ikut berlalu dari sana.


**


Siang pun berlalu, menampakan langit gelap penuh bintang. Jingga terduduk dikusi santai di balkon kamar dengan posisi tangan memeluk kedua lututnya. Menatap deretan bintang dengan pikiran melayang pada kejadian siang tadi. Kemudian satu tangannya bergerak meraba bibir yang tadi sempat terjamah Shaka.


"Aku membenci keadaan ini," lirihnya.


"Aku merindukanmu Sha, sangat!"


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknyaa yaa gaiss😘😘😘



Ini yang main sosor aja🤣



Ini yang benci, tapi rindu🤣

__ADS_1


__ADS_2