My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Sepi tanpa suaramu


__ADS_3

"Loser"


Seketika kedua orang tersebut terperanjat mendengar suara seseorang yang sudah berdiri bersidekap dada disamping mereka.


"Ji-Jinjin," Radit, lelaki yang diketahui tengah membahas si black itu terlihat shok menatap kearah Jingga.


Begitupun gadis yang terlihat seperti pria yang sempat Jingga lihat tadi. Gadis itu tak kalah shok melihat siapa yang sudah menguping pembicaraan mereka.


Jingga menarik satu sudut bibirnya, menampilkan senyum evil yang mengerikan dengan tatapan tajam mengarah pada kedua manusia itu. Ia mengangkat layar pipih ditangannya, memutar suara mereka yang sempat ia rekam.


Kedua orang itu memucat mendapati itu. Hingga dengan cepat Alexa membela diri dan tak ingin terseret akan masalah tersebut.


"Gue gak tau apa-apa Jin, sumpah! Gue gak tau kalo Radit mengotak atik si black," ucap Alexa. "Gue emang salah sudah membawa si black kerumah gue. Tapi gue gak nyangka kalo Radit bakal melakukan hal itu," lanjutnya.


"Bukan disini, jelaskan semuanya di kantor polisi!" selak Jingga yang hendak pergi.


"Jin! Jin tunggu!" cegat Radit meraih tangan Jingga seraya berdiri. Dengan kasar Jingga menepis tangan itu.


"Lepas!"


"Oke, oke! Dengerin aku, kamu gak bisa laporin aku ke polisi hanya dengan bukti itu," papar Radit mencoba menahan Jingga.


"Itu gak akan membuktikan apapun," lanjutnya.


"Cih! Sekali pecundang tetap pecundang. Masih gak mau mengakui kesalahan?" tanya Jingga.


Radit tertawa sinis. "Aku gak salah, ngapain juga harus ngaku," ucapnya.


Jingga kembali menampilkan seringai. "Baiklah, bersiap untuk mendekam dibalik jeruji," balasnya, yang kemudian berlenggang pergi.


Terlihat Radit mengepalkan tangan dengan gigi menggeretak. "Iya. Aku melakukannya!" ucapnya lantang.


Sontak saja aksi itu mengalihkan atensi orang-orang disana. Begitupun Jingga yang kembali menghentikan langkah kakinya, tanpa berbalik.


"Aku melakukannya. Tapi kamu, gak bisa mengancamku seperti ini," tegas Radit.


Jingga berbalik dan menarik satu sudut bibirnya. "Simpan kalimatmu itu untuk dikantor polisi," ucapnya yang hendak berlenggang pergi.

__ADS_1


Karena geram, Radit segera mendekat kearah Jingga mengancam gadis itu untuk tak melaporkannya ke kantor polisi. Sembilah pisau dilayangkan lelaki itu tepat dileher Jingga. Sontak saja hal itu membuat keadaan didalam kafe heboh.


"Radit! Apa yang lu lakuin?" pekik Alexa yang hendak mendekat.


"Jangan mendekat!" titahnya. Ia menggulirkan kepala ke berbagai arah. Melihat para pengunjung yang tengah menatap shok padanya, termasuk karyawan dan barista yang melakukan hal sama.


Bahkan dua karyawan yang hendak membantu harus mematung ditempat, kala Radit mengarahkan pisau pada mereka.


"Diam, jangan ada yang bergerak!" titahnya, membuat beberapa wanita menjerit ketakutan. Namun hal itu tidak dengan Jingga.


Gadis itu tampak santai menanggapi. Tanpa Radit sadari Jingga sudah siap membalikan keadaan. Ia meraih tangan Radit dari lehernya, lalu memutarnya kebelakang hingga pisau itu terjatuh kelantai. Lelaki itu meringis, merasa shok akan apa yang dilakukan Jingga.


"Bukankah ini akan menambah bukti dan alasan untukmu mendekam dibalik jeruji?" tanya Jingga.


"Sstt Ck!!" ringis Radit mencoba menarik kedua tangan dipunggungnya.


Beberapa karyawan lelaki hendak mendekat untuk ikut membantu meringkus si perusuh itu. Namun tanpa diduga, Radit bergerak cepat. Sekuat-kuatnya Jingga menahan, ia tetaplah seorang gadis yang pastinya kalah dengan tenaga Radit.


Gadis itu sampai terjengkang kelantai, kala Radit melepaskan tangannya kasar dan kabur dari tempat tersebut. Beberapa orang mencoba mengejar lelaki itu, dan beberapa orang membantu Jingga untuk berdiri. Begitupun Alexa, ia mendekat dan membantu gadis itu.


"Kalian sepupu?" tanya Jingga dan diangguki Alexa.


"Tapi, gue gak ada niatan buat khianati Shaka, sumpah. Lu percaya 'kan sama gue?" bela Alexa pada dirinya sendiri. Tangannya bergerak menggenggam tangan Jingga, namun segera ditepis gadis itu.


"Sebaiknya, kau jelaskan itu pada pihak berwajib," balas Jingga dengan nada dingin dan tatapan tajam.


"Baiklah, gue akan jelasin semuanya pada polisi! Gue akan bersaksi, kalo Radit yang melakukan semua itu dan gue gak bersalah," final Alexa.


"Itu lebih baik," balas Jingga dan berlalu dari tempat tersebut, meninggalkan Alexa dengan wajah kusut.


Flash back off~


"Jadi si Radit kabur dulu?" tanya Sena dan diangguki Jingga.


"Gila ya, tuh anak. Kalo ketemu pengen gue bejek-bejek. Bisa-bisanya dia lakuin itu sama Aka. Bahkan ini termasuk tindakan pembunuhan berencana. Gak boleh dikasih ampun, dia harus diadili seadil-adilnya," cerocos Sena tak terima.


Begitupun Jingga, ia pun juga berpikir sama. Jika saja tidak ada hukum yang berlaku, ingin sekali ia melakukan hal yang sudah dilakukan Radit pada sang kekasih. Bahkan ingin melakukan lebih dari itu. Namun hal itu ia serahkan pada pihak berwajib untuk hukum yang berlaku, sebagai balasan.

__ADS_1


Ceklek!


Pintu terbuka mengalihkan atensi mereka. Sepasang pengantin baru datang untuk menjenguk kembali sahabat mereka.


"Gimana keadaannya?" tanya Deril mendekat kesisi brankar. Jingga mengedikan bahu yang disertai hembusan napas pasrah.


Sena yang mengerti kembali merangkul calon kakak iparnya itu, begitupun Chika yang baru saja datang ikut mendekapnya dari samping berbeda, untuk memberi semangat


"Sabar ya, kak Jin. Aku yakin, kak Sha bentar lagi cepat sadar," ucap Chika dan hanya ditanggapi senyum tipis dan anggukan oleh Jingga.


"Woy, lu gak mau bangun?" tanya Deril yang kini mendudukan diri ditepi brankar. "Bangun dong! Gak cape apa, merem mulu?"


"Lu lihat," Deril mengangkat tangannya, memperlihatkan buku tangannya yang lecet. "Gue habis hajar si brengs*k itu. Lu gak mau hajar dia juga?" jelasnya.


"Cepat bangun! Katanya lu cinta sama Jinjin, tapi lu bikin dia nangis terus," lanjutnya yang kemudian diakhiri hembusan napas panjang, karena tak adanya respon apapun.


"Hah~ kek nya, kalo dia gak mau bangun juga. Jinjin kita jodohin aja sama si Iky. Biar si Iky nikahin Jinjin," celetuk Deril.


"Boleh juga," tambah Abi.


"Isshh kalian ini, apa-apaan sih. Gak kasihan apa sama aka," protes Sena tak terima. Bahkan matanya berkaca-kaca mendengar itu.


"Ya habis dia gak mau bangun juga," balas Deril. "Waktunya 'kan tinggal seminggu lagi. Kalo dia gak mau bangun juga, ya biarin Iky aja yang nikahin Jinjin," lanjutnya.


"Ishh kak Deril," Sena hendak melayangkan pukulan pada Deril, namun ditahan Abi.


"Udah," lerai Abi mendekap tubuh istrinya itu.


Deril tertawa mendapati reaksi Sena. 'Smoga apa yang gue ucapin, bisa membangkitkan semangat lu buat sembuh dan lu bisa cepat bangun kembali Sha!' batinnya.


Jingga hanya tersenyum tipis menanggapi mereka. Tentu ia tau, itu salah satu cara untuk mereka mencairkan suasana. Mencoba menghibur dirinya yang selalu terlihat kuat.


'Bangunlah, Sha! Dunia ini sepi, tanpa suaramu.'


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknya gaisss😘😘

__ADS_1


__ADS_2