
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, menampakan Shaka yang keluar dari ruangan kecil itu menenteng selang infus ditangan kanannya. Sudah dua hari sejak sadar, Shaka sudah bisa berjalan kekamar mandi sendiri.
"Udah?" tanya Jingga dan diiyakan kekasihnya itu.
Jingga membantu lelaki itu untuk duduk ditepi brankar. Setiap hari Jingga tak absen untuk merawat kekasihnya itu. Bahkan ia mengajukan cuti, dari mulai Shaka masuk rumah sakit. Sudah lebih sebulan ia tak masuk kuliah. Kedua orang tuanya memaklumi itu, bahkan membiarkan Jingga menginap disana setiap malam. Mama Ay pun, tak mencegahnya. Ia membiarkan Jingga untuk menggantikan tugasnya. Tak ada alasan untuk mama Ay melarang atau menghentikan Jingga. Jika tak ada kejadian ini, mungkin mereka memang sudah bersama dalam ikatan halal. Namun siapa yang tau, akan garis takdir yang sudah Tuhan kehendaki.
"Waktunya minum obat, kamu makan dulu ya!" titah Jingga.
"Hem, aku mau makan diluar. Suntuk disini terus," pinta Shaka.
"Suntuk karena aku yang rawat?" sindir Jingga.
"Eh, nggak! Nggak! Gak kek gitu," selak Shaka panik. Segera ia meraih kedua tangan sang gadis dihadapannya.
"Aku seneng. Seneng banget! Gak ada yang lebih menyenangkan selain bersamamu. Sungguh!" ucap Shaka meyakinkan.
"Dan aku sangat percaya, sungguh!" kekeh Jingga seraya mendekatkan wajahnya, kemudian mengusek rambut yang sudah sedikit memanjang itu, hingga berantakan.
Shaka berdecak kesal. Ia sungguh takut sang kekasih salah paham padanya. Namun ternyata ia justru dikerjai. Berbeda dengan Jingga yang tertawa puas melihat ekspresi itu. Hal yang semakin membuat wajah Shaka masam.
"Naik!" ajak jingga yang sudah menyiapkan kursi roda.
"Kemana?" tanya Shaka masih dengan wajah yang sama.
"Katanya mau makan diluar, ayo!" ajaknya.
"Tapi-"
"Udah ayo!" selak Jingga membangkitkan tubuh Shaka yang terduduk. Lalu beralih mendudukannya dikursi roda tersebut dan mengaitkan selang infus pada tempatnya.
Tak lupa ia membawa makanan yang sudah tersedia, lalu menyimpan makannan itu dipangkuan Shaka, sebelum akhirnya mendorong kursi roda itu keluar dari ruangan.
Jingga membawa Shaka ke taman rumah sakit. Cuaca cerah, mampu menghangatkan tubuh mereka dengan suasana juga begitu ramai ditempat itu. Jingga meraih piring dari pangkuan Shaka. Baru saja ia menegakkan diri, tiba-tiba ia bersenggolan dengan seseorang dan hampir saja jatuh.
"Awas!" dengan cepat Shaka meraih tubuh Jingga hingga terduduk dipangkuannya.
__ADS_1
Sejenak mereka saling tatap, dengan perasaan shok. Namun segera Shaka tersadar dan melihat siapa yang menyenggol kekasihnya itu.
"Heh, lu buta ya?" teriaknya pada seorang gadis yang tengah membereskan barang-barangnya yang terjatuh.
"Sha!" peringat Jingga yang tak mau Shaka berkata kasar terhadap siapapun, apalagi ia tau itu seorang perempuan.
Namun Shaka menghentikan Jingga dengan menutup bibir sang gadis dengan jari telunjuknya.
"Woy! Lu budeg ya? Gue lagi ngomong," sungutnya.
Seketika gadis itu membalikan wajah dengan tatapan kesal. Kemudian ia berdiri mendekati sejoli tersebut. "Anda gak punya sopan santun ya? Saya rasa anda yang buta,"
"Apa lu bilang? Lu ngatain gue, lu tuh harusnya sadar. Lu hampir membuat calon istri gue tersungkur. Kalo dia kenapa-kenapa gimana? Lu mau tanggung jawab?" sungut Shaka yang sudah kembali ke mode posesif dan nyerocosnya.
Jingga menghembuskan napas panjang. Ia memang merindukan cerocosan itu, tapi tidak didepan umum juga. Dengan seorang gadis pula. Pikirnya.
"Saya rasa anda terlalu berlebihan. Lihatlah! Calon istri anda ini tidak apa-apa," ucap gadis itu dengan menekan kata calon istri.
"Lu bener-bener ya, bukannya minta maaf. Malah nyolot!" kesal Shaka dan dibalas cebikan bibir oleh gadis itu
"Udah, Sha!" lerai Jingga. "Mbak maaf ya! Calon suami saya emang gitu, mbak boleh pergi," ucap Jingga pada gadis itu.
"Heh, lu ya-" Shaka hendak berucap namun segera Jingga membungkam bibir itu dengan bibirnya. Hingga Shaka pun tak mampu berkata lagi.
Sontak saja aksi Jingga membuat gadis itu membolakan mata. Ia tak menyangka akan melihat aksi dua insan yang tak tau tempat itu. Bahkan mereka begitu menikamati ciuman tersebut tanpa mengingat sutuasi dan kondisi. Gadis itu berdecak kesal, lalu pergi dari sana.
Jingga melepaskan ciuman mereka, setelah dirasa gadis itu pergi. Kemudian menghembuskan napas kasar yang mana membuat Shaka keheranan.
"Kenapa?" tanya lelaki itu.
"Kamu tuh gak peka. Dia balas omongan kamu, buat narik perhatian kamu," balas Jingga dengan wajah sedikit kesal.
Tentu ia tau, seseorang yang menginginkan perhatian sang kekasih atau yang tertarik dan penasaran padanya, pastilah menimpali ucapan Shaka sekasar apapun. Lelaki itu tersenyum saat ia baru mengerti ucapan sang kekasih.
"Oh jadi karena itu, tiba-tiba kamu cium aku? Kamu cemburu?" goda Shaka menjawil dagu Jingga, yang langsung ditepis gadis itu.
Cup!
__ADS_1
Satu kecupan didaratakan Shaka pada pipi cemberut itu. Hal yang membuat Jingga menoleh dengan tatapan tajam. Shaka tertawa seraya mengusek pucuk kepala gadis itu.
"Aku suka kamu yang cemburu," bisiknya.
"Cih!" Jingga berdecih seraya hendak bangkit dari pangkuan Shaka. Namun lelaki itu menahannya.
"Mau kemana?" tanyanya.
Jingga menghembuskan napas panjang. "Kita gak bisa kek gini terus, kamu harus makan," jelasnya dan hendak berdiri, namun ditahan Shaka lagi.
"Disini 'kan bisa?" tanya Shaka yang justru memeluk tubuh ramping itu.
"Gak bisa, susah!" balas Jingga.
"Kata siapa?" tanya Shaka. Ia mulai membuka plastik dari piring tersebut, lalu meraih sendok dan menyimpannya ditangan Jingga. Kemudian menggenggan tangan itu dan menyuapkan pada mulutnya.
Hap!
"Bisa 'kan?" tanya Shaka tersenyum.
"Ya udah kamu makan sendiri aja," balas Jingga.
"Gak mau, maunya disuapin!" ucap Shaka manja.
Jingga terkekeh mendapati Shaka yang manja. Akhirnya tanpa protes lagi, ia pun segera menyuapi sang kekasih. Ia tak ingin obrolan itu, semakin memperlambat sang kekasih untuk makan. Meski ditatap lucu oleh orang-orang yang melihat mereka, kedua insan itu memilih cuek dan sibuk dengan makanan itu yang diiringi canda tawa mereka.
**
"Masih ada waktu, kamu bisa tidur dulu!" titah Jingga setelah menyelimuti tubuh itu.
Shaka menggelengkan kepala. "Gak mau, aku mau cepat pulang," balas Shaka.
"Maksa banget buat pulang. Kenapa?" tanya Jinga heran.
"Ya ... Karena aku udah sehat," balas Shaka.
Jingga menghembuskan napasnya panjang. Setelah pemeriksaan tadi, Shaka memaksa untuk pulang. Meski Dokter menyarankan untuk bermalam satu malam lagi, tapi itu tak didengar Shaka. Lelaki keras kepala itu sama sekali tak dapat dibujuk, bahkan segera meminta suster untuk melepas infus ditangannya. Akhirnya Dokter pasrah dan mengizinkan Shaka untuk pulang.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejaknyaa yaa😘😘 kasih vote sama hadiah kalian juga ya, buat nyemangatin mak author.. Mulai hari ini, Aka masuk crazy up yaa.. udah pasti mak othor up 3bab sehari. Tapi waktunya gak nentu, yang penting 3 bab aja yaa gaisss😁