
Diruangan luas, seorang wanita paruh baya tengah duduk diatas sofa mewah. Wanita itu terlihat arogan, dengan kaki menyilang dan melipat lengan didada. Ia menatap tajam sepasang kekasih yang kini duduk dihadapannya, yang hanya tersekat meja kaca ditengah sofa tersebut.
Sepasang kekasih itu tertunduk dengan perasaan takut bercampur malu. Setelah apa yang mereka lakukan tercyduk wanita tersebut.
"Iky!!"
Suara seorang wanita mengalihkan atensi mereka. Dari arah pintu utama datang seorang wanita paruh baya bersama seorang pria dibelakangnya. Wanita itu nampak bejalan tergesa menghampiri ketiga manusia itu disofa ruang tamu.
Wanita yang tengah duduk arogan itu, memutar bola matanya malas. Sungguh sangat malas untuknya bertatap muka dengan pasangan tersebut.
"Mih! Pih!" Rizky menatap khawatir pada kedua orang tuanya. Renata hanya tertunduk tak berani menatap orang tua kekasihnya itu.
"Ada apa? Kenapa kamu nyuruh mamih sama papih kesini?" tanya mamih Feby yang tak melirik sama sekali wanita yang tengah duduk arogan itu.
Tentu saja hal itu membuat wanita si pemilik rumah kesal. "Cih! So manis," sindirnya.
Seketika mamih Feby beralih menatap wanita itu, ia hendak mengeluarkan umpatan dan makian pada wanita tersebut. Namun sang suami menahannya seraya menggelengkan kepala. Memberi kode agar sang istri lebih sopan dalam bertamu. Mamih Feby pun menghembuskan napasnya panjang dan menuruti peringatan itu.
"Maaf! Boleh kami duduk," izin papih Rio.
Mama Jesi si pemilik rumah, akhirnya menghembuskan napas pasrah dan mengizinkan sepasang suami istri itu untuk duduk.
"Jadi, ada apa sebenarnya?" tanya papih Rio, setelah mendaratkan bokongnya diatas sofa terpisah diirngi sang istri pula.
Mama Jesi menatap sepasang kekasih yang kembali tertunduk itu. Hingga suami istri itu mengikuti tatapan wanita itu.
"Coba kalian jelasin! Apa yang sudah kalian lakukan didalam kamar?" tanya mama Jesi penuh penekanan. Menahan amarah yang sudah menggunung dihatinya.
Hati ibu mana yang tak terluka, melihat kelakuan anaknya yang tengah berbuat tak senonoh dengan pasangan yang bukan mahramnya. Bukan hanya mama Jesi saja, mamih Feby juga membelakak kaget. Tentu tanpa penjelasan ia mengerti apa yang sudah dilakukan sang putra bersama kekasihnya.
"Ki?" tanya mamih Feby meminta penjelasan.
__ADS_1
"Maaf, aku khilaf," cicit Rizky yang masih menundukan wajahnya.
Mamih Feby terpaku mendengar itu. Papih Rio menundukan kepala seraya memijitnya dengan memejamkan mata. Haruskah kesalahannya dulu terulang kembali pada putranya? Haruskah mereka melalukan itu untuk mendapat restu? Pikirnya.
"Saya meminta kalian datang kesini untuk menasehati putra kalian agar tidak mendekati Rena lagi," tutur mama Jesi.
Sontak saja hal itu membuat keempat orang disana mendongak dengan tatapan bingung. Bukankah harusnya Rizky bertanggung jawab? Pikir keempat orang itu sama.
"Saya gak ingin putra kalian terus menggoda putri saya," tegas mama jesi. "Sebentar lagi Rena akan menikah, jadi jauhkan Riki dari Rena," lanjutnya yang membuat keempat orang itu menganga.
Mamih Feby berdiri mendekati wanita arogan itu. "Kamu gila ya? Mereka melakukan itu dan kamu malah nyuruh Iky pergi ninggalin Rena?" tanya mamih Feby tak habis pikir dengan jalan pikiran Jesi.
"Otakmu dimana?" tanyanya yang sudah tak dapat menahan emosinya.
Merasa ditantang mama Jesi ikut berdiri menghadap musuhnya itu. "Heh, kamu pikir aku mau menerima anakmu itu. Nggak!" tegasnya tidak lagi dengan gaya bahasa formal.
"Terus kamu pikir aku mau besanan sama kamu, Nggak!" balas mamih Feby tak kalah tegas.
"Bagus kalo gitu. Kamu bisa pulang bawa anakmu itu. Jangan sampai dia terus menggoda anakku!" sungut mama Jesi.
"Terus kalo kamu tau, kenapa kamu gak mencegatnya, hah? Kamu sengaja 'kan membiarkan anakmu untuk merayu anakku, agar pernikahannya gagal?" tuduh mama Jesi.
"Eh ngomong jangan sembarangan. Aku gak pernah menginginkan hubungan mereka. Aku justru senang kalo hubungan mereka berakhir," balas mamih Feby dengan sengit.
"Oh bagus kalo begitu, kamu bisa pergi dan bawa anakmu itu, aku gak-"
"Stoppp!!!"
Pekikan Renata menghentikan adu mulut kedua ibu yang tak mau saling mengalah itu. Ia berdiri dengan napas memburu. Setelah sekian lama ia hanya diam dan menunduk, kini ia berani mendongak dengan tatapan tajam mengarah pada kedua wanita itu.
"Kalian gak bisa berhenti egois, hah?" tanyanya dengan nada tegas. Matanya berkaca dan siap meledak kapan saja.
__ADS_1
Rizky menggenggam tangan gadis itu untuk mencoba menenangkannya. Kedua wanita itu menatap shok pada sang gadis yang tiba-tiba saja berani berbicara.
"Apa hidup kami adalah aturan untuk kalian?" tanya Renata bergetar. Air mata yang ia bendung luruh begitu saja.
"Selama ini kami gak pernah membangkang. Kami selalu menuruti apapun yang kalian inginkan," jelas Renata dengan suara semakin bergetar.
"Tapi, apa gak bisa untuk kali ini aja. Kami memilih pilihan kami sendiri," lanjutnya yang semakin terisak.
Rizky bangkit dan mendekap tubuh ringkih itu. Hingga tangis Renata kian pecah. "Aku mencintaimu, Iky. Aku hanya ingin hidup bersamamu ...." ungkap gadis itu disela isak tangisnya.
"Apa itu salah ... ?" tanyanya dengan tangis yang kian memilukan.
"Nggak! Itu gak salah. Aku lebih mencintaimu Renata, sangat mencintaimu," lirih Rizky yang kian mengeratkan dekapanya. Bulir hangat dari kedua matanya pun ikut menetes.
Berulang kali kecupan dikepala dilayangkan lelaki tinggi itu seraya tak henti membelai rambut panjang sang gadis. Bahkan ia sudah tidak peduli, dengan ketiga orang yang kini tengah menonton drama mereka.
Kedua ibu itu terdiam memperhatikan putra putri mereka. Apa mereka sudah sangat keterlaluan? Keduanya mencerna ucapan Renata. Mengingat kembali putra putri mereka selama ini. Benar, Rizky maupun Renata tak pernah sekali pun membangkang dan selalu menuruti keinginan mereka. Bahkan mereka sudah sangat cukup menjadi anak baik dan membanggakan kedua orang tuanya.
Apalagi mama Jesi. Renata adalah putri satu-satunya. Ia membesarkan gadis itu seorang diri tanpa suami sebagai ayahnya. Sang suami pergi terlebih dahulu disaat Renata masih terlalu kecil. Namun itu tak membuat Jesi mengeluh. Ia semakin fokus mengurus putrinya itu dan mendidiknya dengan keras. Terlahir dari keluarga berada membuat Jesi dengan mudah memenuhi kebutuhan Renata. Bahkan ia melupakan hidupnya untuk tetap sendiri tanpa menikah lagi.
Renata tumbuh menjadi gadis manja yang selalu dapat dukungan penuh dari sang kakek, sebelum beliau wafat. Meski begitu, Renata tak pernah sekali pun membangkang pada ibu sekaligus ayahnya itu. Bahkan sampai perjodohan itu digelar ia hanya pasrah. Dan sampai hari ini tiba, Renata benar-benar mengungkapan isi hatinya.
"Ren!!!" lirih mama Jesi mengusap pundak putrinya yang masih tenggelam didada Rizky. Seketika Renata melepaskan pelukannya dan menatap sang mama.
"Sini!" mama Jesi merentangkan tangan agar gadis itu masuk kedalam dekapannya. Renata pun masuk kedalam dekapan itu.
"Maafin aku Ma, tapi aku mencintai Iky!"
"Maafin mama juga ya. Mungkin selama ini kamu selalu tertekan dengan keinginan mama," sesal mama Jesi.
"Dan sekarang, mama izinin untuk kamu memilih pilihanmu sendiri."
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Jangan lupa jejaknya gaisss๐๐๐