
"Selamat pagi calon suami?!" sapa Jingga dengan senyum manis yang menghiasi wajah cantiknya.
Tak lama, senyum itu pun luntur berganti dengan hembusan napas kasar. Tatkala tak ada respon apapun dari calon suaminya itu. Sudah satu minggu sejak operasi, namun Shaka belum juga sadarkan diri. Shaka dinyatakan koma, karena efek dari operasi yang dilakukannya. Ada dua kemungkinan efek dari operasi tersebut. Selain dapat menyebabkan tak sadarkan diri dalam jangka waktu yang tak dapat ditentukan, kemungkinan kedua Shaka bisa kehilangan sebagian ingatannya.
"Apa kamu gak mau bangun?" tanyanya. Kembali Jingga meghembuskan napas panjang.
Ia duduk dikursi sebelah berankar itu, kemudian menggenggam tangan besar Shaka dan membawa tangan itu, untuk di kecupnya.
"Dua minggu lagi, apa kamu gak ingin nikahin aku?" tanyanya.
"Apa kamu gak merindukanku?" tanyanya lagi.
"Bangunlah Sha! Jangan membunuhku seperti ini. Aku merindukanmu, aku merindukan senyummu, aku merindukan perhatianmu, aku merindukan keposesifanmu, aku rindu, aku rindu ...." Jingga menunduk menyembunyikan bulir air matanya. Hingga keadaan hening sebentar.
"Sebelum hari itu tiba, bangunlah! Aku menunggumu, mengucap ijab didepan papa, hem?" lanjutnya mencoba tersenyum. Kemudian ia pun mengecup kening kekasihnya itu.
Ceklek!
Pintu terbuka dan menampakan sepasang suami istri yang memasuki ruangan tersebut. Jingga tersenyum menyambut calon adik iparnya itu.
"Apa belum ada perubahan?" tanya Sena menghampiri.
"Entahlah, dia senang sekali tidur," balas Jingga disertai senyum kecut.
Hembusan napas panjang terdengar dari pasangan suami istri itu. Sena merangkul pundak Jingga, mencoba memberi semangat pada sahabat yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya itu. Jingga menoleh seraya ikut tersenyum seperti apa yang dilakukan Sena.
"Kamu harus percaya, aka pasti cepat bangun. Dia akan baik-baik saja," tutur Sena menenangkan dan diangguki mengerti oleh Jingga.
Kini Sena beralih pada sang kakak. "Aka cepat bangun. Apa aka mau Jinjin dinikahi cowok lain? Buruan bangun!" titah Sena dengan candaan, meski hatinya sama sakit.
"Aka buruan bangun, aku gak ada partner buat ribut!" lanjutnya, yang mana ia tak dapat lagi memendung kesedihannya. Hingga air matanya keluar begitu saja.
"Biar aka ngeslin, tapi aku sayang sama aka ... Bangun ya!" lanjutnya terisak.
"Aisshhh," Jingga merangkul pundak Sena. "Kenapa jadi kamu yang nangis?" ledek Jingga.
"A,aku tuh kesel sama aka. Di,dia kek seneng banget lihat kamu sedih," kesal Sena dengan suara sesenggukan. Jingga hanya tesenyum menanggapi seraya menepuk pundaknya.
"Sudah ketemu?" tanya Abi mengalihkan atensi dua wanita itu.
Jingga yang mengerti maksud Abi menganggukan kepala. "Iya, dia sempat mau kabur," balasnya.
Sena yang belum pahanam melirik kedua manusia itu bergantian. "Siapa? Siapa yang ketemu?" tanyanya.
Jingga tersenyum melihat ekspresi bingung Sena. "Si pelaku," balasnya.
__ADS_1
"Jadi, ini sabotase?" tanya Sena shok dan diangguki Jingga.
"Astaga! Gimana ceritanya? Terus siapa yang melakukan itu?" tanya Sena lagi tak habis pikir.
"Ketua geng Red Evil," balas Jingga.
"Hah? Siapa itu?" tanya Sena yang tak tau menau akan geng motor dan semacamnya.
"Radit," bukan Jingga, tapi Abi yang menjawab.
"Apa? Radit?" Sena kembali shok dengan mata membulat lebar.
Sudah tak asing jika Radit dan Shaka bersaing dalam memperebutkan segala hal termasuk Jingga. Namun mereka tak menyangka jika Radit akan berbuat sejauh itu. Berbuat curang sudah menjadi tabiatnya, namun sampai membuat nyawa hampir melayang, itu sungguh tindakan yang teramat keji.
"Jadi gimana ceritanya?" tanya Sena.
Jingga menggembuskan napas panjang, sebelum memulai menceritakan kejadian beberapa hari lalu.
Flash back on~
"Sudah dipastikan?" tanya Jingga.
"Sudah Jin, lu bisa lihat kerusakn pada si black benar-benar parah. Bahkan sebelum bertanding," jelas Rizky.
"Gue sudah cek keseluruhan. Kerusakan dimesin bukan akibat kecelakaan, tapi memang rusak sebelum itu terjadi, selain rem yang juga gak berfungsi," tambah Jaki.
"He'em. Bahkan gue sempat nyaranin buat gak maksa, ya kalian tau sendiri lah gimana keras kepalanya si Shaka," balas Edo.
"Gue denger yang nyervis si black cewek, ya?" tanya Deril.
"Beuh, ini sih udah fix. Cewek itu yang lakuin," celetuk Rizky menyambar ucapan Deril.
"Alexa?" tanya Jingga heran. Untuk apa? Pikirnya.
"Gak mungkin lah, dia tega kek gitu. Gue tau siapa dia. Gak mungkin dia khianati Shaka" selak Edo.
"Tapi 'kan itu udah jelas dia yang ngotak ngatik si black," balas Rizky dengan sengit.
"Ya, tapi 'kan kita gak bisa menghakimi dia gitu aja. Siapa tau, ada tangan jahil yang gak kita lihat sebelum pertandingan itu dimulai?" belas Edo lagi.
"Imposible!" sungut Rizky. "Ituh udah jelas-jelas, cewek itu yang lakuin. Kok lu malah belain dia sih?"
"Gue bukan belain, tapi gue tau siapa Alexa," balas Edo sengit.
"Suut!! Udah-udah, malah ribut," lerai Deril. "Sekarang kita mulai aja selidiki asal muasal masalah ini," lanjutnya.
__ADS_1
"Bukankah, polisi gak mengetahui hal ini?" tanya Deril.
"Nggak! Polisi hanya tau itu kecelakaan tunggal yang diakibatkan dari rem blong," balas Rizky
"Kalo begitu, kita mulai penyelidikan dari Alexa," ucap Jaki.
"Tapi-" ucapan Edo diselak tepukan dipundak oleh Deril.
"Kita bukan mau menyalahkan, tapi ini untuk meluruskan. Lu sendiri gak mau 'kan temen cewek lu itu dituduh menjadi pelaku?" jelas Deril. Edo terdiam menanggapi.
"Ck! Gue tau, kenapa lu terus membela dia. Lu suka 'kan sama cewek itu?" celetuk Rizky.
Seketika Edo mendongak dengan mata membulat, terlihat ia begitu tegang dengan pertanyaan Rizky. "Si-siapa bilang? Nggak!" sangkalnya.
"Heleh, kelihatan lu bege!" selak Rizky menoyor lelaki itu hingga membuat yang lain terkekeh, melihat kelakuan dua lelaki yang saling adu toyor itu.
Tanpa pamitan Jingga berlenggang begitu saja. Deril yang menyadari itu, segera mencegatnya. "Jin, mau kemana?" tanyanya.
"Ke rumah sakit," balasnya singkat tanpa menghentikan langkahnya.
Keempat lelaki itu menghembuskan napas panjang. Tau pasti gadis itu begitu terpukul, apalagi sampai saat itu Shaka belum juga sadarkan diri.
Sementara itu Jingga memacukan kuda besinya menuju mini market untuk membeli sesuatu. Ia memarkirkan motor itu didepan indojuli. Setelah selesai ia melihat kafe disebrang tempat ia berdiri, tiba-tiba saja ia teringat kafe tersebut adalah tempat dimana mereka mampir sebentar untuk membeli kopi sebelum berangkat sekolah dulu.
Gadis itu tersenyum dan memutuskan untuk mampir sebentar ketempat itu. Melihat suasana yang sedikit tenang, ia memilih untuk ngopi dan beristirahat sejenak ditempat tersebut. Dekat jendela adalah tempat ternyaman untuk menikmati secangkir kopi pagi ini.
Baru saja kopi itu tersaji, ia melihat seorang gadis berpenampilan pria turun dari sebuah motor dan memasuki tempat itu. Jingga teringat akan obrolan dengan teman-temannya tadi dibengkel Jaki. Bolehkah ia mulai menyelidiki? Pikirnya.
Terdengar seseorang menghempaskan diri disofa belakangnya. Sofa yang tinggi tak menampakan orang dibelakang sana, hingga ketika suara seseorang yang tak asing terdengar. Ia pun mulai fokus untuk mendengar percakapan dua orang disana.
"Sudahlah lex, gak usah lu pikirin. Gak ada yang bakal tau juga," ucap seorang laki-laki.
"Lu b*go ya! Ya jelas lah, gue pikirin. Gue yang bawa itu si black," sungut seorang gadis. "Sebenarnya lu apain si black sampe dia kecelakaan kek gitu?" tanyanya.
"Emm, gak banyak sih. Cuma gue otak atik dikit aja," kekeh lelaki itu.
"Saiko lu ya? Kalo sampe terjadi sesuatu sama dia gimana?" tanya gadis itu. "Lu bener-bener ya, gue tau lu punya dendam sama dia. Tapi jangan bawa-bawa gue!" lanjutnya.
"Ya, itu resikonya. Karena lu sepupu gue," balas lelaki itu.
"Cih! Peng*cut lu!"
"Gue bukan pengecut, tapi-"
"Loser"
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Jejaknya jangan lupa gaiss๐๐