My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Kapan tumbuh? End


__ADS_3

Sementara itu, Shaka membawa Jingga menuju tempat yang ia rahasiakan. Yang jelas tempat itu akan menjadi kejutan yang Shaka persiapakan untuk sang istri.


"Kita mau kemana sih?" tanya Jingga kebingungan.


"Udah nanti kamu tau," balas Shaka masih bersikukuh untuk merahasiakan tempat tujuannya.


Dari jalan yang dilalui sepertinya Jingga merasa familier dengan jalan itu, bukankah ini jalan menuju ...


"Danau?" tebak Jingga dan dibalas usekan gemas oleh Shaka, diringi senyum manis. Tangannya bergerak memutar stir untuk memarkirkan kijang besi yang mereka tumpangi.


Jingga tak menyangka jika dirinya akan kembali ketempat itu. Tempat dimana ia dan sang suami pertama menjalin hubungan yang sempat kandas. Sudah hampir lima tahun mereka baru mengunjungi kembali tempat tersebut.


Senyum Jingga mengembang disertai decakan kagum, persis ketika pertama mereka mengunjungi hamparan air hijau itu. Apalagi sudah banyak perubahan pada danau tersebut yang membuat perempuan yang masih mengenakan kebaya itu berbinar takjub.


"Wah! Ternyata tempat ini gak pernah berubah ya, masih tetap cantik. Makin cantik malah," Jingga begitu takjub melihat pesona dari keindahan tempat tersebut.


Shaka memeluk tubuh sang istri dari belakang, menciumi pipinya gemas. "Ini gak cantik," protesnya. "Cuma kamu yang cantik," lanjut Shaka terkekeh.


Jingga ikut terkekeh. Gombalan receh itu sudah tidak asing lagi. Bahkan selalu ia dengar setiap hari. Meski awalnya ia tak suka, namun kelamaan itu sudah menjadi hal biasa yang masuk diindera pendengarannya.


"Kapan disini tumbuh?" tanya Shaka mengusap perut rata sang istri.


"Kenapa? Kamu menginginkannya?" bukan menjawab Jingga justru kembali bertanya.


"Hem," Shaka hanya berdehem.


Tentu saja dua tahun lebih pernikahan mereka, berasa ada yang kurang tanpa kehadiran sosok malaikat kecil diantara mereka. Apalagi sekarang Shaka sudah banyak berubah, kian dewasa. Namun, ia tak ingin memaksa sang istri. Tau, semua konsekuensi ditanggung seorang istri. Dari mengandung dan melahirkan, tentu ia tak mau memaksa istrinya yang mungkin saja belum siap.


"Aku tau kamu belum siap," lanjut Shaka kembali megecupi pipi hingga ceruknya.


"Aku udah siap," celetuk Jingga.


Seketika Shaka melongo seraya mendekatkan wajahnya kedepan untuk melihat wajah cantik sang istri. Menatap tak percaya akan apa yang diucapkan istrinya itu. Jingga menoleh dan terkekeh melihat ekspresi lucu suaminya.


"Iya. Aku sama Sensen udah putusin buat gak program itu lagi. Kamu lupa? Kita hampir tiap hari lakuin itu. Bahkan di masa subur juga," jelas Jingga.


Shaka tersenyum dengan wajah masih tak percaya. "Serius?" tanyanya, yang tentu saja tak tau mengenai hal itu.


Jingga mengangguk mengiyakan. "Hem. Bahkan Sensen mungkin udah positif. Soalnya dia udah telat datang bulan," lanjutnya menjelaskan namun diiringi wajah sendu diakhir kalimatnya.


Shaka yang mengerti, semakin memeluk erat tubuh ramping itu. "Kamu juga bulan depan pasti telat. Tinggal bulan ini aja, percayalah!" rayu Shaka memberi semangat.


"Kamu tenang aja, kita berusaha lebih keras lagi, lebih lama lagi, lebih tambahin lagi ngulangnya, lebih-" belum selesai cerocosan Shaka, Jingga sudah menutup bibir itu dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


Shaka tergelak mendapat peringatan itu. Kecupan pun tak henti ia layangkan pada wajah cantik sang istri. Meyakinkan bahwa mereka juga pasti segera mendapat keturunan.


"Emm ... Ada sesuatu yang pengen aku tunjukan sama kamu," ucap Shaka.


"Apa?" tanya Jingga.


"Emm ... Ikut aku!" ajak Shaka menggandeng tangan gadis itu.


Sejoli itu bergandengan tangan menuju sebuah tempat, yang tidak jauh dari tepi danau itu. Sebuah gazebo yang sudah disulap sedemikian rupa oleh seseorang yang diperintahkan Shaka.


"I-ini?" Jingga merasa shok dengan kejutan yang Shaka berikan padanya.


"Makan siang spesial, untuk istriku yang sepesial," balas Shaka disertai senyuman.


Sungguh Jingga ikut terharu dibuatnya. Namun sesuatu yang aneh tiba-tiba dirasanya. Entah kenapa ia merasa kepalanya berat, hingga mengakibatkan pandangannya kabur dan gelap.


Brukkk!!!


"Astaga! Jin," Shaka dengan sigap menangkap tubuh yang hampir jatuh keatas tanah itu.


Ia menekukan kaki untuk menahan tubuh Jingga. Mencoba menepuk pipi cantik itu untuk membangunkannya. "Jin, sayang. Are you oke?" tanyanya panik.


"Bangun Jin, kamu kenapa?" tanyanya lagi masih dengan menepuk pipi istrinya. Nampak wajah Jingga yang memucat dan itu membuat Shaka semakin khawatir.


Tanpa basa basi, ia segera menggendong tubuh itu menuju mobil. Tujuannya hanya satu, rumah sakit. Segera ia menancap gas, hingga mobil itu melesat meninggalkan posisi.


"Apa jangan-jangan kesambet ya?" gumam Shaka bermonolog sendiri.


Tentu saja pikiran seperti itu terlintas dibenaknya. Namun segera ia menepisnya. Mana mungkin juga setan berkeliaran di siang bolong. Pikirnya mencoba logis. Tanpa ingin menerka-nerka, ia memilih untuk melesatkan mobil itu kian cepat.


Ya, semenjak hari itu. Shaka belum berani lagi menggunakan si black. Ia lebih memilih si biru yang selalu jadi pajangan di garasi untuk bertukar posisi dengan si black. Bukan karena traumanya saja, menurutnya ia juga lebih leluasa jika melakukan apapun didalam mobil tersebut dengan sang istri. Termasuk mencari pahala dadakan tentunya.


Tak berselang lama, mereka pun sampai dirumah sakit. Jingga dibawa keruang UGD dan Shaka yang harus menungu diluar ruangan itu. Shaka yang sudah lebih dewasa mengerti dan tidak membuat onar untuk kekeh masuk. Namun, diluar ruangan itu kakinya tak berhenti bergerak. Ia berjalan mondar-mandir layaknya setrikaan.


Ceklek!


"Dok, gimana keadaan istri saya?" tanya Shaka setelah beberapa menit menunggu. Bahkan ia segera bertanya, kala pria berjas putih itu baru saja keluar.


"Anda suaminya?" tanya sang dokter.


"Iya, Dok. Saya suaminya," balas Shaka. "Gimana keadaannya? Apa dia baik-baik aja? Apa penyakitnya serius? Apa perlu ada tindakan? Apa-"


"Maaf, Pak!" sela Dokter tersebut, hingga Shaka menghentikan pertanyaaannya.

__ADS_1


"Istri anda baik-baik aja," balas dokter itu. Tentu saja Shaka menaikan alisnya tak mengerti.


"Dan ada satu hal yang ingin saya sampaikan pada anda," lanjut sang dokter.


"A,pa Dok?" tanya Shaka ragu. Bahkan jantungnya sudah berdegup tak karuan untuk mendengar apa penjelasan dokter.


"Selamat, istri anda hamil!" ucap sang dokter diirngi senyumnya.


Deg!


Shaka terpaku. Hamil? Tanyanya dalam hati. Bukankah istrinya itu tengah kedatangan tamu bulananya?


"Anda yakin, Dok? Bukannya istri saya sedang berhalangan?" tanyanya tak percaya.


"Dari tanda-tandanya, memang seperti itu. Namun, untuk meyakinkan, kita tunggu istri anda untuk melakukan tes urine," jelas sang dokter.


"Untuk masalah datang bulan, itu sering terjadi. Banyak kejadian seperti demikian yang terjadi pada awal kehamilan," lanjutnya menjelaskan dan diangguki mengerti oleh Shaka.


Shaka masuk kedalam ruangan itu setelah mendapat penjelasan dari sang dokter. Ia melihat sang istri yang keluar dari dalam kamar mandi diruangan tersebut. Ia mendekat untuk ikut memapahnya bersama suster.


"Selamat Nyonya, Tuan. Hasil tes memperlihatkan dua garis, yang artinya nyonya sedang mengandung," jelas suster. "Sekali lagi selamat! Dan silahkan untuk berkonsultasi di poli kandungan!" lanjut suster sebelum akhirnya meninggalkan pasangan itu.


"Hamil?" tanya Jingga tak percaya.


"Iya, sayang. Kamu hamil, kamu hamil!" Shaka menangkup wajah sang istri dengan ekspresi bahagia yang sulit ia tutupi.


"Aku hamil, aku hamil," senyum sumringah ditampilkan Jingga, yang kemudian berhambur kedalam pelukan Shaka.


Pria itu menbalas mendekapnya erat. Dengan tak henti melayangkan kecupan diatas kepala sang istri. Rasa syukur dan bahagia terlantun dari pasangan suami istri itu.


Shaka melepaskan pelukan mereka dan berlaih pada perut rata istrinya itu. "Aku gak nyangka dia akan hadir secepat ini," ungkap Shaka dan disambut senyum oleh Jingga yang mengusap rambut Shaka.


"Sehat-sehat, Nak! Kami menunggumu."


...********Selesai********...


**Jangan protes kenapa selesai yaa. Jadi ini nanti dilanjut lagi di novel baru. Nanti diceritakan turunan somplak ini hamil barengan. Jingga, Sena, Kia dan Vanilla. Penasaran dong, gimana meriwehnya calon papa-papa menghadapi ngidam istri-istrinya. Begitu juga calon nenek dan kakeknya yang kena imbas? Nantikan ya, insyaAlloh launching awal bulan Desember. Untuk kali ini, kita sibuk dulu sama si mantan ya! Yuk ikutin kisahnya .... Yang belum masuk di cerita "Terjebak Gairah Sang Mantan" yuk buruan gabung! Mulai besok insyaAlloh lebih rajin.. up 2 bab sehari, kalo gak khilaf🙈


Makasih untuk setiap dukungan kalian yang sangat berarti ini. Smoga Alloh memgganti setiap kebaikan kalian, berlipat-lipat kebaikan🙏🙏 sayanhlg kalian semuaa😘😘😘**



Sedih harus pisah sama kalian🤧 Ingatin mak othor yaa gaisss😘

__ADS_1



Jumpa lagi yaa gaiss😘


__ADS_2