My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Cuma malam pertama 'kan?


__ADS_3

"Sunat uang jajanmu," ucap para sahabat Rizky, yang kemudian tergelak. Hingga suasana semakin riuh dengan tamabahan gelak tawa para orang tua mereka.


Itulah kata-kata keramat onty Feby dari mereka kecil dulu. Kalimat yang mereka jadikan bahan ledekan untuk sahabat mereka si anak mamih tersebut.


Ditengah kehebohan itu diam-diam Shaka menggenggam erat tangan gadis yang berada disampingnya. Gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu nampak senyum kearahnya. Ingin sekali ia segera memeluk dan mencium bibir manis itu untuk menyalurkan rasa bahagianya.


"Eheemm! Aku udah selesai, aku mau istirahat dulu," pamit Shaka yang kemudian berdiri dan menggandeng tangan Jingga.


"Ciee, istirahat apa istirahat?" goda timom Siska yang disambut tawa mereka.


"Ck! Timom omes. Ya istirahat lah, orang masih lemes gini juga," kesal Shaka.


"Badan sih lemes, cuma si jack 'kan tetep kokoh," ledek papih Age, yang membuat suasana kian meriuh. Suami istri itu memang paling asyik untuk menggodanya.


Jingga hanya melengos merasa malu dengan godaan mereka. Ia pun melesapkan genggaman tangan Shaka, "Em, aku kedepan dulu buat ambil tas," ucapnya yang kemudian berlenggang pergi.


"Eh, tungguin aku Jin!" Shaka pun menyusul Jingga, tanpa pamitan lagi.


"Ishh kalian tuh. Udahlah jangan digoda terus, kasian tuh mantu aku," bela mama Ay pada sang abang dan istrinya. Mereka kembali tergelak, apalagi mengingat Jingga yang baru pertama menampilkan wajah malu-malunya.


Sementara itu Jingga mengambil tas disofa, dipojok ruangan. Shaka menggandeng tangan Jingga, lalu mengajaknya untuk berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Jingga hanya tersenyum, seraya mengikuti langkah lelaki yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya itu.


Ceklek!!


Duupp!!


Cetrek!!


Shaka membuka pintu kamarnya, lalu dengan cepat menutup pintu tersebut dan memutar kuncinya setelah mereka berhasil masuk. Kemudian menghadapkan tubuh Jingga kearahnya dengan memeluk pinggang gadis itu. Satu tangannya bergerak membelai wajah cantik itu.


"Apa kamu bahagia?" tanya Shaka.


Jingga mendongak dan tersenyum, lalu merangkulkan tangan dileher Shaka. "Tentu saja. Aku sangat bahagia," balasnya hingga Shaka ikut tersenyum.

__ADS_1


Shaka nenundukan wajahnya, mengecup dalam-dalam kening Jingga. Hingga keduanya terpejam. Senyum bahagia pun tak dapat disembunyikan kedua orang tersebut.


"Makasih," ucap Shaka kembali membelai wajah cantik itu. "Sudah bersedia menjadi istri dariku yang banyak kekurangan ini," lanjutnya. Jingga melebarkan senyumnya mendapat ungkapan yang begitu tulus itu.


"Dan maaf pernikahan ini tak sesuai dengan yang kamu harapkan," sesalnya sendu. "Harusnya kita merencanakan ini lagi. Tapi, aku takut. Aku takut sesuatu terjadi lagi padaku da-"


"Syuttt!!!" Jingga menutup bibir Shaka hingga ucapannya terselak.


"Aku gak peduli dengan cara apapun kita menikah. Bagiku semua itu gak penting, asal kita bersama dalam ikatan suci," ungkap Jingga. "Dan kamu harus ingat gak akan terjadi apapun lagi, padamu, pada kita. Semua akan baik-baik saja dan kita akan terus bersama. Meski suatu saat Tuhan memisahkan kita karena usia. Percayalah! Kita akan dipertemukan kembali di Surga-Nya" lanjutnya dan dibalas senyum Shaka.


Lelaki itu menarik tubuh ramping sang istri kedalam dekapannya. Beribu syukur ia lantunkan dalam hati, karena dapat memiliki gadis yang begitu ia cintai. Sungguh, suatu kebahagiaan yang tak terkira.


Kecupan bertubi-tubi dilayangkan Shaka pada sang istri. "Aku bahagia, sangat!"


"Aku juga," balas Jingga.


Shaka melerai pelukan mereka, terlihat jejak kebasahan dari ujung mata keduanya. Hingga mereka sama-sama menghapus jejak itu disertai tawa.


"Mau melakukan malam pertama?" bisik Shaka menggoda.


"Ck! Aku gak yakin kamu kuat," ucap Jingga yang terdengar meledek.


"Ck! Kamu remehin aku, ya? Aku udah sehat, nih! Nih, lihat!" Shaka menujukan otot tangannya kedepan Jingga, hingga gadis itu tertawa dibuatnya.


"Kamu lupa kata dokter? Kamu harus istirahat seminggu ini," jelas Jingga disela tawanya.


"Ck! Tapi 'kan aku gak kerja, gak kuliah, gak aktifitas berat. Cuma malam pertama 'kan?" protes Shaka.


Jingga menghentikan tawanya. "Kamu gak pernah baca artikel, ya? Melakukan malam pertama itu, butuh ekstra energi. Menerobos gua, gak segampang menerobos jalanan malam," jelasnya.


"Hemm, iya kah?" tanya Shaka memastikan dan diangguki mantap oleh Jingga.


Shaka menarik pinggang ramping Jingga hingga menempel padanya. "Oke, kita coba. Apa benar semenantang itu?" tanyanya mendekatakan wajah dan disambut kekehan Jingga.

__ADS_1


"Mau maksa?" tanya Jingga. "Ntar, belum selesai kamu nyerah duluan," ledeknya.


"Ck! Kamu bener-bener nantangin aku, ya? Mau tau seperkasa apa aku, hem?" tanya Shaka seraya menggiring tubuh Jingga, hingga mereka terjatuh bersama diatas kasur kingsize Shaka.


"Malam ini, jangan berharap kamu bisa tidur!" ucap Shaka disertai seringainya.


Jingga tersenyum melihat semangat Shaka. "Oke, buktikanlah!" tantangnya.


Mata sepasang pengantin itu bertemu dan saling mengunci. Terlihat tatapan memuja dari keduanya. Shaka membelai wajah cantik dalam kungkungan itu dengan jari telunjukanya, hingga sampai didagu, lalu menariknya.


Cup!


Kecupan pertama dilayangkan Shaka pada kening Jingga, lalu berlanjut pada kedua pipi dan hidungnya. Hingga berakhir dibibir manis itu. Bukan sekedar kecupan, namun sebuah sesapan dan lu matan yang diberikan Shaka pada bibir ranum sang istri. Jingga ikut menyeimbamgai ciuman tersebut, tangannya bergerak mengalung pada pundak Shaka. Decapan pun terdengar merdu diruangan luas itu.


Tangan Shaka tak tinggal diam. Ia mulai membuka kancing blouse yang dikenakan Jingga, lalu melepas sebentar paguatan mereka untuk menarik kain itu dari kepala Jingga dan juga menarik kaos yang melekat ditubuhnya. Shaka menatap sebentar dada yang kian menantang itu, napas Jingga yang tersenggal membuat dadanya turun naik hingga menggoda jiwa liar Shaka.


Ia mulai menjelajah ke ceruk sang istri, mengabsen setiap jengkal kulit putih tersebut. Tangannya tak tinggal diam bergeliyara mere mat kedua bukit yang masih bercangkang tersebut.


"Mhhhhh!" lengu han dari bibir Jingga membuat Shaka kian bersemangat.


Tangannya bergerak kepunggung sang istri, untuk membuka pengahalang yang menutupi pemandangan indah itu. Hingga cangkang itu terlepas dan Shaka pun mulai menyambar salah satu dari bukit tersebut.


"Mmmhh Sha!" lagi-lagi suara sexy Jingga terdengar, saat Shaka dengan ganas memainkan pucuk berwarna pink dengan lidahnya.


Jingga mere mat rambut Shaka dan menenggelamkan wajah tampan itu diantara dua bukitnya. Satu tangan Shaka bergerak mengelus si nona yang masih tertutup celana. Lalu, perlahan membuka reseletingnya. Ia bangkit sebentar untuk membuka kain bagian bawah sang istri dan juga miliknya. Hingga tubuh mereka polos tanpa sehelai benang pun.


Shaka menelan salivanya kuat-kuat. Untuk pertama kali, ia melihat bentuk indah yang ditumbuhi bulu-bulu tipis itu. Begitu terlihat menantang dimatanya. Begitupun Jingga, melihat si jack milik Shaka yang teramat besar dan panjang membuat tenggorokannya tercekat.


"Segede itu? Apa masuk?" tanya Jingga dengan wajah memucat. Padahal seingatnya, melihat Shaka pagi itu dengan boxer ketat yang dikenakan, tak menampilkan si jacknya akan berubah segede itu.


"Kenapa?" goda Shaka mendekat.


"Sudah ku bilang 'kan, seperkasa apa?"

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknya yaa gaisss😘 kirim kopi dong, buat gadang malam pertama ini🙈


__ADS_2