My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
SAH Dadakan


__ADS_3

Kini Shaka sudah siap untuk pulang. Hanya papa Ar dan Jingga saja yang menemani. Mama Ay yang pagi tadi pulang dulu, memutuskan tak kembali dan menunggu dirumah setelah mendapat kabar sang putra akan pulang. Hanya tiga orang itu dan seorang sopir saja yang kini berada didalam mobil.


"Ck! Papa gak asyik," keluh shaka dengan wajah menekuk kesal.


"Kenapa?" goda papa Ar.


"Harusnya papa didepan sama mang Asep, kenapa malah ditengah-tengah kita," gerutu Shaka.


"Kalo papa didepan, keenakan kamu dong," ledek papa Ar.


"Isshh gak peka banget sih! Kek gak pernah muda aja," gerutu Shaka lagi yang mana membuat papa Ar tertawa. Berulang kali Shaka berdecak kesal dengan kelakuan papa nya itu.


Jingga terkekeh menggelengkan kepala melihat kelakuan papa dan putranya itu. Setelah Shaka masuk lebih dulu, papa Ar menyerobot untuk duduk ditengah-tengah mereka. Entah apa alasannya, yang jelas hal itu terkesan lucu dimata Jingga.


"Udah gak usah cemberut! Ntar kalo udah halal, mau dalam mobil berdua, dimanapun berdua gak masalah. Mau dikamar mandi berdua juga gak bakalan ada yang ngelarang," jelas papa Ar. "Sekarang 'kan belum halal, jadi harus pake skat dulu," lanjutnya dengan nada terdengar meledek ditelinga Shaka.


"Au ah, papa ngeselin!" gerutu Shaka dan dibalas ledakan tawa dari pria paruh baya itu.


Tak berselang lama mobil pun sampai didepan rumah Shaka. Papa Ar menepuk pundak Shaka dengan menganggukan kepala dan dibalas anggukan juga oleh Shaka. Tentu saja hal itu membuat Jingga keheranan. Gadis itu tak mengerti dengan kode yang dilakukan sepasang anak dan ayah itu.


Jingga tak segera bergerak, ia masih berdiri menunggu Shaka turun. Kemudian ia menaikan sebelah alisnya saat bersitatap dengan lelaki itu.


"Kenapa?" tanya Shaka pura-pura tak mengerti dengan arti tatapan meminta penjelasan itu.


Jingga memutar bola mata malas ketika tak ada jawaban dari kekasihnya itu, yang kini justru merangkul dan menuntunnya untuk masuk kerumah.


"Udah ayo masuk!" ajak Shaka.


Ceklek!


Pintu terbuka lebar, dan betapa terkejutnya Jingga kala rumah ternyata begitu ramai para sahabat dan para orang tuanya. Lebih mengejutkan lagi, kala melihat seorang pria paruh baya mengenakan peci rapih yang kini tengah duduk berdampingan dengan papanya, diatas karpet.


"I-ini?" tanya Jingga tak percaya. Rasa shok sekaligus haru menyelimuti hatinya.


Shaka menggenggam tangan Jingga hingga gadis itu menoleh kearahnya. "Maafkan aku! Harusnya kita lakukan ini dua hari yang lalu. Jadi, kita lakukan sekarang," jelasnya.

__ADS_1


"Tapi-" ucapan Jingga tertahan saat Shaka menariknya menuju karpet dan duduk disana, didepan papa Juna dan pak penghulu yang tersekat meja.


"Cieee ... Siap halal nih ..." ledek Kia yang tertawa bersama Sena dan Chika disampingnya.


"Gak papa 'kan gak make up an dulu?" tanya Sena seraya mengenakan pashmina pada kepala Jingga dan ditanggapi senyum dan anggukan calon mempelai wanita yang masih sedikit shok itu.


"Lagian kak Sha, gak sabaran amat. Ampe minta nikah dadakan," ledek Kia.


"Eh, anak kecil mana tau. Entar kalo udah gede juga pasti ngerti," ledek balik Shaka dan ditimpali cebikan bibir gadis itu. Semua orang terkekeh mendengar ledekan kedua saudara itu.


Acara dadakan ini sengaja dilakukan atas permintaan Shaka. Pernikahan yang memang sudah direncanakan sebulan yang lalu, sudah terdaftar dikantor KUA. Dua hari yang lalu, seharusnya mereka menggelar pernikahan mewah itu, namun rencana tidak sesuai alur Tuhan. Dan sekarang waktunya untuk melaksanakan rencana tertunda tersebut.


"Bagaimana, apa sudah siap?" tanya pak penghulu memastikan.


"Sudah, Pak!" balas Shaka tegas.


"Wah, sepertinya calon mempelai pria sudah tidak sabar ya, begitu bersemangat sekali," goda pak penghulu dan disambut tawa orang-orang disana.


Shaka tersenyum kikuk menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sementara Jingga tersenyum dengan semburat merah dipipinya.


"Baiklah kalo begitu, silahkan Pak!" ucap pak penghulu mempersilahkan pada wali mempelai wanita dan diiyakan papa Juna.


"Bismillahirahmanirrohim, saudara Arshaka Ravindra Pratama Bin Ardiansyah Pratama, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Jingga Aurillia binti Juna Prasetya, dengan mas kawin uang tunai senilai dua ribu dua puluh dua dollar dan seperangkat alat shalat dibayar tunai,"


"Saya terima nikah dan kawinnya Jingga Aurillia binti Juna Prasetya dengan mas kawinnya tersebut tunai,"


"Bagaimana saksi? Sah?" tanya pak penghulu pada pak ustadz dan Devan sebagai saksi. Lalu diangguki kedua pria tersebut.


"Sah!"


"Alhamdulillah ...."


Semua orang mengadahkan tangan mengucap syukur secara serentak, yang dilanjutkan dengan pembacaan doa dari pak ustadz disana. Rasa bahagia dan haru menyelimuti suasana diruangan luas itu yang kemudian diiringi tepuk tangan.


Jingga meraih tangan kanan Shaka, disaliminya takzim. Lalu tangan kiri Shaka memegang kepala Jingga seraya melafalkan doa. Setelah selesai, Shaka meraih kepala Jingga lalu mengecup dalam kening gadis yang sekarang resmi menjadi istrinya.

__ADS_1


Senyum bahagia terpancar jelas dari pasangan pengantin baru ini. Bahkan ego yang selama ini selalu membentengi hati Shaka kini lebur bersama rasa bahagia yang sulit sekali untuk dijabarkan.


Acara pun berlanjut dengan penandatanganan buku nikah. Lalu berlanjut lagi dengan permintaan restu dari kedua orang tua mereka.


**


"Nah sekarng giliran si Iky nih yang belum sold out. Kapan nih mau dihalalin?" ledek Sena ketika mereka tengah melaksanakan makan bersama.


Hanya menyisakan keluarga gerup reseh saja yang ada dimeja makan tersebut. Acara yang dilaksanakan dadakan itu tentu diponsori resto onty Feby. Selain untuk syukuran pernikahan, acara makan diadakan untuk menyambut Shaka yang sudah kembali.


"Iky udah punya pacar juga?" tanya onty Rilla.


"Uhuk! Uhuk!" Rizky tersedak mendapati pertanyaan itu.


"Makan tuh pelan-pelan! Kebiasaan kamu tuh," omel onty Feby menyodorkan air minum pada putranya itu.


"Iya dong kak Iky, kenalin cewek yang dibonceng kemarin tuh!" celetuk Kia. Rizky memberikan tatapan mengode pada gadis cerewet itu yang justru dibalas cengiran oleh Kia.


"Cewek? Siapa Ki?" tanya onty feby menyelidik.


"Ng-nggak, Mih. Kia salah lihat itu," elak Rizky yang tak ingin mamihnya bertanya lebih.


"Masa? Om juga pernah lihat waktu itu kamu sama cewek. Om kira sama Jinjin, eh ternyata Jinjin bawa motor sendiri," celetuk om Devan.


Seketika para sahabat Rizky melipat bibir melihat ekspresi memucat dari Rizky. "Udahlah Ki, kenalin aja," ledek Deril lalu merangkul bahu sang istri. "Halal itu enak lho!" lanjutnya.


Sena pun ikut gencar menggoda sahabatnya itu dengan merangkul manja lengan suaminya. "Bener banget itu, Ki. Jadi, gak perlu cari tempat aman buat ...." Sena tak meneruskan ucapannya dan hanya menaik turunkan alis untuk menggoda Rizky.


Lelaki yang menjadi bahan incaran ledekan mereka membolakan mata, merasa kesal pada sahabat lucknutnya itu. Tentu ia tak mau para orang tua salah paham dan berpikiran yang tidak-tidak mengenai dirinya. Apalagi sang mamih,


"A,a,aahhh, ampun Mih!" betul saja tangan sang mamih sudah mendarat didaun telinganya.


"Awas kamu ya, kalo macem-macem sama cewek, mamih-"


"Sunat uang jajanmu ....."

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknyaa yaa gaisss😘😘


__ADS_2