My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Iklan sebentar


__ADS_3

**


"Eh jangan!!!" cegat Rizky, bangkit menahan tangan sang gadis yang diketahui adiknya itu.


"Kenapa?" goda Riska. "Ahhh! Kakak sembunyi-sembunyi dari mamih ya? Hayoo ngaku!" gadis itu begitu gencar menggoda sang kakak.


"Ck! Anak kecil, gak usah ngeselin deh. Siniin Hp nya!" Rizky merampas benda pipih dari tangan sang adik dan menjauhkannya dari jangkauan gadis itu.


"Ihh ... Kakak! Siniin Hp ku!" rengek Riska meminta ponselnya kembali. Mencoba mengambil dari tangan sang kakak yang tinggi.


"Gak bakalan! Sebelum kamu janji gak bakal rombeng," tolak Rizky yang terus mengangakat benda itu tinggi-tinggi.


"Ihhh kakak! Balikin," rengek Riska.


"Kagak! Janji dulu," tolak Rizky, hingga kakak beradik itu terus ribut dan berisik.


Hal itu membuat Renata menghembuskan napas panjang. Ia pun menggebrak meja keras dan sukses menghentikan aksi kakak beradik itu.


Braakkk!!!


Tatapan Renata menghunus tajam pada kedua manusia itu. Keduanya hanya terdiam dan menatap takut gadis itu.


"Siapa namamu?" tanya Renata pada Riska.


"Ri-Riska, kak!" balasnya gugup.


"Kamu adiknya Iky?" tanya Renata lagi dengan ekspresi wajah yang sama dan diangguki gadis itu.


Renata tersenyum manis pada gadis SMP itu. "Haii adik ipar! Duduk disini," sapanya seraya menarik tangan Riska dan menuntun gadis itu untuk duduk dibangku panjang bersamanya.


"Kamu mau pesen apa? Nanti kakak bayarin," tawarnya terlihat begitu hangat.


Tentu saja hal itu membuat gadis itu semakin gugup. "A-aku, a-aku,"


"Ahh, kamu suka baso gak? Kakak pesenin baso ya," ucpanya. "Mang basonya satu lagi ya!" teriaknya pada kang baso dan diiyakan lelaki paruh baya itu.


"Mulai sekarang, kamu bisa sharing apa pun sama kakak. Kita juga bisa hangeout bareng, nyalon bareng, pokoknya kemanapun kamu pengen pergi, tinggal hubungi kakak. Hem?" tawarnya disertai senyum manis.


Riska mengedipkan mata berulang kali, merasa bingung akan gadis yang mengaku kakak iparnya itu. Ia pun hanya mampu menyunggingkan senyum terpaksa pada gadis tersebut.


Rizky menghembuskan napas panjang. Kekasihnya itu memanglah paling bisa membuat drama. Ia pun hanya pasrah dan menjadi obat nyamuk dari kedua gadis yang ternyata satu server tersebut.


**


Sementara itu dilain tempat, sepasang suami istri yang baru menginjak satu minggu masa pernikahan mereka tengah melihat si black yang baru sampai diparkiran.


Berulang kali Shaka menghembuskan napas panjang, entah kenapa ia masih ragu untuk menyapa benda kesayangannya itu. Jingga yang mengerti, terbesit ide untuk menggoda suaminya.


"Mau naik?" godanya.

__ADS_1


Sekali lagi Shaka menghembuskan napas panjang. "Aku gak yakin," balasnya melengos.


"Oh ya? Kalo gitu aku akan mencobanya," Jingga mencoba menaiki motor tersebut.


"Jangan!" tahan Shaka.


Jingga tak menanggapi, ia memutar kunci yang sudah tertancap dan mencoba menstaternya. Shaka tak bisa lagi menghentikan istrinya itu.


Brumm! Bruumm!


"Keren!!!" puji Jingga kala mendengar suara mesin yang terasa baru lagi itu.


"Kamu beneran gak mau coba?" tawar Jingga dan hanya dibalas gelengan kepala oleh Shaka.


"Aku akan bawa si black untuk ke rumah mama sebentar," izin Jingga.


"Jangan!" tahan Shaka.


"Kenapa?" tanya Jingga.


"Itu berbahaya, aku gak izinin kamu pergi," tegas Shaka.


Jingga tersenyum. "Kalo gitu kamu ikut," ajaknya.


"Ikut? Kamu yang bonceng?" tanyanya dan diangguki Jingga.


"Nggak, aku gak mau," tolak Shaka memalingkan wajahnya.


"Nggak boleh," tahan Shaka.


"Jadi kamu maunya gimana? Mama udah telepon terus ini," tanya Jingga memperlihatkan ponselnya yang terus berdering.


"Pake si merah 'kan bisa?" saran Shaka.


"Kamu lupa? Motorku 'kan dibawa Jaki buat di servis," balas Jingga.


"Ya udah kamu minta antar mang Asep aja!" titah Shaka kembali memberi saran.


"Mang Asep mana?" tanya Jingga. "Mang Asep 'kan lagi ngantar mama," lanjutnya.


Terlihat Shaka menghembuskan napas kasar, kala tak ada yang bisa ia sarankan lagi. Jingga yang mengerti kembali menggodanya.


"Jadi, mau ikut atau nggak?" tawar Jingga.


"Tapi ...." Shaka tampak berpikir, tentu harga dirinya akan turun jika ia diboncengi seorang wanita.


"Kamu tau? Duduk dibelakang gak terlihat buruk kok," bujuk Jingga, hingga Shaka menaikan sebelah alisnya dan dibalas senyum perempuan itu.


"Ayo cobalah!" ajaknya memberikan helm pada suaminya itu. Lalu ia pun memakai helmnya juga.

__ADS_1


Shaka nampak kembali berpikir, jika ia dibonceng sang istri akan sangat terlihat lucu. Namun membiarkan istrinya itu pergi sendiri, ia juga khawatir. Jika ia sendiri yang mengendarai? Rasanya masih butuh beberapa keberanian untuk memegang stang itu.


Berbagai pertimbangan berputar diotaknya. Hingga ia pun memutuskan untuk ikut dan diboncengi sang istri. Ia akan menurunkan sedikit egonya, untuk bisa menjaga istrinya itu.


"Ayo!" ajak Jingga.


Pelan-pelan ia mendekat, lalu dengan ragu ia menaiki jok belakang. Dengan hati berdebar, ia mencoba menarik dan menghembuskan napasnya berulang kali untuk menetralkan kegugupannya.


"Sudah siap?" pertanyaan Jingga sukses membuat Shaka terkesiap. Ia pun segera memeluk tubuh Jingga dengan erat.


Jingga terkekeh seraya mencoba melepaskan tangan Shaka. "Aku gak bisa napas," pekiknya tertahan.


Jingga melepaskan pelukannya dan menempelkan tangan Shaka diatas tangki. Namun Shaka kembali memeluk Jingga. Bukan perut, tapi tepat di depan ketiak. Hingga Jingga tak dapat menggerakan tangannya.


"Tanganku gak bisa gerak," Jingga kembali memindahkan tangan Shaka kembali ke atas tangki.


Lagi-lagi Shaka kembali memeluk dada Jingga, dengan kaki kedepan, hingga mengunci pergerakan Jingga.


"Astaga kalo kek gini, kita bukan pergi ke rumah mama. Tapi, bisa-bisa kita pergi ke kamar," celetuk Jingga.


"Itu lebih bagus. Kita jangan pergi kerumah mama, ke kamar aja!" bisik Shaka yang berakhir memainkan dua bukit itu.


"Sha ... Ayolahh!" bujuk Jingga yang justru menikmati pergerakan tangan sang suami yang semakin liar. Apalagi bibir Shaka sudah berjalan menyusuri ceruknya.


"Shaa ...." peringat Jingga memejamkan mata.


Kemudian Jingga teringat sang mama yang kemungkinan menunggu. Ia pun segera menghentikan tangan suaminya itu. Hingga bibir itu ikut berhenti.


"Sekarang, kamu mau ikut, apa tunggu dirumah?" tegas Jingga. Jika tidak seperti itu, akan dipastikan sampai malam menjelang ia tak bisa pergi kerumah mamanya.


Shaka memeluk pelan perut Jingga dan menurunkan kakinya kembali diatas step, dengan dagu ia simpan dibahu Jingga. "Baiklah nyonya Sha! Tuan Shaka akan ikut dan duduk manis disini," ucap Shaka menggoda.


"Ya ampun! Harusnya dari tadi kek gini," kesal Jingga yang membuat Shaka tertawa.


"Iklan sebentar gak apa-apa lah," kekeh Shaka disela tawanya.


Jingga berdecak menggelengkan kepala. Lalu kemudian bersiap menacap gas, hingga motor yang mereka tumpangi melesat meninggalkan halaman rumah.


**


"Mau masuk dulu?" tanya Renata.


Rizky terdiam sebentar, "Sepertinya lain kali aja," ucapnya tertunduk. Tentu saja ia belum siap untuk menghadapi mama dari kekasihnya itu.


Renata yang mengerti, menangkup kedua pipi kekasihnya itu. "Heii ... Ini bukan dirimu! Percayalah kita pasti bisa, hem?" ucap Renata tersenyum.


Rizky ikut mengembangkan senyumnya. Lalu menarik tengkuk sang gadis dan menyecap bibirnya. Baru saja mereka saling menikamti ciuman itu, tiba-tiba suara seseorang menghentikan aktifitas mereka.


"Rena!!!"

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaknya gaisss😘😘


__ADS_2