My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Sensasi baru


__ADS_3

Acara resepsi pun tiba. Kini pasangan pegantin sudah duduk dipelaminan. Lagi-lagi acara itu tidak dapat dihadiri Aska yang tengah mengenyam pendidikan di negri Kairo. Namun ia tetap memberi doa restu melalui sambungan video call bersama keempat sepupu, teemasuk Shaka dan Jingga yang menjadi binyanh malam ini.


"Jangan nangis! Bedak kamu luntur tuh," ledek Aska dari sebrang telepon.


"Isshhh, aka jahat banget sih! Kenapa gak minta cuti dulu, gak pulang dulu. Kita semua 'kan kangen," rengek Sena dengan wajah yang sudah berantakan. Untung saja acara sudah diakhir, jadi ia tak perlu khawatir akan penampilannya yang mengalahkan sang ratu malam ini.


"Maaf ya, de. Bukan aka gak mau ngambil cuti. Aka 'kan pengen cepat lulus dan cepat kembali kumpul sama kalian," balas Aska.


Shaka merampas ponsel itu dari tangan sang adik, hingga Sena memberenggut kesal.


"Mau berapa tahun aka disana? Gak kasihan apa sama timom?" tanya Shaka yang terdengar ledekan.


Terlihat Shaka tersenyum disebrang telepon. "Bukannya kamu seneng. Timom jadi punya kamu seorang," ledeknya.


Shaka berdecak kesal, tentu saja mereka bukan lagi bocah-bocah kecil yang suka berebut wanita imut itu. Jika saja usianya masih lima tahun, tentu dengan senang hati ia mendapat kesempatan bermain dengan wanita itu tanpa rebutan dengan Aska. Namun sekarang, untuk apa? Yang ada ia akan mendapat ceramahan panjang kali lebar dari papih Age, jika mengusik istri tercintanya itu.


"Ck! Gak lucu," kesal Shaka ketika melihat Aska justru tertawa disebrang sana.


"Oh iya, gimana keadaanmu? Kemarin-kemarin belum sempet hubungi kamu lagi. Terakhir kamu baru sadar waktu itu," tanya Aska.


"Baik! Sekarang 'kan udah punya pawang, nih!" balas Shaka merangkul bahu Jingga hingga ikut memenuhi layar ponsel tersebut.


"Hai, kak?!" sapa Jingga menyapa seraya melambaikan tangan.


"Hai, adik ipar," kekeh Aska, hingga pasangan itu ikut terkekeh.


"Apa kabar?" tanya Jingga.


"Baik, kamu gimana? Buruan bikin calon ponakan yang cantik dan lucu. Nanti aka pulang udah tinggal nimang," celetuk Aska, yang disambut tawa Jingga.


"Aisshh. Aka belum tau, kita bikin tiap malam ini," balas Shaka hingga Aska ikut tertawa.


"Aka juga, pulang bawa calon. Orang sana boleh juga, tuh!" ledek Jingga.

__ADS_1


Aska tergelak. "Disini terlalu cantik. Mereka mana mau sama aka," caletuknya.


"Ya udah deh, aka nunggu cinta pertama aja. Siapa tau dia kembali," kekeh Jingga menyindir dan disambut senyum oleh pria tampan itu.


Sena kembali merampas benda pipih tersebut. Hingga menampilkan ia dan juga suami disampingnya. "Aka ajak ngobrol juga dong Abi," pinta Sena.


Nampak wajah Abi tampak datar seperti biasa. Aska tersenyum melihat ekspresi itu. "Apa kabar Bi? Smoga kalian selalu sehat," tanya Aska dan hanya diangguki Abi.


"Buruan bikin ponakan yang manis, kek mamanya jangan kek bapaknya ya," kekeh Aska dan hanya ditanggapi decakan kesal oleh Abi.


"Senyum napa, Bi?" goda Aska.


"Dia emang gitu kak," ledek Sena yang langsung dapat rangkulan dileher dari suaminya itu, hingga Sena merengek manja meminta dilepaskan.


"Tapi bodohnya aku, malah makin cinta sama dia," lanjut Sena yang kemudian mendapatkan usekan dikepala dengan kecupan bertubi dari suaminya itu yang disertai senyuman tipis.


Percakapan pun terus berlanjut yang diiringi gelak tawa dari mereka. Hingga tak terasa acara pun akhirnya selesai. Acara yang diadakan di ballroom hotel tersebut begitu meriah dengan dihadiri banyak tamu undangan. Sepasang pengantin itu memasuki kamar hotel yang sudah disiapkan.


"Nomor berapa?" tanya Jingga yang tak tau dikamar berapa mereka menginap.


Hingga tiba-tiba saja ia memekik kaget, kala tubuhnya tiba-tiba melayang. "Aaaa!!!"


Shaka menggendong tubuh ramping yang tampak kesusahan berjalan itu ala bidal style. "Issh, bikin jatungan," kesal Jingga dan hanya dibalas senyum menggoda lelaki itu.


Tring!


Pintu lift terbuka. Sepasang manusia itu memasuki benda persegi itu untuk sampai ditempat tujuan.


"Udah turunin, aku berat!" titah Jingga, hendak turun. Namun Shaka tak mengindahkan.


"Gak apa-apa ini lebih baik," balasnya yang langsung menyambar bibir ranum itu.


Jingga yang tau itu tempat umum, mencoba menghentikan aksi suaminya itu. Namun Shaka bersikukuh mempertahankannya, hingga mereka sampai dilantai yang dituju.

__ADS_1


Shaka melepaskan pagutan mereka terlebih dahulu, untuk mencari kamar yang dituju. Sepasang pengantin itu memasuki ruangan luas yang sudah disulap sedemikian rupa, persis ala kamar pengantin baru.


Brukk!!


Shaka merebahkan tubuh ramping itu diatas kasur king size bertaburkan ribuan kelopak bunga mawar diatasnya. Kemudian langsung mengukung tubuh tersebut. Lelaki tampan itu hendak melayangkan cum buannya, namun Jingga menghentikannya.


"Tunggu!" tahan Jingga.


Sontak saja mengerenyit heran. "Kenapa?"


Jingga mendorong tubuh Shaka hingga bangkit dari posisinya. "Aku harus ke kamar mandi dulu," pamitnya. Shaka pun menghembuskan napas pasrah dan membiarkan sang istri pergi.


Didalam kamar mandi, Jingga membuka gaun panjang itu. Ia berencana membersihkan tubuhnya yang lengket. Baru saja ia menyiapkan air hangat, tiba-tiba saja sebuah pelukan didapatinya dari belakang.


"Mau nyoba sensasi baru?" bisik Shaka dengan manja.


Tanganya sudah bergerak didua buah yang kini menggnatung tanpa cangkang. Hal yang mulai membuat Jingga memejamkan mata. "Seperti apa?" tanya Jingga.


Shaka melepas semua kain yang melekat ditubuhnya. Ia menggiring Jingga menuju shower, lalu mulai membiarkan jutaan titik air membasahi tubuh mereka.


Shaka menangkup wajah cantik itu. Lalu mulai menyambar bibir ranum yang sempat ia tunda tadi. Satu tangannya memeluk posesif tubuh Jingga. Hingga tubuh mereka menempel. Si jack yangsl sudah turn on mulai menyapa paha mulus itu.


Shaka menggiring tubuh Jingga pada tembok tanpa melepaskan pagutan mereka. Lalu mengangkat tubuh Jingga untuk ia gendong dan menyatukan tubuh mereka. Bermain dengan cara berdiri membuat sensasi baru untuk pasangan yang masih termasuk baru itu.


"Ouhhh ... Sha!!!" desah Jingga menggema diruangan itu.


"Ini luar biasa 'Kan Jin? Ouhhh ...."


"He'emmhhh," Jingga mengaitkan kakinya ditubuh Shaka semakin erat dengan tangan memeluk erat juga dileher suaminya itu.


De sahan dan lengu han begitu menggema meriuhkan suasana malam yang kian memanas itu. Keduanya begitu menikmati setiap tempo memabukan tersebut, hingga entah dimenit keberapa, erangan panjang terdengar dari bibir keduanya.


Dengan napas ngos-ngosan, Shaka masih enggan melepas penyatuan mereka. Gairah yang begitu membuncak, membuat mereka dengan cepat turn on kembali. Dirasa sudah siap, Shaka beralih membawa Jingga menuju bathrob tanpa melepaskan penyatuan mereka dan mengulang aktifitas itu didalam bak berisi air hangat dengan aroma menenangkan tersebut, hingga entah dijam berapa mereka dapat menyelesaikannya.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejaonya gaisss😘😘


__ADS_2