My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Kabar bahagia


__ADS_3

Dua tahun kemudian....


"Yeyyy!!!"


Pekikan semua orang berpakaian jubah yang sama, seraya melempar topi toga keatas kepala mereka tinggi-tinggi, diringi decakan kamera yang mengabadikan momen bahagia itu.


Hari ini adalah hari kelulusan Jingga, Sena, Abi dan Rizky. Keempat sahabat itu resmi menyandang gelar S1. Wisuda yang baru saja selesai digelar, menyisakan mahasiswa yang sibuk dengan foto bersama keluarga masing-masing dihalaman kampus.


Shaka merentangkan tangan agar sang istri masuk kedalam dekapannya, dengan buket bunga yang dipengangnya kini. Jingga tersenyum lalu mendekat, bukan balasan pelukan yang Shaka dapat namun cubitan maut diperut yang diberikan istrinya itu.


"A, a, awww sakit, sakit!" ringis Shaka mencoba menahan tangan sang istri.


Jingga melepaskan cubitan itu dengan raut wajah menekuk. Terlihat perempuan itu begitu kesal pada suaminya. Bagaimana tidak? Shaka yang seharusnya hadir dari sebelum acara dimulai, justru baru hadir setelah acara selesai.


Shaka yang mengerti jika sang istri merajuk padanya, segera meraih kedua tangan istrinya itu. Namun Jingga segera menepisnya. Terdengar hembusan napas berat dari Shaka.


"Maaf! Aku gak bisa nepatin janjiku, aku salah," sesalnya. Tak ada tanggapan apapun dari perempuan yang kini melipat tangannya didada.


"Kamu tau gak? Hari ini tuh aku udah coba buat kejar waktu untuk datang kesini. Tapi sayang, aku bukan iron man," jelas Shaka dramatis. Namun masih juga tak ditanggapi Jingga.


"Ini 'kan proyek pertama aku, kamu gak mau tanya aku berhasil apa nggak?" tanya Shaka dengan wajah menunduk sendu.


Jingga melirik sekilas wajah suaminya yang menunduk. Lalu ia pun menghembuskan napasnya panjang. Tentu ia paling tak kuasa melihat wajah penuh sesal itu.


"Gimana proyeknya?" tanya Jingga.


Shaka mendongakan wajah dengan ekspresi sama. Lalu ia kembali merentangakan tangan. Dari raut wajahnya, Jingga mengerti kemungkinan sudah terjadi hal buruk pada suaminya itu.


Jingga masuk kedalam dekapan pria yang kian dewasa itu dan hendak memeluknya erat. Namun, tanpa diduga Shaka justru memeluk pinggang Jingga dan mengangkatnya tinggi, bahkan memutarnya, hingga Jingga memekik kaget.


"Sha!!!"


Senyum Shaka tiba-tiba mengembang. "Aku berhasil, Jin! Aku berhasil!" teriaknya kegirangan. Bahkan ia melupakan orang-ornag sekitar yang kini tengah menatap heran pada mereka.


Jingga terperangah mendengar itu. Sungguh suatu keajaiban, sang suami dapat melakukan percobaan pertamanya dengan sukses. Padahal dari awal mereka tidak meyakini jika Shaka dapat melakukannya. Namun karena itu tantangan dari sang papa, untuk membuktikan dirinya sudah mampu menjalankan bisnis yang papanya itu geluti dan membuktikan bahwa dirinya sudah tidak main-main lagi. Shaka pun benar-benar bekerja keras akan hal itu.


"Se-serius?" tanya Jingga tak percaya dan diangguki Shaka dengan semangat seraya menghentikan putaran itu.

__ADS_1


Senyum Jingga mengembang. Ia tangkup kedua pipi suaminya, lalu melayangkan kecupan bertubi-tubi pada wajah tampan itu. Hingga keduanya tertawa bersama dengan Shaka kembali memutar tubuh ramping itu.


Dari kejauhan, Rizky merangkul Renata yang juga mengenakan pakaian yang sama, tersenyum melihat pasangan itu. Begitupun Sena, yang juga tengah merangkul manja lengan Abi sama tersenyum melihat pasangan itu.


"Akhirnya Jinjin tertawa juga. Merinding aku lihat dia dari tadi merenggut mulu," celetuk Rizky.


"Iya. Untung pawangnya cepet datang," balas Renata dan hanya dibalas senyum oleh Sena.


"Eh tapi ya, sekarang Jinjin lebih sensian. Kenapa ya? Apa dia lagi dapet?" lanjut Renata bertanya heran.


Sena hanya tersenyum, lalu tiba-tiba ia menyeret Abi untuk pergi meninggalakan pasangan itu.


"Ya elah ditanya malah pergi," kesal Renata yang tak dapat tanggapan apa pun dari Sena.


Rizky terkekeh seraya mendekap istrinya itu. Memanglah selama ini Sena dan Renata masih saja kurang akur. Meski banyaknya mereka kompak. Namun ada kalanya mereka seperti itu.


"Udahlah biarin aja," ucap Rizky menenangkan dan hanya dibalas cebikan bibir oleh Renata.


"Hai Mommy, baby Rey datang," pekik seorang wanita paruh baya yang membawa baby girl gembul digendongannya.


"Ishh baby Ray dulu," seorang wanita sama menyerobot mendahului wanita itu, dengan sama menggendong baby girl digendongannya.


"Ya ampun, Ma. Udah deh jangan mulai," kesal Renata.


"Siapa yang mulai? Nih, mertua kamu yang mulai," sinis mama Jesi.


"Heleh, nyalahin orang. Yang nyerobot siapa?" sinis mamih Feby tak terima.


"Ck! Udah-udah, kalian tuh. Kasihan tuh baby twin, harus dengerin cerocosan kalian mulu," lerai Rizky seraya mengambil alih baby Rey dari gendongan sang mamih. Begitupun Renata, ia meraih baby Ray dari sang mama.


Kedua nenek itu menekuk kesal, karena cucu kesayangan mereka diambil kedua orang tuanya.


"Ck! Kenapa diambil sih, biar mamih aja yang gendong," protes mamih Feby.


"Iya, kalian 'kan masih foto-foto, mama aja yang gendong," sambung mama Jesi.


"Kita juga mau ambil foto sama baby twin. Udah kita foto bareng aja dulu," final Renata.

__ADS_1


Akhirnya kedua nenek itu pasrah dan ikut foto bersama dengan pasangan orang tua tersebut, bersama baby twin yang baru menginjak enam bulan itu.


Disisi lain, Sena mengajak Abi untuk menunjukan sesuatu. Abi menautkan alisnya kala Sena terus memberinya teka teki dan beberapa pertanyaan.


"Sebenarnya, apa yang mau kamu tunjukin. Hem?" tanya Abi dengan sabar.


"Kamu jawab dulu. Kamu bakal seneng gak kalo aku minta hadiah dari kabar yang pengen aku kasih tau?" tanya balik Sena.


Abi menarik satu sudut bibinya, lalu mengusek gemas rambut istrinya itu. "Iya," balasnya singkat namun begitu hangat. "Apa?"


Sena merangambil sesuatu dari dalam tasnya. Senyumnya tak henti mengembang. Lalu dengan cepat menunjukan benda itu kehadapan Abi. "Tadaa ...."


Sektika Abi mematung menatap benda stik di tangan Sena. Nampak dua garis dengan emot smile didalam benda tersebut.


"Kita berhasil menciptakan darah yang sama, Bi," ucap Sena dengan mata yang berkaca-kaca.


Abi masih terdiam belum menyahuti ucapan sang istri. Sena yang belum juga mendapati tanggapan, melunturkan senyumnya dan kembali bersuara.


"Kamu kenapa diem? Kamu gak seneng?" tanya Sena sendu, namun Abi masih juga diam, tak bersuara.


"Jadi ... Kamu gak mengingkankannya, ya? Kamu gak ingin-"


Grep!!


Ucapan Sena terputus, kala Abi mendeka erat tubuhnya. Bulir hangat dari kedua ujung matanya jatuh begitu saja. Rasa haru dan bahagianya tak dapat ia sembunyikan.


"Jika ada kata yang lebih bermakna dari kata bahagia, akan aku ucapkan itu," ucapnya, kemudian melayangkan kecupan bertubi-tubi dikepala sang istri.


Sena tersenyum seiring dengan air mata yang jatuh, setelah sedari tadi ia bendung. Ia sengaja menyembunyikan kebahagiaan itu dari pagi tadi, untuk memberi kejutan pada Abi.


"Makasih, makasih sudah membiarkan darah kita bersatu."


\*\*\*\*\*\*


**Maaf ya, mak othor baru up lagi. Abis jadi panitia hajat dulu soalnya🤭 yuk jangan lupa jejaknya!😘


Yuk baca juga karya baru author! keluar dari keluarga somplak. Dijamin menegangkan deh🙈**

__ADS_1



__ADS_2