
Flashback on~
Dimalam lamaran...
"Aka gak ada bang," ucap mama Ay khawatir, seraya menuruni anak tangga.
Ia yang hendak memangggil sang putra untuk bersiap berangkat, tak menemukan lelaki tampan itu dikamarnya.
"Coba telepon!" titah papa Ar.
"Nih!" mama Ay memperlihatkan ponsel yang ia temukan dikasur king size dikamar putranya itu.
Papa Ar menghembuskan napas panjang seraya menggelengkan kepala. Kemudian pria paruh baya itu mengintip jendela melihat kedaan diluar. Benar saja dugaannya, kuda besi hitam yang sempat ia lihat terparkir dihalaman depan sudah hilang bersama pemiliknya.
"Anak itu, ck!" papa Ar menggelengkan kepala melihat kelakuan putranya.
"Dia kabur lagi, bang?" tanya mama Ay dan diiyakan sang suami.
"Hiissh, dasar anak nakal. Bilangnya minta di lamarin, eh dianya malah keluyuran. Maunya apa sih anak," kesal mama Ay.
Ditengah kegundahan mereka, dering ponsel mengalihkan atensi keduanya. Terdapat nama si calon besan yang menghubungi wanita yang terlihat stres dengan kelakuan putranya itu.
"Tuh 'kan bang, Agel udah nelepon. Gimana ini?" mama Ay panik, dan tak mengangkat panggilan tersebut. Wanita itu mondar mandir seperti setrikaan, hingga sang suami pun mencoba menenangkannya.
"Udah sayang, tenang dulu! Bagaimanapun kita harus berangkat sekarang. Syukur-syukur tuh anak nyusul. Kalo nggak, tetap kita lamarin. Kasihan juga mereka pasti sudah nunggu," jelas papa Ar menenangkan.
Mama Ay menghembuskan napas kasar. Ia pun mengangguk mengiyakan. Kalimat sang suami memang paling menenangkan ditelinga ibu dua anak ini. Apa pun yang dikatakan suaminya itu, selalu menjadi obat dari setiap denyut dikepala yang ditimbulkan dari kelakuan putra putrinya.
Papa Ar tersenyum seraya mengusap sayang kepala sang istri, tak lupa kecupan dalam ia layangkan dipucuk kepala wanita tercintanya itu. "Ya udah, kamu cari dulu gih, cincinnya. Dia bilang 'kan sudah siap! Abang panasin mobilnya dulu," titahnya dan diiyakan mama Ay.
Sesuai rencana mereka melakukan tugasnya masing-masing, sebelum akhirnya memasuki kijang besi itu dan melesat meninggalkan garasi rumah.
Tak berselang lama, mobil sepasang suami istri itu sampai didepan rumah Jingga. Jarak tang tak terlalu jauh, membuat mereka dengan cepat sampai ditempat tujuan.
"Shaka nya mana?" tanya mama Agel heran ketika hanya melihat kedua sahabatnya saja diambang pintu. Setelah ia membuka benda persegi dihadapannya.
__ADS_1
"Entahlah, kesel aku sama tuh anak," gerutu mama Ay mengadu pada sahabat yang sebentar lagi bakal jadi besannya itu.
"Hai bang, Ay, yuk masuk!" sapa papa Juna yang baru datang menghampiri mereka.
Papa Ar mengangguk mengiyakan, namun terlihat papa Juna, mebcari ada yang kurang. Papa Ar yang mengerti segera merangkul pundak sahabatnya itu, seraya menepuk-nepuknya.
"Jangan cari calon mantu kamu! Aku gak yakin dia datang," kekeh papa Ar.
Papa Juna menghembuskan napas panjang. "Lagi?" tanyanya. Papa Ar hanya mengedikan bahu sebagai jawaban.
Sebenarnya terlalu malu untuk pria yang hampir memasuki usia setengah abad itu, berhadapan dengan calon besan dengan keadaan seperti saat ini. Berhubung calon besan adalah sahabatnya, bahkan tau juga perkara Shaka yang nakal. Maka ia sudah tak sungkan lagi untuk mengobrol santai dengan pria yang berusia hanya beda beberapa tahun saja dengannya itu.
"Sabar bang, butuh waktu emang untuk merubah sebuah kebiasaan. Lambat laun, dia pasti bisa," ucap papa Juna menenangkan. Kedua pria itu mendudulan diro disofa bersamaan.
"Aku harap begitu Jun. Entahlah ... Apa kau yakin mau menerima dia sebagai menantu?" tanya papa Ar.
"Tentu saja, bang. Mereka saling mencintai. Apa ada alasan buat kita menghalangi cinta mereka, hem?" jelas papa Juna dan dibalas senyum papa Ar.
"Meski kita gak tau apa yang akan terjadi diantara mereka, bagiku Shaka tetaplah putraku. Dan abang tetap sahabatku, keluargaku. Gak akan ada yang berubah," lanjutnya.
"Udah santai aja bang," balas papa Juna dutanggapi senyuman papa Ar.
Sementara para papa tengah mengobrol sambil duduk santai. Para mama sibuk mengobrol sambil masuk kearah dapur.
"Aku kesel, Gel. Sama tuh anak. Dia sendiri yang minta dilamarin, malah dia sendiri yang kabur gitu aja. Malu tau gak, aku datang kesini. Kek kurang menghormati kalian," cerocos mama Ay, lalu mendudukkan diri di kursi meja makan.
Mama Agel terkekeh. Sahabatnya ini memang tak pernah berubah. Ngomong nyerocos bagai ciri khas dan gaya bicaranya.
"Udahlah, Ay. Namanya juga anak muda. Kita juga pernah mengalami masa itu, 'kan?" balas mama Agel menenangkan.
"Pokoknya, aku mau kasih dia pelajaran. Kalo dia sampai gak datang juga. Kita prank dia," tegas mama Ay dan hanya dibalas kekehan oleh mama Agel.
Kini kedua wanita sudah bergabung dengan para suami mereka, seraya membawakan makanan dari dapur. Begitupun Jingga yang sudah turun dari kamarnya.
"Maafin Shaka ya, Jin!" sesal mama Ay.
__ADS_1
"Gak apa-apa, Ma," balas Jingga tersenyum.
"Ah, sini mama peluk!" mama Ay merentangkan tangan meminta calon mantunya itu masuk kedalam dekapan. Dengan senang hati Jingga memeluk calon mama mertua rasa mama sendiri itu.
"Ini yang bikin mama, ngebet banget pengen aka sama Jinjin berjodoh. Kalian itu benar-benar saling melengkapi. Entah apa yang membuat aka melengkapimu, tapi kamu benar-benar melengkapi dia," ungkap tulus mama Ay membelai rambut gadis itu.
"Makasih ya, Nak. Selalu sabar menghadapi Shaka yang kekanak-kanakan. Smoga hubungan kalian kedepannnya lebih baik lagi, langgeng sampai tua, amin!" lanjut mama Ay dan diaminkan orang-orabg disana.
"Pokoknya, inget ya!" mama Ay melerai pelukannya dengan Jingga. "Kalo sampai aka gak datang juga. Fix, kita prank dia. Bilang kalo lamaran ini gak jadi, setuju?" mereka pun mengangguk mengerti.
"Dan ini," mama Ay memperlihatkan kotak merah ditangannya.
"Eh kita belum ada acara penyambutan dan segala mcan dulu ini, gak ada basa-basi dulu?" tanya mama Ay.
"Udah gak apa-apa kita ke intinya aja," balas mama Agel.
"Masa iya? Harusla sedikut resmi," protes mama Ay.
"Ya udah, bang Ar mulai aja ke intinya," balas papa Juna.
"Baiklah!" final papa Ar.
"... Jadi, kedatangan kami kesini, untuk meminang Nak Jingga untuk menjadi calon istri untuk Shaka putra kami, gimana Nak. Apa kamu bersedia?" tanya papa Ar.
Jingga mengangguk mantap. "Iya, aku bersedia," balasnya singkat, padat, dan jelas.
Semua mnegucap syukur serentak, sebelum akhirnya, mama Ay menyematkan cincin berlian dijari manis gadis itu, lalu mereka pun bertepuk tangan menyambutnya.
"Baiklah, Jin. Kamu bisa menyimpannya dulu sebelum Shaka tau, dan mama akan bawa kotak ini pulang. 'Kan lumayan tuh bisa membuat dia panas dingin, mencari cincin yang pastinya dia sangka itu dicuri.
Semua orang disana tergelak. Mereka pun sepakat untuk merahasiakan itu. Sekali-kali mengerjai lelaki itu boleh kali ya? Itu terasa menyenangkan.
\*\*\*\*\*\*
Hayu gimnaa ini, crazy up! ada ynag mau nambahin kopi sama kembang. yuk jangam lupa jejaknya gaisss😘😘
__ADS_1