
Seorang gadis berjalan pelan memasuki pekarangan rumah yang terdapat bendera kuning berkibar, menandakan rumah itu tengah berduka. Hatinya berdebar dengan lutut lunglai, yang hampir saja membuat ia terjatuh. Sekuat mungkin ia tetap berjalan masuk kedalam rumah itu, menerobos orang-orang yang memenuhi teras rumah.
Deg!
Gadis itu terpaku, menatap dua orang wanita tengah menangis tersedu-sedu didepan seseorang yang terbujur kaku diatas kasur. Air dari kedua sudut matanya mulai menggenang dan siap tumpah melihat siapa yang kini terbaring disana. Ia semakin mendekat dengan memaksa menyeret tubuhnya yang tak dapat bergerak.
"Gak mungkin! Gak mungkin!" cicitnya.
Buliran hangat yang menggenang itu, akhirnya mendesak keluar. Gadis itu berlari dan menghambur memeluk tubuh tegap yang tak lagi bergerak tersebut.
"Nggak! Ini gak mungkin! Kamu gak boleh ninggalin aku! Bangun! Shaka bangun!" jeritnya.
"Kamu janji gak bakal ninggalin aku, kamu janji untuk gak terluka! Kumohon bangun!"
"Shakaaaa!!!!"
Hah~hah~
Jingga terbangun dari tidurnya dengan napas tersenggal-senggal. Peluh mengucur dari area dahinya. Ia meraba pipinya yang membasah, ternyata ia benar-benar menangis.
"Apa yang terjadi? Kenapa mimpiku menakutkan sekali?" gumamnya.
Ia meraih gelas dari atas nakas, lalu menegak air tersebut hingga tandas. Sungguh hatinya pun ikut sakit melihat mimpi buruk itu. Setelah dirasa cukup tenang, Jingga mencari ponsel miliknya yang entah ia simpan dimana. Tak lama mencari, ia pun menemukan benda tersebut terselip diantara bantal. Penampilan pertama yang ia lihat wajah tampan itu memenuhi layar. Ia lupa mengembalikannya dari galeri foto.
Jingga menekan aplikasi hijau, tak ada notif atau panggilan yang masuk. Hanya terdapat chat terakhir yang dikirim sang kekasih dua jam yang lalu. Ia membaca kembali isi chat tersebut.
My-Sha
[Aku janji gak akan terluka. Dan ini yang terakhir.]
Entah kenapa chat itu membawa firasat buruk untuknya. Ditambah mimpi itu, sungguh membuat hati Jingga teramat gelisah. Untuk mengetahui kabar sang kekasih yang kemungkinan sudah selesai bertanding, ia pun memutuskan untuk melakukan panggilan pada nya.
__ADS_1
Satu kali, panggilan itu tak ada jawaban. Dua kali, masih juga tak ada jawaban. Jingga mulai khawatir, hatinya berdebar tak beraturan. Hingga ia pun mengingat siapa yang harus ia hubungi.
"Dimana Shaka?" tanya Jingga tanpa basa-basi pada seseorang disebrang telepon.
"Apa??" pekiknya kaget. Ia sampai menjatuhkan layar pipih dari tangannya.
"Gak mungkin," cicitnya yang tiba-tiba teringat akan mimpinya tadi. "Nggak. Ini gak boleh terjadi, kamu gak bisa ninggalin aku, Sha!"
Jingga bangkit dari ranjang, meraih jaket dan helmnya. Tak lupa juga ia mengambil kunci motor dari atas meja nakas. Ia bergegas keluar kamar. Bahkan ia lupa mengganti pakaian, yang kini hanya mengenakan piyama. Terlalu kalut, ia juga lupa meminta izin pada kedua orang tuanya.
Tanpa basa basi ia memacukan kuda besi merahnya melesat meninggalkan halaman rumah. Membelah jalan raya dengan kecepatan diatas rata-rata. Waktu yang masih menunjukan pukul tiga pagi, membuat jalanan masih sedikit sepi. Hingga lampu merah pun diterobosnya tanpa ragu.
Tak membutuhkan waktu lama, kuda besi itu sampai dihalaman rumah sakit. Tanpa memarkirkan terlebih dahulu motor merah itu, Jingga turun dan membiarkan motor itu terparkir sembarangan disana. Pikiranmya hanya tertuju pada satu, keadaan Shaka yang dikabarkan tengah berada diruang operasi.
Ia berlari memasuki gedung tinggi itu, mencari ruangan operasi yang berada dilantai lima. Ia menunggu pintu lift yang tak kunjung juga terbuka.
"Ck!" ia berdecak dan memilih memasuki pintu darurat untuk segera sampai dilantai yang dituju.
Tap! Tap! Tap!
Ia kembali berlari mencari ruang operasi, hingga ia melihat mama Ay dan papa Ar beserta Edo diruangan tunggu, tepat didepan ruang operasi. Ia pun mendekat dan menghampiri mereka. Namun baru saja ia hendak menyapa calon mertuanya, sebuah brankar dari dalam membuat gadis itu terpaku. Seseorang terbujur kaku diatas brankar tersebut dengan selimut menutupi seuluruh tubuhnya. Otaknya seketika berputar pada mimpi tadi.
"Nggak mungkin, ini gak mungkin!" tanpa aba-aba Jingga membuka helm yang masih bertengger dikepala, lalu melemparnya. Kemudian berlari dan memeluk tubuh berselimutkan kain putih tersebut.
"Bangun! Kamu gak bisa ninggalin aku kek gini. Kamu janji buat fokus mempersiapkan pernikahan kita. Kamu janji untuk hidup bersamaku sampai kita menua bersama. Apa kamu akan melanggar janjimu itu, hah? Berhenti egois dan bangun!" jerit Jingga. Air matanya tumpah seiring dengan sesak didadanya.
"Jin!" mama Ay merangkul pundak gadis itu untuk menenangkannya. Membawa sang gadis kedalam pelukannya.
"Kenapa dia selalu egois, Ma? Kenapa?" lirih Jingga melesakan wajah pada dada mama Ay.
"Maaf Jin! Tapi-" mama Ay hendak menjelaskan namun Jingga kembali menyelaknya.
__ADS_1
"Kenapa dia gak pernah mau tau perasaanku? Kenapa dia-"
"Dok, bagaimana keadaan Shaka?" suara Jingga terselak oleh suara papa Ar.
"Syukurlah operasinya berjalan lancar. Mungkin butuh waktu untuk dia sadar kembali. Mohon untuk bersabar ya!" jelas sang Dokter dan diangguki ketiga orang disana.
"Syukurlah! Terimakasih banyak, Dok!" balas papa Ar dan diangguki Dokter tersebut.
Seketika Jingga terkesiap, ia menegakkan diri dan menatap brankar yang sempat ia peluk penghuninya. Ternyata brankar itu sudah menghilang. Dengan wajah bingung, gadis itu bertanya-tanya. "Tadi itu?"
Mama Ay tersenyum membelai rambut Jingga. "Tadi itu pasien dari ruangan operasi sebelah," jelas mama Ay.
"Bukan Shaka?" tanya Jingga lagi.
"Bukan. Shaka baik-baik aja. Seperti kata Dokter tadi," balas mama Ay.
Jingga berhambur memeluk tubuh wanita itu. Hembusan napas lega terdengar dari gadis cantik itu. Mama Ay merasa terharu, akan cinta yang diberikan gadis itu untuk putranya. Ia berdoa dalam hati untuk kesembuhan putranya dan hubungan sang putra dengan Jingga yang sudah hampir sampai ditahap akhir, ditahap jenjang pernikahan.
**
"Ini udah siang, sebaiknya kamu pulang dulu!" titah mama Ay pada Jingga tnag masih duduk dikursi, disamping brankar.
"Mama aja dulu yang pulang. Biar aku jagain aka," balas Jingga yang tak melepaskan genggamannya.
Kini hanya tersisa dua orang saja diruangan itu. Papa Ay pergi ke kantor polisi untuk dimintai keterangan mengenai kecelakaan tersebut ditemani papa Juna. Sedangkan Edo menemui Sam, sesuai perintah si ketua klain mafia tersebut.
"Baiklah! Mama Agel juga sebentar lagi datang. Mama pulang sebentar ya, ambil baju ganti juga buat aka," pamit mama Ay dan diangguki Jingga.
Setelah kepergian mama Ay. Jingga mendekat membelai wajah yang masih pucat dengan perban dikepala itu.
"Bangunlah! Berhenti membuatku khawatir. Berhenti membuatku takut! Aku mencintaimu, Sha."
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Masih ada bawang yaa😁 Jangan lupa jejaknya yaa😘😘