My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Menjenguk


__ADS_3

**


"Kamu disini?" tanya Shaka pada gadis yang baru saja turun dari kuda besi berwarna merah.


Jingga menyunggingkan senyum tipis. "Hem, mereka akan mengutukku, jika gak segera menemui mereka," balasnya, seraya menyimpan helm diatas motor tersebut. Shaka terkekeh, seraya mendekat lalu mengusek pucuk kepala gadis itu gemas.


Si penumpang yang ikut dijok belakang Jingga memutar bola mata malas. Ia kesal melihat adegan itu. Padahal ia ingin sekali segera memasuki gedung tinggi tersebut untuk bisa menemui seseorang yang sudah membuat dirinya khawatir. Eh! Justru ia disuguhi pemandangan uwu yang kemungkinan akan membutuhkan waktu lama.


"Ck! Lama lu. Dah lah, gue masuk duluan," kesal Renata si penumpang itu. ia segera berlenggang masuk meningglkan sejoli itu diparkiran.


"Cih! Napa tuh anak? Terus, gimana ceritanya dia bisa sama kamu?" cecar Shaka dengan beberapa pertanyaan.


"Dia nyegat aku dijalan, terus nebeng sama aku buat jenguk ayangnya," kekeh Jingga memberi penjelasaan.


"Aishh, dasar emang si Iky. Lagaknya aja, ogah-oghan. Kucing mana coba yang gak mau dikasih ikan. Ck, ck, ck!" Shaka menggelengkan kepala mengingat sahabat tengilnya yang menolak gadis itu mentah-mentah, ketika mereka membahasnya kemarin.


Jingga terkekeh, lalu ia meraih lengan berotot yang tertutup baju itu. Menggandengnya untuk berjalan memasuki gedung rumah sakit dihadapannya.


Shaka tersenyum mengusek pucuk kepala Jingga, seraya mengikuti langkah gadis itu. Keduanya bertukar cerita, lebih tepatnya, Shaka yang menceritakan kejadian semalam yang menimpa Sena, Abi dan juga Rizky.


Sejoli itu memutuskan untuk berpisah arah. Jingga yang harus masuk ke kamar Rizky terlebih dahulu, karena Renata yang masih menunggu dirinya diluar ruangan itu. Sedangkan Shaka harus masuk kekamar sang adik, karena ia membawakan kebutuhan yang diperintahkan sang mama.


**


Tiga puluh menit berlalu, kini Jingga sudah keluar dari ruangan Rizky, diikuti Renata. Ia mengurungkan niatnya untuk menjenguk satu sahabatnya lagi, karena panggilan darurat dari kampus, yang memberitahu bahwa kelas dimajukan lebih awal. Ia pun memilih bergegas berangkat, lalu menghubungi Shaka disepanjang dirinya berjalan.


"... Nanti aku balik lagi,"


"Hem, oke!"


Panggilan singkat itu berakhir. Kedua gadis itu berjalan tergesa mengejar waktu. Sebenarnya hanya Jingga yang tergesa untuk masuk kelas, karena jurusan mereka yang memang berbeda. Renata ikut tergesa karena ingin segera keluar dari sana dan segera mencegat taxi. Terlalu malu baginya nebeng kembali pada Jingga, setelah tercyduk tadi.


"Mau kemana?" tanya Jingga heran, ketika melihat gadis itu justru nyelonong dari parkiran.


"Nyari taxi," ketus Renata.


"Gak mau bareng?" tanya Jingga lagi.


"Nggak usah!" ketusnya lagi, tanpa membalikan tubuh dan berjalan keluar dari area itu.

__ADS_1


Jingga mengedikan bahunya acuh. Ia tak menghiraukan gadis itu dan segera mengenakan helmnya. Tanpa memedulikan Renata yang masih mencegat taxi, gadis itu melesat membelah jalan raya dengan kecepatan tinggi.


"Isshh Jingga ngeselin deh. Aku beneran ditinggal," gerutu Renata. Padahal ia sendiri yang memilih untuk mencari taxi, dari pada ikut bareng dengan Jingga.


Dengan terus menggerutu, ia pun akhirnya mendapatkan taxi. Segera ia naik dan melesat menuju kampus.


**


"Jinjin!" pekik Sena, ketika gadis itu baru saja memasuki ruangan.


Jingga tersenyum melihat sang sahabat yang sebentar lagi jadi adik iparnya itu, sudah terlihat lebih membaik. Sesuai janji, setelah selesai kuliah, Jingga menjenguk perempuan itu. Bahkan Shaka bersikeras untuk menjemput , hingga ia harus menitipkan si merah pada seseorang untuk dibawanya pulang.


"Keknya udah sembuh, harusnya gak perlu dijenguk, ya?" ledek Jingga menghampiri, lalu masuk sedalam pelukan Sena yang sudah merentangakan tangan.


"Ishh, sahabat lucknut! Eh bukan, kaka ipar lucknut maksudnya," kekeh Sena yang kemudian membuat mereka tergelak.


"Nah, udah tau 'kan calon kakak ipar. Jadi, mulai sekarang kamu harus lebih sopan," celetuk Shaka mencomot buah anggur dari keranjang buah diatas nakas.


"Heleh, harus kek gimana. Kita tiap hari kek gini, gak pernah ribut. Gak kek sama Aka. Eh. Emang aka mah udah bawanya, ya. Ngeselin! Jadi ngajak ribut mulu," balas Sena dengan nada meledek.


"Ck!" Shaka berdecak kesal dan hendak menoyor kepala sang adik, namun hal itu ditepis pria yang sedari tadi hanya diam menyimak.


"Issh, Aka, Abi! Kalian apa-apaan sih," kesal Sena mencoba menghentikan keduanya.


Tentu saja hal itu membuat Jingga menghembuskan napas panjang yang disertai gelengan kepala. Ia pun menarik tangan Shaka untuk menjauh "Ayo pergi!" ajaknya.


''Kemana?" bukan Shaka tapi Sena yang bertanya. "'Kan baru nyampe?"


"Ada urusan. Ntar kesini lagi," pamit Jingga yang sudah menyeret Shaka keluar dari sana.


"Kita mau kemana?" tanya Shaka dengan nada menggoda, menolehkan wajahnya, hingga mengikis jarak dengan sang gadis.


"Kemanapun, asal kamu gak berisik," kekeh Jingga, seraya berjalan lurus kedepan.


"Aishh," Shaka mengusek pucuk kepala Jingga mendengar kalimat ledekannya itu.


Keduanya berjalan beriringan menuju parikiran mendekati kijang besi yang akan mereka tumpangi.


"Kamu belum jawab pertanyaanku," ucap Jingga ketika mereka baru saja mrndaratkan bokong diatas kursi dimobil tersebut.

__ADS_1


"Apa?" tanya Shaka pura-pura tak mengerti.


Jingga menghembuskan napas pelan. "Si black dimana?" tanyanya untuk ke sekian kali.


Dari semenjak mereka berangkat kesana, Jingga bertanya dimana motor hitam kesayangan kekasihnya itu. Benda yang tak pernah lepas dari Shaka itu, tiba-tiba saja jauh dari si empunya. Bukankah itu mencurigakan? Pikir Jingga.


Shaka tersenyum, "ada, dia lagi dimodifikasi anak-anak," balasnya.


"Modifikasi?" tanya Jingga heran.


"He'em. Balapan kali ini sangat penting, jadi harus benar-benar dipersiapakan," balas Shaka.


"Harus?" tanya Jingga lagi.


"Iya dong sayang," balas Shaka menjawil kedua pipi gadis itu, namun ditepis kasar olehnya dengan tatapan menghunus tajam.


Shaka tergelak seraya mengusek pucuk kepala Jingga. "Iya, iya maaf!"


"Ada penyetelan dikit sama si Alexa," lanjut Shaka menjelaskan.


Jingga menaikan sebelah alisnya, meminta penjelasan lebih detail. Shaka yang mengerti kembali memberi penjelasan lebih rinci.


"Jadi, si Alexa itu montir juga. Dia yang menyetel semua motor anak-anak. Ini pertama kali, si black ditangani dia. Biasanya 'kan dia ditangani si Jaki. Tapi dilihat dari kemampuannya dia sudah mahir dalam hal itu," jelas Shaka dan hanya diangguki mengerti oleh Jingga.


Gadis itu terdiam. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba saja tak tenang, mengingat lima hari lagi pertandingan Shaka dengan mantan kekasihnya itu. Apakah semua akan baik-baik saja? Pikirnya.


"Hei, kamu kenapa?" tanya Shaka menangkup wajah sang kekasih dan hanya dibalas gelengan Jingga yang sempat terkesiap.


"Apa kamu mengkhawatirkanku?" tanya Shaka dan dibalas senyum oleh Jingga.


Shaka pun ikut tersenyum. "Percayalah, semua akan baik-baik aja. Lagian ini bukan pertama kali buatku, hem?"


Jingga mengangguk mengerti. Shaka tersenyum lebar, lalu mengecup kening jingga yang dilanjutkan mengusek pucuk kepalanya. Kemudian siap melesat meninggalkan tempat tersebut.


Jingga tersenyum, meski dengan hati yang masih saja tak tenang.


'Smoga semuanya baik-baik saja!'


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya yaa gaiss๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2