
"Woy! Maling!"
Dengan insting cepat, Shaka segera loncat dari balkonnya menuju balkon sang adik. Jarak dua meter tak menyusutkan nyalinya untuk melompati pagar balkon tersebut. Jika saja, lelaki itu salah perhitungan. Sudah dipastikan ia akan nyungseb ke bawah.
Grepp!!
Shaka dapat menangkap tubuh tegap yang sama sepertinya itu, melingkarkan tangan dileher dan perut orang yang dapat dipastikan seorang pria itu dari belakang.
"Brengs*k! Lu mau kemana hah?" tanyanya. "Berani banget lu maling disini? Gue hajar lu," Shaka mengeratkan rangkulan lengannya hingga membuat lelaki itu terbatuk dan hampir saja kehilangan oksigen.
Tiba-tiba saja Sena dari dalam memekik kaget. "Aka! Aka apa-apaan lepasin!" Sena segera mengeplak tangan sang kakak dan mencoba membantu lelaki itu.
"Kamu ngapain bantuin maling? Kita harus bawa ke pak RT, biar dihajar warga sekalian," sungut Shaka menggebu.
"Ya ampun, kak. Dia bukan maling, dia calon suami aku!" tegas Sena seraya menarik keras lengan sang kakak, hingga terlepas dari laki didepannya.
"Uhuk!! Uhuk!!"
"Abi! Kamu gak apa-apa?" pekik Sena pelan seraya mendekat menangkup wajah calon suaminya itu. Abi hanya menggelengkan telapak tangan sebagai jawaban. Dengan menetralkan lehernya yang tercekat.
"Abi? Ngapain lu disini? Bukannya lu dipingit gak boleh kesini?" cecar Shaka dengan berbagai pertanyaan.
"Syuutt!! Jangan keras-keras," Sena membekap mulut sang kakak yang hampir menggemparkan seisi rumah. "Kalo mereka tau, bahaya!" peringatnya.
"Cih! Jadi kalian sembunyi-sembunyi nih?" selidik Shaka yang kemudian membuat Sena bungkam. Ia merutuki bibirnya yang losdol. Harusnya ia tak membeberkan fakta pada sang kakak yang kemungkinan ember itu.
"Apa perlu a-" ucapan Shaka terpotong oleh telapak tangan Sena yang membekapnya.
"Ishh aka tuh cowok, jangan ember napa?" kesal Sena. Shaka hanya memutar bola mata malas mendengar ocehan sang adik.
"Kita bikin kesepakatan lagi aja deh," tawar Sena seraya melepas bekapannya. Shaka menaikan sebelah alisnya meminta penjelasan.
"Aku balikin credit card aka, plus ngabulin satu permintanan aka gimana?" lanjut Sena tawar menawar.
Shaka tampak berpikir sejenak. Memikirkan apa yang bisa ia dapat dari adik manjanya itu. Hingga ia menyeringai kala mendapatkan ide apa untuk dimintanya.
__ADS_1
"Oke, apa pun?" tanya Shaka memastikan dan diangguki Sena denggan sedikit ragu. Tentu ia mengingat hal nyeleneh yang pernah ia pinta. Mungkinakh sang kakak akan balas dendam padanya? Pikirnya.
Gadis itu sampai harus menelan salivanya susah payah kala melihat seringai diwajah sang kakak.
Abi hanya menghembuskan napas panjang melihat kelakuan kedua kakak beradik itu, ia pun memutuskan untuk segera turun sebelum penghuni yang lain menyadari keberadaannya. Meninggalkan dua manusia yang masih saja tawar menawar tersebut. Hingga mereka tak menyadari kepergian Abi.
"Oke, satu permintaan selain balikin credit card. Kunci motor," celetuk Shaka. Sontak saja Sena mengerenyit heran. "Kunci?"
"Iya. Kamu bujuk mama buat ngasih kunci motor aka. Gimana pun caranya terserah kamu. Yang penting kunci itu sudah ada ditangan aka besok. Maka tragedi maling pun," Shaka menghentikan ucapannya, menggerakan jari jempol dan telunjuk didepan bibir seolah menarik resleting. "End," lanjutnya.
Sena mencebikan bibir mendapat tawaran yang menurutnya sedikit susah itu. Tentu saja membujuk sang mama tidak seperti membujuk sang papa. Banyak konsekuensi yang harus siap ia terima. Namun demi tak terbongkarnya drama yang terjadi, ia pun mengangguk menyetujui.
'Iyain dulu aja dah. Soal berhasil apa nggaknya, gimana ntar,' batin Sena cekikikan.
"Nah gitu dong. Kita tuh harus jadi adek kakak mutualisme. Saling menguntungkan, bukan saling merugikan," celetuk Shaka seraya mengusek pucuk kepala sang adik.
"Heleh, mutualisme. Yang ada, aka tuh merugikan aku," protes Sena
"Eh oneng. Siapa yang merugikan?" tanya Shaka mengacak rambut Sena kasar, hingga gadis itu menepis disertai decakan kesal. "Kalo mama sama papa tau, gagal nikah emang mau?" tanyanya lagi.
"Isshh aka tuh ngeselin deh," rengek Sena. "Bi, ka-" Sena berbalik, dan hendak bicara pada calon suaminya yang entah kemana.
"Ck! Palingan udah balik," selak Shaka.
"Kapan?" tanya Sena heran.
"Ya, mana aka tau. Tuh mulut ngoceh mulu sih. Calon suami ngilang aja, ampe gak nyadar," cerocos Shaka yang hanya dibalas cebikan bibir gadis cantik itu.
"Dah lah, ngantuk mau tidur. Awas jangan lupa, bujuk mama!" peringat Shaka dan diiyakn Sena dengan raut wajah tak bersahabat.
Hingga saat Shaka hendak membuka pintu balkon memasuki kamar Sena, ia kembali berbalik dan memberi peringatan untuk kedua kalinya. "Ingat! Besok kunci harus ditangan aka. Kalo nggak-"
"Aka bocor," selak Sena seraya mendekat dan hendak mengusir sang kakak hingga ia berdecak kesal.
Keributan pun tak dapat dihindari dari dua kakak beradik itu. Hingga suara sang mama menjadi wasit dan sukses menghentikan mereka.
__ADS_1
"Stopp!!"
"Kalian ngapain pada ribut mulu? Udah malam, malu sama tetangga," omel mama Ay pada putra putrinya itu.
"Itu Ma, aka-" rengek Sena, hingga Shaka menyelaknya.
"Apa?" selak Shaka, bergumam memberi kode pada sang adik untuk diam.
"Syutt!! Udah diem," sang mama kembali menyelaknya. "Aka, kamu kembali ke kamar. Dan kamu Sen buruan tidur!" titah mama Ay pada keduanya.
"Iya, mak!" balas serentak keduanya.
Akhirnya Shaka kembali kedalam kamarnya. Begitupun Sena yang sudah siap untuk tidur. Mama Ay pun berlenggang keluar seraya memijit pelipisnya. Sungguh kelakuan putra putrinya itu membuat mama Ay migrain. Ia pikir dikala dewasa mereka akan tumbuh berubah. Namun ternyata, mereka tak berubah sama sekali dan justru semakin menjadi.
"Ada apa lagi, yang?" tanya papa Ar yang kini sudah duduk diatas kasur king size nya.
"Biasa bang, anak-anak. Seneng banget bikin migrain. Ya ampun!" keluh mama Ay seraya mendaratkan dir ditepi ranjang.
"Sini, abang pijitin!" Dengan senang hati mama Ay mendekat dan membiarkan tangan sang suami bergerak diatas pelipisnya.
"'Kan sudah sering abang ingetin, ngadepin mereka itu gak usah pake emosi. Kamu bakal cape sendiri," ucap papa Ar mengingatkan.
"Tapi mereka itu ngeselin bang. Aku benar-benar berdoa buat mereka cepat nikah dan punya rumah masing-masing, biar gak ribut terus tiap hari," jelas mama Ay.
"Biar kita bisa bikin part terus tiap hari," timpal papa Ar, seraya mengecup pipi sang istri, lalu memeluk tubuh yang masih saja ramping itu dari belakang.
"Mau bikin part apa sekarang, hem?" tanya papa Ar hingga mama Ay terkekeh.
"Aku mau bikin part ngilangin migrain, ada bang?" tanya mama Ay yang kemudian tergelak.
Papa Ar ikut terkekeh seraya menyerang ceruk favoritnya itu. "Ada, mau coba?" godanya.
"Boleh tuh, bang!"
Dengan senang hati papa Ar segera menarik sang istri ketengah kasur king size tersebut. Memulai pemanasan untuk membawa mereka mencapai nirwana. Meski usia mereka tak muda lagi, namun itu tak menyurutkan gairah mereka dalam membuat part disetiap malam.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
...Kencengin lagi jejaknya yaa gaisss😘😘...