My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Dinner dadakan


__ADS_3

Dibawah cahaya bulan, sepasang kekasih tengah mengadakan dinner dadakan. Bukan dinner romantis seperti yang dilakukan pasangan pada umumnya. Jika pasangan lain akan dinner diresto mewah, di outdoor yang menampakkan cahaya rembulan dan diiringi lantunan musik romantis. Sepasang sejoli ini memilih untuk dinner di stand warung kaki lima ditaman komplek. Diringi lantunan musik pengamen yang biasa standby disana. Hingga membuat suasana yang harusnya hening dan romantis, menjadi ramai dan penuh tawa.


Seperti itulah Jingga, gadis unik yang begitu berbeda dengan gadis lain. Dari pada disuguhi dengan hal romantis, ia lebih suka disuguhi hal yang mengundang tawa. Terlahir tunggal tanpa saudara, tentu membuat gadis itu kesepian dirumah. Hingga ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan sahabat-sahabatnya, yang terlampau somplak dengan banyak tawa.


"Apa kamu suka?" tanya Shaka, menggenggam tangan gadisnya itu.


Jingga tersenyum seraya menganggukan kepala sebagai jawaban. "Sudah lama, ya?" tanyanya.


"He'em," balasnya. "Aku selalu merindukan momen ini," lanjutnya.


"Cih, gak percaya!" ledek Jingga.


"Ck! Aku serius," ucap Shaka menekukkan wajahnya.


Hal itu membuat Jingga tersenyum senang. Tentu ia percaya, sikap dingin yang ditunjukan Shaka selama ini bertolak belakang dengan apa yang ada dihatinya.


"Iya, aku percaya. Sangat percaya," balas Jingga. Shaka kembali berdecak, mendapati jawaban yang terkesan meledek itu.


Jingga terkekeh seraya menarik hidung mancung itu. "Jangan cemberut, makin ganteng tau gak!" godanya yang kemudian tergelak.


Lagi-lagi Shaka berdecak, namun tak ayal ia mengusek pucuk kepala gadis tersebut disertai senyumnya. Tak beselang lama makanan mereka pun tiba. Kedua anak manusia itu mulai menikmati makanan sederhana namun begitu menggoyang lidah itu. Hingga makanan tersebut tandas tak tersisa.


"Mau kemana lagi?" tanya Shaka.


"Emm pulang," balas Jingga.


"Ck! Kok pulang sih. Ini belum terlalu malam," protes Shaka.


"Bukannya besok kamu ada kuis pagi?" tanya Jingga mengingatkan.


Shaka menghembuskan napas panjang, benar juga, ia hampir melupakan itu. Ia akan sulit bangun dipagi harj, jika harus begadang. Meski ia belum ingin berpisah, namun ia juga tak bisa membuat kekasihnya itu istirahat terlalu malam.


"Baiklah kita pulang! Besok kita cari hadiah buat si manten," final Shaka dan diangguki Jingga.


Mereka pun berlalu menuju mobil yang terparkir dibahu jalan. Senyum terukir dari kedua manusia itu, ketika Shaka membukakan pintu untuk sang gadis. Hingga keduanya memasuki benda itu dan melesat meninggalkan posisi.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, seseorang menatap tajam dengan seringai evil diwajahnya kearah sejoli tersebut, dari atas motor yang ia duduki.


"Nikmati saja, kebahagiaan kalian. Sampai saat itu tiba, akan gue pastikan hanya tangisan yang ada, Jingga."


**


Tak berselang lama, kijang besi itu sampai. Bukan didepan rumah Jingga, namun dua puluh meter dari rumah gadis itu.


"Kenapa?" tanya Jingga heran karena mereka berhenti masih jauh dari rumahnya. Bahkan Shaka membuka sabuk pengaamannya.


"Tiga puluh menit lagi?" tawar Shaka. Jingga menaikan alisnya. "Nggak, nggak, lima belas menit?" tawarnya lagi, yang mana membuat Jingga terkekeh dibuatnya.


"Ya udah, sepuluh me-"


Cup!


Satu kecupan membungkam Shaka yang terus saja menawar. Jingga tersenyum melihat wajah Shaka yang nampak sedikit kaget. Hal itu tentu membuat lelaki itu terpancing. Ia mencondongkan diri dan menarik tengkuk sang gadis, untuk meraup bibir manis itu.


Menyecap lembut bibir ranum yang selalu membuatnya candu. Hingga keduanya larut dan memejamkan mata. Tangan Shaka meraba pinggir kursi, untuk membuka sabuk pengaman sang gadis . Hinga benda itu terlepas dari tubuh Jingga.


Tangan Shaka mulai nakal, menyelusup pada punggung mulus itu. Sentuhan itu sukses membuat Jingga semakin terlena dan ikut memberikan sentuhan dipundak Shaka. Pagutan itu kian liar, tangan Shaka berjalan kedepan hingga sampai didua buah yang pertama kali ia jamah.


Meski tertutup kain penghalang, namun sentuhan itu mampu membuat Jingga mendesis tertahan.


"Mmmhh ...."


Bibir Shaka bejalan menyusuri ceruk sang gadis dengan gaya sensual. Hal yang semakin membuat Jingga terbang melayang.


"Sha! Mmmmh, hentikan!" hatinya menolak untuk mereka berbuat lebih. Namun tubuhnya merespon sebaliknya.


Shaka membuka kancing kemeja Jingga tergesa, hingga buah itu terlihat menyembul sedikit. Bibir Shaka kembali berjalan mengitari kulit putih dibagian tulang selangka gadis itu, memberikan tanda merah pada area kulit tersebut.


"Mmm Sha, ini gak benar!" peringat Jingga mendongakan wajah Shaka dengan napas tersengal.


Nampak mata Shaka yang sayu berkabut gairah. Hati kecilnya ingin menolak, hanya saja nalurinya terus mendorong ia untuk menuntaskan rasa penasarannya.

__ADS_1


Lelaki itu kembali menarik tengkuk sang gadis, hingga kembali pagutan itu terdengar meriuhkan mobil yang bertengger ditepi jalan yang sepi. Satu tangan Shaka berjalan kepunggung Jingga, membuka pengait kain yang menutupi dua buah indah itu, hingga buah itu keluar dari sarangnya.


Kedua tangan Shaka bergerak menjamah dua buah sintal ban padat tersebut. Buah berukuran tidak terlalu besar, namun begitu pas digenggaman Shaka. Perlakuan itu membuat Jingga kembali melayang. Ia semakin membusungkan dada untuk Shaka tak menghentikan sentuhan itu.


"Shaa!!! Mmhhh ...."


Suara sexy Jingga melantun indah, membangkit sesuatu yang sudah menegang dibawah sana. Shaka kian liar meraup bergiliran dua buah dihadapannya. Bahkan tangan Jingga semakin menekan kepala Shaka untuk lebih dalam memberikan sentuhan itu.


Tangan Shaka berjalan kebawah dan hendak membuka kancing jeans yang dikenakan Jingga. Namun gadis itu segera tersadar.


"Jangan!" cegat Jingga menahan tangan Shaka.


"Kita lakukan!" ucap Shaka dengan mata sayu itu menatap penuh damba pada sang kekasih.


"Tidak sekarang!" balas Jingga menggelengkan kepala.


Napas keduanya memburu saling bersahutan. Terlihat mereka kini menahan sesuatu yang seharusnya dituntaskan. Shaka menundukan kepala diantara dua buah itu dengan menghembuskan napas panjang. Mencoba menetralkan diri dan mengembalikan kewarasannya.


Jingga mengerti apa yang kini ditahan mati-matian lelaki itu. Ia mengusap kepala Shaka, mencoba memberikan pengertian.


"Maafkan aku! Aku gak maksud buat nolak," sesal Jingga memberi penjelasan. "Tapi ... bukankah jika kita melakukannya diwaktu yang tepat, itu akan memberikan kesan spesial?"


Jingga mendongakan wajah Shaka, menangkup wajah murung itu hingga bersitatap dengannya. "Kita bisa 'kan melakukannya?" tanyanya disertai senyuman manis yang mampu membuat Shaka luluh.


Lelaki itu pun mengangguk mengerti. Meski dengan tampang lesu, namun ia mencoba untuk meyakinkan diri. Bahwa apa yang dikatakan sang kekasih adalah yang sepatutnya ia juga pikirkan.


Shaka menegakkan dirinya, kemudian menangkup wajah cantik itu dan mengecup dalam kening sang gadis.


"Maafin aku ya. Kamu benar, kita tak seharusanya melakukan ini," sesalnya. "Makasih sudah mengingatkan aku untuk tak mengikuti naluri saja. Ada hati juga yang harus aku dengar,"


Keduanya tersenyum kala saling menyadari kesalahan yang mereka perbuat. Kemudian Shaka kembali merapihkan penampilan Jingga yang berantakan. Membenahi kemeja yang sempat ia porak porandakan. Lalu mengecup bagian yang sempat ia tandai tadi, sebelum menutup dan mengancingkan kain itu.


"Baiklah kita tunda sampai hari itu tiba!"


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya gaiss๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2