
Shaka menyusuri koridor dengan langkah gontai. Wajah tampan itu tampak kusut dengan lingkaran hitam menghiasi matanya. Berulang kali ia menguap dengan mata yang hampir tertutup.
Dari salah satu depan kelas, Deril melihat sahabatnya itu yang tampak berantakan. Ia pun berpamitan pada salah satu teman yang tengah mengobrol dengannya. Lalu mendekat pada Shaka yang hampir memasuki kelas.
"Lu kenapa?" tanya Deril menepuk pundak pria itu.
Seketika Shaka menghentikan kakinya, lalu menoleh. "Ngantuk!"
"Astaga! Lu kenapa?" tanya Deril shok melihat wajah berantakan sahabatnya itu. Namun itu hanya sebentar baru saja beberapa detik, Deril tergelak dibuatnya.
"Ck! Asyem lu," umpat Shaka menampol kepala Deril. "Gak usah ketawa," kesalnya.
Deril sampai menahan perut hingga bibirnya gatal untuk menggoda lelaki itu. "Gue tau. Lu abis jadi wasit manten baru ya?" celetuknya hingga kembali tergelak.
Shaka hanya berdecak kesal. Tentu saja ia membenarkan ucapan Deril. Bahkan ia harus mandi tengah malam untuk mendinginkan si jack yang tak mau diam, saat mendengar suara-suara meresahkan itu.
"Ck! Ck! Kasihan, untung gak kebanjiran lu," ledek Deril, yang kembali dapat timpukan dari lelaki berwajah masam itu.
"Gue saranin, lu mening ngungsi dulu deh. Kasihan si jack lu kudu nyolo mulu," celetuk Deril lagi dan hanya ditimpali hembusan napas kasar dari Shaka.
Ia tak ingin menimpali lagi, matanya semakin enggan untuk terbuka. Ia memutuskan untuk segera berlalu memasuki kelas dan tak menghiruakan sahabatnya itu. Merebahkan diri adalah obat untuk menghilangkan kantuk tersebut.
Saran dari Deril sepertinya benar juga. Sore ini, ia memutuskan tidak akan pulang kerumah. Mungkin kerumah neneknya akan lebih baik. Ia pun mulai memejamkan mata dimeja tersebut. Namun grasak grusuk suara para gadis yang memperhatikannya membuat ia sulit menutup mata.
Krett!!
Ia sedikit mendorong kursi ke belakang, seraya bangkit dari posisi dengan mengaitkan kembali tas dibahu kirinya. Kemudian berlalu keluar dari ruangan itu. Hingga ia menyeringai kala melihat tempat yang tepat untuk ia memejamkan mata. Ia pun segera memasuki tempat tersebut.
Ceklek!
Pandangannya menyapu isi didalam sana. Merasa aman ia pun berlenggang mendekati brankar dan menghempaskan tubuhnya disana. Kemudian mulai memejamkan mata diruangan berbau khas obat tersebut.
**
Sementara itu, Jingga memasuki ruangan kesehatan tersebut sebelum menunggu kelasnya dimulai. Tentu ia tak menyadari ada seseorang di dalam sana. Hingga atensinya teralihkan pada ujung sepatu yang terlihat menembus dari balik gordyn.
Srekk!!
Jingga menggeser gordyn itu sedikit, hingga nampak sesorang yang telentang dengan lengan sebagai bantal. Terdengar hembusan napas teratur dari wajah tampan itu. Senyum terukir dari bibir manis Jingga, kala tau siapa yang terlelap diatas brankar itu.
"Maafin aku," sesal Jingga, kala mengingat kembali perlakuannya pada Shaka waktu itu.
__ADS_1
Tangannya terulur merapihkan rambut Shaka yang berantakan. "Lucu sekali. Kenapa aku selalu merindukanmu," kekehnya.
Greeppp!!!
Jingga terpaku kala tiba-tiba tangannya digenggam Shaka.
"Maafin aku! Aku merindukanmu, Jin!" gumamnya.
Jingga terkekeh, kalimat itu sungguh membuat hatinya menghangat. Meski dengan mata terpejam, dan dengan kesadaran yang entahlah. Setidaknya masih tersimpan nama dirinya dihembusan napas lelaki itu.
Ia menarik selimut dari kaki Shaka, lalu menyelimutkan kain tipis tersebut pada tubuh lelaki itu sebatas dada. Setelah Shaka melepaskan cekalan tangannya.
"Sepertinya, kamu begitu kelelahan. Tidurlah!" titah Jingga mengusap rambut lelaki itu. Dirasa cukup, ia pun memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut. Setelah melirik jam dipergelangan tangan yang menunjukan waktunya kelas dimulai.
Shaka benar-benar terlelap dan tak menyadari kehadiran Jingga. Butuh beberapa menit, bahkan memasuki satu jam untuk lelaki itu terbangun.
Drrrtt ... Drrttt
Suara dering ponsel dari saku celana, akhirnya sukses membangunkan Shaka dari tidurnya. Ia berdecak kesal kala suara bising itu enggan berhenti. Dengan malas ia meraih benda pipih itu dari saku celananya. Kemudian ia membawa benda itu kedepan telinganya tanpa melihat si penelepon.
"Hem?" gumamnya.
"Kita harus melawan Red evil lagi, Sha," balas Edo dari sebrang telepon itu.
"Kali ini pertandingannya untuk menggelar donasi yang akan diberikan pada yayasan anak yatim," lanjut Edo.
Seketika Shaka membuka mata dan bangkit dari posisinya. "Untuk yayasan?" tanya Shaka.
"Iya. Kita harus bisa mengalahkan Red evil untuk mendapatkan dana itu," jelas Edo.
Shaka terlihat berpikir sejenak. "Baiklah, kapan?" tanyanya.
"Tenang aja waktunya masih dua minggu. Jadi kita masih bisa menyusun strategi untuk mempersiapkan semuanya," jelas Edo dan diangguki Shaka, seolah Edo ada didepannya.
"Oh iya, ngomong-ngomong. Si black udah balik?" tanya Edo.
"Belum. Gue masih berusaha bujuk si mama," balas Shaka.
"Ya udah, gue doain smoga anak mama yang manja dapat kembali si black," ledek Edo tergelak.
Jika saja didepan Shaka, lelaki itu tak akan mungkin berani berkata seperti itu. Harus berpikir dua kali untuk melakukan hal tersebut. Ia pun segera memutus panggilan sebelum Shaka mebgeluarkan kata-kata keramatnya.
__ADS_1
"Apa lu bilang? Dasar kampr*t lu!"
Tutt ... Tutt
"Hallo, hallo, shitt! Sialan nih anak. Awas aja kalo ketemu, gue bejek-bejek dia," kesal Shaka.
Namun tiba-tiba atensinya tertuju pada keadaan dirinya. "Ini?" tanyanya melihat selimut putih itu dengan wajah heran.
Sejak kapan dirinya memakai selimut? Perasaan dia tidak menggunakan itu tadi? Pikirnya. Ia terus berpikir mengingat kembali kejadian beberapa jam lalu. Hingga ia mengingat sesuatu, lalu ia menatap tangan kanannya. Mengusapkan ibu jari pada keempat anak jarinya.
"Apa gue mimpi? Atau Jinjin emang?" tanyanya bermonolog sendiri.
Ia bawa tangan itu menuju hidung, hingga tercium bau yang tak asing baginya. Shaka tersenyum, mungkinkah mimpi itu terasa nyata? Atau itu memang nyata? Pikirnya.
"Apa jika aku memperbaikinya? Kamu akan kembali padaku, Jin?" tanya Shaka bermonolog sendiri.
**
"...Oke!" final Jingga pada teman sekelasnya. Kini gadis itu keluar dari kelas dan hendak pulang.
Namun tiba-tiba seseorang memanggilnya. "Jin!" panggilnya.
Seketika Jingga menoleh dengan menaikan alis sebelah melihat perempuan yang pernah membuatnya kesal.
"Gue mau ngomong," ucap Sisil, perempuan yang menghampiri gadis itu. Jingga hanya menaikan sebelah alis sebagai jawaban.
"Gue mau nanya. Apa benar Sena nikah sama Abi bukan sama Deril?" tanya Sisil.
"Penting?" tanya Jingga singkat. Seperti itulah Jingga, jika bukan bersama orang-orang terdekatnya.
"Ck! Bisa gak sih, lu tuh ngomong yang jelas? So arogan banget," Sisil berdecak kesal melihat tingkah gadis itu.
Namun Jingga tak memedulikan itu, ia hanya menatap datar pada Sisil yang mengerenyit heran. Terlihat ada guratan takut dari perempuan itu berhadapan dengan gadis dingin seperti Jingga.
"Ehemm! Kek nya emang benar, bukan Deril," Sisil berdehem untuk menetralkan dirinya. "Bagus deh kalo gitu. Jadi gue bisa balik lagi sama Deril," lanjutnya.
'Deril? Bukannya?' batin Jingga bertanya.
"Dahlah gue cabut dulu. Percuma ngomong sama lu, kek ngomong sama patung," ketus Sisil, lalu berlenggang begitu saja meninggalkan Jingga dengan segala pemikirannya.
'Mungkinkah aku salah menduga?'
__ADS_1
******
Maafken mak othor yaa baru up... Mak othor abis ikut sholawatan dulu di mushola🤭 Memeriahakan hari kelahiran Nabi besar kita, Nabi Muhammad SAW😇 Shalu 'ala Muhammad....