My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Firasat buruk


__ADS_3

Prank!!!


"Astagfirulloh!" pekik Mama Ay kaget.


"Ada apa yang?" tanya papa Ar mendekati istrinya itu.


"Ini bang, aku mau minum air hangat. Eh lupa dikasih air dingin dulu. Kek nya gelasnya udah tipis ini," keluh mama Ay.


"Gak kena kaki 'kan?" tanya papa Ar seraya berjongkok untuk memastikan kaki sang istri, baik-baik saja.


"Nggak bang," balasnya ikut menundukan tubuh.


"Tapi kok perasaanku gak enak ya, bang?" tanya mama Ay.


Papa Ar kembali berdiri, diikuti mama Ay yang juga menegakkan diri. Tangannya bergerak menjamah wajah sang istri. Menempelkan punggung tangan itu diatas kening mama Ay.


"Apa kamu sakit?" tanya papa Ar khawatir. Jarang sekali wanitanya itu bangun dijam dini hari seperti ini, kecuali mereka begadang membuat part.


Mama Ay menggelengkan kepala. "Nggak kok, bang. Aku cuma haus aja, pengen minum air hangat," balasnya. "Mungkin karena gelas ini pecah, aku sedikt shok ya? Jadi perasaanku berdebar gak karuan," lanjutnya mencoba berpikir logis.


Papa Ar tersenyum seraya membelai pipi yang masih cantik itu. "Mungkin karena kamu lihat abang kali," kekehnya menggoda.


"Ishh abang nih. Kalo ngomong suka bener," balas mama Ay yang berlanjut tertawa.


Papa Ar menarik sang istri kedalam dekapannya. "Yang paling penting kamu gak apa-apa," ucapnya dan diangguki mama Ay.


"Yuk ke kamar lagi!" ajaknya merangkul bahu sang istri.


"Ngapain?" goda mama Ay.


"Bikin part," balas papa Ar yang sukses membuat pasangan itu tergelak.


Tentu saja itu hanya bualan pria yang masih saja tampan diusianya itu. Sudah tiga hari papa Ar tidak dapat menjamah si nona manis yang tengah berdarah. Alhasil sudah tiga hari pula si pisang puasa, tak dapat bersilaturahmi dengan nona manisnya.


Setelah meminum air hangat yang diinginkan, kini pasutri itu kembali ke kamarnya. Melanjutkan mimpi mereka yang sempat tertunda. Namun, baru saja mereka merebahkan diri, suara dering ponsel mebgalihkan atensi mereka.


Papa Ar bangkit dan meraih layar pipih itu dari atas nakas. "Edo," gumamnya. Ia mengerenyit heran, untuk apa teman dari putranya itu menghubungi dirinya dipagi buta seperti ini?


"Hallo?"


"Apa?"


"Iya, iya. Saya kesana sekarang,"

__ADS_1


Sontak saja, mendengar sang suami yang terlihat panik. Mama Ay ikut bangkit dan menanyakan apa yang terjadi.


"Aka, aka dirumah sakit," balas papa Ar.


"Apa???" pekik mama Ay dengan mata membola dan mulut terbuka lebar.


**


Sebelumnya...


Sreeettt ...


Braakkkk!!!


Kuda besi yang dikemudikan Shaka oleng dan sempat menyeretnya diaspal, hingga ia pun terpental jauh dari motor tersebut setelah kuda besi itu menabrak pilar jalan.


Shaka masih mendengar riuh dari orang-orang disana yang memanggilnya. Sakit hingga sulit bernapas ia rasakan. Hingga ia teringat akan gadis yang mungkin kini tengah menunggu kabar darinya.


'Maafin aku Jin, aku gak bisa menepati janji," batinnya. Lalu pandangannya pun mulai buram tak nampak apapun dan gelap.


"Shaka!"


"Boss!"


Sontak saja hal itu membuat semua orang shok bukan main. Untuk pertama kalinya sang juara mengalami insiden tersebut. Dengan cepat semua naggota mendekat untuk menyelamatkan ketua mereka.


Edo yang panik berulang kali terus menyadarkannya. Tak lama Sam pun turut mendekat kearah mereka, hingga menyadarkan Edo. "Cepat! Bawa kerumah sakit," titahnya.


"I-iya," balas Edo tergugup. Firasat yang sempat ia rasa tadi, ternyata benar-benar terjadi.


Ia pun segera mengangkat tubuh berselimutkan darah itu dengan bantuan anggota yang lain. Lalu membawanya menuju mobil salah satu anak buah Sam.


"Pergilah! Nanti saya menyusul," titah Sam dan diangguki Edo.


"Kalian bertiga ikut gue, yang lain bereskan ke kacauan disini," titah Edo pada anggotanya dan diiyakan mereka.


**


"Aka!!!" lirih mama Ay mendekat kearah ruang UGD, yang mana keempat anggota black wings tengah duduk dikursi tunggu.


Mereka menunduk dan siap mendapatkan ceramahan panjang kali lebar dari mama Ay, bahkan mungkin tamparan juga darinya. Namun sepertinya, wanita itu tidak mampu melakukan itu tubuhnya ambruk dilantai dengan isak lirih menyayat hati.


Brukkk!!!

__ADS_1


"Akaa,a,a, putraku ...."


"Sayang," dengan sigap, papa Ar merengkuh tubuh sang istri. Kemudian membawa tubuh itu untuk duduk dikursi tunggu.


"Aka, bang. Aka! Bagaimana kalo-"


"Suutt, percayalah, semuanya akan baik-baik aja!" ucap papa Ar menenangkan, seraya mendekap tubuh ringkih itu.


"Aku gak akan bisa memaafkan diriku sendiri, kalo sampai terjadi sesuatu pada putraku," ucap mama Ay disela isak tangisnya.


"Aku ibu yang gak berguna, aku gak bisa menjaga putraku dengan baik, aku, aku ...." mama Ay tak bisa lagi melanjutkan ucapannya. Terlalu sulit untuknya, menerima semua kenyataan ini. Ia hanya mampu menangis didalam pelukan suaminya. Menyalurkan rasa sakit yang menghimpit rongga dadanya.


Keempat manusia disana tak mampu berucap, mereka ikut merasakan apa yang ibu dua anak itu rasakan. Hingga akhirnya dokter keluar dari ruangan tersebut.


Ceklek


"Keluarga saudara Shaka?" tanyanya. Hingga mama Ay pun segera berdiri dna mendekat


"Iya, Dok! Saya mama nya. Gimana keadaan putra saya Dok? Apa dia baik-baik saja? Gimana dengan lukanya? Apa begitu parah?" cerocos mama Ay dengan berbagai pertanyaan, hingga tak memberi kesempatan untuk sang Dokter berbicara.


Mama Ay menangkupkan tangan didada. "Tolong, Dok! Tolong! Saya mohon, lakukan yang terbaik untuk putra saya! Kalo perlu, ambil banyak darah saya, Dok! Gak apa-apa, asal putra saya kembali sehat."


Papa Ar segera merangkul pundak sang istri untuk menenangkannya. Berharap sang istri berhenti sejenak untuk mnedengar penjelasan Dokter.


"Ibu, ibu tenang dulu," ucap dokter menenangkan. "Pasien memang memerlukan stok banyak darah, dan pihak rumah sakit masih bisa memenuhinya. Bantuan donor darah, mungkin saja akan diperlukan sewaktu-waktu. Tapi ada satu hal penting yang harus saya sampaikan," balas sang Dokter.


"Apa dok?" Bukan mama Ay, kini papa Ar lah yang bertanya.


"Untuk seluruh tubuh dipastikan tak ada patah tulang atau luka serius. Hanya saja benturan keras memungkinan pasien mengalami pendarahan dibagian kepala, kita akan melakukan CT scan terlebih dahulu untuk memastikannya. Jika memang begitu, maka kita harus segera mengambil tindakan operasi," jelas sang Dokter.


Deg!


Mama Ay terpaku mendengar itu. Tubuhnya lemas seolah tak bertulang. Hingga hampir ambruk jika papa Ar tidak menahannya.


"Apapun Dok! Lakukan yang terbaik untuk putra kami," titah papa Ar dan diangguki sang Dokter.


"Tentu Pak, kita akan berusaha melakukan yang terbaik," balas dokter tersebut. Lalu memerintahkan petugas untuk membawa pasien keluar dari ruang UGD.


Brankar didorong para petugas. Hingga nampaklah Shaka terbaring lemah diatasnya. Matanya tertutup rapat dengan wajah memucat. Tubuhnya bertelanjang dada dengan berbagai perban memenuhi tubuh putih itu. Tangis mama Ay pecah disertai jeritan kala melihat kondisi sang putra sekarang.


"Akaaa!!!"


Brukkk!!!

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Ishhh siapa sih yang naroh bawang. Mak othor 'kan jadi mewek🤧 kasih kopi lah, biar Aka sembuh kembališŸ™ˆ


__ADS_2