My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Istirahat membakar karbohidrat


__ADS_3

Seketika tawa Shaka pecah. Jingga pun ikut terkekeh melihat wajah cantik yang tampak kusut itu. Pantas saja gadis itu misuh-misuh tak jelas, lagi moodian ternyata. Jingga pun merangkul Sena untuk menenangkannya.


"Udah biar gak kesel lagi. Siang ini kita hange out, gimana?" usul Jingga.


"Nggak bisa!" bukan Sena namun Shaka yang menyangkal.


"Ishh aka apaan sih? Yang ditanya tuh aku bukan aka," sungut Sena.


Jingga memberikan kode agar Shaka diam. Menurut gadis itu yang paling penting sekarang menenangkan dulu adik iparnya yang teramat manja. Menyogoknya pergi ke mall cara paling jitu untuk membuat gadis itu bungkam.


"Udah siap-siap sana! Kuliah 'kan? Pulang kuliah kita pergi, hem!" bujuk Jingga.


Sena menghembuskan napas panjang. Gak ada alasan untuknya menolak ajakan kakak iparnya itu. Apalagi ada beberapa barang yang ingin ia beli, sekalian dapat gretongan. Pikirnya.


"Ya udah deh, siang ya?" final Sena yang kembali memastikan dan diangguki Jingga.


Setelah bernegosiasi, akhirnya gadis cerewet itu pun kelauar dari kamar tersebut. Jingga terkekeh seraya menggelengkan kepala. Memang sahabat yang sekaligus jadi adik iparnya itu sangatlah jauh berbeda dengan dirinya. Hal itulah yang membuat mereka selalu akur. Sifat yang bertolak belakang, membuat mereka bisa saling melengkapi.


Jingga berbalik dan sedikit terkesiap kala melihat wajah Shaka yang tertular kusut. Sepertinya adik kakak ini memiliki sifat yang dapat menular. Hingga saat satu saudara tengah ngambek, saudara yang lain ikut ngambek juga.


Jingga tersenyum manis. Satu lagi yang harus ia sogok agar wajah tampan itu tak kusut lagi. Ia menangkup wajah tampan nan kusut itu, lalu berjinjit dan mengecup bibir sexy yang masih basah itu. Sungguh sejak tadi, kondisi Shaka membuat ia begitu tertarik.


Niat hati hanya ingin mengecup sekilas, namun Shaka justru menarik pinggang sang istri untuk menyecap dan melu matnya. Hingga ciuman yang awalnya lembut, lambat laun kian menuntut. Shaka hendak membuka kain atas sang istri, namum dengan cepat tangan Jingga menahannya.


"Tunggu dulu!" tahan Jingga melepas pagutan mereka.


"Kenapa?" tanya Shaka heran.


"Aku lapar," keluh Jingga.


Shaka yang mendengar keluhan itu tersenyum. Lalu mengecup kening sang istri. "Ya udah, aku ganti baju dulu. Habis itu kita sarapan, hem!" ajaknya dan diangguki Jingga.


Baru saja Shaka berbalik, Jingga kembali menghentikannya. "Tunggu!"


Shaka hendak berbalik, namun Jingga tak mengindahkan dan tetap mempertahankan untuk menatap punggungnya. Ia raba punggung yang penuh cakaran itu disertai kekehan geli.


"Kenapa?" tanya Shaka mencoba menengok apa yang kini tengah istrinya lihat.

__ADS_1


"Ini lucu sekali," kekeh Jingga yang kemudian tertawa.


"Apa sih?" tanya Shaka penasaran, namun tetap saja ia tak dapat melihat apa yang membuat Jingga tertawa.


"Bentar!" tahan Jingga. Ia meraih ponselnya dari atas nakas dan memotret hasil mahakaryanya dipungung Shaka. Lalu memperlihatkan hasil itu pada suaminya.


"Astaga!" pekik Shaka kaget. "Pantas saja rasanya perih, ternyata ini hasil karyamu, ya?" kekehnya.


"Baru sadar," balas Jingga disela tawanya.


Setelah drama panjang kali lebar pagi ini. Kini sepasang pengantin itu tengah mengadakan sarapan kesiangan. Bagaimana tidak? Ternyata mereka sarapan sudah melewati jam sembilan.


"Ya ampun, makan kamu udah kek puasa sebulan kak!" celetuk mama Ay yang melihat cara makan Shaka yang kalap.


"Ck! Emam ya ma. 'Kan awku bawu banun," protesnya dengan mulut penuh.


"Isshh kamu tuh! Jangan ngomong kalo lagi makan, ntar keselek!" omel mama Ay.


Shaka kembali mengunyah tanpa menjawab. Jingga hanya terkekeh seraya menmberikan segelas air putih dan disambut senyum suaminya itu.


"Uhuk! Uhuk!" Shaka tersedak mendengar celetukan sang mama. Segera Jingga membantunya meminum air yang sudah ia sediakan tadi.


"Tuh 'kan mama bilang apa. Lagi makan tuh diem!" omelnya lagi.


Shaka terlihat berdehem sebelum membalas ucapan sang mama. "Ya elah si mama. Lagi makan disuruh diem. Gimana nyampe keperutnya?" protes Shaka.


Mama Ay terdiam sebentar mencerna ucapan Shaka. 'Eh bener juga' batinnya. "Ya maksudnya, fokus makan, jangan ngobrol terus!" ucapnya menjelaskan dan hanya dibalas guliran mata malas oleh Shaka.


"Oh iya, Jin. Gimana?" tanya mama Ay memastikan.


"Nggak bisa!" bukan Jingga tapi Shaka yang menyerobot membalas.


"Kenapa?" tanya mama Ay heran.


"Ya, karena Jinjin harus jagain aku," balasnya.


"Aissh, orang udah sembuh juga," gerutu mama Ay.

__ADS_1


"Ya udah si, biasanya 'kan Mama pergi sama timom. Ajakin timom aja udah," saran Shaka yang membuat mama Ay berdecak kesal.


Tentu saja Shaka tak terima, ia harus kehilangan banyak waktu bersama sang istri, jika sang mama berhasil mengajak wanitanya pergi. Belum lagi siang nanti Jingga pasti pergi bersama sang adik, akan banyak waktu terbuang yang mereka lewati bersama.


Jingga hanya tersenyum, tak dapat menyahuti. Mama Ay pun mengerti maksud putranya itu. Bagi sepasang pengantin baru, memanglah masa-masa itu sangatlah berharga. Seperti yang ia rasa dulu. Ia pun juga tak ingin jauh dari sang suami, bahkan ikut kemanapun suaminya itu pergi.


Setelah selesai mengisi perut, kini sepasang pengantin kembali kekamar dengan alasan ingin beristirahat, yang nyatanya justru berolahraga membakar karbohidrat yang baru saja mengisi perut mereka.


"Mmmhh Sha!!!" de sah Jingga kala hentakan dari si jack begitu mentok didalam sana.


"Jin, ouhh ini gilaa!!!"


Shaka semakin bersemangat kala Jingga terus meracau tak terkira. Membuktikan bahwa si jack benar-benar memanjakan si nona yang masih terasa sempit.


Decitan ranjang menandakan permainan meraka teramat luar biasa. Shaka memabalikan tubuh Jingga, hingga mereka bertukar posisi. Shaka sedikit menggeser tubuh mereka, agar dirinya bersandar dikepala ranjang.


"Let's play baby!" titah Shaka menyeringai. Jingga yang mengerti, hanya tersenyum dengan mata berkabut gairah.


Jingga mulai menari menggerakan tubuhnya. Membuat si kembar bergelayunan dan menantang diwajah Shaka. Tak ingin menyia-nyiakan buah itu, Shaka mulai melahapnya bergantian.


"Ouhh, Sha! Aku, aku,"


"Jangan ditahan lepaskan aja!"


Jingga berhenti bergerak membiarkan si nona melahap sempurna si jack yang masih berdiri kokoh. Ia mencapai kli maks pertamanya, Shaka yang mengerti kembali membalikan keadaan. Ia kembali mengukung sang istri tanpa melepaskan penyatuan mereka. Ia mengusap peluh yang membuat sang istri begitu terlihat sexy.


"Giliran aku ya," ucap Shaka dan hanya diangguki pasrah oleh Jingga yang sudah ngos-ngosan.


Shaka membentuk posisi yang nyaman untuk ia mulai kembali berpacu diatas tubuh sang istri. Dimulai dari gerakan pelan, untuk membangkitakan kembali jiwa liarnya sang istri hingga suara-suara sexy mereka kembali bersahutan. Gerakan pun kian cepat sesuai suara mereka yang kian meriuh.


Erangan panjang pun terdengar dari bibir keduanya, hingga Shaka pun ambruk diatas tubuh istrinya itu.


"Mau ngulang?"


\*\*\*\*\*\*


Yok ramaikan yok!!! Besok lanjut lagi yaa😊 jangan lupa jejaknyaa oke gaisss😘😘

__ADS_1


__ADS_2