My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Gaun malam


__ADS_3

Jingga masih memperhatikan dirinya didepan cermin dikamar mandi. Sudah satu jam ia berada diruangan itu, setelah berendam aroma vanilla sesuai instruksi dari petugas SPA tadi. Ia sengaja berendam setelah melihat Shaka tertidur. Seperti biasa Shaka akan tertidur setelah meminum obat. Lelaki itu sengaja minum obat selepas adzan maghrib, berharap dapat begadang malam ini.


"Apa ini gak apa-apa?" tanya Jingga bermonolog sendiri. "Rasanya aneh," kekehnya.


Tok! Tok! Tok!


"Jin, kau didalam?" teriak Shaka mengetuk keras pintu tersebut. "Bukain pintunya dong! Aku udah gak tahan nih," lanjutnya.


Jingga yang mendengar teriakan suaminya, segera menutup gaun yang sudah melekat ditubuhnya dengan bathrob. Masih terlalu malu bagi perempuan itu mengenakannya.


Ceklek!


Pintu dibukanya, menampilkan wajah Shaka yang keheranan. "Kamu habis mandi?" tanyanya dan diangguki Jingga.


"Aku habis berendam," balasnya yang kemudian keluar.


Aroma menyengat dari tubuh Jingga membuat Shaka mematung, si jack yang memang sudah tegak tertarik untuk mengikuti Jingga.


"Astaga! Kau harus mengeluarkannya dulu," gumam Shaka menahan benda tersebut seraya ngibrit memasuki kamar kecil.


Jingga terkekeh dengan tingkah suaminya itu. Ia pun keluar dari kamar mandi. "Sepertinya kalo gelap gak akan terlalu malu," ucapnya bermonolog sendiri.


Ia pun mematikan lampu kamar dan hanya menyisakan lampu temaram saja, sebelum membuka bathrob dari tubuhnya. Berulang kali ia menarik dan menghembuskan napas untuk menertalkan dirinya yang tiba-tiba saja gugup. Ia duduk diatas ranjang menutupi kakinya. Ini memang bukan yang pertama, namun ini tetap saja malah pertama baginya.


Ceklek!


Terdengar pintu kamar mandi terbuka, menandakan Shaka sudah keluar dari ruangan itu. Sesuai dengan apa yang sudah ia pelajari tadi dengan Sena, cara untuk menggoda suaminya.


"Jin, udah mau tidur?" tanya Shaka mendekati ranjang.


Jingga menghembuskan kembali napasnya panjang, sebelum akhirnya membuka selimut dari kakinya. Susana yang sedikit gelap, tak begitu memperlihatkan Jingga dari kejauhan.


Setelah semakin dekat, Shaka teesentak kaget melihat penampilan Jingga yang tampak berbeda malam ini.

__ADS_1


"Woww!!"


Brukkk!!


Shaka menjatuhkan diri ke atas kasur dengan mata tak berkedip menatap pemandangan indah dihadapannya. Ia sampai menelan salivanya kuat-kuat melihat lekuk tubuh Jingga yang begitu menggoda.


Jingga menyeringai melihat ekspresi Shaka. Mungkinkah ini berhasil? Pikirnya. Jingga mendekat dengan gaya sensual. Gaun malam berwarna hitam yang dipilihkan Sena sungguh membuat Jingga tampak sexy. Dengan rambut yang sengaja ia cepol untuk memperlihatkan ceruk putihnya.


Jingga menarik tangan Shaka untuk mendekat dan menaikan kakinya keatas ranjang tersebut. Lalu, ia pun beralih duduk dipangkuan suaminya yang masih belum tersadar itu. Tangan Jingga bergeliyara memasuki kaos yang dikenakan Shaka, hingga lelaki itu memejamkan mata dengan sentuhan sensual itu. Kemudian, satu tangan Jingga mengusap tengkuk Shaka, hingga lelaki itu mendesis tertahan.


"Apa kamu akan diam saja?" bisik Jingga tepat ditelinga suaminya.


Seketika Shaka membuka matanya mendengar bisikan sexy itu. Ia menyeringai menatap penuh damba sang istri.


"Tentu saja nggak," balas Shaka memeluk pinggang itu. "Tapi aku ingin kamu jadi leadernya malam ini, gimana?" tanyanya dengan satu tangan membelai pipi cantik itu.


"Baiklah! Malam ini spesial untukmu," balas Jingga.


Perempuan itu mulai mengecup bibir sexy Shaka lembut. Ciuman penuh cinta diberikan Jingga dan dibalas hal sama oleh Shaka. Tangan Shaka bergeliyara membelai punggung yang terlapis kain tipis itu. Hingga ciuman lembut itu berubah semakin menuntut. Jingga merasakan sesuatu yng kian membesar dibawah sana. Dengan nakal ia bergerak manja dipangkuan Shaka mempertemukan sejoli yang masih sama-sama terbungkus kain itu.


Tanpa basa basi lagi, Shaka segera menyambar buah itu seraya membuka kainnya. Bukan dibuka lagi, tapi Shaka menariknya hingga kain tipis itu robek.


Lengu han mulai terdegar dari Jingga, Shaka menarik kaos dari tubuhnya. Hingga tubuh atas mereka polos tanpa sehelai benang pun, Shaka mengangakat tubuh Jingga untuk dirinya membuka sisa kain ditubuhnya, lalu tak lupa sisa kain tipis yang masih menempel dibagian bawah tubuh Jingga.


"Ouuhhh!!" de sah mereka serentak, kala sejoli itu kembali bertemu.


Jingga mulai bergerak. Sesuai instruksi ia akan menjadi leader malam ini. Rambutnya tergerai seiring dengan gerakan yang ia buat. Decitan ranjang mulai terdengar seirama dengan gerakan mereka. Suara mereka pun menggema silih bersahutan.


"Mmhh Sha! Ouhh ...." racau Jingga kala dirinya sudah siap mencapai kli maks pertamanya.


Shaka yang juga sudah tak mampu menahannya segera mendorong pelan tubuh Jingga, hingga membuat tubuh sexy itu telentang. Ia pun mengukung tubuh itu dan beralih menjadi leader, lalu mulai berpacu. Menggali kelegitan dari setiap tempo memabukan.


Hingga saatnya mereka pun tumbang bersama. Disertai erangan panjang mereka.

__ADS_1


"Euurrgghhh ...."


Shaka menenggelamkan si jack dalam-dalam, membiarkan bibit-bibit calon penerusnya bersemayam dirahim Jingga. Terdengar napas ngosngosan dari keduanya. Shaka mengelap keringat yang mengucur dari dahi mereka. Lalu mengecup dahi istrinya itu.


"Once again please!"


**


Sementata itu dikamar sebelah, Sena tengah melakukan hal yang sama. Tepat sore itu, tamu bulanannya surut. Ia pun dengan semangat menggoda suaminya.


"Kita lebih kenceng, Bi. Jangan kalah sama kamar sebelah!" ucap Sena disela de sahannya.


"Ouhhh Bi, Mmmmhh!!" bukan lengu han lagi, Sena berteriak kencang untuk balas dendam pada kamar sebelah.


Keduanya terus berpacu, suara kedua insan itu kian riuh, lebih tepatnya hanya suara Sena yang heboh sendiri. Hingga erangan panjang terdengar menggema dari dua insan itu.


"Mau ngulang?" tanya Abi dan diangguki semangat oleh Sena. Mereka pun kembali melakukannya.


**


Dikamar utama tak kalah panas. Sepasang suami istri paruh baya juga tak kalah heboh dari kedua anak mereka. Kedua orang yang masih bugar diusainya itu tak ada libur untuk acara membuat part.


"Banghhhh!!!"


De sah Mama Ay kala papa Ar masih berpacu diatasnya.


"Yeahh sayangghhh!!!"


Papa Ar tak henti berpacu. Semakin usianya matang, tenaganya bukan berkurang. Namun justru semakin perkasa. Bahkan kemungkinan mengalahkan kedua pengantin baru itu. Bukan sekali, bahkan mereka masih sanggup berulang kali. Berbagai gaya mereka lakukan, tak pernah bosan atau pun menginginkan yang lain. Erangan panjang untuk kesekian kali terdengar dari pasangan itu.


Sungguh rumah itu begitu panas dari ketiga pasangan itu. Untung saja, tak ada pasangan single dirumah itu. Art yang suka membantu pekerjaan mama Ay, hanya siang saja bekerja disana dan pulang kerumah masing-masing. Jadi tak ada orang lain disana selain mereka.


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Jejaknya jangan lupa yaa gaisss😘😘


__ADS_2