
Tok! Tok! Tok!
"Mih!" panggil Rizky memasuki kamar sang mamih.
Rizky masuk lebih dalam ketika melihat sang mamih tengah tertidur dengan posisi miring ke arah salah satu tepi ranjang. Ia mendekat dan mendudukan dirI ditepi ranjang berlawanan dengan sang mamih.
Ia tau sang mamih tidak tidur dan mendengar panggilannya, namun enggan menyahuti. Ia menghembuskan napas panjang, menekukan kedua sikuya pada kaki menahan kepalanya yang terasa berat.
"Aku tau mamih gak tidur," ucap Rizky memulai obrolan. "Aku harap mama mau denger cerita aku," lanjutnya.
Lelaki tampan itu kembali menghembuskan napasanya pelan sebelum memulai kembali merangkai kalimatnya.
"Sejak kecil aku sudah terbiasa main dengan Jinjin dan Sensen. Bagiku mereka adalah bagian terpenting dihidupku, selain dari kalian keluarga ku. Gak ada perasaan lain selain untuk melindungi mereka," jelas Rizky menjeda ucapannya.
"Aku gak tau apa itu cinta? Bagiku cinta itu sama seperti aku menyayangi mamih. Menyayangi Sensen ataupun Jinjin,"
"Tapi ... Setelah aku megenal dia, asa rasa lain dihatiku. Bukan untuk sekedar melindunginya, bukan sekedar untuk menghiburnya. Ada rasa kesal saat gak ada kabar darinya, rasa kesal ketika dia berdekatan dengan cowok lain. Ada rasa rindu ketika berjauhan. Ada rasa bahagia ketika melihat dia tersenyum. Ada rasa takut saat tiba-tiba saja dia menjaga jarak," jelasnya.
"Aku gak tau itu perasaan apa. Menurut mamih, apa itu yang dinamakan cinta?" tanyanya.
"Aku gak tau kenapa perasaan itu tiba-tiba tumbuh dan memilih dia. Kenapa harus dia? Aku pun gak tau, yang jelas perasaan itu semakin membuatku jatuh semakin dalam,"
"Dan sekarang ... Aku takut," ucapnya menjeda kalimat dengan setetes bulir yang jatuh begitu saja dari kedua ujung matanya.
"Aku takut, kehilangan dia," lirihnya.
Rizky tertunduk menangis. Mengingat ucapan sang mamih beberapa jam yang lalu.
Dua jam sebelumnya ...
"Renata!"
"What?? Si-siapa?" tanya mamih Feby shok.
"Renata," sekali lagi Rizky menegasakan.
"Renata? Renata anak si Jesi?" tanya mamih Feby dengan nada tinggi dan diangguki Rizky.
"Nggak! Mamih gak setuju! Mamih menarik kembali ucapan mamih untuk merestui," sungut mamih Feby.
"Tapi Mih-" Rizky hendak memprotes namun sang mamih menyelaknya.
"Gak ada tapi-tapian! Mamih menolak keras hubungan kalian. Sampai kapan pun mamih gak akan merestui kalian," selak mamih Feby seraya berdiri dan hendak meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
"Tapi kenapa Mih? Pasti ada alasannya. Berikan aku alasan yang jelas.
"Sekali nggak, tetap nggak!" tegas mamih Feby berlalu.
"Mih! Mih!" Rizky hendak menyusul, namun sang papih mencegatnya dan mendudukan kembali Rizky disamping papamya itu.
Rizky menghembuskan napas panjang. Tau pasti ini akan terjadi, namun ia juga harus memberitahu kedua orang tuanya. Tangannya bergerak memijit pelipisnya yang kian berat.
Papih Rio menepuk-nepuk bahu putranya itu. "Papih gak menyalahkan kamu mencintainya, atau bahkan kalian saling mencintai. Tapi, cinta tanpa restu juga salah," ucapnya.
"Ketika kita mencintai seseorang, terkadang kita sudah yakin, jika dia akan menjadi milik kita. Tapi terkadang alur Tuhan tak sesuai keinginan kita," lanjutnya.
"Namun dari semua itu, kamu harus bisa mendengarkan kata hatimu. Yakinlah pada apa yang kamu pilih. Patutkah dia dipertahankan? Atau kau harus melepaskan?"
"Dulu, Papih pernah diposisi sepertimu," pernyataan kali ini membuat Rizky mendongak.
"Bukan hal mudah mendapatkan mamih, banyak hal yang papa taklukin sama sepertimu, Restu sulit sekali digenggam," lanjutnya terkekeh.
"Jadi papih juga?" tanya Rizky tak meneruskan pertanyaan itu dan diangguki sang papih.
"Terus? Gimana cara mengahadapi itu?" tanya Rizky.
"Berjuang, membuktikan, gak nyerah gitu aja," balas sang papih dan diangguki Rizky.
"Emmm entah ... Ego mungkin," balas sang papih.
"Kamu tau mamih kamu. Dia hanya butuh kelembutan dan waktu, maka hatinya pun akan luluh kembali," jelas papih Rio.
"Papih yakin kamu bisa! Berjuanglah!" lanjut sang papih menepuk bahunya menyemangati. Lalu ia pun berlenggang pergi meninggalkan Rizky sendiri disana.
"Apa aku bisa?" gumamnya bermonolog sendiri.
**
Rizky menunduk, sepertinya tidak akan ada kesempatan sang mamih untuk merestuinya. Ia pun hendak pergi, namun tiba-tiba tangannya tercekal.
"Jika kamu benar-benar mencintainya, buktikanlah!"
Seketika Rizky berbalik menatap sang mamih yang tengah menatapnya dengan tangan mencekal pergelangan tangannya.
"Mih!" cicit Rizky.
"Ck! Mama tuh benci banget sama si Jesi. Tapi mamih lebih sayang sama kamu dan lebih ingin melihat kamu bahagia," lanjut mamih Feby.
__ADS_1
"Jika cinta kamu terhalang sama restu dia, buktikan! Buktikan kalo kamu bukan lelaki lemah yang nyerah begitu saja. Buktikan jika Renata memanglah jodohmu!" titahnya mengusap wajah sang putra disertai senyuman.
Rizky tersenyum dan meraih telapak tangan sang mama lalu mengecupnya bolak balik. "Makasih, Ma! Aku tau mama orang yang bijak. Aku sayang mamih," ucapnya tulus.
Mamih Feby mengangguk, "Mama juga sayang kamu," balasnya.
Rizky mendekap tubuh sang mamih menumpahkan rasa syukur yang teramat dalam dari hatinya.
Begitupun mamih Feby setelah mendengar nasehat sang suami tadi ia pun bisa memutuskan hal besar itu.
Satu jam sebelumnya ...
"Nggak! Pokoknya aku gak setuju kalo Rizky nikah sama Renata," tegas mamih Feby.
"Kenapa? Karena Jesi?" tanya papih Rio.
"Itu papa tau, kenapa mesti tanya lagi?" cetus mamih Feby.
"Apa masalahmu dengan dia? Dendam apa yang membuatmu gak pernah akur ketika bertemu dengannya," tanya papih Rio.
"Pokoknya gitulah. Papih gak bakalan ngerti," balas mamih Feby.
"Gak bakalan ngerti kalo kamu sendiri gak ngasih pengertian," timpal papih Rio.
Mamih Feby menghembuskan napas panjang. "Aku gak tau apa penyebabnya, tapi saat ketemu dia perasaanku kesel banget. Apalagi dia senang sekali mencari masalah. Ya aku gak bisa diam aja, melihat ke aroganan dia," cetus mamih Feby dan dibalas senyum dan elusan rambut dari suaminya itu.
"Boleh saja menyimpan dendam dan benci. Tapi, apa itu harus dengan mengorbankan perasaan orang lain?" tanya Rio. "Bukan dia bukan orang lain. Dia putra kita," lanjutnya.
"Apa kamu gak ingin melihat Iky bahagia?" tanya papih Rio.
"Ya tapi 'kan gak harus sama Renata. Masih banyak gadis lain," selak mamih Feby.
"Menurutmu apa hati bisa diarahkan? Apa cinta bisa dipaksakan?" tanya Rio hingga mamih Feby terdiam.
Papih Rio memegang bahu sang istri. "Dulu kenapa kamu memilih aku bukan Ivan?" tanyanya. Hingga sang istri menatap suaminya itu dalam.
"Kamu ngerti 'kan maksudku?" tanya papih Rio. "Turunkanlah egomu dan buka mata hatimu! Jangan lihat musuhmu, lihatlah kebahagiaan putramu, hem?!" lanjutnya meyakinkan.
Mamih Feby berkaca-kaca, lalu memeluk tubuh tegap itu. "Maafin aku, Pih! Udah sangat egois," ucpanya terisak.
"Gak ada yang perlu dimaafkan, itu udah jadi tugas kita untuk saling mengingatkan," balas papih Rio. Hingga mereka tersenyum bersama. Mencoba untuk bisa menekan ego diri untuk kebahagiaan putra putri mereka.
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya yaa gaisss😘😘