
Disebuah taman, tepatnya ditaman kampus. Shaka tengah duduk diatas hamparan rumput hijau. Menikmati semilir angin yang membelai wajahnya yang terasa kebas.
"Nih!"
Shaka mendongak, lalu menarik satu sudut bibir kala melihat Jingga menyodorkan minuman kaleng padanya. Dengan senang hati ia pun menerimanya.
"Duduk!" ajak Shaka menujuk tempat disampingnya dengan dagu. Jingga menurut dan mendudukan diri disamping lelaki itu, seraya menegak minuman ditangannya.
Hening!
Tak ada suara dari dua insan yang masih saling menata hati. Mencoba menekan ego diri, untuk tak saling mendustai.
"Bisakah memperbaiki?" tanya Shaka memecahkan keheningan diantara mereka.
Deg!
Sontak saja Jingga dibuat mematung dengan pertanyaan itu. Setelah hampir setahun tak tegur sapa, lebih tepatnya Shaka yang selalu menghindar. Ia yang selalu ingin memberi penjelasan dan ingin memperbaiki letak kesalah pahaman mereka, tak pernah sekalipun dihiraukan lelaki itu. Kini tiba-tiba saja keadaan berbalik, Shaka lah yang memintanya.
Shaka tersenyum kecut melihat diamnya sang gadis. "Mungkin ini terdengar aneh, egois Tapi," ia menghentikan ucapannya sejenak, lalu menoleh dan menggenggam tangan gadis itu.
Seketika Jingga menoleh menatap genggaman mereka, lalu beralih pada wajah tampan yang selalu ia rindukan itu. Dengan perasaan yang sulit ia jabarkan.
"Aku hanya ingin mengikis jarak, yang membentang menjauhkan kita. Setidaknya, aku berhenti melukai hati yang tk sejalan dengan keadaan," lanjutnya.
Untuk kedua kalinya keadaan kembali hening. Hanya kedua mata saja yang saling bicara. Terlalu sulit menekan ego yang sama-sama kokoh, meski rindu kian membunuh.
"Maafin aku, Jin. Maaf, aku mencintaimu!"
Greppp!!!
Jingga memeluk erat tubuh tegap disampingnya. Menyembunyikan buliran hangat yang memaksa keluar dari dua ujung matanya, kedalam dada bidang itu. Menyalurkan rasa yang sama, yang tak dapat ia ubah.
Shaka membalas mendekap gadis itu tak kalah erat. Melabuhkan kecupan hangat dipucuk kepalanya. Sejauh mana ia melangkah, hatinya tetap tertahan pada sosok yang kini didalam dekapannya.
Lama keduanya meluapkan rasa rindu yang sudah tak dapat dibendung lagi. "Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu," ucap Jingga disela isak tangisnya.
Shaka semakin mengeratkan dekapannya. "Aku juga, aku lebih merindukanmu," ungkapnya. Akhirnya ego itu pun runtuh, kalah dengan rasa rindu yang menggebu.
Shaka melerai dekapannya. Kemudian menangkup wajah cantik Jingga, menghapus jejak kebasahan dipipi sang gadis dengan kedua ibu jarinya.
"Mulai sekarang, aku akan selalu mempercayaimu. Mau kamu jujur, mau kamu bohong. Aku akan tetap percaya," ucapnya.
Jingga tersenyum menanggapi. "Dan aku gak pernah membohongimu. Aku hanya mengatakan, sebuah kenyataan," balasnya.
__ADS_1
Shaka ikut tersenyum menanggapi. "Iya, maafkan aku yang bodoh ini," kekehnya.
"Kamu gak bodoh, hanya saja ceroboh," ledek Jingga.
"Isshhh kau ini," Shaka mengacak rambut Jingga, hingga keduanya tertawa.
"Jadi...?" tanya Shaka setelah mereka menghentikan tawanya. Sebelah alisnya menukik seolah meminta kepastian.
Jingga ikut menaikan sebelah alisnya. "Apa?" tanyanya pura-pura bodoh.
"Ck! Apa harus dijelasin lagi?" gerutu Shaka hingga membuat Jingga terkekeh.
"Menurutmu? Bukannya wanita itu selalu menginginkan sebuah penjelasan," tanya balik Jingga dengan nada sindiran.
"Tapi kamu beda, kamu bukan wanita," selak Shaka. Tentu saja pernyataan Shaka membuat Jingga mengerenyitkan dahi bingung. Mata nya menatap tajam Shaka. Kata 'beda' bagai sebuah ledekan untuknya.
Shaka yang mengerti tersenyum, lalu mendekatkan wajah pada gadis itu dengan tangan menarik hidung mancungnya gemas.
"Kamu tuh bukan wanita, tapi gadis," celetuknya.
Jingga menepis tangan Shaka, lalu mengusap hidungnya yang dipastikan memerah. "Cih! Sama aja," balasnya kesal.
"Beda dong," kali ini Shaka mendaratkan tangan dikedua pipi mulus itu.
Jika gadis lain, akan merengek manja diperlakukan seperti itu, berbeda dengan Jingga. Gadis itu akan memberi peringatan, yang membuat orang tak ingin lagi bercanda dengannya. Hanya orang-orang terdekatnya saja lah yang mampu mengerti itu. Bahkan hal itu adalah sesuatu yang sangat dirindukan Shaka.
Lelaki itu menghentikan tawanya dan menggenggam kedua tangan Jingga. Ia menatap serius kedua bola mata sang gadis.
"Jingga Aurillia, Maukah kau hidup bersamaku?" tanyanya.
"Nggak," balas Jingga terkekeh, seraya menggelngkan kepala.
Sontak saja jawaban itu membuat lelaki tampan itu berdecak kesal. "Ck! Aku tuh serius."
"Aku juga serius," balas Jingga lagi.
"Jadi kamu gak mau hidup sama aku?" tanya Shaka dengan nada yang mulai tak bersahabat.
"Nggak," sahut Jingga lagi singkat.
"Ck! Kamu ... Sstt!" Shaka mencoba meredam emosinya. Ia hanya melepaskan genggaman itu dengan raut wajah kesal, tak terima dengan penolakan gadis itu. Lalu ia pun berbalik, dan enggan menatap sang gadis.
Jingga tersenyum menanggapi. Hal itu lah yang selalu ia rindukan. Melihat wajah tampan itu memerah menahan amarah, sungguh membuat kesenangan tersendiri untuknya.
__ADS_1
"Aku gak mau hanya untuk sekedar hidup bersamamu. Sekarang pun bukannya kita hidup bersama?" terang Jingga.
"Aku ingin lebih dari itu. Hidup bersamamu dalam status yang seharusnya," lanjutnya.
Seketika Shaka berbalik kembali, lalu mendekap tubuh sang gadis. "Jika begitu, menikahlah denganku! Jadilah ibu dari keturunanku! Temani aku hingga akhir usia," pintanya.
Jingga hanya tersenyum menanggapi seraya membalas memeluk tubuh tegap itu.
"Kamu belum membalas ucapanku," Shaka kembali berkomentar kala tak mendengar suara sang gadis.
"Aku harus balas apa?" tanya Jingga terkekeh.
"Ya kamu balas, iya, aku mau, atau apa lah," balas Shaka.
"Kalo aku balas nggak?" tanyanya lagi.
"Harus iya," selak Shaka.
"Kenapa?" tanya balik Jingga yang membuat Shaka kembali kesal.
"Ck! Pokoknya iya tititk," tegasnya.
"Maksa?" goda Jingga.
"Iya, aku maksa. Pokoknya, kamu harus mau nikah sama aku. Aku maksa kamu buat hidup selamanya bersamaku. Titik, gak bisa dibantah," tegas Shaka lagi.
Seketika Jingga tertawa mendengar penegasan itu. Kemudian ia mendongak untuk melihat wajah masam lelaki itu. Namun ia salah bukan wajah masam yang dilihatnya, tetapi wajah tampan dengan senyum mempesona.
"Kenapa? Kamu mau goda aku lagi, hem?" tanya Shaka dengan nada menggoda.
Jingga tersenyum dan menggelengkan kepala. "Tanpa aku goda, bukannya kamu sudah tergoda?"
Shaka semakin melebarkan senyumnya. Ia tangkup wajah Jingga, lalu memiringkan wajahnya untuk menjangkau benda kenyal nn ranum sang gadis. Menyesap pelan, hingga mata keduanya terpejam. Menyalurkan cinta yang sempat tertunda. Shaka mulai mengabsen kembali isi manis dari rongga mulut sang gadis. Mengulang aktifitas yang sudah lama mereka tinggalkan.
Decapan terdengar merdu diarea sepi itu. Kedua insan itu begitu menikmati hingga sulit untuk saling melepaskan. Hingga ketika oksigen dirasa habis, mereka pun menghentikan aktifitas tersebut. Shaka mengahapus jejak kebadahan dibibir yang sedikit membengkak itu.
"Bisa kah kita mempercepat pernikahnnya?" tanya Shaka.
"Kenapa?" tanya balik Jingga keheranan.
"Biar aku berhenti jadi wasit."
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Jangan lupa jejaknyaa yaa gaisss😘