
"Kenapa nikah dadakan?" tanya Shaka yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Entahlah, aku juga belum paham. Onty Feb cuma bilang gitu," balas Jingga yang kini tengah berkutat didepan meja rias.
Shaka yang tengah menggosok rambut, menghentikan aksinya sebentar. "Keknya tuh anak kebanyakan nonton film biru, jadi kebablasan 'kan jadinya," celetuknya memprediksi.
Jingga ikut menghentikan aktifitasnya dan menatap suaminya yang kini tampak berpikir dari cermin itu. Ia terkekeh melihat lelaki super sexy itu. Dengan hanya menggunakan handuk sebatas pinggang hingga memperlihatkan tubuh bersih dan tegapnya. dengan rambut acak-acakan, sungguh terlihat sempurna dimata siapa pun.
"Dulu kamu pengoleksi film biru juga 'kan?" goda Jingga.
Shaka beralih menatap sang istri dari cermin tersebut. "Ck! Ya, nggak lah," sangkalnya.
"Oh ya? Tapi kamu terlihat seperti suhu," ledek Jingga.
"Aishh, itu naluri kelelakian. Gak ada sangkut pautnya dengan film kek gitu. Tanpa nonton itu pun, aku bisa menaklukanmu," balas Shaka mendekat kearah sang istri, lalu mengecup pipi cantik itu.
Jingga kembali terkekeh, "tapi pernah nonton 'kan?" godanya lagi.
"Nonton pernah, tapi bukan pengoleksi. Aku nonton dari ponsel si Edo," balas Shaka jujur. Lalu ia membuka lemari dan mulai mencari kemeja senada dengan dress yang dikenakan Jingga sekarang.
"Habis nonton gimana?" Jingga semakin gencar menggoda suaminya itu.
"Gimana-gimana?" tanya Shaka seraya mengenakan kemeja berwarna navy itu.
Jingga mendekat dan membantu mengancingkan kemeja tersebut. "Disalurin gak?" godanya.
"Ck! Dasar nakal," Shaka mengusek gemas rambut Jingga hingga keduanya tertawa bersama.
Kemudian Shaka menarik pinggang sang istri hingga tubuh mereka menempel. Ia membisikan sesuatu yang membuat Jingga terkekeh.
"Apa harus kita coba menonton film itu. Jadi kita bisa tau, apa yang akan terjadi?" bisik Shaka.
"Oke, malam ini kita nonton itu!" balas Jingga tersenyum, hingga Shaka menyeringai menatap sang istri.
**
"Saya terima nikah dan kawinnya, Renata Atmaja binti almarhum Riki Atmaja dengan mas kawinnya tersebut tunai,"
Suara Rizky menggema dan begitu lantang mengucap ijab kabul tanpa ragu sedikitpun, menjabat tangan pak penghulu.
"Bagaimana saksi?"
__ADS_1
"SAH!!!"
"SAH!!!"
Puji syukur terlantun dari semua orang yang menghadiri acara sakral tersebut. Tidak ada nuansa pernikahan seperti pada umumnya. Sama halnya seperti pernikahan Jingga dan Shaka. Hanya pernikahan sederhana yang dihadiri beberapa anggota keluarga dan sahabat.
"Karena acara ini dadakan, kalian bisa mengurus surat-suratnya seminggu kemudian dikantor urusan agama," jelas pak penghulu dan diangguki sepasang pengantin baru itu.
"Saya senang dengan keputusan kalian. Untuk menghindari zina, pernikahan memang jalan yang terbaik. Smoga rumah tangga kalian selalu bahagia, Sakinah, Mawadah, dan Warahmah," lanjut pria paruh baya itu dan diaminkan mereka.
Setelah mendapat nasihat dari pak penghulu dan doa dari pak ustadz, acara dilanjutkan dengan penyematan cincin dan doa restu.
Meski acara itu dadakan, namun soal makanan mereka tentunya tidak perlu khawatir. Mamih Feby menggiring semua makanan dari restonya untuk tamu yang hadir.
"Aku benar-benar gak nyangka, akhirnya si Iky sold out juga," celetuk Sena.
"Yang lebih gak nyangka lagi, onty Feby bisa akur sama onty Jesi. Woww luar biasa," balas Deril.
"Emang kenapa sama onty Feby dan onty Jesi?" tanya Chika yang tak tau akar permasalahannya.
"Mereka musuh bebuyutan. Luar biasa 'kan?" timpal Jingga dan dibalas tatapan tak percaya oleh Chika.
"Iya kah?" tanyanya tak percaya dan diangguki mereka.
"Nah iya bener, kenapa bisa kebetulan gitu, ya?" tanya Sena heran.
"Kata mama, ayah Renata itu fansnya mama Ay lho," celetuk Deril.
Seketika mereka membelakak kaget. Bahkan Shaka sampai tersedak ketika tengah menegak minumannya.
"Uhuk-uhuk!!!"
"Pelan-pelan!" titah Jingga menepeuk pundak suaminya.
"Ya ampun, seriusan?" tanya Sena tak percaya dan diangguki Deril.
"He'em kata mama sih gitu," balasnya.
"Mama Ay 'kan bintang sekolah, kalo kamu lupa," kekeh Jingga.
"Bukannya, daddy juga fansnya?" celetuk Abi, yang sedari tadi hanya menyimak.
__ADS_1
"Wah keren, ternyata mama Ay sangat populer ya," puji Chika berdecak kagum. "Pantesan Kak Sen juga jadi begitu populer, turunan ternyata!" lanjutnya diiringi tawa dari mereka.
Rumah Renata yang begitu luas, membuat mereka leluasa memilih tempat. Kini ketiga pasangan suami istri itu memilih sofa halaman samping sebagai tempat untuk mereka makan dan mengobrol.
Sementara itu, para orang tua tengah makan bersama juga. Meja makan yang panjang memuat mereka semua dimeja tersebut.
"Jadi, sekarang keluarga ya? Jangan ribut-ribut lagi," celetuk mama Ay, menyinggung kedua wanita yang suka musuhan dan kini justru berubah jadi besanan.
Mama Jesi memutar bola mata malas mendengar penuturan mama Ay, dan masih enggan mengakui wanita disampingnya itu besannya. Begitupun mamih Feby, ia pun terus membuang muka dari besannya itu.
"Iya, apalagi kemungkinan kalian akan jadi nenek," celetuk timom Siska.
Sontak saja ucapan timom Siska membuat kedua wanita itu membelakak. "Gak akan," balasnya serentak.
"Cie, kompak!" goda mama Agel dan hanya dibalas dengusan kesal dua wanita itu.
"Kalian tuh, jangan kek anak kecil lah. Lupain masalalu. Lagian apa yang kalian ributin coba? Udah pada tua juga," nasehat mama Ay.
"Iya, Ayra aja sama mbak Rara akur. Iya gak? Padahal mbak Rara mantan bang Ar, lho," celetuk mama Rilla.
Seketika, papa Ar berdehem melirik sang istri. Membahas mantan, biasanya ia akan kehilangan kesempatan membuat part. Bunda Rara sendiri hanya terkekeh menanggapi celetukan mama Rilla.
"Udahlah, sekarang kita tuh keluarga. Gak ada istilah musuh, benci, atau dendam. Sekarang waktunya kita menjaga kebahagiaan anak-anak kita dan menjaga cucu kita kelak," papar papa Juna.
"Iya. Bener tuh! Berdamai 'kan rasanya lebih indah," tambah papa Devan.
"Iya. Sekarang apa pun itu, kita harus saling mendukung, saling mengingatkan jika salah," tambah papa Ar.
"Terus jangan lupa, itu tuh dipraktekin Ar," ledek papih Age.
"Iya, bener tuh. Apalagi sesama saudara. Iya gak bang?" sindir daddy Rendi.
"Sama aja, kamu juga. Kalo kambuh kalian udah kek tom and jerry," balas papih Age telak, hingga daddy Rendi hanya menanggapi dengan cebikan bibir.
"Abang juga praktekin, jangan kek tom and jerry sama Ay," celetuk mama Agel. Hingga mereka pun tergelak.
"Eh, mana ada. Dianya aja tuh yang suka mulai duluan. Dia tuh-" belum selesai sangkalan papih Age bibirnya dibungkam jari oleh sang istri.
"Suuutt!! Udah. Abang juga sama aja," peringat timom Siska. Hingga mereka semakin riuh.
Hanya papih Rio dan mommy Aysa saja yang tak menimpali. Mereka yang memang sosok dingin dan irit bicara hanya ikut teratwa menanggapi. Berbeda dengan dua wanita yang beberapa jam yang lalu baru saja berbesanan. Sepertinya mereka tengah mencerna nasehat-nasehat dari sahabat rasa keluarganya itu. Hingga mereka pun saling tatap dan akhirnya dapat ikut tersenyum bersama.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Yok jejaknya jangan lupa yaa gaisss๐๐๐