My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Extra part- Ngidam bersama4


__ADS_3

Setelah selesai makan siang, kini kelima ibu hamil itu sudah stay didalam toko yang dimaksud. Memilih barang yang sebenarnya sudah dikumpulkan Jingga, Sena dan Chika. Namun, itu tak pernah cukup untuk tiga bumil ini. Berbeda dengan Vani, ia yang baru pertama membeli kebutuhan untuk sang bayi, merasa bingung apa dulu yang harus ia beli?


Begitupun Kia, ia masih memilah barang yang ternyata bagus-bagus. Kebiasaan ia membeli barang branded, mengharuskan ia memilih dari apa yang ia suka.


"Udah borong aja, gak usah dipilih!" celetuk Sena. "Disini gak kek barang yang biasa kamu beli. Kamu biasa beli satu, disini bisa beli semuanya," jelasnya.


Kia tampak berpikir sejenak. Lalu detik berukutnya ia menyadari sesuatu "Iya yah, bahkan semua bisa aku beli," balasnya berbinar.


"Nah 'kan?"


"Oke deh, aku mau borong semua," lanjut Kia bersemangat dan langsung tancap gas mengambil apa yang ia mau.


Sena hanya geleng-gelemg kepala melihat kelakuan saudara sepupunya itu. Kemudian atensinya berpindah ke arah Vani yang tampak kebingungan.


"Kenapa, Van?" tanya Sena menghampiri.


"Aku bingung kak Sen, aku beli apa dulu ya?" tanya Vani menenteng kain-kain kecil ditangannya memperlihatkan apa dulu yang harus ia beli.


Sena terkekeh. "Pertama kita beli ini dulu," Sena meraih kain-kain kecil, "lalu, ini!" lanjutnya.


Kedua wanita itu terus memilih untuk baby born kebutuhan Vani. Bahkan, ia melupakan kebutuhan untuk bayinya sendiri. Berbeda dengan Jingga dan Chika yang tengah memilih baju bayi usia enam bulan. Kedua wanita itu tampak senang berdua. Mereka yang sudah tau jenis kelmain bayi masing-masing tentu sudah bisa memprediksi apa yang akan mereka beli.


"Lihat kak Jin, ini lucu banget," pekik Chika kegirangan.


"Iya, bener. Aku ambil abu, kamu biru ya!" balas Jingga meraih salah satu baju setelan yang ditunjuk Chika.


"Oke, kak!" balas Chika.


Tanpa mereka sadari, sedari pertama belanja mereka sering kali mencocokan baju bayi bersama. Hanya warna yang kedua ibu itu bedakan. Jingga akan memilih warna mendominan laki-laki. Sebaliknya, Chika akan memilih warna mendominan perempuan. Mereka sangat senang bisa membeli barang sama dan serupa. Berbeda dengan Sena yang tidak ingin sama dengan keduanya.


"Ciee samaan," ledek Kia mengahampiri keduanya.


"Kita emang gini Kiy. Entahlah aku suka kalo samaan sama kak Jin. Berasa kita tuh bakal jadi baby twin," celetuk Chika.


"Ini sih bukan twin. Tapi, nanti tuh mereka jadi couple," kekeh Kia tak habis pikir dengan kelakuan dua wanita itu. Ia yang melihat isi belanjaan mereka sama, hanya warna berbeda hanya mampu menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Gak apa-apalah couple juga. Siapa tau kita besanan, ya gak Chi?" balas Jingga.


"Bener tuh! Jadi sweet couple," sambung Chika yang membuat mereka tergelak.


"Ada apa sih, heboh banget?" tanya Sena menghampiri bersama Vani.


"Ini kak Sen, yang mau besanan," balas Kia disela tawanya.


"Udah biasa itu mah," kekeh Sena. Kemudian atensinya teralihkan pada keranjang Chika dan Jingga. "Yah kalian habisin semua. Aku kehabisan stok lagi dong," keluhnya dengan wajah masam.


"Tuh masih banyak warna pink!" tunjuk Chika. Dan hanya dibalas decakan oleh Sena. Mereka kembali tergelak karenanya.


Sudahlah tak mau kembaran, belum lagi tersisa warna pink. Oh sungguh tidak berselera sama sekali. Bakal cuco dong jagoannya?


**


Setelah menghabiskan waktu mengelilingi toko bayi tersebut, kini kelima ibu hamil itu sudah pulang kerumah masing-masing. Kia yang tidak berminat, justru paling banyak memborong dari mereka. Bahkan, wanita itu sampai menyuruh orang untuk membawakan barang-barangnya kedalam taxi.


"Astaga! Kamu beli apa aja, Kiy?" pekik Timom Siska terkejut, kala melihat banyaknya barang dari dalam taxi yang mereka tumpangi.


Wanita manja itu hanya tersenyum menampilkan deretan giginya. Hasil jual satu tas brandednya di toko online khusus, mampu ia belikan dengan berbagai barang keperluan bayinya. Bahkan uang itu masih tersisa. Sungguh, ia merasa bangga, untuk pertama kali belanja tanpa harus membobol atm suaminya.


"Mang, tolong dong! Bantuin aku, bawa barang-barang kedalam," titah Kia pada kang kebon yang tengah bekerja.


"Siap, Non!" Segera pria paruh baya itu berlari menghampiri, lalu mulai membawa barang-barang Kia masuk kedalam.


Timom Siska memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. Tentu ia merasa khawatir, sekaligus kasihan pada menantunya yang sudah bekerja keras. Dan sekarang seenak jidat putrinya memborong barang-barang yang isinya entahlah.


Vani yang mengerti segera menghampiri. "Ayo masuk, Mom!" ajaknya merangkul kedua pundak ibu mertuanya.


"Tapi Van, adikmu ini- ssshh ya Alloh!" keluh timom Siska merasa frustasi.


Vani tersenyum seraya menggiring tubuh sang ibu memasuki rumah. "Kita gak beli macam-macam kok, Mom. Kita habis beli kebutuhan baby aja," jelasnya pelan.


Vani pun menceritakan, akan apa yang mereka lakukan hari ini. Bahkan ia juga menjelaskan pasal Kia yang belanja dari hasil penjualnnya. Tentu saja hal itu membuat timom Siska sedikit tenang. Akhirnya putri manjanya itu sudah mulai belajar dewasa. Hingga terbesit rasa bangga pada diri wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Ahhh, putri Timom akhirnya dewasa juga . Timom seneng deh," Wanita itu memeluk tubuh Kia disampingnya yang baru saja mendaratkan bokong, setelah mengintruksi Mang kebon untuk membawakan barangnya ke kamar.


"Apa sih Timom?" tanyanya heran.


"Timom seneng kamu bisa berbagi belanja buat baby kamu juga. Bahkan rela menjual barangmu sendiri demi dia," jelas timom mengelus perut membuncit Kia. "Pasti keperluan untuk babymu sudah terpenuhi, ya 'kan?" tanyanya.


"Isshh belom dong timom. Ini tuh baru dikit! Besok aku mau belanja lagi. Belum juga nagih si papih buat beliin." celetuk Kia.


Hahh?! Timom melongo mendengar itu. Harus 'kah kebutuhan bayi memenuhi satu kamarnya sendiri?


**


Ditempat lain, Sena dan Jingga baru keluar dari taxi tepat dihalaman rumah mereka. Wajah cantik Sena menekuk sempurna. Bagaimana tidak? Ia yang mendapat ide belanja, bahkan menyarankan memborong justru ia tak mendapatkan sehelai benang pun.


"Udah sii, gak usah cemberut gitu. Belanjaannya kita bagi dua aja," bujuk Jingga menyarankan.


Sena berdecak kesal. Tentu saja ia tak mau, jika nanti putranya harus kembaran dengan putri Deril dan Chika. Oh sungguh, bukan fashionnnya sama sekali. "Ck! Gak usah. Nanti aku beli aja yang baru. Aku gak mau kembaran-kembaran," kesalnya. Jingga hanya terkekeh menanggapi.


"Hai sayang, baru pulang?" tanya Shaka menyambut dari dalam dan hendak memeluk sang istri diambang pintu.


"Isshh ngapain peluk-peluk? Sana-sana, kamu bau!" Jingga menepis tangan Shaka yang sudah didepannnya.


"Ya ampun, Jin. Ini aku baru mandi," balas Shaka tak terima.


"Tapi kamu bau!" tukas Jingga menutup hidungnya.


Seketika tawa Sena pecah. Ia tergelak melihat nasib sang kakak yang menyedihkan. Sungguh rasa kesalnya terobati dengan tingkah kakaknya itu. Ia pun mengehntikan tawa dan menepuk pundak sang kakak untuk menyemangati.


"Sabar kak! Gak apa-apa lah sekarang jadi dulu Duda Sementara!"


Sena tergelak. Seraya ngibrit meninggalkan keduanya. Bahkan ia tak memedulikan umpatan sang kakak yang teramat kesal.


"Dasar adik lucknut!"


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Jejaknya yaa gaisss😘😘


__ADS_2