My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Extra part- Ngidam bersama1


__ADS_3

"Uweek!! Uwekkk!!!"


Suara seseorang yang muntah begitu menggema dari salah satu kamar dilantai dua. Dari suara yang terdengar dapat dipastikan, seluruh isi perutnya terkuras semua.


"Ya ampun, Bi!" seorang wanita dengan perut sedikit membuncit menghampiri pria yang diketahui suaminya di dalam kamar mandi.


Wanita itu membantu memijit tengkuk sang suami yang kini sudah terkulai lemas didepan washtaple. Tangan yang bertengger didua sisi washtaple sudah bergetar dan hampir tidak mampu menopang bobot tubuhnya.


Terdengar napas tersengal dari pria itu membuat sang istri begitu khawatir. Setelah dirasa cukup, lantas ia pun segera memapah suami tercintanya untuk kembali kedalam kamar. Membantu mendudukan tubuh yang lebih besar darinya itu diatas ranjang.


"Nih, minum dulu!" Wanita itu menyodorkan air putih yang ia tuangkan dari teko diatas nakas. Segera pria itu menegak habis segelas air tersebut.


"Sebaiknya, kita ke dokter aja, Bi. Aku takut kamu kenapa-napa," bujuk wanita itu seraya mengusap keringat dari dahi hingga pipi suaminya. Sungguh ia begitu khawatir melihat kondisi sang suami yang memprihatinkan.


Pria itu menangkap tangan sang istri, lalu mengecup tangan lembut itu. "Aku gak apa-apa. Bukankah ini hal wajar untuk calon ayah?" Lagi-lagi kalimat itu yang diucapkan sang pria.


Sena berdecak kesal. Selalu saja suaminya itu menolak untuk diajak ke dokter. Padahal sudah hampir dua minggu, Abi menggantikannya muntah-muntah setiap pagi. Padahal ini sudah trisemester kedua, harusnya sudah tidak ada drama morning sickness untuk kedua calon orang tua tersebut. Namun, entah mengapa Abi justru kini mengalaminya. Dan hal itu seolah bukan beban untuk pria berwajah tampan itu. Abi menarik satu sudut bibirnya, lalu mengusek pucuk kepala wanita manja yang sangat ia cintai, sebelum mengecupnya.


"Udah, jangan cemberut gitu! Makin cantik," Abi menarik hidung sang istri hingga Sena meringis sakit.


"Ck! Gak lucu," kesal Sena yang berhasil membuat lengkungan senyum pada bibir pria yang jarang sekali menampilkan itu didepan umum, hingga terbnetuk sempurna.


"Bikinin lemon tea hangat aja, itu sudah cukup!" titah Abi mengusap sayang kepala sang istri.


Sena menghembuskan napas panjang, "ya udah, aku bikinin dulu! Kamu isirahat ya," finalnya mengalah dan diangguki Abi.


Ia membantu suaminya berbaring dan menyelimutinya. Lalu, ia keluar dari kamar untuk melaksanakan tugasnya. Tepat disaat menutup pintu, sang kakak dari kamar sebelah juga keluar.


"Abi muntah-muntah lagi?" tanya Shaka. Sang kakak yang terkadang ngeselin menurut Sena.


"Untung, baby-ku pinter. Jadi gak harus repot-repot kek Abi," lanjutnya nyeletuk tanpa filter. Baru saja bertanya benar, ujung-ujungnya benar-benar ngeselin.

__ADS_1


"Ishh, Aka ini. Bukannya prihatin sama adek, malah ngeledekin," kesal Sena, tak lupa tangannya sudah mendarat keras pada lengan pria itu.


"Aisshh," Shaka meringis mengusap lengannya yang terkena timpukan maut sang adik. "Eh jadi bumil tuh jangan sukanya marah-marah, ntar darah tinggi baru nyaho," celetuknya lagi.


"Ishh, au ah. Susah emang ngomong sama Aka," sungut Sena. Seperti itulah setiap hari yang terjadi antara kakak beradik itu. Jika saja tidak ada yang mengalah, maka sampai matahari berlaju kearah barat pun. Tidak akan pernah berhenti.


Ditengah kesenjangan waktu dari perdebatan itu, tiba-tiba Sena mendengar suara tangisan. "Eh, kek ada suara nangis?" tanya Sena mencoba mendengar suara yang entah dari arah mana.


"Ya ampun!" Shaka menepuk jidatnya sendiri. "Tuh 'kan jadi lupa," gerutunya.


"Iya, bentar sayang. Aku panggil mama dulu," teriaknya yang melesat begitu saja dari tempatnya.


Tentu saja hal itu membuat Sena bingung. Namun satu hal yang ia yakini, suara tangis itu berasal dari kamar sang kakak. Ia segera memasuki kamar tersebut untuk melihat keadaan kakak ipar sekaligus sahabatnya itu. Ia khawatir terjadi sesuatu pada Jingga.


Ceklek!


"Jinjin!" pekik Sena shok. Jarang sekali ia melihat kakak iparnya itu menangis dan hal itu membuat Sena begitu khawatir.


"Ya ampun, kamu kenapa?" tanya Sena menghampiri Jingga yang meringkuk dibalik selimut. Ia mencoba mengusap punggung wanita itu untuk menenangkannya.


Namun, tak ada jawaban apapun dari wanita yang masih sesenggukan itu. Hal itu semakin meyakinkan Sena, jika benar-benar terjadi sesuatu pada kakak dan kakak iparnya itu.


"Issh, aka benar-benar ya," gerutu Sena.


"Apa Aka selingkuh? Dia punya cewek lain? Apa-"


"Aishh, apaan sih. Ngomong asal jeplak aja," sela Shaka, yang baru saja memasuki ruangan itu. "Siapa yang selingkuh, ngarang aja," kesalnya.


"Ya terus, ini Jinjin gimana bisa kek gini?" tanya Sena menggebu.


Belum sempat Shaka membalas ucapan sang adik, pekikan sang mama menyela ucapannya. "Ya ampun, mantu Mama kenapa?" Mama Ay berhambur mendekat kearah Jingga, mendudukan diri ditepi ranjang bersebrangan dengan Sena.

__ADS_1


"Kamu kenapa sayang?" tanya mama Ay mengusap sayang rambut Jingga.


Mendengar suara itu, Jingga membuka selimut yang menutupi hingga wajahnya. Kemudian menatap sang mama, tanpa aba-aba ia memeluk tubuh mama mertuanya itu menyembunyikan wajah didada mama Ay. Segera mama Ay membalas pelukan itu seraya mengusap rambutnya sayang.


"Cup! Sayang, jangan nangis lagi!" mama Ay mencoba menenangkan. "Cerita sama mama, kenapa, hem?" tanyanya mencoba menenangkan.


Jingga hanya menggelengkan kepala dengan tangis tak henti. Mama Ay menghembuskan napas panjang, mencoba membiarakan sang menantu tenang terlebih dahulu. Shaka memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Bagaimana tidak? Dari subuh ia mencoba menanyakan apa yang terjadi, namun sang istri tak kinjung juga menjawab. Bahkan tak ingin keluar dari dalam selimut. Sedangkan dengan sang mama? Hah ...


"Sen!"


Panggilan parau seseorang mengalihkan atensi mereka. Pintu yang terbuka lebar memperlihatkan pria berwajah berantakan keluar dari pintu sebelah.


"Astaga, Abi!" pekik Sena yang melupakan suaminya. "Isshh gara-gara aka nih, aku jadi lupa 'kan?" omelnya menggerutu seraya berlalu menghampiri sang suami.


"Lha, napa nyalahin orang?" tanya Shaka heran, namun tak ditanggapi Sena yang sudah berdiri disamping suaminya.


"Abi muntah lagi, ya?" tanya mama Ay khawatir dan diiyakan Sena.


"Kamu ambil gih, lemon tea nya di meja pantry. Mama sudah buatin tadi!" titah mama Ay dan diiyakan Sena memapah kembali suaminya ke kamar. Tentu ibu dua anak itu begitu pengertian. Ia akan selangkah lebih tau apa yang dibutuhkan putra putrinya.


Setelah mengetahui kedua putrinya hamil bersama, wanita paruh baya itu bahkan lebih siaga dari pada suami-suaminya. Ia yang biasa menghabiskan waktu untuk belanja dengan sang adik bahkan sahabat-sahabatnya, kini lebih banyak menghabiskan waktu untuk kedua si calon ibu itu.


Shaka mendudukan diri dekat sang mama, setelah kepergian Sena. Lalu, ikut membelai rambut sang istri. "Sebenarnya kamu kenapa? Cerita dong sama aku!" bujuknya untuk kesekian kali.


Shaka meraih pundak sang istri untuk memeluk tubuh ringkih tersebut, namun tiba-tiba saja Jingga menepis tangan Shaka disertai tatapan tajam.


"Jangan sentuh aku!" sentak Jingga.


Sontak saja hal itu membuat Shaka dan mama Ay terperanjat kaget. Hingga kalimat Jingga berikutnya, sukses membuat Shaka shok berat dan hampir tak sadarkan diri.


"Mulai sekarang jangan deket-deket sama aku! Kamu tuh bau."

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Maaf yaa gaiiss mak othor gak jadi bikin drama ngidam dinovel baru. Sambung disini aja ya🙏 yuk ramaikan lagi!!!


__ADS_2