
Jingga baru saja keluar dari kamar mandi seraya mengeringkan rambut dengan handuk kecil ditangannya. Shaka yang baru bangun, memperhatikan gerak gerik Jingga yang kini mendudukan diri di depan meja rias.
Lelaki tampan itu memiringkan tubuhnya, menatap intens sang istri yang tampak baik-baik saja. Ia berpikir sejenak, 'bukankah setelah melakukan malam pertama seorang gadis gak akan bisa berjalan? Apa itu karena kita melakukannya pagi, bukan malam hari?' tanyanya dalam hati.
Jingga yang baru menyadari, jika sang suami tengah memperhatikannya menolehkan wajah. Ia merasa heran ketika melihat Shaka yang tampak melamun. 'Lagi mikirin apa?' batinnya.
"Kamu udah bangun?" tanya Jingga yang sukses membuat suaminya itu terlonjak.
Shaka sedikit terkesiap, namun didetik berikutnya ia tersenyum yang kemudian bangkit setelah mengenakan boxer yang tersampir di tepi ranjang. Lalu menghampiri sang istri yang masih mengeringkan rambut. Dipeluknya tubuh ramping itu dari belakang, seraya menyimpan dagu dibahu perempuan itu.
"Kenapa?" tanya Jingga ketika melihat senyum lebar itu dari cermin.
Shaka masih saja tersenyum seraya menggelengkan kepala. "Apa gak sakit?" tanyanya.
"Apanya?" tanya balik Jingga dengan wajah tiba-tiba memanas. Tentu ia tau kemana arah pembicaraan suaminya itu.
Shaka semakin melebarkan senyumnya, tau jika istrinya tengah malu-malu kucing. Ia meraih handuk dari tangan sang istri setelah mengecup sekilas pipi cantik itu.
"Aku mau lagi. Tapi energiku gak cukup untuk itu," celetuk Shaka seraya mengeringkan rambut itu.
Jingga terkekeh. Jangankan suaminya ia sendiri ingin mengulang aktifitas yang membuatnya candu itu. Namum dengan kondisi nonanya yang masih terasa perih, ia tak yakin bisa melakukannya.
"Tapi serius gak sakit?" tanya Shaka memastikan.
"Hem, sedikit," balas Jingga.
Shaka menghembuskan napas panjang, ia lupa siapa wanita yang menjadi istrinya kini. Gadis tangguh, yang tidak akan manja hanya karena malam pertama, lebih tepatnya pagi pertama. Dengan gemas ia mengacak rambut sang istri, hingga keduanya bercanda bersama.
"Sana mandi, setelah itu kita sarapan. Aku akan menghangatkan buburnya terlebih dahulu," titah Jingga.
"Aku mau berhenti makan bubur," protes Shaka.
"Kenapa?" tanya Jingga heran.
"Aku membutuhkan banyak energi sekarang. Bubur saja gak akan cukup, untuk kita tempur malam ini," celetuk Shaka
"Ck!" Jingga berdecak seraya melayangkan cubitan diarea roti sobek Shaka yang terbuka. Shaka tergelak dan hendak kembali memeluk tubuh ramping itu. Namun Jingga segera bangkit dan menghindar.
__ADS_1
"Bau, mandi gih!" ledek Jingga menutup hidung dengan telunjuknya.
"Hem, bau ya?" tanya Shaka menyeringai. "Sini aku bikin bau, biar kita bisa mandi berjamaah!" ajak Shaka mendekat. Namun dengan cepat Jingga berlari menghindar ke sisi ranjang berlawanan.
"Nggak! Aku udah dua kali mandi," balas Jingga.
"Gak apa-apa, tiga kali lebih sehat," bujuk Shaka. "Ayo!" ajaknya.
Jingga menggelengkan kepala seraya mengambil selimut, namun Shaka menarik selimut itu. Jingga pun hampir tersungkir dikasur itu bersama Shaka juga. Hingga bibir keduanya hampir bertemu. Sepasang manusia itu tertawa dengan tingkah mereka sendiri, hingga atensi Shaka berakhir pada sprei yang terdapat becak merah dihadapannya.
"Hem, ini akan jadi sejarah," ucapnya menyeringai lalu kemudian mencari sesuatu.
Jingga mengerenyit heran, tentu ia kurang paham akan maksud suaminya itu. 'Sejarah? Maksudnya?' tanyanya dalam hati.
Shaka mengambil barang yang dicarinya tadi, lalu mengarahkan benda tersebut pada noda merah diatas kasur tersebut.
"Eh, ngapain?" cegat Jingga hendak menepis tangan Shaka yang tengah mengabadikan noda tersebut dengan layar pipihnya. Namun Shaka lebih dulu menghindarinya.
"Aku post, biar semua orang tau kamu hanya milikku," celetuknya.
"Astaga! Jangan!" cegat Jingga segera meraih benda tersebut.
"Shakaa!!!!" pekik Jingga kesal.
Dugg!!
Cetrek!!
"Alhmdulillah untung bisa kabur," ucap Shaka mengelus dadanya didalam kamar mandi.
Lelaki itu tersenyum menang. Dipikir hanya Jingga yang bisa membuatnya kesal. Ia juga bisa membuat sang istri kesal. Meski ia sendiri sedikit takut, tapi itu membuktikan jika ia tak kalah dengan istrinya itu.
Sementara Shaka segera membersihkan diri tanpa wajah dosa, Jingga merutuki perbuatan suaminya itu. Foto dengan caption "Finally, she's my mine!" membuat ia ingin sekali muntah. Apalagi banyak komenan dengan bentuk hati yang patah. Oh sungguh dramatis sekali. Ia ingin menghapus postingan tersebut, namun suara ketukan keras dari luar mengalihkan atensinya. Ia simpan ponsel itu keatas nakas, lalu menarik sprei putih tersebut dan menggulungnya bersama selimut. Kemudian disimpannya kain-kain itu pada keranjang kotor. Bergegas ia membuka kunci kamar saat gedoran itu kian keras.
Ceklek!
"Jinjin!" pekik Sena yang menyerobot masuk seraya menubrukan diri padanya, hingga kedua perempuan itu hampir saja kejengkang
__ADS_1
"Ya ampun!" kaget Jingga menahan tubuh adik iparnya itu.
Sena melerai pelukannya. Terlihat wajah cantik itu menekuk kesal. Hingga Jingga pun bertanya, "kenapa?"
"Ishhh Jinjin, kalian tuh tega banget sih. Kalo main tuh jangan pake suara kenceng-kenceng, suara kalian tuh tembus ke kamarku. Tau gak?" gerutunya.
Jingga menaikan sebelah alisnya, tentu saja ia tak percaya suaranya sekencang itu. Ia pikir suara yang keluar dari bibirnya itu biasa saja.
"Dan kamu tau, yang lebih menyiksakan itu ...." ucap Sena menghela nafasnya sebentar.
"Aku gak bisa ngikutin, huwaa ...." pekik Sena hingga membuat telinga Shaka dikamar mandi berdengung.
Brakkk!!!
Pintu kamar mandi terbuka keras. Shaka keluar dengan hanya mengenakan handuk putih sebatas pinggang. Bahkan rambutnya masih mengucur dan belum sempat ia keringkan. Lelaki itu mendekat seraya berkacak pinggang.
"Eh oneng, kagak pernah dibedong apa, ya? Gak sopan banget sih masuk kamar kakak sendiri, ngomel-ngomel gak jelas. Dia ini kakak ipar woy!" cerocos Shaka.
"Heleh, aka tuh yang gak ada akhlak. Pagi-pagi meresahkan orang," balas Sena dengan sengit.
"Meresahkan apa? Apa yang meresahkan?" tanya Shaka tak kalah sengit.
"Apa gak bisa main tuh yang kalem, gak usah teriak-teriak sampai terdengar ke kamarku?" cerocos Sena.
"Aishh gak nyadar diri! Eh, kalian sendiri juga gitu woy! Masih mending kamu denger udah punya batang. Gak nyadar apa, dulu aka dengar kalian belum punya goa. Gak mikir 'kan gimana meresahkannya kalian buat bujangan kek aka. Ya, kalo sekarang kamu denger suara kita, ya tinggal kalian praktekin. Bukan misuh-misuh gak jelas dikamar orang," cerocos Shaka panjang kali lebar.
"Isshhh masalahnya bukan gitu," kesal Sena dengan gereget.
"Lha terus masalahnya apa, oneng?" greget Shaka.
"Aku gak bisa ngikutin," balas Sena.
"Kenapa?"
"Nonaku lagi berdarah."
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Jangan lupa jejaknyaa yaa gaisss😘😘