My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Sadar


__ADS_3

Hari berganti hari, Shaka masih enggan membuka mata. Rencana pernikahan dibatalkan menjelang dua hari menuju hari-H, karena Shaka tak kunjung juga sadar. Untung saja undangan tak sempat disebar, jadi mereka hanya membatalkan WO, katering dan pak penghulu untuk memajukan tanggal.


Jingga baru saja selesai membersihkan wajah tampan yang sudah mulai tumbuh bulu-bulu dibawah hidung dan dibawah bibirnya. Gadis itu tersenyum melihat wajah yang tampak lucu itu. Jika saja dalam keadaan sadar, Shaka tak akan membiarkan bulu-bulu itu tumbuh. Ia akan mengantisipasi itu.


"Bangunlah! Apa kamu akan membiarkannya tumbuh makin panjang?" tanyanya mengelus rambut dibagian dagu Shaka.


"Kamu bahkan terlihat gak tampan lagi," lanjutnya meledek.


Jingga terkekeh dan kembali murung. Seperti biasa, dikala sendiri seperti ini ia selalu menunjukan diri yang sebenarnya. Sakit? Jangan ditanya, melihat seseorang setiap hari dalam keadaan seperti itu, tentu tak mudah baginya.


Ia menggenggam tangan itu dan mulai menundukan kepala diatas tangan tersebut. Air matanya keluar, seiring dengan sesak yang menghimpit rongga dadanya.


"Sampai kapan? Sampai kapan kamu seperti ini?" tanyanya. "Apa kamu gak merindukanku? Apa kamu gak mau berjuang buat bangkit demi aku?"


"Apa rasa cintamu padaku itu pura-pura? Apa aku tak penting bagimu?"


"Jawab aku, Sha! Jawab aku! Dasar egois!" lanjutnya.


Tangisnya pecah, ia sudah lelah berpura-pura tegar. Hari yang seharusnya ia tersenyum, kini berubah dengan tangis yang tak dapat ia tahan lagi.


"Aku mencintaimu, Sha! Bangunlah, kumohon bangun!" ucapnya disela isak tangis.


Setelah sekian lama, ia pun mendongak dan mengusap kedua pipinya kasar. "Baiklah! Jika kamu gak mau bangun juga, aku anggap kamu gak mencintaiku lagi. Sekarang juga aku akan pergi, dan jangan pernah berharap aku akan kembali lagi," tegasnya.


Jingga pun hendak bangkit dan berbalik, namun tiba-tiba saja tangannya tertahan. Gadis itu membolakan mata akan hal itu, kemudian seketika berbalik kala mendengar suara tertahan dan hampir hilang dari seseorang.


"J-jangan p-pergi!"


Jingga terpaku sejenak mendapati siapa yang kini tengah menatapnya sayu. Air matanya berdesakan keluar, kala rasa lega dan haru menyelimuti. Segera ia mendekap tubuh terbaring itu.


"Jahat! Aku membencimu," ucapnya memeluk erat tubuh itu. Menyembunyikan air mata di dada sang kekasih


Shaka tersenyum tipis, pelan namun pasti ia menggerakan tangan yang sempat mencekal tangan Jingga, keatas kepala gadis itu. Mengusap sayang rambutnya.


"Maaf," cicit Shaka. Jingga tak menjawab, rasa bahagianya tak dapat mengungkapkan kata apapapun.


Lama Jingga menangis dalam dada Shaka, menyebabkan baju yang dikenakan Shaka basah.


"Jin, aku kedinginan," celetuk Shaka pelan.

__ADS_1


Sektika Jingga mendongak, menangkup wajah yang masih pucat itu. "Kamu kedinginan? Sebelah mana yang sakit?" tanyanya khawatir.


Shaka tersenyum dan menepuk dadanya. "Ini basah,"


Jingga menghembuskan napas panjang seraya menghapus jejak kebasahan dipipinya. "Aku panggil Dokter," ucapnya. Lalu ia pun menekan bel darurat.


**


"Gimana Dok?" tanya mama Ay, setelah Dokter selesai memeriksa keadaan putranya.


"Syukurlah semua sudah membaik. Seperti kata saya sebelumnya, kita hanya tinggal menunggu pasien sadar," jelas Dokter.


"Dok, kenapa ini sulit gerak?" tanya Shaka menggerakan tubuhnya.


Dokter itu tersenyum. "Gak apa-apa, jangan kaget! Itu hal biasa. Butuh waktu untuk syaraf-syarafmu bekerja kembali," jelasnya yang kemudian diangguki mengerti oleh mereka.


"Baiklah, kalo begitu saya permisi dulu," pamit sang dokter dan diiyakan mereka.


Setelah kepergian tim dokter, mama Ay juga pamit keluar untuk menghubungi papa Ar dan putrinya Sena. Menyisakan sejoli itu saja diruangan tersebut.


"Mau duduk?" tanya Jingga dan diiyakan Shaka.


Greppp!!


Shaka mendekap tubuh Jingga, setelah tubuhnya duduk tegak. "Maafin aku, aku melanggar janjiku sendiri," sesalnya.


Jingga mendongak melerai pelukan mereka. Ia menangkup pipi tirus itu seraya menggelengkan kepala. Senyumnya mengembang menatap mata penuh sesal itu. "Gak ada yang perlu dimaafkan. Aku bahagia saat kamu bisa menatapku lagi," ungkap Jingga. Satu tetes bulir dari ujung matanya jatuh.


Shaka menghapus jejak kebasahan dipipi cantik itu. "Jangan nangis! Aku mencintaimu, sangat!" Jingga kembali mendekap tubuh itu, rasa bahagianya tak kalah besar dengan rasa sakit yang ia rasa tadi.


Dari luar mama Ay hendak masuk, namun ia kembali menutup pintu tersebut kala melihat keduanya saling berpelukan. Tak tega mengganggu, ia pun menutup pintu itu kembali dengan perasaan lega.


"Ya ampun! Bikin kaget aja," pekik mama Ay ketika ia membalikan tubuh dan justru hendak menabrak seseorang.


Mama Agel terkekeh dengan ekspresi sahabatnya itu. "Kenapa?" tanyanya heran, namun tak ditanggapi mama Ay yang terlanjur kaget.


"Duduk dulu!" ajak mama Agel, membawa mama Ay duduk.


"Apa Shaka belum sadar juga?" tanya mama Agel yang belum tau kabar bahagia itu.

__ADS_1


Mama Ay menghembuskan napas panjang. Kemudian memeluk sahabatnya itu diringi isak tangis di bibirnya.


"Kenapa Ay?" tanya mama Agel khawatir.


"Shaka sudah sadar, akhirnya Shaka sadar," ucapnya sesenggukan. Meluapkan rasa bahagia kalah putra kesayangannya sudah terbangun kembali.


"Syukurlah! Aku turut senang dengarnya," balas mama Agel. Lama keduanya berpelukan dengan beribu-ribu syukur yang mereka ucapkan dalam hati.


**


Sementara itu Jingga tengah mengganti piyama Shaka yang basah. Dengan telaten ia membuka kain itu, hingga menampakkan tubuh sispek Shaka.


"Apa setiap hari kamu yang menggantikan aku pakaian?" tanya Shaka.


"Tentu, aku mengurusmu dengan baik 'kan?" kekeh Jingga.


Shaka tersenyum. Tangannya bergerak menyelipkan anak rambut yang menjuntai dipipi sang gadis. "Makasih ya, sudah sabar menungguku, merawatku, sungguh beruntung diriku" ucapnya.


Jingga yang tengah membuka piyama baru ikut tersenyum. "Bukankah itu tugasku? Kamu juga pasti melakukan hal sama, jika aku diposisimu,"


"Suutt!! Jangan berkata seperti itu, cukup aku yang mengalami ini," selak Shaka menutup bibir Jingga dengan telunjuknya.


"Kamu tau? Rasanya itu ... sakit," ucap Shaka meraba dadanya dramatis.


Jingga terkekeh melihat aksi lucu sang kekasih. Hal seperti ini yang selalu ia rindukan dari kekasihnya itu. Kemudian ia pun mulai mengenakan piyama tersebut pada tubuh Shaka. Perlahan namun pasti, piyama itu akhirnya terpasang.


"Gak sekalian celananya?" goda Shaka menaik turunkan alisnya.


Jingga tersenyum, "Itu bukan tugasku, tapi tugas mama Ay," balas Jingga seraya melempar kain bekas pakai Shaka kedalam keranjang yang tersedia.


"Jadi, kamu cuma ganti baju aku? Gak sekalian celananya?" tanya Shaka tak percaya.


"Nggak!" balas Jingga menggelengkan kepala dan dibalas hembusan napas panjang oleh Shaka. Padahal ia berharap Jingga benar-benar mengurusnya, hingga mengurus benda keramatnya juga.


Jingga terkekeh, tau apa yang kini ada diotak kekasihnya itu. Ia mendekatkan wajahnya seraya berbisik.


"Jika aku membersihkan dia juga, aku takut dia nya bangun, kamunya masih tidur."


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya gaisss๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2