My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Lemes tapi menikmati


__ADS_3

Shaka kembali melayangkan ciuman pada bibir ranum sang istri. Tangannya bergeliyara didepan dua bukit kembar tersebut. Lengu han tertahan terdengar dari bibir Jingga yang terbungkam.


Tak ingin basa basi lagi, Shaka mulai mengarahkan si jack menuju sarang si nona yang ternyata tak dapat ditembus begitu saja. Kepala si jack yang baru menyapa, sudah membuat Jingga memekik kesakitan.


"Aww!!"


Sontak saja hal itu membuat Shaka menghentikan aksinya. Ia menarik kembali si jack dari sana. "Kenapa? Apa sesakit itu?" tanya Shaka.


Tentu ia pernah mendengar, bobol membobol menyakitkan bagi seorang wanita. Namun ia tak menyangka akan sesakit itu, hingga istrinya memekik keras.


Jingga menganggukan kepala sebagai jawaban, bukan hanya sakit, namun ia juga merasakan perih yang lebih mendominasi. Shaka yang melihat reaksi Jingga menjadi penasaran. Ia pun mundur sedikit untuk mengintip si nona yang kemungkinan terluka.


Baru saja Shaka melongokan wajahnya, Jingga yang kaget dengan cepat menarik rambut suaminya. "Ngapain?" tanyanya.


"A,a,ahhh!!!" pekik Shaka kesakitan kala rambutnya ditarik.


Segera Jingga melepaskan jambakannya. "Astaga! Maaf-maaf," sesalnya.


Shaka kembali keposisi awal seraya mengusap rambutnya yang terkena jambakan. Wajah tampan itu meringis dengan menekuk kesal. "Napa dijambak sih?" protesnya.


Jingga terkekeh seraya meraih kepala Shaka, "Maaf, sini aku usap biar sembuh," ucapnya yang benar mengusap sayang rambut Shaka.


Seketika Shaka tersenyum mendapat perlakuan itu. Ia menciumi gemas wajah sang istri. Hingga gadis itu tertawa geli.


"Kita lanjut ya, nanggung nih!" bujuk Shaka.


"Emm," Jingga nampak berpikir, membuat Shaka terlihat waswas. Akhirnya gadis itu mengangguk.


Jingga teringat akan curhatan Sena yang menceritakan malam pertamanya. Nonanya yang sakit berubah nikmat seiring berjalannya permainan. Bahkan Sena berani meminta nambah karena sudah mulai candu dari malam itu juga. Mungkin itu juga yang Jingga rasa saat ini. Ia yakin setelah rasa sakit ini, pasti berangsung nikmat seperti yang dikatakan Sena.


Mendapatkan anggukan dari sang istri tentu membuat Shaka bersemangat. Ia kembali men cum bu area ceruk sang istri, untuk memulai pemanasan kembali. Seperti yang pernah ia pelajari di video yang pernah disuguhkan Edo, memulai dengan pemanasan akan membangkitkan jiwa liarnya seorang wanita.


Bibir Shaka terus menjelajah menyusuri setiap lekuk tubuh sang istri, memberikan jejak kemerahan dikulit putih itu. Suara sexy Jingga kembali terdengar. Pelan-pelan namun pasti Shaka menekan si jack untuk menerobos gua yang teramat sempit itu.


Kemungkinan Jingga menjerit, jika saja bibirnya tak dibungkam bibir Shaka. Ia hanya mampu mencengkram kuat pundak Shaka, hingga benda besar nan panjang itu berhasil menyelam sempurna hingga terasa sesak dibawah sana.

__ADS_1


Napas ngos-ngosan terdengar dari dua insan yang tengah uji coba penyelaman tersebut. Shaka mengusap peluh yang mengucur didahi Jingga. "Aku coba gerak, ya?" tanyanya dan hanya diangguki pasrah oleh sang istri.


Shaka mulai menggerakan pinggulnya pelan, sangat pelan. Jingga masih sedikit meringis merasakan nonanya yang teramat perih, sementara Shaka mulai menikmati gerakannya sendiri yang menimbulkan sensasi yang baru ia rasa. Si nona yang masih rapat begitu terasa meremat pada si jack, hingga membuat ia ingin lebih mempercepat tempo gerakannya.


"Mmmhhh Jin, ouhh!!!" de sah Shaka mengadahkan kepala seraya memejamkan mata.


Jingga pun merasakan hal yang sama. Rasa sakit dan perih yang ia rasa tadi berubah menjadi sensasi yang baru pertama ia rasakan. Bahkan rasa ingin ikut melakukan terbesit begitu saja. Mengikuti naluri ia pun mulai menyeimbangi gerakan Shaka.


"Mmhhh Sha!!" de sah Jingga yang terdengar merdu ditelinga Shaka.


Mungkin kenikmatan seperti ini yag dirasa sang adik, kala suara-suara meresahakan itu terdengar sampai menembus kamarnya. Dan sekarang apa mungkin suara mereka tembus kekamar sebelah. 'Masa bodo ah!'


"Ouh Jin, ini luar biasa.. Hmmm ****!"


"Lebih cepat, Sha!! Mmhhh ...."


Shaka mepercepat laju tempo gerakannya, kala sesuatu dari dalam dirinya terasa akan melededak. Hingga Shaka mekan dalam si jack kala lahar panas menyembur dari dalam benda panjang itu.


Shaka ambruk diatas tubuh istrinya itu tanpa melepaskan si jack dari sarangnya. Napas ngos-ngosan terdengar silih bersahutan. Jingga hanya mampu mengusap rambut Shaka yang basah, tanpa mampu berkata-kata. Begitupun Shaka, ternyata benar malam pertama itu membutuhkan banyak energi. Ia bahkan hampir kehilangan seluruh eneginya sekarang.


"Hem?"


"Lemes ... Aku gak bisa gerak," balasnya pelan.


Seketika Jingga mendongakan wajah yang tenggelam diantara dua bukitnya. "Kamu gak apa-apa?" tanya Jingga khawatir.


"Air, air ...."


Jingga yang khawatir, segera menggulingkan Shaka kesamping. Hingga tubuh mereka pun terlepas. Segera ia mengambil air putih dari nakas, lalu membangunkan tubuh tak berdaya itu dan meminumkan air padanya.


Shaka menegak air tersebut hingga tandas, bahkan ia meminta Jingga untuk menambahnya lagi. Dua gelas sudah, air putih itu ditegak Shaka.


"Ck! Apa aku bilang, ngeyel," omel Jingga, menarik selimut untuk dikenakan Shaka.


Lelaki yang baru saja melepas keperjakaannya itu hanya tersenyum dengan menempelkan deretan giginya. Lalu menarik tubuh Jingga untuk berbaring bersamanya. Jingga hanya menurut dan ikut merebahkan diri disamping Shaka yang kini mendekapnya.

__ADS_1


"Tapi kamu menikamtinya 'kan?" goda Shaka dan hanya ditimpali decakan oleh Jingga yang mendongak menatapnya tajam.


Shaka tertawa kecil dan mengeratkan dekapannya. "Iya, iya nggak!" balasnya.


"Aku yang begitu menikmatinya, makasih ya," lanjutnya yang kemudian mengecup sayang pucuk kepala istrinya itu.


Jingga menenggelamkan wajah didada bidang itu seraya memeluk erat tubuh suaminya. Kebahagaiaan pertama seorang istri adalah disentuh suaminya. Dan itu yang dirasa sekarang oleh gadis yang baru saja melepaskan keperwanannya untuk suami yang ia cintai.


Merasa lelah setelah melaksanakan pagi pertama mereka. Kini sepasang pengantin baru itu terlelap kembali.


**


Dikamar sebelah, Sena yang baru saja membersihkan diri merasa kesal dengan suara jeritan dan de sahan dari kamar sebelah. Perempuan itu misuh-misuh tak jelas. Bagaimana tidak? Jika saja ia tidak sedang mendapatkan tamu merahnya, mungkin saja ia sudah membangunkan suami dan si jacknya.


"Astaga! Ini keterlaluan," kesal Sena. "Aka!!!" jeritnya.


Abi yang masih terlelap dibalik selimutnya, sampai terbangun mendengar teriakan sang istri. "Ada apa?" tanya Abi mengucek matanya yang masih sepet.


"Ihh aku kesel," rengek Sena beralih dari meja rias ke atas tempat tidurnya menghampiri Abi.


"Kesel kenapa, hem?" tanya Abi seraya menyelipkan anak rambut yang menjuntai dipipinya.


"Kamu gak denger?" tanya Sena. Abi menautkan alisnya tak mengerti.


Hening! Suami istru itu terdiam, hingga terdengar suara erangan panjang yang begitu menggema dari ruangan sebelah.


"Ihh, itu suara dikamar sebelah. Bener-bener bikin resah," pekik Sena kesal. Sekesal kesalmya orang kesal.


Abi terkekeh, kala tau apa yang membuat istrinya itu misuh-misuh. Sudah dipastikan kini nonanya pasti tengah berdenyut hebat. Dan terbesit dalam kepalanya untuk menggoda istri manjanya itu.


"Kalo gitu, mau manjain si jack?" goda Abi menaik turunkan alisnya.


"Ihhh Abi!!!...."


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Hadeuh yang sakit maksa, lemes 'kan??😆 dan lagi kamar sebelah yang kena karma, kebakaran jenggot tuh🤣🤣🤣


__ADS_2