My Possesive Badboy

My Possesive Badboy
Siap dihalalkan


__ADS_3

Setelah puas dengan acara ledek meledek, Rizky memilih pulang terlebih dahulu. Ia yang biasa numpang sarapan jika berkunjung, mendadak tak berselera setelah kalah adu ledekan dengan Shaka.


"Aku pulang, Ty," pamit Rizky


"Lho, gak sarapan dulu Ki?" tanya mama Agel.


"Nggak, Ty. Aku harus pulang," balas Rizky dengan wajah masam menatap kesal pria bermulut pedas disampingnya.


Shaka hanya mengedikan bahu seraya mendekat ke arah meja makan tanpa dosa. Kemudian lelaki itu menarik kursi yang akan diduduki Jingga. Sebelum akhirnya ia duduk dikursinya sendiri.


Sontak saja hal itu membuat mama Agel menatap tak percaya. Sejak kapan Shaka kembali bucin? Pikirnya.


Rizky benar-benar pergi setelah berpamitan. Sebelumnya Jingga berencana akan ikut Rizky ke kafe Abi di hari libur ini, ia juga baru mengetahui pasal kafe tersebut dari Sena dan ingin tau bisnis baru sahabatnya itu. Itulah alasan Rizky pagi-pagi berkunjung kerumah Jingga, untuk menjemput sahabatnya itu.


"Maaf ya, Ty. Aku jadi ikut sarapan disini," ucap Shaka merasa segan kala melihat mama Agel yang tak banyak bicara padanya.


Mama Agel tersenyum menanggapi. "Kek sama siapa aja. Justru onty seneng kamu mau berkunjung dan makan lagi disini," balasnya.


Shaka menghembuskan napas panjang. Lelaki itu merasa tersentil dengan ucapan mama Agel. Benar, ia harusnya minta maaf dulu pada mereka sebelum kembali memasuki dunia Jingga.


"Hai, Sha?!" sapaan seseorang membuat lelaki tampan itu kembali mendongak.


"Om?!" sapanya balik.


"Tumben, pagi-pagi udah disini?" sindir papa Juna memancing. Ia ingin tau, lelaki yang diketahui putra dari sahabatnya itu berani berbicara padanya atau tidak.


Shaka mencoba tersenyum meski tipis, bingung harus memulai dari mana. Hingga ia terlonjak kala Jingga menyentuh lengannya. "Makanlah! Bukannya kita akan pergi?" titah gadis itu, setelah menyimpan nasi coklat berminyak itu diatas piring Shaka yang disertai lauknya.

__ADS_1


"Om becanda, ayo makan!" kekeh papa Juna, seraya menepuk pundaknya. Kebetulan ia duduk disamping ayah dari sang kekasih.


Shaka tersenyum menanggapi seraya menganggukan kepala. Namun ia tak segera menyentuh makanan tersebut. Ia menghembuskan napasnya panjang sebelum akhirnya mengeluarkan kalimat.


"Om!"


"Hem?" papa Juna menoleh seraya menghentikan tangannya yang baru satu suap memasuki mulut.


"Aku ingin ngobrol sebentar sama Om sama Onty juga," jelas Shaka memantapkan hati.


Papa Juna dan mama Agel saling lirik mendengar pernytaan Shaka. Mama Agel menyimpan sendok ditatas piringnya. Mulai menyimak apa yang ingin disampaikan pemuda itu.


"Ada apa Sha?" tanyanya.


Shaka kembali menghembuskan napas panjang, untuk menyiapkan mentalnya. Baru kali ini ia merasa sedikit takut mengobrol dengan dua orang paruh baya tersebut. Padahal sebelumnya, Shaka tak pernah seperti itu. Ia bahkan lebih dekat dengan kedua orang tua Jingga dari pada dengan orang tua Deril ataupun Rizky.


"Sebelumnya, aku mau minta maaf pada Om sama Onty," ucap Shaka menjeda kalimatnya sebentar. Sungguh hatinya berdegup begitu kencang menghadapi mereka.


"Maafkan aku Om, Onty!" sesalnya.


Papa Juna menghembuskan napas panjang. Tentu ia tau alasan perpisahan putri dan lelaki disampingnya itu. Ia menepuk pundak Shaka, hingga pemuda itu kembali mendongak.


"Om gak tau pasti, apa masalah kalian. Yang jelas om berharap kedepannya, kalian bisa mengendalikan diri kalian sendiri. Jadikan apa yang pernah dilalui sebagai pelajaran. Kedepannya masih banyak hal yang kemungkinan akan terjadi. Jika menurut kalian itu terlalu sulit, berbagilah dengan kami sebelum mengambil keputusan. Paham 'kan maksud Om?" papa Juna menasehati dan diangguki mengerti oleh Shaka.


"Iya, Om!" balasnya.


"Bagus. Sekarang lanjutkan makan kalian!" titah papa Juna menepuk pundak Shaka, lalu kembali meraih sendoknya diikuti mama Agel juga. Jingga masih terdiam setelah mencerna ucapan sang papa, ia pun memperhatikan Shaka.

__ADS_1


"Ada satu hal lagi yang ingin aku bicarakan," ucap Shaka yang kembali menghentikan aktifitas dua orang itu.


"Besok, aku ingin melamar Jinjin," ucap Shaka tegas.


"Uhukk!! Uhukk!!"


Seketika papa Juna tersedak. Tentu saja ia tak mengira, Shaka akan seberani itu. Dulu ketika ia ingin melamar sang istri, butuh waktu bertahun-tahun untuk meyakinkan hati. Baginya berkomitmen tak semudah menyatakannya. Namun kali ini, apa benar hati Shaka sudah pas untuk putrinya. Mengingat kemungkinan ini baru mereka mulai kembali.


Segera mama Agel memberikan air putih untuk sang suami. Dengan cepat papa Juna meraih gelas tersebut dan menegaknya hingga tandas.


Ketegangan mulai dirasa Shaka. Untuk pertama kalinya ia menyatakan itu pada calon mertuanya. Kedua tangan Shaka bergerak gelisah dibawah sana, menunggu jawaban apa yang akan disampaikan ayah dari kekasihnya itu.


Namun tiba-tiba saja tangan lembut menggenggamnya. Seketika Shaka mendongak, menoleh kesamping dan mendapati senyuman manis Jingga yang seolah meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Hingga Shaka pun ikut tersenyum, ia yakin sang gadis sudah siap untuk ia halalkan.


Papa Juna dan mama Agel kembali saling liirk. Mereka tersenyum melihat sorot mata sepasang kekasih itu. Papa Juna berdehem keras untuk mengalihkan perhatian mereka.


"Ehemm!! Baiklah, Om tunggu kehadiranmu bersama keluargamu," final papa Juna disertai senyumnya.


Shaka akhirnya tersenyum lebar dan bernapas lega. Kini tinggal meminta kedua orang tuanya saja untuk mengikuti rencananya.


\*\*\*\*\*\*


Jangan lupa jejakny yaa gaiisss😘



Ini yang ngaku egois🤣

__ADS_1



Ini yang udah siap dihalalkan🤣


__ADS_2